Instia bijuga /Merbau

 


 

Merbau termasuk famili Leguminosae (Caesalpiniaceae) merupakan pohon raksasa yang tingginya mencapai 40m dan diameternya bisa mencapai 200 cm. Penyebaran di dunia yaitu di Amerika Samoa, Australia, Birma, Kamboja, India, Indonesia, Madagaskar, Malaysia, Myanmar, Pulau-pulau di daerah Pasifik, Philipina, Vietnam, Papua Nugini, Thailand dll. Sebaran di Indonesia ada di Papua seperti di Manokwari, Sorong, Jayapura, Serui, Nabire dan Jayawijaya. Selain itu ditemukan di Maluku yaitu Seram dan Halmahera (Mahfudz et al.) potensi merbau terus menurun akibat eksploitasi yang tinggi, sehingga upaya dan pembangunan hutan tanaman merbau perlu dilakukan (Tokede et.al, 2006).

 

Pembibitan

Pembibitan merbau dapaat dilakukan secara generatif maupun vegetatif. Penyemaian benih merbau dilakukan pada media pasir sungai dengan perlakuan skarifikasi benih dengan cara mengikir kulit biji (Suripati et al dalam Untarto,199t) atau direndam air dingin 4 x 24 jam (Martawijaya et al, 1992). Teknik pembiakan vegetatif yang bisa dilakukan adalah dengan penyambungan/grafting dan stek pucuk (Mahfudz et al, 2006). Pembibitan di persemaian juga sering dilakukan dengan memanfaatkan anakan alam (wildlings) yang banyak ditemukan di hutan alam.

 

Kegunaan

Kayu merbau biasa digunakan sebagai bahan veneer, plywood, konstruksi rumah, jembatan, bantalan kereta api, kapal, lantai, meubel, interior kendaraan dll. Kayunya tergolong kelas kuat I-II dan kelas awet I-II (Martawijaya et al, 1992).

 

Bahan Bacaan

Mahfudz, Isnaini dan Moko, H. 2006. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh dan Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Stek Pucuk Merbau. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman vol. 3 No. 1. Pusat Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta.

Martawijaya, A., Kartasujana, I., Kadir, K. Dan Prawira, AP. 1992. Indonesian Wood Atlas. Volume 2. Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor.

Tokede,M,B.V. Mambai, L.B. Pangkali dan Zulfikar Mardiya. 2006. Persediaan Tegakan Alam dan analisis Perdagangan Merbau di Papua, WWF Region Sahul, Papua. Jayapura

Untarto, TM. 1997. Merbau Jenis Andalan Yang Unggul (AYU) Irian Jaya. Matoa. Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Manokwari.

Artocarpus camansi / Keluwih

Tanaman keluwih (Artocarpus camansi Blanco) adalah salah satu jenis tanaman dari famili moraceae yang banyak ditanam oleh masyarakat. Buahnya biasa dimanfaatkan pada waktu masih muda sebagai bahan sayur. Tumbuhnya tanaman keluwih merupakan indikator bahwa sukun juga bisa tumbuh dengan baik di daerah tersebut (Alrasjid, 1993). Tanaman keluwih tersebar di negara-negara tropis dan Pasifik. Pertumbuhan terbaik umumnya pada tanah yang subur dengan soil dalam di dataran rendah di ekuator yaitu pada ketinggian tepat kurang dari 600-650 m dpl dengan curah hujan rata-rata 1300-3800 mm/tahun. Namun demikian tanaman keluwih memiliki daya adapatasi yang relatif luas terhadap berbagai kondisi lingkungan (Ragone, 2006). Tinggi pohon mencapai lebih dari 15 meter dengan diameter batang yang relatif besar.

 

Gambar. Tanaman keluwih berbuah dan perkecambahan biji keluwih (Ragone, 2006)

Pemanfaatan tanaman kluwih umumnya buahnya dipanen sebagai bahan makanan dan memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, namun kayunya juga sering digunakan karena bersifat ringan dan mudah dikerjakan, antara lain untuk membuat patung, kerajinan, perahu dan lain-lain. Bunga jantannya yang kering bisa dimanfaatkan sebagai obat anti nyamuk dengan cara dibakar (Ragone, 2006). Bibit keluwih bisa dimanfaatkan sebagai tanaman batang bawah/rootstock pada pembibitan sukun dengan cara okulasi (Pitojo, 1992).

