KAYU MANIS (Cinnamomum cassia)

 

Kayu manis termasuk famili Lauraceae, dengan jumlah produksi sekitar 2000 kg tiap hektar. Pohon kayu manis menghendaki iklim yang basah dan banyak hujan, kurang baik pada daerah dengan musim kemarau panjang. Pohon kayu manis dapat tumbuh sampai 2000 meter diatas permukaan laut, akan tetapi dapat tumbuh baik pada ketinggian 500 sampai 1500 meter dipermukaan laut. Tanah yang dikehendaki pohon kayu manis adalah tanah berpasir yang mudah melepaskan air, dan banyak mengandung zat hara dan humus. Di dataran rendah, pohon kayu manis dapat tumbuh lebih cepat daripada dataran tinggi, akan tetapi kulitnya lebih tipis dan baunya kurang harum. Di atas ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut, pertumbuhannya labih labat, tetapi mutunya lebih baik.

Pembiakan pohon kayu manis dapa dilakukan dengan cara stek, tetapi yang terbaik adalah bijinya. Untuk mendapatkan bibit kayu manis dilakukan persemaian dan untuk itu dipilih tanah yang subur dan terletak dengan air. Tanahnya harus dicangkul dalam serta batu dan sisa akar harus dibuang. Kemudian dibuat tempat persemaian dengan lebar 100 – 150 cm, yang ditimbun tanah yang berasal dari parit yang dibuat diantara tempat persemaian.

Biji yang telah cukup masak dapat diseberkan dan sesudah 5 – 15 hari, biasanya biji tersebut bertunas. Biji-biji yang dipergunakan utntuk bibit adalah biji yang berasal dari pohon yang tumbuh baik, tidak terlalu muda, kulit batangnya cukup tebal dan mempunyai aroma kayu yang manis keras; biji yang jatuh dari pohon tidak dapat digunakan sebagai bibit.

Waktu panen yang pertama dimulai setelah pohon tanaman tumbuh lebat dan pertumbuhan selanjutnya tidak menguntungkan. Pemanenan pertama ini dilakukan dalam rangka penjarangan, dengan tujuan agar diperoleh dengan produksi yang lebih tinggi. Penjarangan dilakukan pada saat berumur 3 tahun, sedangkan panen tahap kedua pada 4 – 5 tahun, menghasilkan kulit yang memenuhi persyaratan ekspor.

Pemungutan hasil dapat dilakukan dengan 4 sistim, yaitu sistim ditebang sekaligus, sistim ditumbuk, sistim dipukul-pukul sebelum ditebang dan sistim Vietnam. Pengulitan dapat dilakukan sebelum atau sesudah ditebang dengan cara dikupas atau dipukul-pukul. Musim panen yang baik adalah pada awal musim hujan atau pada waktu daun tanaman seluruhnya berwarna hijau tua. Pada keadaan tersebut aliran getah antara kayu dengan kulit cukup banyak, sehingga memudahkan pengupasan kulit.

Bahan yang disuling biasanya berupa campuran daun, ranting dan sisa potongan kulit. Rendemen minyak yang dihasilkan sekitar 0,3 – 0,7 persen. Khususnya penyulingan dari bahan daun saja menghasilkan rendemen minyak sekitar 0,45 persen sedangkan dari ranting menghasilkan rendemen sekitar 0,2 persen. Mutu minyak yang dihasilkan tergantung dari bahan (daun) yang disuling dan musim panen. Pada musim hujan dan musim semi, rendemen minyak dari daun dan ranting lebih tinggi dibandingkan dengan daun pada musim panas dan musim gugur. Kadar aldhida (terutama smamat aldehida) dalam minyak kayu manis Tiongkok berkisar antara 70 – 95 persen.

Ditulis dalam Tanaman Kategori K. Tag: , , . Komentar Dimatikan

Instia bijuga /Merbau

 


 

Merbau termasuk famili Leguminosae (Caesalpiniaceae) merupakan pohon raksasa yang tingginya mencapai 40m dan diameternya bisa mencapai 200 cm. Penyebaran di dunia yaitu di Amerika Samoa, Australia, Birma, Kamboja, India, Indonesia, Madagaskar, Malaysia, Myanmar, Pulau-pulau di daerah Pasifik, Philipina, Vietnam, Papua Nugini, Thailand dll. Sebaran di Indonesia ada di Papua seperti di Manokwari, Sorong, Jayapura, Serui, Nabire dan Jayawijaya. Selain itu ditemukan di Maluku yaitu Seram dan Halmahera (Mahfudz et al.) potensi merbau terus menurun akibat eksploitasi yang tinggi, sehingga upaya dan pembangunan hutan tanaman merbau perlu dilakukan (Tokede et.al, 2006).

 

Pembibitan

Pembibitan merbau dapaat dilakukan secara generatif maupun vegetatif. Penyemaian benih merbau dilakukan pada media pasir sungai dengan perlakuan skarifikasi benih dengan cara mengikir kulit biji (Suripati et al dalam Untarto,199t) atau direndam air dingin 4 x 24 jam (Martawijaya et al, 1992). Teknik pembiakan vegetatif yang bisa dilakukan adalah dengan penyambungan/grafting dan stek pucuk (Mahfudz et al, 2006). Pembibitan di persemaian juga sering dilakukan dengan memanfaatkan anakan alam (wildlings) yang banyak ditemukan di hutan alam.

 

Kegunaan

Kayu merbau biasa digunakan sebagai bahan veneer, plywood, konstruksi rumah, jembatan, bantalan kereta api, kapal, lantai, meubel, interior kendaraan dll. Kayunya tergolong kelas kuat I-II dan kelas awet I-II (Martawijaya et al, 1992).

 

Bahan Bacaan

Mahfudz, Isnaini dan Moko, H. 2006. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh dan Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Stek Pucuk Merbau. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman vol. 3 No. 1. Pusat Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta.

Martawijaya, A., Kartasujana, I., Kadir, K. Dan Prawira, AP. 1992. Indonesian Wood Atlas. Volume 2. Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor.

Tokede,M,B.V. Mambai, L.B. Pangkali dan Zulfikar Mardiya. 2006. Persediaan Tegakan Alam dan analisis Perdagangan Merbau di Papua, WWF Region Sahul, Papua. Jayapura

Untarto, TM. 1997. Merbau Jenis Andalan Yang Unggul (AYU) Irian Jaya. Matoa. Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Manokwari.

