TEKNIK PEMBIBITAN TANAMAN HUTAN

Oleh : Hamdan Adma Adinugraha

Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan

I. PENDAHULUAN

Sampai saat ini produktivitas hutan alam sudah menurun sangat drastis sejalan dengan meningkatnya eksploitasi hutan secara terus-menerus untuk memenuhi permintaan akan kebutuhan kayu. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka pembangunan hutan tanaman sebagaai penghasil kayu baik untuk industri, pertukangan, kayu energi dan lain-lain harus ditingkaatkan baik dengan penambahan luas hutan tanaman maupun penggunaan materi tanaman unggul hasil pemuliaan. Dengan menggunakan materi tanaman yang unggul melalui kegiatan pembibitan yang baik akan dapat meningkatkan produtivitasnya dan mutu tegakan yang dihasilkan.

Perbanyakan tanaman merupakan serangkaian kegiatan yang diperlukan untuk penyediaan materi tanaman baik untuk kegiatan penelitian maupun program penanaman secara luas. Penyediaan bibit yang memiliki karakter unggul secara morfologi, fisiologis dan genetic akan sangat membantu keberhasilan tanaman di lapangan (Jayusman, 2005). Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara generatif dan vegetatif. Informasi yang tepat tentang teknik perkecambahan dan pemeliharaan bibit sangat diperlukan dalam kegiatan produksi bibit unggul. Teknik pembiakan vegetatif merupakan salah satu cara untuk memproduksi bibit yang memiliki karakter unggul karena anakan yang dihasilkan merupakan duplikat dari induknya sehingga memiliki struktur genetik yang sama (Na’iem, 2000).

Perbanyakan tanaman baik secara generatif maupun vegetatif dilakukan untuk penyediaan materi untuk kegiatan penanaman baik dalam rangka penelitian maupun penanaman secara komersial.

II. TEKNIK PEMBIBITAN SECARA GENERATIF

Pembibitan secara generatif dilakukan dengan menggunakan benih yang hasrus disemaikan terlebih dahulu pada media tabur yang telah disterilisasi, kemudian setelah berkecambah disapih ke media pertumbuhan. Media tabur yang biasa digunakan adalah pasir sungai sedangkan media pertumbuhan berupa campuran tanah dan kompos.

Benih yang digunakan harus berasal dari sumber benih yang jelas asal-usulnya sehingga dapat diketahui kualitas genetiknya. Beberapa tingkatan sumber benih yang bisa digunakan adalah sebagai berikut (Anonim, 2004)

  1. Tegakan benih teridentifikasi : tegakan alam atau tanaman dengan kualitas rata-rata yang digunakan untuk menghasilkan benih dan lokasinya dapat teridentifikasi dengan tepat
  2. Tegakan benih terseleksi : tegakan alam atau tanaman, dengan penotipa pohon untuk karakter penting (sperti : batang lurus, tidak cacat dan percabangan ringan) diatas rata-rata
  3. Areal produksi benih : memiliki kualitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan tegakan benih teridentifikasi maupun teseleksi. Penjarangan untuk membuang pohon yang jelek dilakukan untuk meningkatkan produksi benih.
  4. Tegakan benih provenansi : tegakan yang dibangun dari benih yang berasal dari provensi yang sama yang telah teruji dan diketahui keunggulannya.
  5. Kebun benih semai : dibangun dengan bahan generatif (benih) yang berasal dari pohon induk terpilih. Didalamnya dilakukan seleksi pohon plus.
  6. Kebun benih klon : dibangun dengan bahan tanaman hasil perbanyakan vegetatif dari pohon plus di kebun benih atau hasil uji klon.
  7. Kebun pangkas : pertanaman yang dibangun untuk menghasilkan bahan stek untuk produksi bibit.

Penanganan benih dipersemaian merupakan awal dari kegiatan pembangunan tanaman. Kegiatan tersebut meliputi : persiapan benih, media tabur dan media sapih, perlakuan benih, penaburan benih, penyapihan bibit, pemeliharaan bibit san monitoring jumlah bibit siap tnam di persemaian. Biasanya dalam penyemaian benih diperlukan perlakuan khusus (skarifikasi) untuk mempercepat proses perkecmbahan benih. Skarifikasi benih dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti pemecahan/pengikiran kulit biji, perendaman dalam air panas dan dingin, perendaman dalam larutan asam sulfat. Tahapan selanjutnya adalah :

  1. Penaburan benih : biasanya menggunakan media pasir
  2. penyapihan semai ke media tumbuh umumnya berupa campuran tanah + pasir dan kompos (3 : 2 : 1)
  3. pemeliharaan dan pengamatan bibit sampai siap tanam.

III. TEKNIK PEMBIBITAN SECARA VEGETATIF

A. Manfaat Penerapan Teknik Pembiakan Vegetatif

Beberapa keuntungan penggunaan teknik pembibitan secara vegetatif antara lain (Pudjiono, 1996) :

  1. Keturunan yang didapat mempunyai sifat genetik yang sama dengan induknya
  2. Tidak diperlukan peralataan khusus dan teknik yang tinggi kecuali untuk produksi bibit dalam skala besar,
  3. Produksi bibit tidak tergantung pada ketersediaan benih/musim buah, bisa dibuat secara kontinyu dengan mudah dan murah
  4. Meskipun akar yang dihasilkan dengan cara vegetatif umunya relatif dangkal, kurang beraturan dan melebar, namun lama kelamaan akan berkembang dengan baik seperti tanaman dari biji
  5. Umunya tanaman akan lebih cepat bereproduksi/menghasilkan buah
  6. Bibit hasil secara vegetatif sangat berguna untuk program pemuliaan tanaman yaitu untuk pengembangan bank klon, kebun benih klon, perbanyakan tanaman hasil persilangan terkendali misalnya hybrid atau steryl hybrid yang tidak dapat bereproduksi secara seksual dan perbanyakan masal tanaman terseleksi

Tabel 1. Teknik pembibitan beberapa jenis tanaman hutan

No Jenis Tanaman Teknik Pembibitan
1 Jati (Tectona grandis) Benih, stek pucuk, okulasi, stump
2 Sukun (Artocarpus altilis) Stek akar/pucuk, cangkok, okulasi
3 Akasia (Acacia mangium) Benih, cangkok, stek pucuk, kultur jaringan, sambung
4 Eukaliptus (Eucalyptus pellita) Benih, sambung, stek pucuk
Kayu putih (Melaleuca cajuputi) Benih, stek pucuk/akar
5 Mahoni (Swietenia macrophylla) Benih, stek pucuk
6 Sengon (Paraserianthes falcataria) Benih, cangkok
7 Cendana (Santalum album) Benih, kultur jaringan
8 Araukaria (Araucaria cunninghamii) Benih, sambung
9 Pulai (Alstonia scholaris) Benih, stek batang/cabang/pucuk
10 Bambu (Gigantocloa spp) Stek batang
11 Murbei (Morus spp) Benih, stek batang, kultur jaringan
12 Angsana (Pterocarpus indicus) Stek batang/cabang
13 Sonokeling (Dalbergia latifolia) Stek akar
14 Karet (Hevea braziliensis) Stek cabang
15 Ramin (Gonistylus bancanus) Stek pucuk
16 Hopea (Hopea odorata) Benih, Stek pucuk
17 Sungkai (Peronema canescens) Stek batang/cabang/akar
18 Gliriside (Glyricidae sepium) Stek cabang
19 Jati belanda (Gmelina arborea) Benih, stek pucuk
20 Tusam (Pinus merkusii) Benih, sambung
21 Meranti (Shorea spp) Benih, stek pucuk
22 Suren (Toona sinensis) Benih, stek cabang/pucuk

B. Penerapan Teknik Perbanyakan Vegetatif

  1. Teknik mencangkok (air layering)

Pencangkokan tanaman dilakukan untuk mendapatkan anakan/bibit yang berguna untuk pembangunan bank klon, kebun benih klon, kebun persilangan karena dengan teknik ini bibit yang dihasilkan bersifat dewasa sehingga lebih cepat berbunga/berbuah. Pencangkokan dilakukan pada pohon induk terpilih atau pohon plus di kebun benih.

Bahan dan peralatan yang digunakan antara lain media cangkok (moss cangkok, top soil dan kompos), bahan pembungkus cangkok dari polibag hitam, tali rafia, zat pengatur tumbuh akar, insektisida, pita label, spidol permanent, pisau cangkok, parang, gergaji tangan dan alat tulis.

Pembuatan cangkokan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

  1. Penyiapan media cangkok terdiri atas campuran antara moss cangkok, top soil dan kompos. Sebelum digunakan media disiram dengan air sampai cukup kelembabanya. Selain itu ditaburi dengan insektisida secukupnya supaya media tidak dijadikan sarang semut dan membunuh hama uret.
  2. Pemilihan cabang yang sehat dengan diameter rata-rata 2-5 cm. Cabang dikerat sepanjang 5 cm dengan menggunakan pisau cangkok, kulit cabang dikelupas dan bagian kambiumnya dibersihkan dengan cara dikerik dan dibiarkan beberapa menit. Posisi keratan kulit sekitar 30 cm dari pangkal cabang. Setelah itu bagian sayatan diolesi dengan larutan ZPT untuk memacu pertumbuhan akar.
  3. Menutup luka sayatan pada cabang dengan campuran media, kemudian ditutup dengan polibag hitam dan diikat dengan tali rafia sampai media cangkok stabil. Bagian pembungkus cangkok diberi lubang memudahkan masuknya air atau keluarnya akar.
  4. Memberi label yang berisi tanggal pencangkokan, perlakuan dan pelaksana.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada kegiatan pencangkokan antara lain :

  1. Pencangkokan sebaiknya dilakukan pada musim hujan sehingga akan membantu dalam menjaga kelembaban media sampai berakar.
  2. Pengambilan cangkok dilakukan setelah cangkok berumur 2-3 bulan. Pemotongan cangkok menggunakan gergaji kemudian diturunkan secara hati-hati. Cangkok yang terlalu pangjang dipotong sebagian dan daunnya dikurangi untuk mencegah terjadinya penguapan yanag terlalu besar.
  3. Cangkok yang telah dipisahkan dari pohon induknya segera ditanam pada media campuran tanah dengan kompos/pupuk kandang (3:1). Kegiatan ini dilakukan di prsemaian yang diberi naungan dengan intensitas cahaya lebih dari 50 %. Pemeliharaan cangkok di persemaian dilakukan sampai bibit siap ditanam di lapangan. Biasanya setelah 3 bulan cangkok telah memiliki perakaran yanag kompak dan siap dipindahkan ke lapangan.
  4. Pembuatan cangkok pada satu pohon tidak bisa dilakukan dalam jumlah banyak karena akan mengganggu atau merusak pohon tersebut.

2. Teknik Stek cabang

Penerapan teknik stek cabang dilakukan dengan cara menanam bagian cabang tanaman pada media pertumbuhan (pasir, campuran top soil + kompos) pada bedengan yang ditutup sungkup plastik. Kemampuan jenis tanaman untuk diperbanyak dengan cara stek cabang berbeda-beda. Teknik pembuatan stek cabang dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Pengambilan cabang dari pohon induk yang telah dipilih. Ukuran cabang yang baik untuk bahan stek biasanya 2 – 5 cm. posisi cabang yang dapat digunakan adalah posisi bagian bawah tajuk karena selain memudahkan dalam mengambilnya juga umumnya memiliki kemampuan berakar lebih baik.
  2. Pengepakan cabang akan mempengaruhi tingkat keberhasilannya terutama apabila pengambilan cabang dilakukan ditempat lain yanag jauh sehingga akan memerlukan waktu yang relatif lama. Cara yang dapat digunakan adalah dengan membungkus cabang dengan karung goni basah atau kulit batang pisang.
  3. Pemotongan cabang menjadi bahan stek sebaiknya minimal terdiri atas 2 ruas. Setelah dipotong-potong kemudian bagian pangkal cabang direndam pada larutan ZPT akar seperti IBA.
  4. Penanaman stek dilakukan pada media pasir atau campuran top soil + kompos pada bedengan yang ditutup sungkup plastik untuk memelihara kelembaban udara sampai 90%. Pemeliharaan rutin yang dilakukan adalah penyiraman, penyemprotan fungisida dan pembersihan rumput disekitar bedengan. Biasanya bibit stek cabang sudah dapat disapih setelah 2-3 bulan.

3. Teknik sambungan (grafting)

Pembuatan bibit dengan teknik sambungan dilakukan dengan cara menyambungkan scion berupa bagian pucuk/tunas dari tajuk pohon plus pada tanaman batang bawah/root stock yng telah disediakan. Teknik ini juga akan mempertahankan sifat dewasa pohon induknya sehingga anakan yang dihasilkan akan cepat berbunga/berbuah. Teknik ini biasa digunakan untuk kegiatan penyiapan materi untuk bang klon, kebun persilangan dan kebun benih klon. Bahan dan peralatan yang diperlukan adalah bibit untuk tanaman batang bawah dan scion diambil dari tajuk pohon plus di kebun benih. Rootstock dan scion sebaaiknya satu jenis. Bahan dan peralatan lainnya adalah parafil/plastik pengikat sambungan, kantong plastik bening ukuran 1 kg, obat/pasta penutup luka tanaman, talai rafia, pita label, pisau sambung, pisau cutter, gunting stek, penggaris dan alat tulis.