Bahan Bacaan

Alrasjid, H. 1993. Pedoman Penanaman Sukun (Arthocarpus altilis Fosberg). Informasi Teknis No. 42. Pusat Penelitian Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor

Ragone, D. 2006. Artocarpus camansi (Breadnut). Species profiles for Pacific Island Aroforestry (WWW. Traditionaltree.org) diakses 19 Nopember 2008.

Pitojo. S. 1992. Budidaya Sukun. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Ditulis dalam Tanaman Kategori K. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

CARA MUDAH DAN MURAH MEMBUAT BIBIT SUKUN

CARA MUDAH DAN MURAH MEMBUAT BIBIT SUKUN

 

Oleh: Hamdan AA. dan Suwandi

 

 

       Gambar 1. Buah sukun gundul

Tanaman sukun adalah salah satu jenis tanaman kehutanan yang menghasilkan buah dengan kandungan gizi yang tinggi. Selain menghasilkan kalori (karbohidrat) yang cukup, buah sukun juga mengandung vitamin C, kalsium dan fosfor yang cukup tinggi. Oleh karena itu jenis ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai alternatif bahan makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Salah satu kendala yang dihadapi dalam budidaya tanaman sukun adalah pengadaan bibit yang baik, karena jenis sukun tidak menghasilkan biji sehingga pembibitannya dilakukan secara vegetatif. Teknik pembiakan vegetatif yang dapat dilakukan antara lain pencangkokan, pemindahan tunas alami, stek akar dan stek pucuk. Akan tetapi teknik yang sudah biasa dilakukan adalah stek akar dan stek pucuk, karena dengan cara ini akan diperoleh bibit dengan jumlah yang mmadai.

 

Tahapan pembibitan sukun dengan stek akar

 

  1. Pemilihan  pohon induk yang baik dengan ciri-ciri sehat /tidak terserang hama/penyakit, produktivitas buah tinggi dan rasa buah enak
  2. Pengambilan akar dipilih yang  menjalar dekat dengan permukaan tanah dengan diameter 1-3 cm
  3. Pembuatab persemaian : akar dipotong-potong sepanjang 10-15 cm, kemudian dicuci dengan air yang telah diberi zat pengatur tumbuh akar. Stek ditanam dengan posisi tegak pada media pasir di dalam bedengan yang diberi sungkup dari plastik untuk menjaga kelembaban sampai dengan 90%. Penyiraman dapat dilakukan 1-2 kali sehari (pagi dan sore hari). Dengan memelihara kelembaban yang baik maka keberhasilan stek akar rata-rata mencapai 80-95%.
  4. Penyapihan dan pemeliharaan bibit : setelah stek akar yang tumbuh berumur 3 bulan dilakukan penyapihan ke media tanah + pupuk kompos (3:1). Bibit dipelihara di persemaian yang di naungi paranet dengan intensitas cahaya 50%. Bibit sudah siap tanam setelah berumur 6 bulan

  Gambar 2. Tahapan pembibitan sukun dengan stek akar

 Tahapan pebibitan sukun dengan stek pucuk:

 

  1. Pembuatan stek pucuk dari trubusan stek akar : biasanya pada stek akar tumbuh 2-5 tunas, untuk mendapatkan pertumbuhan bibit stek akar yang baik hanya dibiarkab satu buah tunas, sisanya dipangkas. Tunas-tunas yang tidak dimanfaatkan tersebut dapat ditanam sebagai stek pucuk dengan persen hidup rata-rata 90-100%.
  2. Pembuatan stek pucuk dari kebun pangkas : selain itu dapat pengambilan tunas dapat dilakukan dari tanaman sukun yang dipangkas. Pembuatan kebun pangkas dapat dilakukan di persemaian atau di lapangan. Tanaman sukun yang dipangkas setinggi 50 cm. Keberhasilan tumbuh stek pucuk dari kebun pangkas mencapai 64,50%.