Artocarpus camansi / Keluwih

Tanaman keluwih (Artocarpus camansi Blanco) adalah salah satu jenis tanaman dari famili moraceae yang banyak ditanam oleh masyarakat. Buahnya biasa dimanfaatkan pada waktu masih muda sebagai bahan sayur. Tumbuhnya tanaman keluwih merupakan indikator bahwa sukun juga bisa tumbuh dengan baik di daerah tersebut (Alrasjid, 1993). Tanaman keluwih tersebar di negara-negara tropis dan Pasifik. Pertumbuhan terbaik umumnya pada tanah yang subur dengan soil dalam di dataran rendah di ekuator yaitu pada ketinggian tepat kurang dari 600-650 m dpl dengan curah hujan rata-rata 1300-3800 mm/tahun. Namun demikian tanaman keluwih memiliki daya adapatasi yang relatif luas terhadap berbagai kondisi lingkungan (Ragone, 2006). Tinggi pohon mencapai lebih dari 15 meter dengan diameter batang yang relatif besar.

 

Gambar. Tanaman keluwih berbuah dan perkecambahan biji keluwih (Ragone, 2006)

Pemanfaatan tanaman kluwih umumnya buahnya dipanen sebagai bahan makanan dan memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, namun kayunya juga sering digunakan karena bersifat ringan dan mudah dikerjakan, antara lain untuk membuat patung, kerajinan, perahu dan lain-lain. Bunga jantannya yang kering bisa dimanfaatkan sebagai obat anti nyamuk dengan cara dibakar (Ragone, 2006). Bibit keluwih bisa dimanfaatkan sebagai tanaman batang bawah/rootstock pada pembibitan sukun dengan cara okulasi (Pitojo, 1992).

Bahan Bacaan

Alrasjid, H. 1993. Pedoman Penanaman Sukun (Arthocarpus altilis Fosberg). Informasi Teknis No. 42. Pusat Penelitian Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor

Ragone, D. 2006. Artocarpus camansi (Breadnut). Species profiles for Pacific Island Aroforestry (WWW. Traditionaltree.org) diakses 19 Nopember 2008.

Pitojo. S. 1992. Budidaya Sukun. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Ditulis dalam Tanaman Kategori K. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

CARA MUDAH DAN MURAH MEMBUAT BIBIT SUKUN

CARA MUDAH DAN MURAH MEMBUAT BIBIT SUKUN

 

Oleh: Hamdan AA. dan Suwandi

 

 

       Gambar 1. Buah sukun gundul

Tanaman sukun adalah salah satu jenis tanaman kehutanan yang menghasilkan buah dengan kandungan gizi yang tinggi. Selain menghasilkan kalori (karbohidrat) yang cukup, buah sukun juga mengandung vitamin C, kalsium dan fosfor yang cukup tinggi. Oleh karena itu jenis ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai alternatif bahan makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Salah satu kendala yang dihadapi dalam budidaya tanaman sukun adalah pengadaan bibit yang baik, karena jenis sukun tidak menghasilkan biji sehingga pembibitannya dilakukan secara vegetatif. Teknik pembiakan vegetatif yang dapat dilakukan antara lain pencangkokan, pemindahan tunas alami, stek akar dan stek pucuk. Akan tetapi teknik yang sudah biasa dilakukan adalah stek akar dan stek pucuk, karena dengan cara ini akan diperoleh bibit dengan jumlah yang mmadai.

 

Tahapan pembibitan sukun dengan stek akar

 

  1. Pemilihan  pohon induk yang baik dengan ciri-ciri sehat /tidak terserang hama/penyakit, produktivitas buah tinggi dan rasa buah enak
  2. Pengambilan akar dipilih yang  menjalar dekat dengan permukaan tanah dengan diameter 1-3 cm
  3. Pembuatab persemaian : akar dipotong-potong sepanjang 10-15 cm, kemudian dicuci dengan air yang telah diberi zat pengatur tumbuh akar. Stek ditanam dengan posisi tegak pada media pasir di dalam bedengan yang diberi sungkup dari plastik untuk menjaga kelembaban sampai dengan 90%. Penyiraman dapat dilakukan 1-2 kali sehari (pagi dan sore hari). Dengan memelihara kelembaban yang baik maka keberhasilan stek akar rata-rata mencapai 80-95%.
  4. Penyapihan dan pemeliharaan bibit : setelah stek akar yang tumbuh berumur 3 bulan dilakukan penyapihan ke media tanah + pupuk kompos (3:1). Bibit dipelihara di persemaian yang di naungi paranet dengan intensitas cahaya 50%. Bibit sudah siap tanam setelah berumur 6 bulan

  Gambar 2. Tahapan pembibitan sukun dengan stek akar

 Tahapan pebibitan sukun dengan stek pucuk:

 

  1. Pembuatan stek pucuk dari trubusan stek akar : biasanya pada stek akar tumbuh 2-5 tunas, untuk mendapatkan pertumbuhan bibit stek akar yang baik hanya dibiarkab satu buah tunas, sisanya dipangkas. Tunas-tunas yang tidak dimanfaatkan tersebut dapat ditanam sebagai stek pucuk dengan persen hidup rata-rata 90-100%.
  2. Pembuatan stek pucuk dari kebun pangkas : selain itu dapat pengambilan tunas dapat dilakukan dari tanaman sukun yang dipangkas. Pembuatan kebun pangkas dapat dilakukan di persemaian atau di lapangan. Tanaman sukun yang dipangkas setinggi 50 cm. Keberhasilan tumbuh stek pucuk dari kebun pangkas mencapai 64,50%.

    Gambar 3. Tahapan pembibitan sukun dengan stek pucuk

  Pembuatan stek pucuk dilakukan dengan memotong tunas sepanjang 10 cm, memiliki 2-3 daun. Satu buah tunas dapat dibuat menjadi 2 stek pucuk (potongan ujung dan bagian pangkal). Penanaman stek dilkukan pada media pasir sungai di dalam bedengan bersungkup. Stek pucuk dapat disapih ke media tanah + kompos (3:1) setelah berumur 2-3 bulan. Bibit dipelihara di persemaian dengan naungan paranet 50% sampai siap tanam. Keberhasilan tumbuh stek pucuk dapat mencapai 88,83%.