Pembuatan sambungan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

  1. Penyiapan root stock berupa bibit yang telah siap tanam yaitu berumur 4-6 bulan dengan diameter batang rata-rata 1 cm. Bibit dipilih yang sehat, tidak menunjukkan adanya serangan hama/penyakit.
  2. Bibit root stock dipangkas dengan tinggi pangkasan rata-rata 30 cm tergantung pada diameternya. Semakin kecil diameter maka pemangkasan dapat lebih rendah dari 30 cm. Permukaan batang pada titik pangkasan dihaluskan dengan pisau sambung/cutter, kemudian ujungnya dibelah/disayat dengan pisau grafting secara hatihati sepanjang 1,5-2 cm.
  3. Penyiapan scion yaitu tunas/trubusan pada tajuk pohon induk. Tunas yang baik untuk scion adalah yang jaringan gabusnya sedikit. Ukuran scion dipilih yang sesuai dengan rotstock. Bagian pangkal scion disayat secara hati-hati dengan panjang sayatan sama dengan root stock.
  4. Rotstock dan scion disambung secara hati-hati sehingga bagian kambium keduanya bersatu, kemudian diikat dengan parafilm dan ditutup dengan plastik bening untuk memelihara kelembaban udara. Plastik dibuka secara bertahap dengan cara menggunting sebagian sampai akhirnya dilepas.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan bibit sambungan adalah sebagai berikut :

  1. Penyambungan hendaknya dilakukan di persemaian dengan naungan sarlon 50 – 65 % atau pada pagi/sore hari sehingga tidak terlalu panas.
  2. Penyambungan dilakukan segera setelah scion diambil dari pohon induk karena lamanya waktu penyimpanan scion akan mengurangi tingkat keberhasilan hidup sambungan (Adinugraha dkk, 2001)
  3. Pemeliharaan tanaman hasil sambungan harus dilakukan secara rutin seperti : penyiraman, penyiangan, pembuangan tunas yang tumbuh pada batang root stock, membuka plastik sungkup sambungan secara bertahap setelah sambungan tersebut tumbuh.

  4. Teknik stek pucuk (leafy cuttings)

Pembibitan dengan teknik stek pucuk umumnya dilakukan dalam rangka produksi bibit secara massal untuk keperluan operasional penanaman. Dengan teknik ini dapat dihasilkan bibit dalam jumlah besar. Bahan yang digunakan adalah bahan stek dari tunas/trubusan yang diperoleh dari kebun pangkas, media stek yang digunakan adalah pasir sungai, zat pengatur tumbuh, bak plastik/ember, label, fungisida, gunting stek/pisau cutter.

Untuk kegiatan pembibitan dengan stek pucuk diperlukan beberapa fasilitas penunjang yaitu tempat pembibitan dapat dilakukan di rumah kaca atau bedengan persemaian yang ditutup dengan sungkup plastik. Untuk persemaian skala besar diperlukan peralatan lainnya antara lain pengaturan naungan, pengaturan suhu dan ventilasi, pengaturan penyiraman dan kelembaban udara yang dijalankan secara otomatis merupakan faktor yang sangat penting untuk menunjang keberhasilannya. Selain itu diperlukan sumber air yang tersedia sepanjang tahun, sumber bahan stek (kebun pangkas) dan tempat penyimpanan media stek.

Kebun pangkas perlu dibangun sebagai sumber bahan stek yang menghasilkan tunas secara terus menerus. Pembangunan kebun pangkas hendaknya dilakukan dengan menggunakan materi tanaman dari pohon plus sehingga bibit yang akan dihasilkan memiliki kualitas genetik yang baik/unggul. Menurut Kartiko (2000) materi tanaman yang dipergunakan untuk membangun kebun pangkas berasal dari benih hasil penyerbukan terkendali antara pohon-pohon plus dan klon hasil perbanyakan vegetatif dari pohon plus.

Pembuatan stek pucuk dilakukan dengan tahapan sebagai berikut (Adinugraha, 2003)

  1. Penyiapan media stek dalam polibag/kantong bibit/tabung bibit
  2. Pembuatan stek dengan cara memotong trubusan menjadi beberapa bagian. Satu stek terdiri atas 2 mata/nude. Tunas dipilih yang belum membentuk jaringan gabus kemudian direndam stek pada larutan fungisida.
  3. Sebelum ditanam bagian pangkal stek dicelupkan kedalam larutan ZPT, kemudian stek ditanam pada media yang telah diberi lubang tanam terlebih dahulu.
  4. Bedengan stek ditutup plastik sungkup untuk memelihara kelembaban udara tetap tinggi sekitar 90% dan perlu diberi naungan dengan intensitas cahaya 15-25 % untuk bedengan tanpa pengabutan dan intensitas cahaya 30-50% untuk bedengan dengan sistem pengabutan.
  5. Pemeliharaan rutin meliputi penyiraman, penyemprotan fungisida dan pembersihan gulma dan setelah stek berakar stek disapih ke media pertumbuhan agar bibit tumbuh baik sampai siap tanam. Biasanya bibit sudah siap tanam pada umur 4 bulan.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan pembibitan dengan teknik stek pucuk adalah sebagai berikut :

  1. Semakin tinggi pemangkasan akan mempengaruhi tingkat keberhasilannya.
  2. Umur trubusan yang baik untuk bahan stek pucuk umunya sekitar 1 – 2 bulan. Bertambahnya umur tunas mengurangi daya perakaran stek. Untuk memudahkan dalam menentukan masa panen tunas dapat dilihat dari panjang tunas yaitu apabila telah mencapai panjang 30-40 cm (Longman, 1993).
  3. Tipe pertumbuhan tunas harus diperhatikan dengan memilih tunas yang memiliki pertumbuhan ke arah vertikal (ortotropic). Tunas yang bersifat plagiotropic sebaiknya tidak digunakan karena akan menghasilkan bibit yang tumbuhnya tidak normal (mendatar seperti cabang).
  4. Posisi trubusan pada tonggak juga mempengaruhi kemampuan berakar stek. Semakin tinggi posisi tunas pada tonggak maka kemampuan berakarnya semakin rendah
  5. Pengepakan bahan tanaman harus diperhatikan terutama apabila bahan stek diambil dari lokasi yang jauh dari tempat pembibitan. Sebaiknya penyetekan segera dilakukan setelah bahan stek tiba di pembibitan. Cara pengepakan stek yang bisa dilakukan dengan membungkus bahan stek dengan kertas koran basah, kemudian dimasukkan ke dalam es box yang diisi es batu.

5. Teknik stek akar

Pembibitan dengan stek akar dilakukan dengan menanaman bagian akar tanaman pada media tumbuh. Tanaman yang lazim diperbanyak dengan cara stek akar adalah sukun, yang dilakukan dengan tahapan kegiatan sebagai berikut :

  1. Pengambilan akar

    Akar yang baik untuk bahan stek adalah diameternya 2-3 cm yang tumbuh muncul atau menjalar dekat permukaan tanah. Biasanya semakin dalam posisi akar dalam tanah tingkat keberhasilan tumbuhnya menurun.

  2. Pengepakan akar

    Akar yang telah dipotong dari pohon induknya dibawa kelokasi pembibitan, apabila lokasinya jauh maka untuk memelihara kesegaran akar maka sebaiknya akar dibungkus kulit batang pisang.

  3. Pemotongan akar

    Untuk bahan stek akar dipotong sepanjang 10-15 cm. Akar yang berukuran lebih besar dapat dibelah menjadiidari 3 cm dapat dibelah menjad 2 bagian.

    Bagian ujung akar (yang lebih muda) dipotong miring agar tidak terbalik pada saat menanam. Setelah itu dilakukan pencucian dan perendaman dalam air yang dicampur hormon/ZPT selama 10 menit.

  4. Penanaman

    Penanaman stek dilakukan pada media pasir dalam polibag dan setelah tumbuh (3 bulan) disapih pada media tanah + pupuk. Selain itu stek akar dapat ditanam pada bedengan pasir (dideder) dan setelah tumbuh tunas dapat dipindah ke media campuran tanah dan kompos dalam polibag.

  5. Pemeliharaan

    Pemeliharaan bibit dilakukan secara rutin seperti penyiraman, penyemprotan hama, pemupukan dan pembersihan gulma. Pemeliharaan dilakukan sampai bibit siap tanam.

6. Teknik kultur jaringan

Pembibitan dengan cara kultur jaringan dilakukan dengan menggunakan bahan biakan (eksplan) adalah bagian pucuk aksiler atau bagian embriyo suatu tanaman. Tunas aksiler dapat diperoleh dengan dari bahan trubusan pada kegiatan rejuvenasi dengan cara perendaman cabang (soaked branches) (Herawan dan Husnaeni, 1996; Herawan, 2003). Tahapan kegiatan pembibitan meliputi :

  1. Sterilisasi eksplant untuk mencegah kontaminasi.
  2. Induksi eksplant pada media agar
  3. Multiplikasi/perbanyakan tunas
  4. Perakaran
  5. Aklimatisasi

IV. PENUTUP

Pembibitan tanaman hutan diperlukan untuk kegiatan penanaman. Penerapan teknik pembibitan yang tepat dan penggunaan materi dengan kualitas genetik yang baik merupakan awal dari pembangunan hutan tanaman yang memiliki kualitas tegakan yang baik dengan produktivitas yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Adinugraha, HA, H. Moko dan O. Chigira. 2001. Penelitian Pendahuluan Pengaruh Lama Penyimpanan Scion Terhadap Keberhasilan Sambungan Jenis Eucalyptus pellita. Buletin pemuliaan Pohon Vol.5 No.1, hal 11-20. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.

Anonim, 2003. Teknik Pembibitan dan Konservasi Tanah. Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Buku 1). Departeen Kehutanan. Jakarta.

Anonim. 2004. Petunjuk Teknis Pembangunan dan Pengelolaan Sumber Benih. Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Herawan, T., dan Y. Husnaeni. 1996. Teknik Rejuvenasi Menggunakan Metoda Rendaman Cabang Dala Air Pada Jenis A. mangium, E. deglupta, E. urophylla dan P. falcataria.

Herawan, T. 2003. Propagasi Klon Acacia mangium Melalui Kultur Jaringan. Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol. 1 No. 2. Hal. 43 – 48. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta

Longmann, K.A. 1993. Rooting Cuttings of Tropical Trees. Tropical Trees : Propagations and Planting Manuals. Volume I. Commonwealth Science Council. London.

Pudjiono, S. 1996. Dasar-dasar Umum Pembuatan Stek Pohon Hutan. Informasi Teknis No. 1/1996. Balai Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.

Pudjiono, S., dan H. Kondo. 1996a. Technical Report for Cuttings Propagation for Acacia mangium, Eucalyptus deglupta, Eucalyptus pellita and Paraserienthes falcataria. Forest Tree Improvement Project No. 55. Kerjasama Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dangan Japan International Cooperation Agency (JICA)

Sadjad, S. 1980. Panduan Pembinaan Mutu Benih Tanaman Kehutanan di Indonesia. Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi. Direktorat Jendral Kehutanan. Jakarta.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , . 4 Comments »

PEMBANGUNAN SUMBER BENIH TANAMAN HUTAN

Sumber benih merupakan suatu tempat dimana koleksi benih dilakukan. Perbedaan potensi genetik yang dimiliki diantara sumber benih yang berbeda, seringkali sangat besar dan hal ini akan berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan dan kualitas tegakan yang dihasilkan dalam program pembangunan hutan tanaman. Kegagalan dalam pembangunan HTI yang disebabkan karena keslahan dalam penggunaan sumber benih, besar kemungkinan karena keterbatasan informasi dan pengetahuan terhadap kualitas sumber benih yang tersedia dan diinginkan oleh para pengguna. Kualitas sumber benih tersebut juga akan berpengaruh terhadap harga benih sehingga menjadi lebih mahal. Namun demikian, harga benih pada umumnya tidak akan melebihi 5 % dari biaya total pembuatan tanaman, akan tetapi akan menghasilkan tegakana dengan peningkatan yang jauh lebih besar (Leksono, 2004).

Untuk menghindari timbulnya kerugian yang tidak diinginkan dikemudian hari, perlu diketahui sumber benih yang tersedia dan sesuai dengan tapak dimana jenis tanaman tersebut akan dikembangkan. Pengetahuan mengenai sumber benih tersebut juga akan bermanfaat terhdap persiapan dan strategi yang harus dilakukan sebelum diperoleh suber benih yang diinginkan. Dalam Anonim (2004) disebutkan beberapa klasifikasi sumber benih yang seharusnya dijadikan sebagai pedoman dalam pembangunan hutan tanaman, yaitu :

  1. Kebun Benih Teridentifikasi (Identified seed stand)

    Tegakan benih teridentifikasi adalah suatu tegakan alam atau tanaman dengan kualitas rata-rata yang digunakan untuk menghasilkan benih dan lokasinya dapat teridantifikasi dengan tapat. Tegakan ini dibangun dengan tidan direncanakan sebagai sumber benih. Asal-usul benihnya biasanya tidak diketahui. Tegakan yang diidentifikasi umumya tegakan yang sudah tua, maka penjarangan pada tegakan ini hanya seperlunya dengan intensitas yang rendah.

  2. Kebun Benih Terseleksi (Selected seed stand)

    Tegakan benih terseleksi adalah tegakan alam atau tanaman, dimana pohon-pohonnya memiliki fenotipe di atas rata-rata untuk karakter yang penting seperti batang lurus, tidak cacat dan percabangan ringan. Tegakan ini mirip dengan tegakan benih teridentifikasi. Perbedaan utama adalah fenotipe tegakan yang lebih baik (di atas rata-rata).