    Gambar 3. Tahapan pembibitan sukun dengan stek pucuk

  Pembuatan stek pucuk dilakukan dengan memotong tunas sepanjang 10 cm, memiliki 2-3 daun. Satu buah tunas dapat dibuat menjadi 2 stek pucuk (potongan ujung dan bagian pangkal). Penanaman stek dilkukan pada media pasir sungai di dalam bedengan bersungkup. Stek pucuk dapat disapih ke media tanah + kompos (3:1) setelah berumur 2-3 bulan. Bibit dipelihara di persemaian dengan naungan paranet 50% sampai siap tanam. Keberhasilan tumbuh stek pucuk dapat mencapai 88,83%.

 Bahan bacaan

 Adinugraha, H.A., Kartikawati, N.K. dan Suwandi. 2004.Penggunaan Trubusan Stek Akar Tanaman Sukun Sebagai Bahan Stek Pucuk. Jurnal Penelitian Hutan tanaman vol. 1 no. 1, April 2004,   halaman 21-28. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

Adinugraha, H.A., Kartikawati, N.K dan Ismail, B. 2004. Pengaruh Ukuran Stek Posisi dan Kedalaman Tanam Terhadap Pertumbuhan Stek Akar Sukun. Jurnal Penelitian Hutan tanaman Vol. 1 No. 2, Agustus 2004,   halaman 79-86. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemu-liaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

Setiadi, D. Dan Adinugraha, H.A. 2005Pengaruh Tinggi Pangkasan Induk Terhadap Kemampuan Bertunas Tanaman Sukun Pada Kebun Pangkas. Jurnal Penelitian Hutan tanaman Vol. 2  No. 2, Agustus 2005,   halaman 13-20. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , , . 7 Comments »

JAMBLANG PUTIH (Eugeniajambos Linn)

041614_0259_JAMBLANGPUT2.png041614_0259_JAMBLANGPUT1.png


Jamblang Putih sudah termasuk langka keberadaanya dan tanaman ini sebenarnya sudah lama menjadi penghuni bumi nusantara ini.Seperti kerabatnya – Jamblang hitam ( ungu ) – yang masih banyak di temukan di semua daerah di Indonesia, tanaman ini termasuk tanaman keras sehingga pertumbuhanya bisa seperti pohon mangga dsb.Tanaman satu ini selain langka juga rasanya yang khas pula yaitu manis berpadu sedikit asam – berbeda dengan kerabatnya ( Jamblang hitam ) yang rasanya manis berpadu sedikit sepet.Jadi jangan lewatkan tanaman satu ini menjadi tanaman langka koleksi anda.

SAWO BLUDRU (Chrysopyllum cainito)


Sawo Beludru (Lat : Chrysopyllum cainito) juga termasuk suku Sapotaceae tinggi mencapai 20 m, daun mengkilap, permukaan atas berwarna hijau sedangkan bawah berwarna coklat seperti beludru sehingga dengan demikian orang jawa menamakannya Sawo Beludru. Umumnya ditanam di pekarangan sebagai tanaman buah, tanaman hias dan tanaman peneduh. Daging buah dimakan segar atau dibuat selai manisan.

Buahnya bulat, mengkilat, berwarna ungu, ketika dibelah terdapat daging buah berwarna putih dan banyak getahnya. Orang Jawa bilang itulah yang disebut Sawo Beludru.

Konon orangtua saya banyak menemui buah semacam itu di halaman keraton Yogyakarta. Memang buah ini termasuk buah langka, anak-anak muda jaman sekarang banyak yang tidak tahu buah semacam itu. Terbukti pohon sawo yang ada di depan rumah saya buahnya utuh, tidak ada yang dicuri, padahal pohon lain setiap kali berbuah pasti tidak menyisakan bagi pemiliknya karena sudah didahului oleh anak-anak yang iseng mengambilnya.