 Bahan bacaan

 Adinugraha, H.A., Kartikawati, N.K. dan Suwandi. 2004.Penggunaan Trubusan Stek Akar Tanaman Sukun Sebagai Bahan Stek Pucuk. Jurnal Penelitian Hutan tanaman vol. 1 no. 1, April 2004,   halaman 21-28. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

Adinugraha, H.A., Kartikawati, N.K dan Ismail, B. 2004. Pengaruh Ukuran Stek Posisi dan Kedalaman Tanam Terhadap Pertumbuhan Stek Akar Sukun. Jurnal Penelitian Hutan tanaman Vol. 1 No. 2, Agustus 2004,   halaman 79-86. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemu-liaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

Setiadi, D. Dan Adinugraha, H.A. 2005Pengaruh Tinggi Pangkasan Induk Terhadap Kemampuan Bertunas Tanaman Sukun Pada Kebun Pangkas. Jurnal Penelitian Hutan tanaman Vol. 2  No. 2, Agustus 2005,   halaman 13-20. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , , . 7 Comments »

Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol)

Buah Kepel tumbuh memenuhi batang pohonnya. Bentuk buah Kepel bulat lonjong dengan bagian pangkal agak meruncing. Warna buah Kepel (Stelechocarpus burahol) coklat agak keabu-abuan, dan ketika sudah tua akan berubah menjadi coklat tua. Daging buah berwarna agak kekuningan sampai kecoklatan membungkus biji yang berukuran cukup besar. Rasa buah Kepel manis.

Habitat dan Persebaran. Pohon Kepel atau Burahol tersebar di kawasan Asia Tenggara mulai dari Malaysia, Indonesia hingga Kepulauan Solomon bahkan Australia. Di Indonesia, terutama di Jawa, Pohon Kepel mulai jarang dan langka.

Pohon Kepel dapat tumbuh di habitat yang berupa hutan sekunder yang terdapat di dataran rendah hingga ketinggian 600 mdpl.

Konservasi Pohon Kepel. Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) menjadi salah satu pohon yang langka. Kelangkaan tanaman ini lebih disebabkan oleh adanya anggapan pohon ini sebagai pohon keraton yang hanya pantas di tanam di istana. Rakyat jelata, khususnya masyarakat Jawa akan merasa takut mendapatkan tuah (kuwalat) jika menanam pohon ini.

Selain itu, sebagian masyarakat juga merasa buah ini malas untuk membudidayakannya. Meskipun memiliki rasa yang manis tetapi sebagian besar isi buah dipenuhi biji sehingga mengurangi minat orang untuk membudidayakannya.

Kini, pohon langka ini masih dapat ditemui di kawasan keraton Yogyakarta, TMII, Taman Kiai Langgeng Magelang, dan Kebun Raya Bogor.

Filosofi dan Manfaat Kepel. Buah Kepel (Stelechocarpus burahol) yang buahnya seukuran kepalan tangan orang dewasa mempunyai filosofi sebagai perlambang kesatuan dan keutuhan mental dan fisik karena seperti tangan yang terkepal.

Buah Kepel sejak zaman dahulu telah dipergunakan oleh para putri keraton sebagai penghilang bau badan dan pewangi badan. Selain itu juga dipercaya sebagai salah satu sarana kontrasepsi sebagai sterilitas wanita (KB).

Daging buah kepel dipercaya mempunyai khasiat memperlancar air kencing, mencegah inflamasi ginjal. Kayu pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) dapat digunakan sebagai bahan industri atau bahan perabot rumah tangga dan bahan bangunan yang tahan lebih dari 50 tahun. Daun kepel bisa juga dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat. Lalap daun kepel mampu menurunkan kadar kolesterol.

Sebuah ironi, pohon Kepel yang sarat filosofi dan manfaat lagi digemari oleh para putri keraton justru pohon tersebut menjadi langka dan terancam punah lantaran rakyat jelata takut kuwalat jika ikut menanamnya. Adakah ini menyiratkan kepada kita bahwa kita tidak boleh terlalu menggantungkan asa pada para penguasa. Kitalah, segenap rakyat yang bisa menentukan lestari tidaknya alam ini termasuk pohon Kepel, pohon Burahol.

Ditulis dalam Tanaman Kategori K. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

KUPA/GOWOK (Eugenia polycephala miq)

Gowok, kupa, atau kepa adalah pohon buah anggota suku jambu-jambuan atau Myrtaceae yang berasal dari Indonesia, khususnya Jawa dan Kalimantan. Nama-namanya dalam bahasa daerah adalah gohok (Btw.), kupa, kupa beunyeur (Sd.), gowok, dompyong (Jw.). [1]

Pohon kecil sampai sedang, tinggi 8-20 m dan gemang hingga sekitar 50 cm. Daun tunggal berhadapan, lonjong, 17-25 x 6-7 cm.

Buah buni, bulat agak gepeng, 2-3 cm garis tengahnya, ungu tua hingga kehitaman mengkilap, bermahkota tabung kelopak, tersusun dalam rangkaian.[2] Daging buah putih atau agak merah ungu, banyak mengandung sari buah, masam atau asam manis agak sepat, berbiji gepeng dengan kulit putih atau merah ungu.

Gowok tumbuh liar terutama di hutan-hutan sekunder, antara ketinggian 200-1800 m dpl. Selain itu gowok juga ditanam di ditanam di kebun-kebun pekarangan dan lahan-lahan wanatani yang lain.

Gowok kebanyakan ditanam untuk diambil buahnya, kerap dijual di pasar untuk dimakan segar, sebagai bahan rujak atau untuk disetup. Kayunya berwarna kemerahan, digunakan sebagai bahan bangunan atau perabotan. Tanaman ini diperbanyak dengan biji.

Ditulis dalam Tanaman Kategori K. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

Sekjen AMAN: Ternyata yang Pertama Perlu Direvolusi Mentalnya Adalah JK

Sekjen AMAN kecewa dengan pernyataan JK soal pengurangan jumlah kementerian. Berarti yang perlu kena revolusi mental pertama kali adalah JK.

Beberapa waktu lalu Jusuf Kalla (JK) keberatan dengan opsi pengurangan jumlah kementerian. Salah satu alasan Wakil Presiden terpilih ini adalah mau diapakan itu PNS-PNS yang kantor kementeriannya  dilikuidasi.

AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) memang lagi getol-getolnya menyuarakan pembubaran Kementerian Kehutanan, karena banyak tugas-tugasnya bisa digabung dengan Kementerian lainnya.
43sekjen_aman_abdon_nababan
“Masyarakat Adat yang tergabung dalam organisasi AMAN sebagai pendukung penuh pemenangan  Jokowi-JK memang berharap pemerintahan yang akan datang tegas membubarkan Kementerian Kehutanan,” tegas Abdon Nababan, Sekjen AMAN di Jakarta (03/09).

AMAN, menurut Abdon, sangat kecewa dengan pernyataan dan alasan JK yang berkeberatan dengan likuidasi jumlah kementerian dalam kabinet Jokowi ke depan.

Kalau PNS (Pegawai Negeri Sipil) alasannya, sangat tidak masuk akal. “Kan negara cuma satu, dia bisa memindahkan pegawai ke mana saja, gak ada yang dipecat, gak ada yang kehilangan pekerjaan,” ujar Abdon.

Menurut Abdon likuidasi beberapa kementerian, khususnya Kementerian Kehutanan, justru adalah hal yang sangat penting dan mendesak untuk dilakukan Jokowi-JK.

Alasannya, banyak tugas-tugas di Kementerian Kehutanan sebenarnya bisa disatukan dengan Kementerian lainnya. Contoh, soal tugas rehabilitasi kawasan, kenapa tidak digabung saja dengan Kementerian Pertanian.

“Wong urusannya sama kok, lalu apa bedanya menanam pohon sama menanam coklat? Sama-sama menanam tumbuhan kok,” tegas Abdon.

Lalu kawasan konservasi yang diurus oleh BHKA Kementerian Kehutanan, ternyata bisa juga digabung dengan Kemenenterian Lingkungan Hidup. Hal ini mengingat tugas dan urusannya sama-sama melindungi dan menjaga lingkungan hidup.

Lagipula, tugas menjaga lingkungan hidup yang menjadi tugas Kementerian Lingkungan Hidup ternyata termasuk juga soal urusan menjaga lingkungan hidup di dalam kawasan hutan.

Lagi, bagaimana nasib PNS-nya? Itu tadi, dipindahkan, tidak ada yang diberhentikan. “Tinggal dipindahkan saja mereka ke Kementerian Lingkungan Hidup,” ujarnya.

Selanjutnya, AMAN berharap didirikan kementerian baru, Kementerian Agraria namanya. “Kementerian Kehutanan dan BPN RI nanti diletakkan dalam Kementerian Agraria saja,” terangnya.

Mengapa? Biar izin-izin berada dalam satu pintu saja, demi ke depannya mencegah keluarnya izin-izin korporasi yang tak jelas itu.

Lagi pula Kementerian Kehutanan dan BPN RI ini aneh. BPN RI tidak bisa melakukan tugasnya di kawasan kehutanan. “Ini seperti negara di dalam negara, aneh sekali,” ujarnya. Baca berita terkait: HUT AMAN 15: Kado Indah Jika Kemenhut Bubar

“Jadi kalau tidak dibenahi lewat revolusi mentalnya Jokowi-JK, berarti tak akan terjadi perubahan yang positif dalam urusan tanah dan sumber daya alam,” tuturnya.

“Kalau dia masih berfikir seperti itu, kemana pegawai, berarti Jusuf Kalla itu sebenarnya belum tersentuh revolusi mentalnya Jokowi, catat itu,” tegas Abdon.

Sebelumnya di rumah transisi Jusuf Kalla memberikan sinyal ogah menurunkan jumlah 34 (kementerian dan lembaga).

Alasannya, untuk ukuran jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar ini, pengurangan jumlah justru tidak memungkinkan.

Pengurangan dikhawatirkan akan memperlambat kinerja kabinet yang butuh penyesuaian yang lama, padahal Jokowi-JK ingin bekerja cepat. Lagi pula bagaimana dengan nasib ribuan PNS jika suatu kementerian dibubarkan, bagaimana karir mereka nanti

Sumber: http://suaraagraria.com/detail-20956-sekjen-aman-ternyata-yang-pertama-perlu-direvolusi-mentalnya-adalah-jk.html#.VAzxB6PErXs

Ditulis dalam Kabar-kabari. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

Peluncuran Produk Iptek/Benih Unggul Badan Litbang Kehutanan

Fiptek litbangORDA (Yogyakarta, 28/08/2014)_ Saat ini kebutuhan benih unggul menjadi salah satu tuntutan dalam peningkatan produktivitas hutan tanaman,hutan tanaman rakyat, hutan rakyat maupun kegiatan reahabilitasi hutan. Dalam Rencana Kehutanan Tingkat Nasional 2011-2030 pemerintah telah menargetkan Hutan Tanaman seluas 14,5 juta ha dengan produksi 362,5 juta m3/tahun dan MAI 25m3/ha/tahun dan  rehabilitasi seluas 11,55 juta ha atau 580.000 ha/tahun. Penggunaan benih unggul dipadukan dengan teknik silvikultur menjadi faktor penting dalam peningkatan produktivitas hutan dan penggunaan benih unggul dapat mendorong percepatan pembangunan hutan di Indonesia (Kompas, 2014).

Untuk mendorong percepatan penggunaan benih unggul maka dilakukan peluncuran produk Iptek/Benih Unggul dan penyerahan bibit kepada para pihak dan guna mempererat jiwa korsa rimbawan sebagai modal untuk penyelarasan program-program kehutanan, maka dilakukan temu rimbawan sekaligus pembinaan pegawai kehutanan di Daerah Istimewa Yogjakarta baik dari UPT maupun Dinas Kehutanan, di Kantor Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH) Yogyakarta pada hari Kamis (28/08).