  3. Areal Produksi Benih (Seed production area)

    Suatu tegakan yang dipilih dan direkomendasikan untuk memproduksi bahan reproduktif berdasarkan kriteria fenotipe. Tegakan terpilih karena sebagian besar pohon-pohonnya memiliki karakter dengan fenotipe unggul seperti pertumbuhannya cepat, kualitas batang baik, tahan terhadap penyakit, sedangkan tingkat pengendalian genetik dari suatu karakter dan diferensiasi genetik terhadap populasi lain pada umumnya tidak diketahui. Faktor lain yang dijadikan pertimbangan adalah ukuran populasi, kerapatan awal dari populasi, jaalur isolasi sekeliling populasi, aksesibilitas dan kemungkinan untuk melakukan perlindungan hutan.

    Kegiatan penjarangan merupakan teknik silvikuktur yang sangat penting dilakukandalam suatu APB terhadap pohon-pohon pesaing dari jenis lain, pohon jenis target yang memiliki karakter inferior. Penjarangan disini berperan sebagai seleksi massa negatif, yang bertujuan untuk merubah struktur genetik populasi awal melalui seleksi massa dan mempengaruhi struktur genetik dari benih yang dihasilkan melalui perbaikan aliran serbuk sari. (Finkeldey, 2005)

  4. Tegakan Benih Provenansi (Provenance seed stand)

    Tegakan benih provenans merupakan keturunan campuran dari banyak pohon induk dari suatu populasi tunggal. Dalam pembangunan tegakan ini tidak memerlukan rancangan percobaan sehingga berbeda dengan uji provenans. Tegakan benih provenans harus diisolasi dengan tegakan lainnya agar tidak terjadi persilangan. Tujuan utama pembangunan tegakan benih provenans adalah untuk konservasi genetik secara ex-situ. Tegakan benih provenans dari provenans unggul yang sudah menghasilkan buah dapat dimanfaatkan sebagai sumber benih untuk materi pembangunan hutan tanaman.

  5. Kebun Benih Semai (Seedling seed orchard)

    Kebun benih semai dibangun untuk membentuk suatu populasi yang bertujuan untuk menghasilkan benih unggul. Pembangunan kebun benih semai tidak terpisah dari kegiatan uji lapang, selalu dikombinasikan dengan uji keturunan dari pohon induk tunggal. Kombinasi dari tujuan yang berbeda tersebut dikenal dengan istilah kebun benih semai uji keturunan. Tanaman uji keturunsn dikonversi menjadi suatu kebun benih setelah dilakukan satu atau beberapa kali penjarangan selektif. Benih secara langsung diunduh dari kebun benih untuk membangun hutan tanaman komersial.

    Rancangan dari uji keturunan dapat dimodifikasi jika direncanakan untuk dikonversi menjadi kebun benih semai. Khususnya dalam hal persilangan antar pohon yang mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat harus dihindari dengan memisahkan secara spasial selama pengujian berlangsung. Seleksi antar famili tidak perlu intensif dalam hubungannya dengan jumlah famili yang cukup untuk dipertahankan untuk mencegah terjadinya silang dalam yang kuat. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah isolasi tanaman uji keturunan dari populasi sekitarnya dengan mengatur jarak yang cukup untuk mencegah aliran serbuk sari dari luar (Finkeldey, 2005).

  6. Kebun Benih Klon (Clonal seed orhcard)

    Kebun benih klon dibangun untuk menghasilkan benih dalam jumlah yang banyak dari pohon-pohon yang bergenotipe unggul yang jumlahnya terbatas. Pohon-phon bergenotipe unggul dikloning dan beberapa copynya dikumpulkan di dalam suatu populasi. Perbanyakan vegetatif yang digunakan untuk membangun kebun benih klon umunya adalah teknik sambungan. Pada tahap awal, pohon-pohon terpilih selalu dikumpulkan di dalam suatu clonal garden, multiplication garden atau clonal archive. Kebun benih klon dirancang untuk memaksimalkan jumlah dan proporsi keturunan hasil penyerbukan silang antar dua klon ayang ada di kebun benih. Pentingnya isolasi spasial dari populasi lain denganjenis yang sama sangat tergantung pada sistem aliran gennya, yakni efisiensi dari pembawa serbuk sari.

    Klon-klon selalu ditanam mengikuti rancangan tertentu yang bertujuan memaksimalkan jarak tanam antar dua ramet dari klon yang sama untuk meminimalkan terjadinya selfing dalam klon. Rancangan yanag paling sederhana adalah membagi areal kebun benih kedalam blok-blok dengan ukuran yang sama. Setiap klon hanya ditanam sekali dalam setia bloknya. Penempatan klon-klon dalam setia blok dilakukan secara acak. Rancangan lainnya adalah rancangan sistematis lebih efisien dalam memaksimalkan jarak rata-rata antar ramet dari klon yang sama sehingga proporsi selfing dalam klon dapat diminimalkan (Nester dalam Finkeldey, 2005).

    Gambar 1. Kebun benih klon jenis Acacia mangium

  7. Kebun Pangkas (Hedge orchard)

Kebun pangkas adalah pertanaman yang dibangun untuk tujuan khusus sebagai penghasil bahan stek. Kebun pangkas dikelola secara intensif dengan pemangkasan, perundukan, pemupukan untuk meningkatkan produksi bahan stek. Kebun pangkas dibangun dari benih atau dari bahan vegetatif yang dikumpulkan dari pohon plus. Pembangunan kebun pangkas dilakukan dalam suatu areal tertentu yang akan dimanfaatkan sebagai penghasil stek pucuk. Selain itu dapat dibangun dalam ukuran mini dalam pot-pot di persemaian untuk diperbanyak dengan teknik stek mini.

Gambar 2. Model kebun pangkas jenis Eucalyptus spp : dalam pot/polibag (kiri)

Kualitas sumber benih tersebut semakin meningkat sesuai dengan urutan dalam klasifikasi di atas. Dari klasifikasi sumber benih diatas, tiga sumber benih yang pertama pada awalnay tidak ditujukan untuk produksi benih. Namun karena penampilan yang baik, kemudian dikonversi menjadi sumber benih dengan penerapan tindakan silvikultur yang lebih intensif. Diantara ketiga sumber benih tersebut, maka Areal Produksi Benih (APB) merupakan sumber benih terbaik hasil penunjukkan. Namun demikian, untuk mendapatkan tegakan yang baik maka pada program pembangunan hutan tanaman, sumber benih yang digunakan sebaiknya minimal berasal dari tegakan provenansi dan dapat ditingkatkan lagi menjadi kebun benih dan seterusnya (Leksono, 2004).

Berbeda dengan sumber benih hasil penunjukkan, kebun benih dibangun dengan tujuan untuk produksi benih berdasarkan hasil uji provenansi dan uji keturunan yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini berarti sumber benih tersebut dibangun dari provenansi terbaik atau individu terbaik yang telah teruji untuk sifat-sifat yang diinginkan pada daerah pengembangan. Oleh karena sumber benih tersebut sejak awalnya ditujukan untuk produksi benih, maka dapat ditanam pada tapak yang kondusif bagi produksi benih dan diperlakukan untuk menstimulasi produksi benih yang berlimpah serta penebangan pohon-pohon yang inferior, yang dilakukan melalui kegiatan penjarangan seleksi. Pengelolaannya sejak awal diarahkan untuk produksi benih, sehingga tindakan silvikultur, penjarangan seleksi dan penanganan benih yang akan dilakukan telah dipersiapkan lebih baik dan terencana. Hal ini mungkin tidak dapat dilakukan pada ketiga sumber benih sebelumnya, karena penunjukkannya dilakukan setelah diketahui bahwa tegakan tersebut memenuhi syarat sebagai tegakan benih atau areal produksi benih.

Referensi

Anonim. 2004. Petunjuk Teknis Pembangunan dan Pengelolaan Sumber Benih. Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan. Direktorat Jenderal Rehabilitasi dan Perhutanan Sosial. Departemen Kehutanan. Jakarta

Leksono, B. 2004. Program Dan Strategi Pemuliaan Acacia Dan Eucalyptus di P3BPTH. Makalah Pertemuan Teknis JKPPH di Jogjakarta tanggal 26-27 Januari 2004.

Finkeldey, R. 2005. Pengantar Genetika Hutan. Terjemahan oleh Edje Djamhuri, Iskandar Z. Siregar, Ulfah. J. Siregar dan Arti W. Kertadikara. ASEAN-EU University Network Programme (AUNP). Fakultas Kehutanan IPB. Bogor

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , . Komentar Dimatikan

RESPON TANAMAN TERHADAP SALINITAS TANAH

Oleh : Hamdan Adma Adinugraha

A. Pengaruh Salinitas Tanah Terhadap Pertumbuhan Tanaman

Kadar garam yang tinggi pada tanah menyebabkan tergganggunya pertumbuhan, produktivitas tanaman dan fungsi-fungsi fisiologis tanaman secara normal, terutama pada jenis-jenis tanaman pertanian. Salinitas tanah menekan proses pertumbuhan tanaman dengan efek yang menghambat pembesaran dan pembelahan sel, produksi protein, serta penambahan biomass tanaman. Tanaman yang mengalami stres garam umumnya tidak menunjukkan respon dalam bentuk kerusakan langsung tetapi dalam bentuk pertumbuhan tanaman yang tertekan dan perubahan secara perlahan (Sipayung, 2003). Dalam FAO (2005) dijelaskan bahwa garam-garaman mempengaruhi pertumbuhan tanaman umumnya melalui: (a) kera-cunan yang disebabkan penyerapan unsur penyusun garam yang berlebihan, (b) penurunan penyerapan air dan (c) penurunan dalam penyerapan unsur-unsur hara yang penting bagi tanaman.

Pengaruh salinitas tanah tergantung pada tingkatan pertumbuhan tanaman, biasanya pada tingkatan bibit sangat peka terhadap salinitas. Waskom (2003) menjelaskan bahwa salinitas tanah dapat menghambat perkecambahan benih, pertumbuhan yang tidak teratur pada tanaman pertanian seperti kacang-kacangan dan bawang. Viegas et a l,. (2003) dalam Da Silva et al, (2008) melaporkan bahwa pertumbuhan tunas pada semai Leucaena leucocephala mengalami penurunan sebesar 60% dengan adanya penambahan salinitas pada media sekitar 100 mM NaCl. Adanya kadar garam yang tinggi pada tanah juga menyebabkan penurunan jumlah daun, pertumbuhan tinggi tanaman dan rasio pertumbuhan panjang sel. Demikian pula dengan proses fotosintesis akan terganggu karena terjadi akumulasi garam pada jaringan mesophil dan meningkatnya konsentrasi CO2 antar sel (interseluler) yang dapat mengurangi pembukaan stomata (Robinson, 1999 dalam Da Silva et al, 2008). Pada tanaman semusim antara lain meningkatnya tanaman mati dan produksi hasil panen rendah serta banyaknya polong kacang tanah dan gabah yang hampa (Anonim, 2007).

Gambar 2. Pengaruh salinitas tanah terhadap pertumbuhan tanaman sorghum

(foto : http://www.liv.ac.uk/~sd21/stress/salt.htm )

Gambar 3. Pengaruh salinitas pada tanaman padi

(foto : http://www.knowledgebank.irri.org/regionalSites/indonesia)

Proses pengangkutan unsur-unsur hara tanaman dari dalam tanah akan terganggu dengan naiknya salinitas tanah. Manurut Salisbury and Ross (1995) bahwa masalah potensial lainnya bagi tanaman pada daerah tersebut adalah dalam memperoleh K+ yang cukup. Masalah ini terjadi karena ion natrium bersaing dalam pengambilan ion K+. Tingginya penyerapan Na+ akan menghambat penyerapan K+. Menurut Grattan and Grieve (1999) dalam Yildirim et al (2006), salinitas yang tinggi akan mengurangi ketersedian K+ dan Ca++ dalam larutan tanah dan menghambat proses transportasi dan mobilitas kedua unsur hara tersebut ke daerah pertumbuhan tanaman (growth region) sehingga akan mengurangi kualitas pertumbuhan baik organ vegetatif maupun reproduktif. Salinitas tanah yang tinggi ditunjukkan dengan kandungan ion Na+ dan Cl- tinggi akan meracuni tanaman dan meningkatkan pH tanah yang mengakibatkan berkurangnya ketersediaan unsur-unsur hara mikro (FAO, 2005). Demikian pula dengan hasil penelitian Yousfi et al (2007) bahwa salinitas menyebabkan penurunan secara drastis terhadap konsentrasi ion Fe di daun maupun akar pada tanaman gandum (barley). Penurunan tersebut disebabkan karena berkurangnya penyerapan Fe pada kondisi salinitas tinggi.

B. Mekanisme Toleransi Tanaman

Untuk mempertahankan kehidupannya, jenis-jenis tanaman tertentu memiliki mekanisme toleransi tanaman sebagai respon terhadap salinitas tanah. Jenis-jenis tanaman memiliki toleransi yang berbeda-beda terhadap salinitas. Beberapa tanaman budidaya misalnya tomat, bit gula, beras belanda lebih toleran terhadap garam dibandingkan tanaman lainnya (Salisbury and Ross, 1995). Secara garis besar respon tanaman terhadap salinitas dapat dilihat dalam dua bentuk adaptasi yaitu dengan mekanisme morfologi dan mekanisme fisiologi (Sipayung, 2003).