Selain Sawo Beludru orang Indonesia juga sering menyebutnya sebagai buah Kenitu, Apel Jawa, Sawo Duren, atau Sawo hijau. Dalam bahasa asing disebut juga Cainito, Caimito, Star apple, Golden leaf tree, Abiaba, Pomme du lait, Estrella, Milk fruit, dan Aguay. Yang jelas buah tersebut punya nama ilmiah Chrysophyllum cainito.

Menurut Eksiklopedi Wikipedia, sawo beludru merupakan tanaman tropis dari keluarga Sapotaceae atau sawo-sawoan. Buah ini berasal dari Amerika tengah dan India Barat, pohonnya dapat tumbuh sampai 20 m. Daunnya berwarna hijau tua bagian atasnya, sedangkan bagian bawah berbulu halus dan berwarna keemasan, maka sering disebut juga Golden leaf tree.

Rata-rata orang mengenal sawo beludru ini berwarna hijau dengan daging buah putih, tetapi sebetulnya ada dua macam warna yaitu yang berkulit hijau kemerahan, dan yang berkulit ungu tua. Kulitnya mengkilat, daging buahnya yang tua berwarna putih kemerahan atau putih keunguan dengan biji berwarna hitam dan keras. Bila dibelah melintang daging buahnya berbentuk seperti bintang, maka sering disebut juga Star Apple.

Buah ini mempunyai banyak getah atau lateks di dalamnya, sehingga kita harus memilih yang benar-benar tua untuk memakannya supaya tidak terlalu banyak getahnya. Cara memakannya tidak dikupas, melainkan dengan sendok untuk mengambil daging buahnya. Rasanya manis, mungkin yang tidak biasa akan risih dengan getahnya, sebaiknya setelah dipetik disimpan 1-2 hari supaya getahnya berkurang. Konon daunnya bisa dimanfaatkan untuk obat diabetes dan rematik, sedang kulit batang bisa dijadikan tonik dan stimulant. Pohon sawo beludru akan berbuah setelah 5-6 tahun dan biasanya dipetik pada musim kemarau.

MUNDU (Arcinia dulcis)


Mundu merupakan tumbuhan asli dari Indonesia (Jawa dan Kalimantan) dan Filipina. Pohon, tinggi mencapai 13 m, buah bulat, kadang-kadang agak gepeng, berbiji. Mundu tumbuh di hutan-hutan tropika basah. Selain itu buah Mundu juga dapat dibuat jam. Di Jawa dan Singapura, tumbukan bijinya digunakan untuk mengobati pada pembengkakan sedangkan kulitnya untuk mewarnai tikar (di Jawa). Di Tatar Sunda, mundu juga disebut jawura, golodogpanto, dan di beberapa tempat disebut baros. Sementara masyarakat Jawa menyebutnya baros atau klendeng, orang Minahasa menyebutkannya mamundung.

Tanaman mundu tumbuh di hutan-hutan tropika basah pada lapisan pohon kedua dan telah beradaptasi pada lingkungan yang teduh. Tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi, terutama di daerah atau hutan yang banyak humusnya. Pohonnya tinggi, mencapai 13 m. Berbatang pendek, kulit batang berwarna cokelat bergetah putih dan berubah menjadi cokelat pucat bila kering. Ranting tebal bersegi empat dan biasanya berambut halus. Daun berbentuk bundar telur sampai lonjong.

Bunga-bunga jantan mengelompok kecil, lebar sekitar 6 cm. Bunga betina lebih kecil dengan lebar 12 mm. Buah bulat sampai oval. Bergaris tengah antara 5-8 cm, berujung ramping, kadang-kadang agak gepeng. Kulit buah tipis dan halus, berwarna kuning terang, kuning tua, atau oranye apabila matang. Rasa buahnya segar dan memiliki dua rasa: asam dan manis seperti rasa mangga gedong.