Peserta yang hadir dalam peluncuran tersebut terdiri dari Bupati Kepahyang, Wakil Bupati Pacitan, Direktur Hutan Tanaman, Direktur RHL, Kapusprohut, Biotrop, UPT Kemenhut di DIY, Dinas Kehutanan Propinsi DIY, Dinas Kehutanan Provinsi NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Direktorat Perbenihan, Direktorat Bina RHL, Direktorat Hutan Tanaman, UGM, Balai Pengelolaan DAS , BPTH, KPH Yogyakarta, KPH Biak Numfor, KPH Batulanteh, Perusahaan swasta dan masyarakat,

“BBPBPTH mempunyai peran untuk menghasilkan Iptek di bidang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, ini terkait dengan banyak tugas yang diamanatkan oleh Pemerintah, yang pertama dengan adanya peran pembangunan hutan tanaman yang terkait dengan Direktorat Hutan Tanaman, tentunya juga terkait dengan program-program rehabilitasi hutan dan kegiatan pengembangan hutan rakyat maupuan yang lain dan ini sangat terkait dengan penyediaan benih unggul”, kata Dr. Ir. Mahfud Muhtar, MP, Kepala BBPBPTH Yogyakarta dalam laporan penyelenggaran peluncuruan produk Iptek/benih unggul, di Yogyakarta.

“Kami disini dengan kawan-kawan telah berupaya menyediakan benih unggul agar terjadi percepatan pembangunan hutan tanaman khususnya kegiatan rehabilitasi hutan kita khususnya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan hutan rakyat” tegas Mahfud.

“Pada kesempatan ini kami berharap adanya percepatan alih teknologi ataupun penyerahan produk-produk kami kepada para pengguna sehingga produktivitas kedepan yang kita inginkan kedepan dalam pembangunan 25 tahun kedepan bisa dilakukan berbasis peningkatan produktivitas hutan”, harap Mahfud

Lebih lanjut Mahfud mengatakan bahwa Balai Besar telah menghasilkan dan melepas 5 produk kami, yaitu Acacia mangium generasi 1, Eucalyptus generasi 1 dan 2 dan kayu putih,  dan saat ini akan melepas saru produk lagi yaitu Jati Purwobinangun. Sedangkan ada beberapa teknologi yang siap lepas juga yaitu teknologi untuk sengon tahan karat tumor, perbanyakan kultur jaringan untuk cendana, kemudaian teknologi pembangunan sumber benih Acacia hybrid, kayu putih dan yang lainnya.

“Jadi ada beberapa yang dilepas hari ini, kita berharap apa yang kita lepas ini akan mempunyai nilai manfaat untuk pembangunan hutan di masa akan datang”, harap Mahfud.

Pada kesempatan tersebut, ucapan selamat datang Gubernur DIY, diwakili oleh  Ir. Gunawan dari Dinas Kehutanan DIY menyampaikan kebanggaannya bahwa Yogyakarta melalui inisiatif BBPBPTH menjadi magnet dalam setiap kegiatan pembangunan, kaitannya dengan bioteknologi pembangunnan kehutanan yang sesuai misi dengan pembangunan kehutanan Jogja sebagai kota wisata.

“Jogja itu kecil, luas 318 km2 dan luas hutannya sempit tetapi justru melalui dukungan BBPBTH Yogjakarta syarat dengan pengembangan teknologi dengan pembangunan KPH kayu putih unggulan kemudian juga dengan beberapa tanaman jati yag dikembangkan dan beberapa tanaman tumpangsarai yang dikembangkan untuk peningkatan produktivitas hutan”, kata Gunawan.

“Ada beberapa hal yang perlu dikembangkan dalam kaitanan dengan pengembangan teknologi ini, kaitannya dengan kepentingan masyarakat, misalnya terkait dengan daur tanaman yang panjang perlu dibuat teknologi agar daurnya menjadi diperpendek, ”tegas Gunawan.

Lebih lanjut Gunawan berharap, Badan Litbang bisa mencetuskan produk-peoduk yangg bisa diaplikasikan di lapangan yang bisa menambah produktiviatas pembangunan kehutanan khususnya di Yogyakakarta dan juga seluruh Indonesia untuk membawa pembangunan kehutanan berkualitas.

Menyambut baik progres hasil litbang berupa Iptek/produk benih unggul yang diluncurkan, Menteri Kehutanan yang diwakili oleh Kepala Badan Litbang, Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc dalam sambutannya mengatakan, bahwa telah mencermati dengan seksama kiprah Badan Litbang Kehutanan terutama tahun lalu, pada saat Badan Litbang Kehutanan merayakan peringatan 100th Litbang Kehutanan Indonesia.  Pada saat itu saya berkunjung ke kampus Badan Litbang Gunung Batu Bogor. Di Badan Litbang, Saya menemukan banyak Informasi tentang pengelolaan Hutan di Indonesia termasuk informasi benih unggul untuk Tanaman Hutan. Ternyata memang semua aspek pengelolaan hutan berawal dari Badan Litbang Kehutanan. “Oleh karena, itu tidak heran saat ini Badan Litbang telah menyiapkan beberapa peluncuran dan pelepasan bibit unggul yang bermanfaat, baik untuk pembangunan Hutan Rakyat maupun pembangunan Hutan Tanaman”, kata Prof San.

Sesuai dengan Laporan Kepala Badan Litbang Kehutanan, bahwa pada kesempatan ini kita tidak hanya akan melepas benih unggul dan menyerahkannya kepada pengguna, tetapi tadi juga dilaporkan bahwa Badan Litbang Kehutanan telah siap dengan rencana implementasi untuk mendukung pengelolaan ekosistem Merapi. Dapat dipahami sepenuhnya, bahwa Gunung merapi mempunyai arti yang sangat penting bagi masyarakat Yogjakarta. “Oleh karena itu dukungan Kementerian Kehutanan melalui Badan Litbang Kehutanan harus terwujud sehingga ekosistem Merapi bisa memberikan arti yang sebesar-besarnya bagi masyarakat Jogjakarta khususnya, ” harap Prof San.

Lebih lanjut Prof San mengatakan bahwa seperti kita ketahui bersama, program Kementerian Kehutanan lima tahun terakhir ini menekankan pada aspek rehabilitasi hutan dan lahan dengan aksi penanaman, baik di kawasan hutan negara maupun di areal hutan rakyat.