  1. Mekanisme morfologi

Bentuk adaptasi morfologi dan anatomi yang dapat diturunkan dan bersifat unik dapat ditemukan pada jenis halofita yang mengalami evolusi melalui seleksi alam pada kawasan huta pantai dan rawa-rawa asin. Salinitas menyebabkan perubahan struktur yang memperbaiki keseimbangan air tanaman sehingga potensial air dalam tanaman dapat mempertahankan turgor dan seluruh proses bikimia untuk pertumbuhan dan aktivitas yang normal. Perubahan struktur meliputi ukuran daun yang lebih kecil, stomata yang lebih kecil per satuan luas daun, peningkatan sukulensi, penebalan kutikula dan lapisan lilin pada permukaan daun, serta lignifikasi akar yang lebih awal (Haryadi dan Yahya, 1988 dalam Sipayung, 2003).

Ukuran daun yang lebih kecil sangat penting untuk mempertahankan turgor, sedangkan lignifikasi akar diperlukan untuk penyesuaian osmose yang sangat penting untuk untuk memelihara turgor yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhan dan fungsi metabolisme yang normal. Dengan adaptasi struktural ini kondisi air akan berkurang dan mungkin akan menurunkan kehilangan air pada transpirasi. Namun pertumbuhan akar pada lingkungan salin umumnya kurang terpengaruh dibandingkan dengan pertumbuhan daun (pucuk) atau buah. Hal ini diduga karena akibat perbaikan keseimbangan dengan mempertahankan kemampuan menyerap air. Pertumbuhan tanman yang cepat juga merupakan mekanisme untuk mengencerkan garam. Dalam hal ini bila garam dikeluarkan oleh akar, maka bahan organik yang tidak mempunyai efek racun akan tertimbun dalam jaringan, dan ini berguna untuk mempertahankan keseimbangan osmotik dengan larutan tanah (Salisbury dan Ross, 1995).

  1. Mekanisme Fisiologi

Bentuk adaptasi dengan mekanisme fisiologi terdapat dalam beberapa bentuk sebagai berikut :

  1. Osmoregulasi (pengaturan potensial osmose)

    Tanaman yang toleran terhadap salinitas dapat melakukan penyesuaian dengan menurunkan potensial osmose tanpa kehilangan turgor. Untuk memperoleh air dari tanah sekitarnya potensial air dalam cairan xilem harus sangat diturunkan oleh tegangan. Pada beberapa halofita mampu menjaga potensial osmotik terus menjadi lebih negatif selama musim pertumbuhan sejalan dengan penyerapan garam. Pada halofita lainnya memiliki kemampuan mengatur penimbunan garam (Na+ dan Cl-) pada kondisi cekaman salinitas, misalnya tanaman bakau yang mampu mengeluarkan 100% garam (Ball, 1988 dalam Salisbury and Ross, 1995).

    Osmoregulasi pada kebanyakan tanaman melibatkan sintesis dan akumulasi solute organik yang cukup untuk menurunkan potensial osmotik sel dan meningkatkan tekanan turgor yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Senyawa-senyawa organik berbobot molekul rendah yang setara dengan aktifitas metabolik dalam sitoplasma seperti asam-asam organik, asam amino dan senyawa gula disintesis sebagai respon langsung terhahadp menurunnya potensial air eksternal yang redah. Senyawa organik yang berperan mengatur osmotik pada tanaman glikopita tingkat tinggi adalah asam-asam organik dan senyawa-senyawa gula. Asam malat paling sering menyeimbangkan pengambilan kation yang berlebihan. Dalam tanaman halofita, oksalat adalah asam organik yang menyeimbangkan osmotik akibat kelebihan kation. Demikian juga pada beberapa tanaman lainnya, akumulasi sukrosa yang berkontribusi pada penyesuaian osmotik dan merupakan respon terhadap salinitas (Harjadi dan Yahya, 1988 dalam Sipayung, 2003)

  2. Kompartementasi dan sekresi garam

    Tanaman halofita biasanya dapat toleran terhadap garam karena mempunyai kemampuan mengatur konsentrasi garam dalam sitoplasma melalui transpor membran dan kompartementasi. Garam disimpan dalam vakuola, diakumulasi dalam organel-organel atau dieksresi ke luar tanaman. Pengeluaran garam pada permukaan daun akan membantu mempertahankan konsentrasi garam yang konstan dalam jaringan tanaman (Salisbury and Ross, 1995). Ada pula tanaman halofita yang mampu mengeluarkan garam dari kelenjar garam pada permukaan daun dan menyerap air secara higroskopis dari atmosfir (Mooney at al, 1980 dalam Salisbury and Ross, 1995).

    Banyak halofita dan beberapa glikofita telah mengambangkan struktur yang disebut glandula garam (salt glands) dari daun dan batang. Pada jenis-jenis mangrove biasanya tanaman menyerap air dengan kadar salinitas tinggi kemudian mengeluarkan atau mensekresikan garam tersebut keluar dari pohon. Secara khusus pohon mangrove yang dapat mensekresikan garam memiliki kelenjar garam di daun yang memungkinkan untuk mensekresi cairan Na+ dan Cl-. Beberapa contoh mangrove yang dapat mensekresikan garam adalah Aegiceras, Aegialitis, Avicennia, Sonneratia, Acanthus, dan Laguncularia.

  3. Integritas membran

    Sistem membran semi permeabel yang membungkus sel, organel dan kompartemen-kompartemen adalah struktur yang paling penting untuk mengatur kadar ion dalam sel. Lapisan terluar membran sel ataau plasmolemma memisahkan sitoplasma dan komponen metaboliknya dari larutan tanah salin yang secara kimiawi tidak cocok. Membran semi permeabel ini berfungsi menghalangi difusi bebas garam ke dalam sel tanaman, dan memberi kesempatan untuk berlangsungnya penyerapan aktif atas unsur-unsur hara essensial. Membran lainnya mengatur transpor ion dan solute lainnya dari sitoplasma dan vakuola atau organel-organel sel lainnya termasuk mitokondria dan kloroplas. Plasmolemma yang berhadapan langsung dengan tanah merupakan membran yang pertama kali menderita akibat pengaruh salinitas. Dengan demikian maka ketahanan relatif membran ini menjadi unsur penting lainnya dalam toleransi terhadap garam (Harjadi dan Yahya, 1988 dalam Sipayung, 2003).

Daftar Pustaka

Anonim. 2007. Pertanian di Aceh Pasca Tsunami. http://www.dpi.nsw.gov.au/data/assets /pdf diakses tanggal 17 Mei 2008

Da Silva, E.C., R.J.M.C. Nogueira, F.P. de Araujo, N.F. de Melo and A.D. de Ajevedo Neto. 2008. Physiological Respon to Salt Stress in Young Umbu Plants. Journal Environmental and Experimental Botany. Elsevier. http:.//www.sciencedirect .com diakses tanggal 6 Mei 2008

Food and Agricultural Organization (FAO) of United Nations. 2005. Panduang Lapang FAO. 20 hal untuk diketahui tentang dampak air laut pada lahan pertanian di Propinsi NAD

http://www.liv.ac.uk/~sd21/stress/salt.htm. Effects of Abiotic Stress on Plants. Diakses tanggal 19 Mei 2008.

Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid3. Penerbit ITB. Bandung.

Sipayung, R. 2003. Stress Garam dan Mekanisme Toleransi Tanaman. http://www. library.USU.ac.id/download/fp/bdp.rosita2.pdf. diakses pada tanggal 25 Maret 2008.

Yousfi, S., M.S. Wissal, H. Mahmoudi, C. Abdelly and M. Gharsally. 2007. Effect of Salt on Physiological Responses of Barley to Iron Deficiency. Journal of Plant Physiology and Biochemistry. Elsevier. http://www.sciencedirect.com diakses tanggal 13 Maret 2008.

Yildirim, E., A.G. Taylor and T.D. Spittler. 2006. Ameliorative Effects of Biological Treatments on Growth of Squash Plant Under Salt Stress. Scientia Horticulturae 111 (2006) 1-6. Elsevier. http://www.sciencedirect.com diakses tanggal 6 Mei 2008

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

PROBLEMATIKA HUTAN INDONESIA

Oleh: Hamdan AA

A. Problematika Pengelolaan Hutan Indonesia

Pengelolaan dan pengusahaan hutan Indonesia selama ini telah menyebabkan kerusakan hutan Indonesia yang sulit dilakukan rehabilitasi dalam waktu yang singkat. Pada tahun 1970-an luas kawasan hutan Indonesia mencapai 143 juta hektar, dengan asumsi 70% bervegetasi hutan, ini berarti terdapat 100 juta hektar tutan. Akan tetapi pada saat ini kondisinya sudah mengalami kerusakan yang drastis dan mengkhawatirkan. Menurut Oetomo (1997) dalam Anonim (1998) kawasan hutan yang benar-benar bervegetasi pada saat ini tinggal 21,4 juta hektar. Demikian pula Fox et al. (2000) lebih rinci menjelaskan bahwa tutupan hutan Indonesia secara aktual pada tahun 1997 yaitu; hutan lindung (kurang dari 25 Juta ha), hutan konservasi (15 juta ha), hutan produksi (25 juta ha) dan hutan produksi terbatas (25 juta ha).

Dilaporkan bahwa laju tingkat kerusakan hutan Indonesia mencapai 1,6-2 juta hektar per tahun (Barr, 2007). Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kerusakan hutan alam Indonesia antara lain penebangan pohon melampaui batas kemampuan hutan untuk memulihkan diri dengan melakukan regenerasi dan suksesi, pembalakan liar (illegal logging), konversi ke sektor non kehutanan, penjarahan dan perambahan oleh masyarakat disekitar hutan, pembukaan lahan untuk perladangan, bencana alam seperti kebakaran hutan, banjir/tsunami, tanah longsor,kebutuhan kayu yang melebihi pasokan lestari serta dampak otonomi daerah untuk mengejar peningkatan pendapatan asli daerah (PAD)

Seperti hutan alam, luas hutan mangrove Indonesia pun terus menurun dari tahun ke tahun. Menurut laporan FAO (1982), luas hutan mengrove Indonesia pada tahun 1982 sekitar 4,25 juta hektar. Tahun 1987 diperoleh informasi bahwa luas hutan mangrove telah berkurang dan tersisa tinggal 3,24 juta ha dan hasil survey tahun 1995, luasannya turun lagi menjadi 2,06 juta ha (Susilo, 1995). Data Departemen Kehutanan dalam Arif (2003) menyebutkan adanya hutan mangrove Indonesia tersisa sekitar 1,71 juta ha saja. Kerusakan hutan mangrove terjadi akibat eksploitasi yang dilakukan terus-menerus tanpa diiringi dengan upaya permudaan yang memadai, konversi fungsi lahan menjadi tambak atau pertanian, kegiatan pembangunan yang dilakukan dengan tidak mempertimbangkan kondisi lingkungan hidup dan terjadinya pencemaran laut (Supriharyono, 2007). Pada tahun 2004, dilaporkan bahwa pencemaran di kawasan pantai Pulau Seribu akibat minyak mentah menyebabkan rusaknya eksosisem terumbu karang, padang lamun, mangrove, biota dan fauna laut (Anonim, 2004).

Tingginya kerusakan hutan mendorong pemerintah (Departemen Kehutanan) berusaha keras untuk menekan laju kerusakan hutan tersebut. Diantaranya dengan menetapkan lima kebijakan yaitu 1) pemberantasan penebangan liar, 2) pengendalian kebakaran hutan, 3) restrukturisasi sektor kehutanan, 4) rehabilitasi dan konservasi sumber daya hutan dan 5) desentralisasi sektor kehutanan. Melalui penetapan lima kebijakan prioritas tersebut, diharapkan kegiatan-kegiatan pembangunan kehutanan yang dilakukan dapat lebih terarah pada upaya pencapaian pengelolaan hutan secara lestari (Wardojo, 2004).

B. Problematika Kesehatan Hutan di Indonesia

Pembangunan kehutanan yang saat ini dikembangkan lebih mengarah kepada hutan tanaman dengan sistem monokultur. Salah satu dampak negatif dari sistem monokultur adalah kerentanan terhadap hama dan penyakit, hal ini terjadi karena sumber pakan tersedia dengan melimpah dan dalam wilayah yang luas. Serangan hama dan penyakit dapat terjadi akibat kebakaran, banjir dan pembukaan lahan baru, penggunaan areal tanah yang luas hanya untuk satu jenis tanaman (monokultur), masuknya hama dari suatu daerah ke daerah lain dan punahnya predator-predator hama atau pindah ke habitat lain akibat penggunaan pestisida. Serangan hama/penyakit ini, jika tidak dikelola dengan tepat maka akan mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem sehingga akan berdampak pada prokduktifitas dan kualitas tanaman, antara lain adalah menurunkan rata-rata pertumbuhan, kualitas kayu, menurunkan daya kecambah biji dan pada dampak yang besar akan mempengaruhi pada kenampakan estetika hutan (Anonim, 2008).