Buah mundu dapat dimakan begitu saja, namun juga bisa dibuat jelly atau selai. Di Jawa dan Singapura, tumbukan bijinya digunakan untuk mengobati pembengkakan. Serbuk biji mundu juga dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit gondok dan sariawan. Buahnya bisa dipakai sebagai pencahar dan mengobati penderita gangguan empedu. Sebaliknya, pucuk daun mundu muda digunakan untuk mengobati diare. Sedangkan kulitnya digunakan sebagai bahan untuk mewarnai tikar

KEBEN (Baringtonia Asiatica )


Nama keben mungkin masih asing di telinga kita. Keben (Barringtonia spp.) merupakan tumbuhan berbentuk pohon yang mudah ditemukan di sepanjang pantai lautan Asia dan Pasifik. Di Indonesia khususnya Papua, biji keben dikenal sebagai racun ikan. Namun, tidak ada yang tahu bila biji keben memiliki manfaat yang lebih besar bagi manusia. Ekstrak biji keben ternyata dapat digunakan untuk membuat obat tetes mata yang mampu mengobati berbagai macam gangguan mata.

Sejak ditemukan pada akhir 2002, obat tetes mata dari keben ini telah terbukti secara empiris mampu menyembuhkan puluhan ribu penderita penyakit mata dengan berbagai keluhan. Merupakan jenis pohon besar yang banyak tumbuh di daerah pantai kering. Daun bulat telur, agak tebal, mengkilap, dan besar-besar. Bunga berwarna putih bersih. Buah berbentuk persegi empat, besar dan berserabut banyak. Buah ini banyak mengandung saponin yang dapat dimanfaatkan sebagai racun ikan. Sering dipergunakan sebagai tanaman hias dengan nama pohon perdamaian.

Keben tangkai daunnya pendek, helai daun besar, kaku seperti kulit, dan permukaan atas mengkilat. Buahnya berbentuk piramida bersegi 4, sering ditanam di lingkungan Kraton, khususnya di Yogyakarta di depan Bangsal Sri Menganti karena nilai filosofisnya dari bentuk buah yang bersegi 4 dan menyatu di suatu titik ujungnya seperti gambaran bersatunya berbagai daerah 4 penjuru arah mata angin yang menyatu untuk dapat bertemu dengan Sri Sultan, disamping ditanam sebagai peneduh juga disimbolkan sebagai pohon perdamaian.

KEPUNDUNG/MENTENG (Baccaurea racemosa (Reinw.))

 

Menteng, kepundung, atau (ke)mundung (terutama Baccaurea racemosa (Reinw.) Muell. Arg.; juga B. javanica dan B. dulcis) adalah pohon penghasil buah dengan nama sama yang dapat dimakan. Sekilas buah menteng mirip dengan buah duku namun tajuk pohonnya berbeda. Rasa buahnya biasanya masam (kecut) meskipun ada pula yang manis.

Menteng dulu biasa ditanam di pekarangan namun sekarang sudah sulit ditemui akibat desakan penduduk dan penanaman tanaman buah lain yang lebih disukai. Tumbuhan ini asli dari Pulau Jawa. Di sekitar Jakarta dan Bogor kadang-kadang masih ditemukan penjual buah menteng.

Habitus: Pohon, tinggi 10-25 m. Batang: Tegak, berkayu, bulat, kasar, percabangan simpodial, putih kecoklatan. Daun: Tunggal, tersebar, lonjong, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal membulat, pertulangan menyirip, panjang 7-20 cm, lebar 3-7,5 cm, tangkai silindris, hijau muda, panjang + 2 cm, hijau.

Bunga: Majemuk, berkelamin satu, di batang atau di cabang, tangkai silindris, panjang ± 10 cm, kelopak bentuk mangkok, benang sari empat sampai enam, bunga betina lebih besar dari bunga jantan, mahkota terbagi lima, kuning.

Buah: Buni, bulat, diameter ± 2 cm, masih muda hijau setelah tua kuning. Biji: Bulat, diameter ± 0,5 cm, putih kekuningan. Akar: Tunggang, putih kotor.

Kandungan Kimia Daun dan kulit batang kepundung mengandung saponin, flavonoida dan tanin, di samping itu daunnya juga mengandung alkaloids.

Khasiat daun kepundung sebagai obat mencret dan untuk peluruh haid. Untuk peluruh haid dipakai ± 20 gram daun segar kepundung, dicuci, direbus dengan 2 gelas air selama 15 menit, dinginkan dan disaring. Hasil saringan diminum dua kali sama banyak pagi dan sore.