“Kita semua menyadari bahwa penanaman merupakan investasi jangka panjang, yang baru akan dirasakan manfaatnya setelah jangka waktu yang lama.  Dengan demikian, apabila kita menggunakan bibit asalan pada program penanaman, maka dikemudian hari kita tidak akan mendapatkan hasil yang baik seperti  rencana semula, ” tegas Prof San. Setelah mengetahui bahwa telah tersedia bibit berkualitas dengan sumber benih dan persemaian yang telah tersebar, maka pada akhir tahun 2013 lalu telah kami terbitkan SK Menteri Kehutanan No 707 th 2013 tentang penetapan Jenis Tanaman Hutan yang Benihnya Wajib diambil dari Sumber benih Bersertifikat.

“Ada lima jenis yang kami wajibkan agar benihnya diambil dari sumber benih yang bersertifikat, yaitu Jati, Mahoni, Sengon, Gmelina dan jabon. Jenis-jenis ini selain sumber benih bersertifikatnya telah tersedia, tetapi juga merupakan jenis-jenis yang diterapkan oleh masyarakat luas di hutan rakyat.” kata Prof San.

“Pada pagi hari ini kita akan melepas dan menyerahkan beberapa jenis bibit unggul lagi, bahkan tidak hanya untuk hutan rakyat tetapi juga untuk Hutan tanaman Industri. Saya sungguh berharap tahun-tahun mendatang harus lebih banyak lagi benih unggul yang dilepas dengan SK Menteri Kehutanan. Momen ini harus menjadi penyemangat bagi para peneliti untuk terus berupaya memuliakan tanaman hutan, ” tegas Prof San.

Sementara itu bagi para praktisi agar terus membudayakan penggunaan bibit unggul dalam penanaman, baik di Hutan Tanaman maupun di Hutan Rakyat. “Sudah saatnya kita meninggalkan penggunaan bibit asalan dan tidak jelas kualitas genetiknya pada kegiatan pembuatan tanaman di areal hutan, sehingga kegiatan penanaman dapat menjadi usaha yang menguntungkan,” harap Prof San.

Lebih lanjut Prof San mengatakan bahwa prinsip dasar intensifikasi, adalah bibit unggul merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan. Namun demikian riset benih unggul juga harus terintegrasi dengan upaya lain yaitu teknik silvikultur dan pecegahan hama dan penyakit

“Kualifikasi klon unggul jati Purwobinangun ini sungguh luar biasa, karena mampu menghasilkan riap 24,38 m3/ha/tahun’ kata Prof San. Kita bandingkan dengan klon terbaik yang dipunyai Perum Perhutani hanya mampu menghasilkan 14m3/ha/tahun. Apabila kita membandingkan dengan jati yang ditanam tanpa IPTEK pemuliaan tanaman, hanya mampu menghasilkan 1 m3/ha/tahun. “Dengan demikian Klon jati unggul Purwobinangun merupakan lompatan peningkatan produktifitas yang sangat besar. Untuk itu kita perlu memberikan apresiasi yang tinggi atas usaha pemuliaan tanaman yang menghasilkan klon unggul jati Purwobinangun” tegas Prof San.

“Dengan dukungan penuh dari Badan Litbang Kehutanan dan upaya yang sungguh-sungguh dari kita semua, saya yakin sektor Kehutanan akan berjaya kembali dan menjadi bagian penting bagi Kejayaan Indonesia,” harap Prof San.

Setelah lima tahun Kementerian Kehutanan terus mendorong masyarakat dengan gerakan menanam, maka pada kesempatan yang baik ini Menhut juga ingin menitipkan pesan agar; 1) Semangat menanam ini terus dijaga dan difasilitasi penyediaan bibit dan teknik-teknik yang harus diterapkan; 2) Pendampingan kepada masyarakat juga merupakan aksi yang sangat strategis dan sangat diperlukan, agar konsep-konsep kebijakan serta hasil IPTEK dapat diterapkan dengan baik oleh masyarakat melalui keswadayaan; dan 3) Dalam hal bibit unggul, maka proses pelepasan dan penyerahan bibit unggul ini juga harus dilengkapi dengan pendampingan oleh peneliti pemulia tanaman agar bibit unggul yang disediakan dapat ditanam dan dibudidayakan oleh masyarakat sesuai persyaratannya.

Pada akhir sambutannya Menhut melepas  Klon unggul Jati Purwobinangun, IPTEK benih unggul Acasia mangium hibrida, IPTEK kultur jaringan klon unggul cendana, IPTEK kultur jaringan sengon tahan karat tumor dan menyerahkan bibit unggul Acasia mangium dan bibit unggul kayu putih

Selain itu, Prof San dalam kesempatan terakhir meminta untuk nama Jati Purwobinangun kalau boleh disingkat namanya menjadi Jati Purwo tidak usah pakai Purwobinagun. Kenapa Jati Purwo, supaya enak ngomongnya, kalau Purwobinangun kepanjangan. Kenapa Purwo? Purwo itu wiwit (awal) atau yang pertama, kita ingin riap 24,38 m3/ha/tahun’ diawali dari Balai Besar kita ini.

Pada kesempatan tersebut diserahkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. SK. 711/Menhut-II/2014 tentang Pelepasan Klon Unggul Jati Purwobinangun (Tectona grandis LINN) oleh Kepala Badan Litbang Kehutanan kepada Kepala BBPBPTH.

Penyerahan Produk IPTEK berupa sertifikat oleh Kepala Badan Litbang Kehutanan kepada Bupati Pacitan (IPTEK Benih Unggul Akasia hibrida), Yayasan Sanlima (IPTEK Klon Unggul Cendana), Bupati Kepahyang (IPTEK Kultur Jaringan Sengon Toleran Karat Tumor).

Kemudian juga diserahkan Benih Unggul Acasia mangium Generasi Kedua kepada Bupati Pacitan dan Dinas Kehutanan Lombok Barat, Benih Unggul Kayu Putih kepada Kehutanan dan Perkebunan DIY, Yayasan Sanlima dan Pan Brother Grup, Benih Nyamplung kepada Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Serayu Opak Progo, Bibit Bambu kepada BPDAS Sampeyan, Bibit Jati kepada Dinas Kehutanan Sulawesi Selatan serta Benih Sengon kepada Bupati Kepahyang, Bengkulu

Setelah itu acara dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan kepada peneliti terbaik lingkup Badan Litbang Kehutanan dan penandatanganan MoU dan Perjanjian Kerjasama antara BBPBPTH dengan BIOTROP (Penelitian, Pengembangan dan Publikasi), Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan (Pengembangan Jati), BPDAS SOP (Kerjasama Nyamplung) dan PT. PAN Brothers Group (Kerjasama Pengembangan Kau Putih). Acara diakhiri dengan kegiatan penanaman dan kunjungan ke Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca.** (PK)

Sumber: http://www.forda-mof.org/index.php/berita/post/1809

Ditulis dalam Kabar-kabari. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

Bak Menapak di Atas Awan di Gunung Cikuray

Bak Menapak di Atas Awan di Gunung CikurayDalam setahun terakhir, kawasan Gunung Cikuray Kabupaten Garut mulai dibanjiri para pendaki dari berbagai daerah.