Hutan tanaman industri (HTI) merupakan tegakan monokultur dengan ekosistem yang tidak banyak berbeda dengan ekosistem pertanian atau perkebunan. Keanekaragaman jenis yang sedikit mengakibatkan turunnya keseimbangan alam pada ekosistem tersebut. Pada keadaan ini pohon yang ditanam akan sangat rentan terhadap gangguan organisme seperti serangga hama dan pathogen/penyebab penyakit (Intari, 1995 dalam Sumardi 2006). Hama (pests)
secara formal didefinisikan sebagai segala organisme yang mengurangi ketersediaan, kualitas atau nilai sumber daya yang dimiliki manusia. Definisi hama semakin berkembang seiring dengan keragaman cara hama mempengaruhi manusia. Sumber daya yang dimiliki manusia itu bisa berupa tanaman atau binatang ternak yang di budidayakan untuk mencukupi pangan, kenyamanan manusia berupa binatang piaran, tanaman di tempat rekreasi. Jenis-jenis hama dan penyakit yang banyak menyerang beberapa tanaman HTI di Indonesia antara lain (Nair and Sumardi, 2000):

1. Hama dan penyakit tanaman Pinus merkusii

Hama/penyakit yang banyak menyerang tanaman pinus antara lain adalah kutu lilin yang menyerang pada semua tingkatan umur, penyakit lodoh semai (dampin-off) terutama pada periode sukulens yang disebabkan oleh jamur Fusarium, Pythium, Rhizoctonia, dan Sclerotium. Penyakit lainnya yang menyerang bibit adalah bercak daun pestalotia, muncul setelah periode sukulen semai berakhir.

2. Hama dan penyakit tanaman jati (Tectona grandis)

Hama/penyakit yang menyerang bibit di persemaian antara lain hama daun seperti ulat (Pyrausta machaeralis), tungau merah (Acarina sp), kutu putih/lilin, hama uret (Phyllophaga sp) yang menyerang akar, lalat putih yang menyerang batang dan penyakit damping off yang menyerang leher akar. Hama/penyakit yang menyerang tanaman di lapangang antara lain oleng-oleng (Duomitus ceramicus), inger-inger (Neotermes tectonae), hama kumbang bubuk basah (Xyleborus destruens) yang menyerang batang, ulat (Hyblaea puera) yang menyerang daun, rayap, penggerek pucuk jati dan penyakit layu akibat bakteri (Pseudomonas tectonae).

3. Hama dan penyakit tanaman mahoni (Swietenia macrophylla)

Hama/penyakit yang banyak menyerang bibit antara lain hama kumbang sisik (Xylosandrus compactus), hama penggerek pucuk (Hypsipyla robusta), hama ulat pemakan daun (Attacus atlas) dan sejenis lebah pemotong daun (Megachile sp) yang umumnya intensitasnya relatif kecil. Selain itu terdapat penyakit jamur akar yang seringkali menyebabkan kematian pohon. Jamur ini diperkirakan menular melalui aliran air terutama pada daerah miring serta masuk lewat luka pada akar tanaman dan menyerang seluruh bagian tanaman.

4. Hama dan penyakit tanaman Acacia mangium

Beberapa hama dan penyakit yang menyerang tanaman A. Mangium di lapangan antara lain hama penggerek batang (Coptotermes curvignathus), hama pemakan daun seperti ulat kantong (Pteroma plangiophelps), belalang (Valanga nigricormis), hama penghisap pucuk (Helopeltis theivora), penggerek ranting (Xylosabdrus sp dan Xyleborus fomicatus), penggerek batang (Xystocera festiva), penyakit karat daun (Atelocauda digitata), penyakit embun tepung, embun jelaga, busuk hati (heart rot), busuk akar (root rot) yang disebabkan oleh jamur akar merah atau Ganoderma philipi dan jamur akar putih atau Rigidoporus microporus (Nair and Sumardi, 2000)

Gambar 1. Serangan penyakit jamur akar merah (Ganoderma sp) pada tanaman Acacia

mangium (Sumber : Nurhidayati dan Mulyanto, 2004)

5.
Hama dan penyakit tanaman sengon (Paraserienthes falcataria)

Hama/penyakit yang banyak menyerang bibit sengon antara lain damping-off yang disebabkan oleh Pythium sp, Phytoptora sp, Rhizoctonia sp, penyakit antraknosa (Colletotrichum sp), penyakit busuk akar (Diplodia sp, Ganoderma sp, Ustulina sp, Rosellinia sp), penyakit kanker karat/puru (Uromycladium tepperianum), hama boktor/penggerek batang (Xystrocera festiva), hama ulat kantong pemakan daun (Pteroma plagiophleps dan Eurema blanda), hama pemakan akar dan hama pemakan kulit batang (Indarbela quadrinotat) (Nair, 2000; Suhaendah dkk, 2006).

6.    Hama dan penyakit tanaman mindi (Melia azedarach)

Hama dan penyakit yang menyerang tanaman mindi adalah hampir sama dengan jenis-jenis OPT yang menyerang tanaman mahoni. Penyakit yang berupa bakteri dan jamur yang menyerang bagian daun, ranting dan buah mindi, biasanya tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Pohon mindi mudah diserang penggerek pucuk Hypsipyla robusta dan batangnya diserang kumbang ambrosia
Xyleborus ferrugineus yang dapat menyebabkan kualitas kayu menurun
(Hendromono, 2001).

7.    Hama dan penyakit tanaman kayu putih (Melaleuca cajuputi)

Hama yang sering menyerang pada tanaman kayu putih adalah rayap akibat banyaknya bahan organik yang kaya selulosa sebagai sumber makanan rayap yang berasal dari sisa-sisa tanaman tumpangsari. Hama rayap selalu ada di petak tanaman kayu putih dan menimbulkan resiko kerusakan tinggi pada tanaman muda. Hama lain yang ditemukan adalah pengisap pucuk dan ulat penggerek menyebabkan pucuk mengering sehingga produksi panen daun kayu putih menjadi berkurang.

C. Perhatian Publik Terhadap Kelestarian Lingkungan

Permasalahan kerusakan hutan menjadi telah menjadi perhatian masyarakat dunia karena akibat pengelolaan sumber daya alam yang tidak benar telah menyebabkan berbagai masalah lingkungan seperti banjir, tanah longsor, peningkatan abrasi air laut dan peningkatan suhu bumi. Sorotan terhadap kerusakan hutan dan lingkungan dalam bentuk pernyataan keras dari para aktivis lingkungan pada dua dekade terakhir abad lalu telah berhasil membangun kepedulian publik dan politis terhadap masalah kerusakan lingkungan (Kimmins, 1997 dalam Sumardi, 2006). Adanya kesadaran lingkungan mendorong perubahan paradigma pengelolaan hutan yang dulunya hanya untuk produksi kayu bergeser menjadi pengelolaan yang mengedepankan usaha penjagaan produktivitas, perlindungan keanekaragaman ekosistem dan manfaat yang lebih luas bagi kesejahteraan masyarakat (Sumardi, 2006).

Kesadaran masyarakat akan akibat penggunaan pestisida kimia telah mendorong upaya perlindungan hama/penyakit tanaman yang ramah lingkungan. Pemerintah telah mengeluarkan Undang-undang no. 12 tahun 1992 yang melarang penggunaan sarana atau cara yang dapat mengganggu kesehatan dan mengancam keselamatan manusia serta menyebabkan gangguan terhadap lingkungan hidup. Salah satu alternatif yang telah banyak diupayakan adalah dengan penggunaan pestisida nabati yang tidak berbahaya bagi manusia, hewan dan serangga non-sasaran (Margino, 2002).

Penggunaan pestisida kimia secara terus-menerus memerlukan biaya besar dan dapat menimbulkan gangguan bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Pestisida dapat membunuh organisme pengganggu tanaman (OPT) dan organisme lain yang bukan hama. Kalshovev (1981) dalam Hardi (2006) melaporkan bahwa akibat penggunaan pestisida kimia di Indonsia telah memusnahkan 55% jenis hama dan 72% agen pengendali hayati lainnya. Akibat matinya musuh alami hama dapat menimbulkan ledakan hama kedua atau ledakan hama sekunder. Ketika hama kembali menyerang maka populasinya akan meningkat dengan cepat dan serangga lain yang awalnya bukan hama utama akan meningkat populasinya. Selain itu aplikasi pestisida dapat menyebabkan resistensi hama terhadap pestisida sehingga populasinya akan terus meningkat meskipun dilakukan penyemprotan ulang (http: //elearning.unej.ac.id/ ).

Daftar Pustaka

Anonim, 1998. Impian Dan Tantangan Manusia Indonesia Dalam Mewujudkan Hutan dan Kebun Yang Lestari Sebagai Anugerah dan Amanah Tuhan Yang Maha Esa. Departemen Kehutanan RI. Jakarta.

_______, 2004. Kumpulan Berita Pembangunan Kehutanan Tahun 2003 – 2004. Departemen Kehutanan RI. Jakarta.

_______, 2008. Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Kehutanan. http:// elqodar.multiply com/journal/item/17. Diakses tanggal 20 Mei 2008.

Arif, A. 2003. Hutan Mangrove Fungsi dan Manfaatnya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Fox, J., M. Wasson and G. Applehate. 2000. Forest Use Policies and Strategies in Indonesia: A Need for Change. Jakarta. Makalah disajikan untuk Bank Dunia Mei. 2000

Hardi, Teguh, TW. 2006. Penggunaan Pestisida Nabati di Kehutanan. Informasi Teknis Vol. 4 No. 1, Juni 2006. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta

Hendromono. 2001. Mindi Melia azerdarach L. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta

Margino, S. 2002. Pestisida Hayati dalam Pembangunan Pertanian Masa Depan. Diskusi Panel Nasional “Menuju Pertanian Organik yang Prospektif’. Dises Natalis ke-22 Fakultas Pertanian Universitas Slamet Riyadi Surakarta. Solo

Nair, KSS and Sumardi. 2000. Insect Pest and Deseases of Major Plantation Species. In : Nair K.S.S (ed) Insect and Deseases in Indoesia Forest : An assessment of major threats, research efforts and literature. CIFOR. Bogor. Indonesia.

Nurhidayati dan Mulyanto. 2004. Pengamatan Awal Serangan Penyakit Akar Merah pada Kebun Benih Semai Acacia mangium Generasi Pertama di Wonogiri Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 1 No. 2, Agustus 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta

Suhaendah, E., B. Dendang, I. Anggraeni dan W. Darwiati. 2006. Serangan Ulat Kantong Terhadap Tujuh Provenan Sengon di Ciamis. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 3 Suplemen No. 02, September 2006, Halaman 323-329. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta

Sumardi, 2006. Perubahan Orientasi Perlindungan Hutan Dalam Perkembangan Pengelolaan Hutan. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 12 Juni 2006

Supriharyono. 2007. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati di Wilayah Pesisir dan Laut Tropis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Susilo, E. 1995. Manusia dan Hutan Mangrove dalam Pelestarian dan Pengembangan Ekositem Hutan Bakau Secara Terpadu dan Berkelanjutan. Halaman 8.

Wardojo, W. 2004. Kebijakan Pemerintah Dalam Pengelolaan Hutan Lestari: Mengefektifkan Instrumen Sertifikasi dalam Mendorong Perubahan Kebijakan Pengelolaan Hutan Lestari. Disampaikan oleh M.S. Gelgel pada Sarasehan dan Kongres CBO LEI tanggal 19 Oktober 2004 di Jakarta.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , . Komentar Dimatikan

BIOLOGI TANAH HUTAN

Oleh:

Hamdan Adma Adinugraha

A. Pendahuluan

Pada tanah hutan akan ditemukan berbagai aktifitas organisma, dimana kondisinya lebih beraneka ragam apabila dibandingkan dengan kondisi tanah pertanian. Mayoritas organisme tersebut hidup di bawah lapisan seresah dan kebanyakan bentuknya sulit dilihat namun memiliki fungsi yang sangat penting dalam ekosistem hutan. Kondisi lingkungan yang baik/menguntungkan pada tanah hutan akan mendukung perkembangbiakan banyak organisma yang memiliki peran yang sangat komplek dalam pembentukan tanah, penghancuran seresah, penyediaan unsur hara dan metabolisme serta pertumbuhan tanaman.

Keberadaan atau hilangnya suatu spesies organisme tanah akan memiliki pengaruh positif atau negatif yang luar biasa pada suatu lokasi. Kemampuan hidup organisme pada suatu lingkungan tergantung pada jenis organisme dan kondisi tanahnya seperti kelembaban, suhu, aerasi, pH tanah, ketesediaan makanan dan energi. Faktor itu pula yanag mempengaruhi penyebaran organisme dalam tanah. Kondisi lingkungan yang menguntungkan bagi kehidupan organisme tanah hutan adalah pada lapisan seresah dan horison tanah di bagian bawahnya.

Tanah hutan mengandung sangat banyak bahan organik dan zat makanan yang tersedia sebagai sumber carbon dan sumber energi serta kondisi lingkungan yang sangat cocok untuk kehidupan bermacam-macam organisme hewan mulai dari yang berukuran kecil/mikroskopik sampai dengan yang berukuran besar. Mereka hidup atau menghabiskan sebagian besar hidupnya di dalam tanah. Pengelompokan yang umum dari organisme dalam tanah adalah pengelompokan menjadi 2 kelompok besar yaitu jenis hewan dan jenis tumbuhan.

B. Jenis Tumbuhan (Microflora) Dalam Tanah

Jenis tumbuhan mikro di dalam tanah dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar berdasarkan sumber energi dan karbon yang digunakan, yaitu jenis heterotophic dan autotrophic. Jenis yang heterotophic memerlukan bahan organik sebagai sumber energi/karbon, sedangkan jenis autotrophic mampu menghasilkan energi sendiri dengan memanfaatkan energi mataharia atau melalui proses oxidasi senyawa anorganik dan karbon diperoleh melalui asimilasi CO2.