ASAM LONDO (Pithecellobium dulce)


Deskripsi

Kandungan Polongnya yang segar terdiri atas 25% kulit, 50% aril, dan 25% biji. Tiap 100 gram aril mengandung 75,8-77,8 g air, 2,3-3 g protein, 0,4-0,5 .g lemak, 18,2-19,6 g karbohidrat, 1,1-1,2 g serat, 0,6-0,7 g abu, 13 mg kalsium, 42 mg fosfor, 0,5 mg besi, 19 mg natrium, 20,2 mg kalium, 25 I.U. vit. A, 0,24 mg tiamin, 0,1 mg riboflavin, 0,6 mg niasin, dan 133 mg vitamin C. Nilai energinya 330 kJ/100 g.

Botani Berperawakan perdu atau pohon kecil, tingginya sampai 10 m, dengan ranting membulat dan tidak berbulu, dilengkapi dengan duri penumpu yang lurus dan berpasangan, panjangnya 4-10 cm. Daunnya majemuk bersirip ganda mendadak dengan hanya satu pasang anak daun, rakisnya 1-2,5 cm panjangnya; tangkai anak daun beserta rakis panjangnya mencapai 7,5 mm, diakhiri oleh duri penumpu yang kecil; setiap pasang sirip memiliki dua anak daun yang berhadapan, tak bertangkai dan berbentuk bundar telur tidak simetris, berukuran (1,5-3,5) cm x (1-2) cm, tidak berbulu. Perbungaan bertipe malai terminal, berbulu halus, panjangnya mencapai 10 cm; gagang perbungaan itu panjangnya 1-2 cm, menyangga bongkol bulat yang berisi 1520 bunga yang berwarna keputih-putihan; daun kelopak dan daun mahkota berbentuk tabung, panjangnya masing-masing 1,5 mm dan 3, 5 mm; tangkai sarinya berwarna putih. Buahnya (polong) memipih, berbentuk lonjong-memita tetapi menggulung, lebarnya 1 cm, berdaging menjangat, berwarna coklat kemerahan. Bijinya memipih, berbentuk bulat telur sungsang tidak simetris, berukuran 9 mm x 7 mm x 2 mm, berwarna kehitam-hitaman, dengan aril yang tebal, seperti spon, agak kering. Pohon yang ditumbuhkan dari benih memerlukan waktu 5-8 tahun untuk mulai menghasilkan buah. Di Filipina, asam belanda berbunga dari bulan Oktober sampai November dan banyak sekali buah yang matang antara bulan Januari dan Februari; di Jawa Barat, jenis ini berbunga antara bulan April dan Juni dan polong matang 2-3 bulan kemudian, dari bulan Juni sampai Agustus.

Arilnya dapat dimakan dalam keadaan segar; berasa kelat, tetapi pada klonklon terseleksi di Filipina arilnya manis dan agak kering serta menepung. Minyak bijinya juga dapat dimakan, sedangkan tepung bijinya digunakan sebagai pakan ternak. Daunnya jika digunakan sebagai plester dapat menghilangkan rasa sakit pada lukaluka penyakit menular, dan dapat menyembuhkan penyakit sawan, serta jika dicampur garam dapat menyembuhkan gangguan pencernaan, tetapi dapat pula menyebabkan keguguran. Kulit akarnya mungkin dapat digunakan untuk mengobati disentri. Tanin (yang biasa digunakan untuk melunakkan kulit) dapat diekstrak dari kulit batang, biji, dan daun; kulit batangnya juga digunakan untuk pewarna jala ikan. Jenis ini merupakan tanaman tepi jalan yang umum di Indonesia, terutama di kotakota, yang dipangkas menjadi tanaman hias yang indah di tepi jalan raya. Pohon asam belanda ini baik juga sebagai pagar hidup, walaupun tidak sepenuhnya anti-kambing, sebab tunas-tunas mudanya dapat dijadikan pakan ternak. Seringnya pemangkasan tidak memungkinkan terjadinya pembungaan dan pembuahan pada tanaman tepi jalan dan tanaman pagar. Mutan yang daunnya berwarnawarni digunakan sebagai tanaman hias pot.