Kondisi gunung kerucut cukup ekstrem dengan ketinggian mencapai sekitar 2.841 meter di atas permukaan laut (mdpl) merupakan tantangan sekaligus merupakan daya tarik utama para pendaki merasakan keindahan alam Cikuray. Apalagi bagi para pehobi fotografi, berada di Gunung Cikuray dapat merasakan sensasi bak menapak di atas awan karena kerap terlihat gulungan awan memenuhi sekitar.

Para pendaki dapat menikmati keelokan bentangan perkebunan teh serta kawasan kota Garut, lengkap dengan latar belakang rangkaian pegunungan yang mengelilinginya, mulai Gunung Papandayan, Guntur, Mandalawangi, Kaledong, Haruman, Sadakeling, Sadahurip, hingga Gunung Karacak. Bahkan Gunung Galunggung Tasikmalaya dan Gunung Ciremai Cirebon pun dapat terlihat jelas jika cuaca cerah.

Dari atas Gunung Cikuray, para pendaki juga bisa menyaksikan panorama matahari terbit atau terbenam yang menakjubkan. Ada tiga jalur pendakian menuju Gunung Cikuray, yakni jalur Cikajang, Cigedug, dan PTPN VIII Kebun Teh Dayeuhmanggung Cilawu.

Dari ketiganya, akses termudah dan paling favorit adalah jalur Dayeuhmanggung. Sebab di sana sudah tersedia jalan melintasi tengah-tengah kawasan perkebunan teh, dan terhubung langsung ke pemancar stasiun televisi yang merupakan pos pertama menuju pendakian.

Pihak PTPN VIII Kebun Teh Dayeuhmanggung pun terus berupaya melakukan berbagai penataan bekerjasama dengan masyarakat serta pemerintah daerah setempat untuk pengembangan potensi kepariwisataan kawasasan Cikuray tersebut. Diharapkan aktivitas kepariwisataan di sana dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekaligus mendatangkan pemasukan bagi pendapatan asli daerah Pemkab Garut.

“Untuk menyambut pengunjung, kita jajaki kerjasama dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat, kita berusaha melakukan penataan, mulai perbaikan infrastruktur jalan, sejumlah fasilitas, kebersihan yang selama ini tak tersentuh. Memang kita minta pengunjung kerelaannya pas masuk kawasan, tapi itu pun pada dasarnya dikembalikan untuk mereka sendiri. Dan ternyata pengunjung semakin banyak,” tutur Administratur PTPN VIII Dayeuhmanggung Umar Hadikusumah.

Dia menyebutkan, jumlah pengunjung dalam setahun terakhir mencapai sekitar 200-300 orang per pekan, dengan puncak keramaian terutama pada Sabtu dan Minggu.

Senada dikemukakan Dede Rohana (37), koordinator relawan di kawasan wisata Gunung Cikuray. Menurutnya, jumlah pengunjung termasuk para pendaki ke Gunung Cikuray terus mengalami peningkatan dalam enam bulan terakhir. Bahkan pada libur panjang hari Nyepi beberapa waktu lalu, jumlahnya mencapai sekitar 2.100 orang, setara jumlah pengunjung ke kawasan obyek wisata Situ Bagendit.

“Sampai saat ini jumlah pengunjung baru 40% dari potensi yang ada. Saya yakin jumlahnya akan terus bertambah kalau akses jalan diperbaiki. Karenanya saya berharap perbaikan akses jalan ini menjadi prioritas dalam penataan kawasan wisata Cikuray,” ujarnya.

Dede mengakui, seiring bertambahnya jumlah pendaki ke Gunung Cikuray, persoalan sampah pun menjadi hal mutlak diperhatikan. Karenanya, setiap pendaki selalu diwanti-wanti agar selalu menjaga lingkungan alam Gunung Cikuray, serta tidak meninggalkan sampah di sana.

Dari titik pendakian di stasiun pemancar TVRI, dan televisi swasta, ada sedikitnya 6 pos pendakian sebelum mencapai puncak Gunung Cikuray. Masing-masing pos memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri dengan kelebatan hutan yang dipenuhi ragam flora dan faunanya. Jenis satwa liar yang masih kerap terlihat di sana antara lain merak, babi hutan, kera, dan macan tutul.

Di Pos Pemancar TV juga selalu siaga sejumlah sukarelawan yang siap menjadi penunjuk jalan sekaligus membawakan barang bawaan mereka hingga ke pos tujuan. Mencapai lokasi Pos Pemancar TV di Dayeuhmanggung kaki Gunung Cikuray, dari Terminal Guntur Garut, wisatawan atau pendaki dapat menggunakan jasa angkutan kota jurusan Terminal Guntur-Cilawu, dan turun di pertigaan menuju perkebunan Dayeuhmanggung atau di daerah Patrol Desa Dawungsari.

Dari sana wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menggunakan jasa ojek dengan ongkos sekitar Rp35.000 per orang. Atau bisa juga dari Terminal Guntur Garut langsung menuju Pemancar TV dengan menggunakan jasa angkutan pikap pelat hitam dengan ongkos sekitar Rp40.000 per orang.

sumber : http://dishut.jabarprov.go.id/?mod=detilBerita&idMenuKiri=&idBerita=4065

Ditulis dalam Kabar-kabari. Tag: , , . Komentar Dimatikan

Akhirnya Seluruh Anggota Komite Pengarah Nasioanal DGM Terisi

Evaluasi_3-300x211Setelah pelaksanaan musyawarah regional masyarakat adat dan komunitas lokal di tujuh regio serta musyawarah nasional perempuan adat dan komunitas lokal akhirnya seluruh anggota Komite Pengarah Nasional DGM terisi. Dalam masa transisi diharapkan ada pertemuan dimana ada pembahasan internal tentang kelembagaan Komite Pengarah Nasional DGM dan mekanisme dalam kelembagaan serta bagaimana relasinya dengan Kamar Masyarakat DKN dan Konstituen, termasuk bagaimana posisinya terhadap FIP.