  1. Bakteri

Bakteri adalah jenis mikroflora yang bersel tunggal, yang memperbanyak diri dengan cara memperpanjang dan membelah diri manjadi dua bagian. Kemampuannya memperbanyak diri hampir tidak terbatas sehingga jumlahnya dalam tanah sangat berlimpah. Perkembangan bakteri sangat tergantung pada persediaan bahan makanan, persaingan dengan organisme lain dan syarat lainnya, namun selalu ada dan menjalankan peranannya di dalam tanah. Ukuran bakteri sangat kecil, yang berukuran besar dapat mencapai 4-5 mikron (0,004-0,005 mm).

Berdasarkan ketersediaan O2 pada tanah, bakteri dapat dibedakan menjadi tiga yaitu ; bakteri aerob (memerlukan O2), bakteri anaerob (bisa hidup pada tempat yang tidak terdapat O2) dan bakteri fakultatif anaerob (dapat hidup pada tempat yang terdapat atau tidak mengandung O2).

Berdasarkan sumber energi yang diperlukannya, terdapat bakteri autotrop yang terdiri atas 2 tipe yaitu photoautothrop yang memperoleh energi dari cahaya matahari dan chemoautothrop yang memproleh energi dari proses oxidasi senyawa anorganik. Jenis bakteri chemoautothrop terbatas pada beberapa jenis saja, namun sangat penting keberadaannya dalam tanah, antara lain bakteri yang berperan dalam siklus nitrogen, siklus sulfur dan lain-lain. Bakteri chemoautothrop yang berperan pada oksidasi amonium menjadi nitrit antara lain Nitrosomonas, Nitrosococcus dan oksidasi nitrit menjadi nitrat adalah Nitrobacter. Bakteri yang berperan dalam oksidasi senyawa anorganik sulfur adalah Thiobacillus thiooxidans, T. Denitrificans dan Desulfovibrio desulfuricans. Bakteri yang berperan dalam oksidasi senyawa logam berat seperti besi adalah T. Ferrooxidans dan pada proses reduksi ferric adalah Bacillus, Clostridium dan Pseudomonas.

Selain itu terdapat bakteri yang bersifat heterotrop yaitu memerlukan senyawa organik sebagai sumber energi dan karbon. Bekteri ini merupakan kelompok terbesar yang ada dalam tanah. Jenis-jenis bakteri dalam kelompok ini antara lain bakteri yang mampu melakukan fixasi N2 dari udara seperti Azotobacter, Azomonas, Beijerinekia dan Azospirillum. Selanjtnya adalah jenis lainnya adalah bakteri yang bersimbiosis dengan tanaman dan mampu mengikat N2, seperti Rhizobium. Jenis lainnya yaitu bakteri yang berperan dalam dekomposisi bahan organik.

Keadaan tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Diantaranya yang terpenting adalah persediaan oksigen (bakteri aerob, anaerob dan fakultatif), persediaan air atau kelembaban yang optimum bagi tanaman tingkat tinggi biasanya paling baik bagi kebanyakan bakteri, temperatur (umumnya 70o – 100oF), jumlah dan sifat bahan organik tanah, konsentrasi ion H+ dalam larutan tanah serta jumlah kalsium yang dapat dipertukarkan (Ca yang tinggi, pH tanah naik menjadi 6-8, umumnya terbaik bagi kebanyakan bakteri. Faktor lain yang mempengaruhi jumlah populasi pada suatu lahan adalah kebakaran lahan. Hasil penelitian (Supriyo, 2007) menjelaskan bahwa kebakaran yang terjadi pada lahan gambut menyebabkan penurunan jumlah bakteri dan fungi tanah. Akan tetapi penurunan tersebut hanya terjadi pada lapisan atas dengan kedalaman 0-5 cm saja.

  1. Actinomycetes

Actinomycetes termasuk jamur berfilamen, sering bercabang-cabang dan menghasilkan badan buah dengan cara yang serupa. Benang-benang miselia lebih kecil daripada benang fungi. Jenis ini bersel tunggal mirip bakteri, demikian pula dengan penampangnya. Apabila mereka membelah menjadi spora nampak sekali seperti bakteri. Berdasarkan susunannya, actinomycetes berada diantara jamur sejati dan bakteri. Meskipun sering digolongkan kedalam fungi namun sering disebut bakteri benang. Setelah bakteri, jumlah actinomycetes memiliki jumlah terbanyak dibandingkan yang lainnya pada tanah yang pH nya lebih dari 5. Jumlahnya pada tanah yang berada di daerah hangat lebih besar dari pada di daerah dingin.

Jenis ini berperan dalam dekomposisi selulosa dan bahan organik lainnya. Jenis ang termasuk genus Streptomyces dapat menghidrolisis chitin, sedangkan jenis Nocardia melakukan metabolisma paraffins, phenols, steroid dan pyrimidines. Hasil akhir dari aktifitas actinomycetes adalah molekul senyawa komplek yang dianggap sangat penting dalam fraksi humus pada tanah mineral. Beberapa jenis actinomycetes ada yang menghasilkan antibiotik dan enzym yang mampu membunuh bakteri atau jamur. Hal ini penting dalam proses pengaturan keseimbangaan jumlah populasi mikrobial dalam komunias tanah.

  1. Jamur (fungi)

Fungi adalah mikroba tanah hutan yang memiliki ciri-ciri adanya bentuk vegetatif yang berupa benang-benang atau miselia serta banyak yang memiliki badan buah yang muncul di permukaan tanah hutan pada musim basah. fungi memegang peranan dalam dekomposisi bahan organik/seresah dan merupakan agen utama pada semua tipe keasaman tanah. Fungi berkembang hebat di tanah-tanah asam, netral atau alkali. Beberapa jenis menyukai tanah yang pHnya sangat rendah dimana bakteri dan actinomycetes tidak banyak berkembang. Fungi/jamur benang terdapat di seluruh horison tanah dan terbesar di lapisan atas/permukaan dimana tersedia baanyak bahan organik dan aerasinya baik.

Secara umum fungi pada tanah diklasifikasikan menjadi dua kelas yaitu Hypomycetes dan Zygomycetes. Jenis-jenis Hypomycetes menghasilkan spora aseksual, miceliumnya septate dan bagian conidia pada spora seksual memiliki struktur yang khusus disebut conidiospora. Zygomycetes dan jenis fungi lainnya bersifat sebaliknya, menghasilkan spora yang aseksual maupun seksual. Paling tidak ada 6 kelas fungi yang lain, namun jumlah dan frekuensinya lebih sedikit di dalam tanah. Pengelompokan fungi tanah hutan dapat dilakukan berdasarkan peranannya di dalam tanah yaitu :

  1. Fungi yang melakukan dekomposisi selulosa dan senyawa lain yang sejenis. Fungi sangat aktif dalam tanah awal dekomposisi bahan tanaman/kayu atau bahan organik debris pada permukaan tanah hutan, termasuk hemicellulose, pectins, starches, lemak dan lignin, dimana beberapa baakteri tidak dapat melakukannya.
  2. Fungi yang memanfaatkan protein (nitrogen dan karbon) sehingga kadang-kadang berkompetisi dengan tanaman tingkat tinggi dalam pengambilan N yang tersedia dalam tanah.
  3. Fungi yang bersifat sebagai predator bagi beberapa jenis fauna tanah seperti protozoa, nematoda dan rhizopoda tertentu.
  4. Fungi yang menyebabkan penyakit (pathogen) dan bersifat parasit obligat atau parasit fakultatif. Jenis-jenis fungi yang bersifat pathogen antara lain dari genus Rhizoctonia, Pythium dan Phytophtora yang menyebabkan penyakit damping-off pada tingkat persemaian. Fusarium dapat menyebabkan penyakit akar pada tingkat semai maupun pohon dewasa. Jenis lain yang menyerang akar diantaranya dari genus Armillaria,
    Verticillium, Phymototrichurn dan Endoconidiophora.
  5. Fungi yang melakukan asosiasi/simbiosis dengan akar tanaman tingkat tinggi (mycorrhiza). Jenis ini bermanfaat bagi tanaman dan banyak dikembangkan dalam media untuk operasioanl di persemaian maupun penanaman.
  6. Fungi yang berperan dalam perkembangan sifat tanah

  1. Gangang (algae)

Ganggang tanah umumnya adalah organisme yang berklorofil dan kebanyakan hidup di atau dekat permukaan tanah yang subur dan kaya akan nitrogen dan posfor yang tersedia. Secara alami algae tanah dalam bentuk vegetatif terdapat banyak sekali di lapisan permukaan. Umumnya bersel tunggal, juga berbentuk filamen yang pendek atau koloni. Jenis alga dikelompokkan menjadi ganggang hijau, biru-hijau, kuning-hijau dan diatome. Dengan klorofil yang dimiliki, alga dapat memanfaatkan sinar matahari sebagai energi untuk fiksasi CO2 (photosintesis) dan menghasilkan photoautothropic nutrition. Alga hijau dan diatome banyak terdapat di daerah temperate sedangkan alga biru-hijau banyak ditemukan di daerah tropis.

Algae berguna membantu pada proses pelarutan mineral tanah, dengan menghasilkan senyawa organik dari bahan anorganik dan meningkatkan kandungan humus pada tanah. Alga biru-hiaju dapat mengasimilasi dan fiksasi nitrogen dari atmosfir sehingga membantu penyediaan nitrogen pada tanah. Terutama pada tanah yang terendam banjir atau tanah yang alkalinitasnya bertambah akibat kebakaran. Lichenes merupakan bentuk simbiosis antara fungi dan algae, dan merupakan bentuk pionir pada tanah berbatu serta membantu penyediaan bahan organik yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman.

  1. Jenis Fauna Tanah Hutan

Fauna tanah memegang peranan yang sangat penting dalam ekosistem tanah. Semua jenis fauna tanah yang ada umumnya sangat mempengaruhi kesuburan tanah bahkan bisa mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Ukuran fauna tanah sangat beragam mulai dari binatang liar atau binatang peliharaan sampai pada fauna yang berukuran satu sel seperti protozoa. Pengaruh fauna berukuran besar terhadap tanah hutan sangat kecil kecuali pada tanah-tanah penggembalaan, dimana terjadi pengurangan vegetasi penutup tanah, perubahan komposisi jenis, pemadatan tanah dan berkurangnya infiltrasi tanah yang berakibat terjadinya erosi tanah (Lavelle, 1997).

Berdasarkan cara mempengaruhi sistem tanah, maka jenis-jenis fauna dibagi menjadi dua kelompok yaitu :

  1. Hewan eksopedonik yaitu mempengaruhi dari luar tanah, biasanya merupakan binatang-binatang yang berukuran besar dan tidak menghuni tanah. Jenis tersebut antara lain mamalia, aves, reptilia dan ampibia.
  2. Hewan endopedonik yaitu mempengaruhi dari dalam tanah, berupa binatang-binatang kecil (diameter kurang dari 1 cm) yang tinggal di dalam tanah dan mempengaruhi penampilan tanah dari sisi dalam. Jenis-jenis tersebut antara lain arachnidae, crustacea, onychpoda, oligochaeta, hirudinae dan gastropoda.

Berdasarkan cara hidupnya fauna tanah dibagi menjadi tiga kelompok yaitu :

  1. Jenis epigeic : hidup dan makan di permukaan tanah, berperan dalam penghancuran seresah menjadi ukuran yang lebih kecil dan dalam pelepasan unsuer hara. Akan tetapi organisme ini tidak aktif dalam distribusi bahan organik kedalam profil tanah.
  2. Jenis anecic : fauna yang aktif memindahkan seresah dari permukaan tanah dibawa masuk kedalam profil tanah melalui aktifitas makannya.
  3. Jenis endogeic : fauna yang hidup di dalam tanah dan memakan bahan organik termasuk bagian akar yang telah mati.

Berdasarkan ukuran tubuhnya fauna tanah dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu :

  1. Macrofauna

Makrofauna adalah jenis fauna yang memiliki ukuran tubuh lebih dari 2mm. Jenis-jenis hewan yang termasuk macrofauna dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu : (1)vertebrata, berupa hewan pengerat dan pemakan serangga, (2) Arthoropoda yang meliputi jenis serangga tanah dan (3) Annelida yaitu jenis cacing tanah.

Kelompok pengerat (rodenta) antara lain tupai tanah, musang kantung, marmut, tikus, kangguru dan anjing prairi. Aktifitas hewan ini adalah menghaluskan, menggumpalkan dan memindahkan tanah dala jumlah cukup besar. Hewan pemakan serangga, terutama tikus pondok, dalam beberapa hal memiliki arti penting. Sementara aktifitas bermacam-macam hewan ini pada umumnya tidak menguntungkan dari segi pertanian, tetapi peranannya bagi tanah sering-sering berguna dan mirip dengan pengolahan tanah. Kegiatan hewan-hewan ini tidak hanya dalam hubungannya dengan bahan organik di dalam tanah tetapi juga lubang-lubang hewan tersebut memperbaiki aerasi dan drainase tanah. Dalam beberapa hal mereka sangat merusak horison tanah sehingga akan mempersukar penentuan sifat asli profil tanah.

Banyak jenis serangga terdapat di tanah. Beberapa diantaranya memiliki peranan yang kecil terhadap bahan organik tanah, sedangkan sebagian yang lain seperti semut, kumbang dan lain-lain sangat mempengaruhi susunan humus karena ditranslokasikan atau dicernakan. Di beberapa daerah hasil kegiatan semut sering sangat nyata. Bersama-sama dengan serangga ini adalah millipoda, bubuk, tungau dan siput, makhluk yang mempergunakan jaringan tumbuhan yang sedikit banyak telah terurai sebagai makanan. Jadi, mereka sebagai pengurai perintis proses yang akan dilanjutkan oleh bakteri dan fungi. Empat jenis bianatang yang bertanggung jawab dalam pencernaan bahan organik khususnya tanah hutan adalah bubuk, tungau/sejenis kutu, springtail dan si kaki seribu (Soegiman, 1982).