Syarat Tumbuh
tidak menuntut kebutuhan iklim yang tepat, dan dapat tumbuh baik di dataran rendah dan sedang di daerah-daerah basah dan kering dengan cahaya matahari penuh. Meskipun tanah yang sistem pengaliran airnya baik adalah paling cocok, tanaman ini dapat tumbuh dengan baik juga pada tanah berlempung berat.

Biasanya diperbanyak dengan benih, yang memerlukan waktu sekitar 2 minggu untuk berkecambah. Akan tetapi, pohon yang unggul sebaiknya diperbanyak secara vegetatif dengan pencangkokan, penyambungan, atau penempelan.

sumber http://www.iptek.net.id

 

KAPULASAN (Nephelium ramboutan-ake Blume)

 

Kapulasan, pulasan (Sunda), tenggaring (Kalimantan Tengah), tukou biawak (Kubu), Molaitomo (Gorontalo), mulitan (Toli-toli)

Deskripsi pohon kapulasan ini hampir sama dengan pohon rambutan karena masih dalam 1 marga. Tinggi pohon dapat mencapai 36 m. Bentuk dan percabangan daun sama dengan daun rambutan, hanya helaian daun tenggaring lebih kecil, panjangnya 4 kali lebarnya dan terdiri atas 1 – 7 per tangkai. Perbungaan tersusun malai terdapat di setiap ketiak atau agak ke ujung ranting. Buahnya tebal, bulunya yang keras, tegak, pendek dan tumpul. Kulit buah tebal berwarna kuning sampai merah tua. Bentuk buah seperti buah rambutan yaitu bundar telur serta daging buahnya manis yang bercampur sedikit asam. Tetapi untuk masyarakat di Kalimantan Tengah, buah tenggaring ini cukup manis dan enak, karena jarang atau boleh dikatakan tidak ada buah rambutan seperti yang ada di Jawa.

Distribusi atau penyebarannya terdapat di India, Burma, Indonesia (Sumatra, Jawa, Kalimantan), Malaysia dan Filipina.

Habitat nya pada umumnya Kapulasan ini tumbuh liar di hutan-hutan dataran rendah di Kalimatan. Tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 200 – 350 m dpl. serta mempunyai curah hujan 3.000 mm per tahun, seringkali tumbuh di pinggir-pinggir sungai, biasanya di tanah berpasir atau berlempung.

Perbanyakan dapat dilakukan dengan dicangkok ataupun dengan sambungan. Secara ini macam tenggaring yang sudah terpilih mutunya dapat dipertahankan. Dari biji rasa yang diinginkan tidak terjamin, sebab bunga-bunga tenggaring mempunyai peluang untuk berkawin silang. Dari biji sampai tumbuhan menghasilkan buah memerlukan waktu antara 8 sampai 10 tahun.

Buahnya dapat dimakan. Pemanfaatan lain yaitu kayunya cukup keras dan oleh masyarakat setempat dipakai untuk peralatan rumah tangga. Biji tenggaring mengandung minyak nabati lebih banyak dari pada biji rambutan. Minyak ini umumnya digunakan dalam proses pembuatan lilin dan sabun.

Nama lainnya adalah Nephelium mutabile Bl., Nephelium intermedium Radlk., Nephelium philippense Monsalud et al.

in parentheses

new modernism

Before the Downbeat

Thoughts on music, creativity, imagination, and exploring the space between the notes.

Life Inspired

Home | Family | Style

wordssetmefreee

Making sense of the world through words

The Rational Optimist

Frank S. Robinson's blog on life, society, politics, and philosophy

Chronicles of an Anglo Swiss

Welcome to the Anglo Swiss World

Hoarded Ordinaries

Mundane musings from a collector of the quotidian

Dear Me

notes from the future

A Vital Recognition

the immanence of Self, Spirit, and Nature

A Feminist Challenging Transphobia

The greatest WordPress.com site in all the land!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 521 pengikut lainnya.