Agar proses yang dibangun tidak terlepas dari konstituen Kamar Masyarakat DKN maka Komite Pengarah Nasional DGM harus melakukan pertemuan di tingkat regio untuk menjelaskan apa yang telah disusun sebagai mandat yang diberikan kepadanya. Selain itu juga menyelenggarakan pertemuan tahunan untuk evaluasi kinerja Komite Pengarah Nasional DGM.

Sebagai langkah awal, Komite Pengarah Nasional DGM diberikan informasi mengenai FIP sampai mereka memahami betul apa itu FIP dan bagaimana peran dalam skema besar FIP ke depan. Hal tersebut mengemuka saat evaluasi proses pelaksanaan musyawarah regional masyarakat adat dan komunitas lokal yang diselenggarakan Kamar Masyarakat DKN, Jumat (20/6) di Legian-Bali.

Persoalan lain yang juga banyak mendapat sorotan dari peserta evaluasi adalah mengenai Komite Transisi DGM yang seharusnya bisa menempatkan diri untuk bertanggungjawab mengawal proses secara subtantif sampai selesai. Selain itu adanya upaya intervensi dari pihak lain dalam penentuan peserta, di mana seharusnya hal tersebut menjadi wewenang Kamar Masyarakat DKN sebagai penyelenggara kegiatan. Hal ini menimbulkan permasalahan, khususnya terkait dengan representasi masyarakat adat yang hadir sebagai peserta. Masalah lain terkait dengan peserta adalah sulitnya mencari peserta perempuan.

Kemudian, narasumber dari daerah juga dinilai ‘gagap’ dalam menanggapi issue nasional, hal itu disinyalir karena koordinasi/ komunikasi internal di pemerintah yang kurang maksimal. Sementara, di beberapa regio juga ada persoalan dengan narasumber, seperti terjadi di regio Sumatera yang dinilai tidak ada benang merah antara tiga narasumber yang dihadirkan. Sehingga ke depan perlu adanya pertanyaan panduan untuk narasumber agar dapat lebih fokus pada tujuan.

Selain itu ke depan perlu ada panduan fasilitasi agar proses bisa berjalan sesuai tujuan. Hal ini disebabkan karena masih ada fasilitator yang belum paham tentang DGM, serta kurang memiliki kemampuan untuk mendampingi penyusunan program. Padahal fasilitator seharusnya mendampingi peserta dan memberikan arahan dalam diskusi di Sidang Komisi.

Terkait dengan substansi pertemuan, ada dua hal yang meleset dari rencana awal yaitu tentang Putusan MK 35 dan UU Desa. Kedua hal tersebut awalnya direncanakan untuk menjadi substansi yang dibahas dalam musyawarah regional masyarakat adat dan komunitas lokal di setiap regio. Namun kenyataannya hal tersebut tidak terlaksana karena kalah dengan issue konflik kehutanan.

Sumber : http://dkn.or.id/akhirnya-seluruh-anggota-komite-pengarah-nasioanal-dgm-terisi/

Ditulis dalam Kabar-kabari. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

“Prestasi Nol Besar, Bubarkan Kementerian Kehutanan!”

1037529hutan780x390Kementerian Kehutanan dinilai sebagai instansi minim prestasi. Karena itu, kementerian ini disarankan untuk dibubarkan saja.

“Kemenhut harus dibubarkan. Prestasinya mana selama ini?” ujar Koordinator Hukum dan Politik Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi, di sela diskusi acara Forests Asia Summit 2014, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (6/5/2014).

Jika Kementerian Kehutanan memang berfungsi, kata Rukka, maka seharusnya tak akan ada pembalakan liar. Kenyataannya, sebut dia, hutan habis dibabat dan konflik meluas di masyarakat terkait pengelolaan hutan.

Rakyat, ujar Rubka, tidak mendapat kepastian tentang keuntungan dari perusahaan swasta yang mengeruk lahan masyarakat. Bagi negara pun, keuntungannya tidak jelas. Malah keuntungan itu dinikmati oknum-oknum TNI dan polisi yang mengambil kesempatan dari pemberian izin dan pengawalan perusahaan.

Sebagai contoh, sebut Rubka, pada Senin (5/5/2014), Perusahaan Munte Waniq Jaya Perkasa membuldoser sejumlah perkebunan kelapa sawit rakyat di Muara Tae, Kalimantan Timur. Tindakan ini dikawal oleh TNI dan Brimob.

Menurut Rubka, tindakan tersebut menguatkan tudingan bahwa Kementerian Kehutanan justru menghalangi kemajuan negeri karena menciptakan konflik di tanah sendiri. Pada saat yang sama, prestasi kementerian itu menurut dia nol besar.

“Mana ada (prestasi Kementerian Kehutanan)? Tunjukin di mana? Itu kan retorika Presiden saja,” tepis Rukka saat wartawan bertanya pendapatnya soal program penanaman 4 miliar pohon dalam 4 tahun sebagaimana pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2014/05/07/0544407/.Prestasi.Nol.Besar.Bubarkan.Kementerian.Kehutanan.

Ditulis dalam Kabar-kabari. Tag: , , , . Komentar Dimatikan
Novilita

Blog Pribadi, suka-suka Gue..

Sampaikan Walau Satu Ayat

DIPERSILAHKAN JIKA INGIN MENGCOPY DAN MENYEBARLUASKAN ARTIKEL PADA BLOG INI.

HighTalk

Everything Digital Content

Poetry, Prose & Memoir

by Terah Van Dusen

Edo Rusyanto's Traffic

Edo Rusyanto's Traffic

5osial's Blog

kecanduan dunia mesin, ora lali sekolah

satuaspal.com

OTOmotif dan OOT ^_^

Simple Error

1 Foto, 101 Kisah

racemotogp.com

Berita Seputar MotoGP

Indomoto.com

Tentang sepeda motor, lalu lintas, musik, internet, $%^#**&

Rudy SouL Blog

Blog Motor ++

MasAffan Blog's

Suka Suka !

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 554 pengikut lainnya.