Hewan lainnya yang memiliki peran penting dalam tanah hutan adalah cacing tanah. Di daerah tropis dan semitropis lazim terdapat berbagai jenis dan ukuran cacing tanah. Ada yang berukuran kecil dan ada yang berukuran sangat besar. Jenis cacing yang paling umum ditemukan adalah Lumbricus terrestris yang berwarna kemerahan dan Allobophora calliginosa yang berwarna merah muda pucat. Jumlah caacing dalam tanah hutan diperkirakan mencapai 500.000 – 2.500.000 ekor/ha. Cacing tanah mencerna bahan organik, tanah dan bahan mineral, yang kemudian menghasilkan kotoran yang sangat berguna untuk kesuburan tanah. Diperkirakan setiap tahun mampu menghasilkan material tanah 30 – 1.100 mg/ha/tahun yang keluar dari tubuhnya. Hasil penelitian Woliny membuktukan bahwa cacing tanah mempunyai pengaruh yang baik terhadap produktivitas tanah. Dengan aktivitas cacing tanah meningkatkan penguraian bahan organik, kemampuan pertukaran kation, ketersediaan N, P, K, Mg, Ca dalam tanah. Pengaruh lainnya dari cacing tanah adalah lubang-lubang yang ditinggalkan di tanah menyebabkan peningkatan aerasi dan drainase.

Hasil penelitian Harsoyo (2002) menunjukkan beberapa jenis hewan yng ditemukan pada beberapa tipe penggunaan lahan menunjukkan adanya jenis-jenis hewan seperti cacing tanah (oligochaeta), kumbang badak (coleoptera), belalang (acrididae), belalang sembah (mantiddae), jangkrik (gryllidae), walang kayu (mantiddae), laba-laba (arachnidae). Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa semakin dalam tanah cenderung semakin sedikit ditemukannya fauna tanah. Hal tersebut mungkin dikarenakan semakin dalam ketersediaan bahan organik sebagai sumber makanan dan oksigen semakin berkurang sehingga jumlah organisme yang bisa hidup berkurang jumlahnya.

Tabel 1. Sebaran makrofauna tanah pada berbagai pola penggunaan lahan dan lapisan tanah

No

Sebaran vertikal

(kedalaman)

Kebun teh

Kebun jagung

Kebun

kopi

Kebun cengkeh

Tegakan sengon

Rata-rata

1

Lapisan seresah

8

11

11

12

8

10,0

2

Tanah 0 – 10 cm

3

2

4

3

5

3,4

3

Tanah 11 – 20 cm

6

4

2

3

2

3,4

4

Tanah 21 – 30 cm

2

1

3

2

3

2,2

Sumber : Harsoyo (2002)

  1. Mesofauna

Mesofauna adalah jenis fauna yang memiliki ukuran tubuh 0,1 – 2 mm. Umumnya jenis yang mendominasi pada tanah hutan adalah arthropoda. Jenis-jenis springtails, sow bugs, ticks dan mites, jumlahnya banyak sekali pada semua tanah hutan dan sangat berperan dalam proses dekomposisi seresah. Jenis-jenis ini umumnya makan bahan organik dan melakukan pemindahan bahan organik dari permukaan kedalam horison tanah. Beberapa jenis seperti sow bugs aktif sebagai pemakan daun atau kayu yang mati sehingga sangat penting dalam proses penghancuran daun-daun segar yang jatuh. Dengan demikian akan memperbaiki struktur pada tanah permukaan.

Jumlah populasi fauna tanah bervariasi pada tempat-tempat yang berbeda. Pada tabel berikut menunjukkan bahwa tipe penggunaan lahan berpengaruh terhadap jumlah populasi fauna tanah. Pada lahan yang mengalami kebakaran, menyebabkan jumlah fauna tanah yang hidup sangat sedikit.

Tabel. Distribusi ordo, famili dan spesies pada empat tipe penggunaan lahan di daerah Gunung Bawang

No

Penggunaan lahan

Jumlah Ordo/kelas

Jumlah Famili

Jumlah Spesies

1

Hutan sekunder tua

30

128

150

2

Kebun karet

27

79

95

3

Daerah semak resam/paku-pakuan

23

52

65

4

Ladang atau lahan terbakar

16

31

36

Sumber : Darwati (2007)

  1. Mikrofauna

Mikrofauna adalah jenis fauna tanah yang memilki ukuran tubuh kurang dari 0,1 mm. ada tiga jenis mikrofauna yaitu nematoda, protozoa dan rotifera.

  1. Nematoda adalah jenis cacing yang umum disebut cacing benang atau cacaing belut, terdapat hampir di semua tanah dengan jumlah yang sangat banyak. Nematoda dapat dibagi menjadi tiga golongan berdasarkan cara makannya : (1) hidup di bahan organik yanag telah membususk, (2) hidup sebagai predotor nematoda lainnya, cacing tanah kecil dan sejenisnya dan (3) hidup sebagai parasitis, menyerang akar tanaman tingkat tinggi, karena sebagian dalam siklus hidupnya berada pada jaringan tumbuhan. Golongan pertama dan kedua adalah yang paling banyak jenisnya dan jumlahnya pada kebanyakan jenis tanah.

    Jenis yang ketiga terutama dari genus Heterodera adalah jenis mikrofauna yang paling penting karena bentuknya yang runcing, memungkinkan untuk menembus jaringan akar tumbuhan dan bersifat merugikan tanaman tersebut. Pada tingkat persemaian pun jenis ini sangat mengganggu dan merupakan penyakit yang sangat merugikan (Soegiman, 1982).

  2. Protozoa, merupakan bentuk kehidupan binatang yang paling sederhana. Meskipun hewan ini bersel tunggal, namun ukurannya jauh lebih besar dari pada bakteri dan susunannya jelas bertingkat lebih tinggi. Beberapa diantaranya berupa massa protoplasma yang telanjang amuba, dan yang lainnya memperlihatkan perkembangan yang lebih tinggi yaitu memiliki kulit kersik atau khitin. Protozoa dibedakan menjadi tiga golongan yaitu : (1) amuba, (2) ciliata atau infusoria yang memiliki cilia/ rambut dan (3) flagellata yang memiliki flagel berupa tonjolan protoplasma yang berbentuk cambuk panjang. Flagellata biasanya jumlahnya teresar dalam tanah lalu berikutnya amuba dan ciliata.

    Protozoa merupakan jenis mikrofauna tanah yang jumlahnya sangat banyak dan bervariasi. Yang telah diisolasikan sudah lebih dari 250 spesies. Akan tetapi umumnya jumlah protozoa berfluktuasi tergantung pada kondisi tanah seperti aerasi dan kandungan makan. Kebanyakan protozoa tinggal di horison permukaan dan menjadikan bahan organik sebagai sumber makanannya, namun ada petunjuk bahwa beberapa jenis protozoa merupakan pemakan bakteri.

    c. Rotifera, jenis mikrofauna yang biasanya terdapat di tanah lembab, terutama di daerah rawa. Jumlahnya dapat besar sekali, dalam suatu lokasi yang sesuai jumlahnya dapat mencapai 105/m2. Jenis fauna ini biasanya berukuran mikroskopis. Bagian anterior (muka) berupa cakram retraktil (yang dapat mengembang dan mengerut), mengandung lingkaran-lingkaran cilia yang dalam geraknya nampak seperti yang berjalan sesuai dengan namanya. Rambut cambuk ini mengalirkan makanan kedalam tubuh hewan tersebut. Bagian posterior (belakang) membulat panjang yang menjadi alat penyerang rotifera terhadap sesuatu yang mengganggu. Jenis ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu pemakan bahan organik dan pemakan protozoa dan algae. Manfaat roteifera belum dikenal, namun diduga terlibat dalam siklus penghancuran bahan organik di tanah gambut dan tempat-tempat basah di tanah mineral.

    Daftar Pustaka

    Buckman, H.O. and N.C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Diterjemahkan oleh Prof. Soegiman. Penerbit Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

    Darwati. 2007. Keragaman Dan Kelimpahan Mesofauna Tanah Pada Beberapa Tipe Penggunaan Lahan di Daerah Gunung Bawang. Thesis S2. Fakultas Kehutanan. Program Pasca Sarjana. UGM. Yogyakarta

    Fisher, R.F. and D. Binkley. 2000. Ecology and Management of Forest Soil. Third Edition. John Wiley & Sons, Inc. New York.

    Harsoyo, E. 2002. Keragaman dan Dinamika Makrofauna Tanah Pada Berbagai Pola Penggunaan Lahan di Pekalongan Jawa Tengah. Thesis S2. Fakultas Kehutanan. Program Pasca Sarjana. UGM. Yogyakarta

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

CARA MUDAH DAN MURAH MEMBUAT BIBIT SUKUN

CARA MUDAH DAN MURAH MEMBUAT BIBIT SUKUN

 

Oleh: Hamdan AA. dan Suwandi

 

 

       Gambar 1. Buah sukun gundul

Tanaman sukun adalah salah satu jenis tanaman kehutanan yang menghasilkan buah dengan kandungan gizi yang tinggi. Selain menghasilkan kalori (karbohidrat) yang cukup, buah sukun juga mengandung vitamin C, kalsium dan fosfor yang cukup tinggi. Oleh karena itu jenis ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai alternatif bahan makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Salah satu kendala yang dihadapi dalam budidaya tanaman sukun adalah pengadaan bibit yang baik, karena jenis sukun tidak menghasilkan biji sehingga pembibitannya dilakukan secara vegetatif. Teknik pembiakan vegetatif yang dapat dilakukan antara lain pencangkokan, pemindahan tunas alami, stek akar dan stek pucuk. Akan tetapi teknik yang sudah biasa dilakukan adalah stek akar dan stek pucuk, karena dengan cara ini akan diperoleh bibit dengan jumlah yang mmadai.

 

Tahapan pembibitan sukun dengan stek akar

 

  1. Pemilihan  pohon induk yang baik dengan ciri-ciri sehat /tidak terserang hama/penyakit, produktivitas buah tinggi dan rasa buah enak
  2. Pengambilan akar dipilih yang  menjalar dekat dengan permukaan tanah dengan diameter 1-3 cm
  3. Pembuatab persemaian : akar dipotong-potong sepanjang 10-15 cm, kemudian dicuci dengan air yang telah diberi zat pengatur tumbuh akar. Stek ditanam dengan posisi tegak pada media pasir di dalam bedengan yang diberi sungkup dari plastik untuk menjaga kelembaban sampai dengan 90%. Penyiraman dapat dilakukan 1-2 kali sehari (pagi dan sore hari). Dengan memelihara kelembaban yang baik maka keberhasilan stek akar rata-rata mencapai 80-95%.
  4. Penyapihan dan pemeliharaan bibit : setelah stek akar yang tumbuh berumur 3 bulan dilakukan penyapihan ke media tanah + pupuk kompos (3:1). Bibit dipelihara di persemaian yang di naungi paranet dengan intensitas cahaya 50%. Bibit sudah siap tanam setelah berumur 6 bulan

  Gambar 2. Tahapan pembibitan sukun dengan stek akar

 Tahapan pebibitan sukun dengan stek pucuk:

 

  1. Pembuatan stek pucuk dari trubusan stek akar : biasanya pada stek akar tumbuh 2-5 tunas, untuk mendapatkan pertumbuhan bibit stek akar yang baik hanya dibiarkab satu buah tunas, sisanya dipangkas. Tunas-tunas yang tidak dimanfaatkan tersebut dapat ditanam sebagai stek pucuk dengan persen hidup rata-rata 90-100%.
  2. Pembuatan stek pucuk dari kebun pangkas : selain itu dapat pengambilan tunas dapat dilakukan dari tanaman sukun yang dipangkas. Pembuatan kebun pangkas dapat dilakukan di persemaian atau di lapangan. Tanaman sukun yang dipangkas setinggi 50 cm. Keberhasilan tumbuh stek pucuk dari kebun pangkas mencapai 64,50%.

    Gambar 3. Tahapan pembibitan sukun dengan stek pucuk

  Pembuatan stek pucuk dilakukan dengan memotong tunas sepanjang 10 cm, memiliki 2-3 daun. Satu buah tunas dapat dibuat menjadi 2 stek pucuk (potongan ujung dan bagian pangkal). Penanaman stek dilkukan pada media pasir sungai di dalam bedengan bersungkup. Stek pucuk dapat disapih ke media tanah + kompos (3:1) setelah berumur 2-3 bulan. Bibit dipelihara di persemaian dengan naungan paranet 50% sampai siap tanam. Keberhasilan tumbuh stek pucuk dapat mencapai 88,83%.

 Bahan bacaan

 Adinugraha, H.A., Kartikawati, N.K. dan Suwandi. 2004.Penggunaan Trubusan Stek Akar Tanaman Sukun Sebagai Bahan Stek Pucuk. Jurnal Penelitian Hutan tanaman vol. 1 no. 1, April 2004,   halaman 21-28. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

Adinugraha, H.A., Kartikawati, N.K dan Ismail, B. 2004. Pengaruh Ukuran Stek Posisi dan Kedalaman Tanam Terhadap Pertumbuhan Stek Akar Sukun. Jurnal Penelitian Hutan tanaman Vol. 1 No. 2, Agustus 2004,   halaman 79-86. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemu-liaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

Setiadi, D. Dan Adinugraha, H.A. 2005Pengaruh Tinggi Pangkasan Induk Terhadap Kemampuan Bertunas Tanaman Sukun Pada Kebun Pangkas. Jurnal Penelitian Hutan tanaman Vol. 2  No. 2, Agustus 2005,   halaman 13-20. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , , . 7 Comments »

EKOSISTEM HUTAN MANGROVE MANFAAT DAN PENGELOLAANNYA

EKOSISTEM HUTAN MANGROVE MANFAAT DAN PENGELOLAANNYA

Oleh : Hamdan A.A. dan Dedi Setiadi

 

A.  Pengertian Mangrove   

Kata mangrove memiliki dua arti, pertama sebagai komunitas yaitu komunitas atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam/salinitas (pasang-surut air laut) dan kedua sebagai individu species (MacNae, 1968). Kata mangrove digunakan untuk menyebut jenis pohon-pohon atau semak-semak yang tumbuh diantara batas air tertinggi saat air pasang dan batas air terendah sampai diatas rata-rata permukaan laut. Sebenarnya, kata mangrove digunakan untuk menyebut masyarakat tumbuh-tumbuhan dari beberapa spesies yang mempunyai perakaran Pneumatophores dan tumbuh diantara garis pasang surut. Sehingga hutan mangrove juga disebut hutan pasang (Steenis, 1978). Berdasarkan SK Dirjen Kehutanan No. 60/Kpts/Dj/I/1978, hutan mangrove dikatakan sebagai hutan yang terdapat disepanjang pantai atau muara sungai dan dipengaruhi pasang surut air laut, yakni tergenang pada waktu pasang dan bebas genangan pada waktu surut.

 Hutan mangrove disebut juga hutan bakau atau rawa garaman (Allen, 1973). Mangrove merupakan suatu tempat yang bergerak akibat adanya pembentukan tanah lumpur dan daratan secara terus menerus oleh tumbuhan sehingga secara perlahan-lahan berubah menjadi semidaratan. Kostermans (1982) menyebut mangrove sebagai vegetasi berjalan yang cenderung mendorong terbentuknya tanah timbul melalui suksesi alami atau buatan dengan terbentuknya vegetasi baru pada tanah timbul tersebut.

Berbagai pengertian mangrove tersebut  sebenarnya mempunyai arti yang sama, yaitu formasi hutan khas daerah trofika dan sedikit subtrofika, terdapat dipantai rendah dan tenang, berlumpur, sedikit berpasir, serta mendapat pengaruh pasang surut air laut. Mangrove juga merupakan mata rantai penting dalam pemeliharaan keseimbangan siklus biologi disuatu perairan.

B Jenis-jenis Vegetasi di Hutan Mangrove

Diperkirakan terdapat sekitar 89 species mangrove yaang tumbuh di dunia, yang terdiri atas 31 genera dan 22 famili. Tumbuhan mangrove tersebut  pada umumnya hidup di hutan pantai Asia Tenggara, yaitu sekitar 74 species dan hanya sekitar 11 species yang hidup di daeraah Karibbia. Di Indonesia terdapat sekitar 38 species yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua (Soegiarto dan Pollunin, 1982)

Hutan mangrove terdiri atas berbagai jenis vegetasi. Beberapa jenis yang dikenal antara lain Tanjang Wedok (Rhizophora apiculata BL) atau bakau putih, Tanjang Lanang (R. mucronata LMK) atau bakau hitam, dan bakau (R. stylosa Griff). Sebenarnya, istilah  tanjang adalah sebutan khusus untuk Bruguiera yang digolongkan kedalam famili yang sama dengan Rhizophoraceae. Namun telah terjadi salah pengertian dalam masyarakat, terutama masyarakat pesisir, yakni tercampur dengan istilah daerah, sehingga pengertiannya menjadi rancu untuk seterusnya. Famili Rhizophoraceae terdiri atas banyak jenis, antara lain B. gymnorrhiza (L.) LMK, B. parviflora (L.) LMK, B. cylindrika (L.) LMK.

Beberapa jenis yang masih satu famili, khususnya jenis Rhizophora spp., berbeda dalam hal ciri-ciri pertumbuhan akar. R. mucronata dan R. apiculata tumbuh tegak dan menjangkar bagai busur panah, sedang R. stylosa tumbuh memanjang, rebah, dan sedikit menjangkar. Buah R. apiculata agak pendek dan lurus namun jika tidak benar-benar teliti akan terkecoh dengan jenis R. stylosa yang juga berbentuk hampir sama dengan              R. mucronata, hanya buah R. stylosa kurus dan kecil.

 Tabel 2. Manfaat beberapa spesies tumbuhan mangrove di Asia Tenggara, terutama  yang berasal dari Indonesia dan Philipina (Soegiarto dan Pollunin, 1982 ; Jara, 1985)

No

Jenis tumbuhan

Manfaat

1 Acanthus ebracteatus Daunnya dioleskan ke kulit kepala untuk pengawet rambut
2 Acantus ilicifolius Buahnya yang lunak digunakan untuk membersihkan darah, penawar racun dari gigitan ular
3 Acrostichum aureum Daunnya untuk pakan ternak dan atap rumah
4 Aegiceras orniculatum Bakaran kayu untuk obat sakit perut
5 Amoora cucullata Mainan anak-anak
6 Avivennia spp Untuk kayu bakar, obat radang mulut dan tenggorokan terutama untuk anak-anak, bijinya mengandung resin dan minyak untuk obat ulcer (pendarahan pada kulit) dan tumor, kulitnya berguna untuk obat penyakit kulit dan luka
7 Avicennia nitida Berguna untuk arang, abu kayunya untuk ekstraksi garam, biji dan kecambahnya dapat dimakan, bunganya manghasilkan madu,daunnya untuk pupuk hijau
8 Avicennia marina Daun muda untuk sayuran, aroma serbuk sari yang kuat baik untuk ternak lebah
9 Avicennia alba Kulit dan bijinya mengandung racun untuk ikan, resin untuk anti hamil, minyak bijinya untuk menghilangkan plek pada kulit
10 Avivennia officinalis Bijinya dapat dimakan setelah dicuci dan dimasak
11 Bruguiera cylindrica Kayu bahan bangunan dan kayu bakar, kulitnya untuk bumbu ikan mentah
12 B. gymnorhiza Kayu bangunan, kayu bakar, tiang telpon, arang, kulitnya untuk bumbu ikan mentah, buahnya untuk obat mata dan tambahan makan sirih, kulitnya bisa untuk bahan perekat
13 B. sexangula Daun muda, akar muda dan buah yang masih muda dimasuk untuk sayuran, buahnya sebagai pengganti sirih pinang (gambir), getahnya sebagai obat sakit mata, akar untuk dupa
14 Camptostemon schultzii Kayu bangunan dan pulp
15 Carbera manghas Buahnya sebagai obat rematik, biji mengandung minyak untuk obat-obatan, kulit dan cairan kayu untuk obat urus-urus
16 Ceriops tagal Kayu bangunan, kayu bakar, mengandung tanin, rebusan kulit untuk menghentikan pendarahan, kulit mengandung zat pewarna, pengawet jaring, batik dan tikar
17 Cynometra ramiflora Kayu bakar
18 Derris heterophylla Untuk pelemah ikan
19 Excoecaria agallocha Kayunya untuk bahan kertas, korek api dan kotak/peti, getah dapat untuk obat sakit gigi tapi beracun menyebabkan mata buta, racun ikan
20 Heritiera fomes Bahan rayon (untuk pakaian), kayu bangunan, konstruksi rumah, kapal, tiang penyangga, furniture
21 Heritiera littoralis Bahan kapal, kayu bangunan, kayu bakar, biji untuk obat diare, cairan kayu beracun
22 Lumnitzera littorea Daunnya untuk jamu sebagai obat sariawan pada bayi
23 Nypa fruticans Daun untuk atap rumah, daun muda untuk pembungkus rokok, cairan tubuh untuk gula, alkohol dan cuka
24 Oncosperma tigillaria Tiang penyangga rumah, lantai, bunganya untuk penyedap rasa, pengawet buah-buahan,  daun muda untuk sayuran
25 Rhizophora spp Kayu bangunan, penggantung ikan, tiang penyangga, penutup lubang, kayu bakar, arang, tanin
26 Rhizophora mucronata Rebusan kulit untuk haematuna, diare, disentri, lepra, kulit akar dan buah untuk mengusir nyamuk, buahnya sebagai bahan anggur, nectarnya menghasilkan madu
27 Sonneratia ovata Buahnya dapat dimakan, obat persendian yang terkilir, fermentasinya dapat mencegah pendarahan
28 Sonnertia alba Kayu bangunan, kayu bakar, pheumotophores untuk pelampung pancing, daunnya untuk pakan ternak
29 Sonneratia caseolaris Buahnya dapat dimakan, cairan tanaman untuk kosmetik, daunnya untk pakan ternak kambing, kayu bahan pulp yang baik
30 Xylocrpus moluccensis Kayu bangunan (harganya mahal), furniture, kyu bakar, tanin, bijinya mengandung minyak untuk pemoles kulit kepala dan penguat rambut, rebusan kulit untuk anyaman

C. Pengelolaan Hutan Mangrove

Pengelolaan kawasan hutan menjadi tugas pokok pemerintah, yang dalam pelaksanaannya harus melibatkan masyarakat setempat. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan bahwa mangrove merupakan ekosistem hutan, dan oleh karena itu, maka pemerintah bertanggungjawab dalam pengelolaan yang berasaskan manfaat dan lestari, kerakyatan, keadilan, kebersamaan, keterbukaan dan keterpaduan (Pasal 2). Selanjutnya dalam kaitan kondisi mangrove yang rusak, kepada setiap orang yang memiliki, pengelola dan atau memanfaatkan hutan kritis atau produksi, wajib melaksanakan rehabilitasi hutan untuk tujuan perlindungan konservasi (Pasal 43). Pada Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya merupakan suatu kekuatan dalam pelaksanaan konservasi kawasan hutan mangrove. Didalam undang-undang tersebut terdapat tiga aspek yang sangat penting, yakni sebagai berikut.

  1. Perlindungan terhadap sistem penyangga kehidupan dengan menjamin terpeliharanya proses ekologi bagi kelangsungan hidup biota dan keberadaan ekosistemnya.
  2. Pengawetan sumber plasma nutfah, yaitu menjamin terpeliharanya sumber genetik dan ekosistemnya, yang sesuai bagi kepentingan kehidupan umat manusia.
  3. Pemanfaatan secara lestari atau berkelanjutan, baik berupa produksi dan jasa

Menurut Lewis (2001) terdapat lima hal penting yang harus diperhatikan untuk keberhasilan dalam rehabilitasi hutan mangrove, yaitu :

  1. Memahami betul kondisi ekologi individu jenis penyusun hutan mangrove, terutama dalam hal kemampuan reproduksi, penyebaran, keberhasilan di tingkat persemaian
  2.  Memahami pola-pola hidrologi normal yang mengontrol distribusi dan keberhasilan pengembangan dan pertumbuhan  tanaman mangrove yang akan ditanam
  3. Menilai kondisi  modifikasi ingkungan hutan bakau yang terjadi sebelumnya yang menyebabkan terhalangnya kemampuan suksesi berikutnya secara alami
  4. Mendisain program restorasi yang tepat sebagai langkah awal untuk rehabilitasi kemampuan hirologi dengan memilih jenis-jenis mangrove tertentu untuk  penanaman di lapangan.
  5. Setelah menetapkan tahapan-tahapan di atas maka tinggal pelaksanaan penanaman secara nyata propagul yang telah disiapkan baik dari hasil koleksi anakan alam atau hasil penyemaian buah, mengamati tingkat kestabilan dan pertumbuhan tanaman harus diperhatikan.

Mengelola sebuah hutan mangrove harus merupakan kawasan lindung, namun tidak kemudian berarti menutup peluang usaha yang bisa mendatangkan nilai ekonomi. Selama dilakukan dengan menerapkan strategi konservasi (perlindungan, pengawetan, dan pelestarian pemanfaatan) serta dibuatnya ketentuan hukum yang akan mengaturnya, sehingga jelas dan tegas apa hak, kewajiban dan pengenaan sanksi bagi yang melanggarnya, adalah sah-sah saja berusaha dikawasan lindung. Model pengelolaan yang bisa dilakukan antara lain dikelola dengan baik sebagai  suatu kawasan hutan wisata.

Jenis wisata pantai di hutan mangrove dengan membuat jalan berupa jembatan diantara tanaman pengisi hutan mangrove, merupakan atraksi yang akan menarik pengunjung. Juga restoran yang menyajikan masakan dari hasil laut, bisa dibangun sarananya berupa panggung diatas pepohonan yang tidak terlalu tinggi. Atau rekreasi memancing serta berperahu. Penempatan usaha tambak bisa juga difasilitasi, namun persyaratan ketat harus diberlakukan untuk pemilihan tempat yang layak berikut luas maksimum garapan, lama waktu berusaha, permodalan yang kuat serta mutlaknya memperkerjakan penduduk setempat.

                    Gambar 4. Konservasi pohon bakau di Pulau Iriomote Jepang

 Pengalaman pengelolaan kawasan hutan mangrove di Pulau Iriomote (pulau paling selatan di Jepang) sebagai suatu kawasan konservasi menujukkkan kondisi hutan yang sangat baik dan terhindar dari kerusakan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat setempat untuk melestarikan kawasan tersebut. Kondisi ini tidak menyebabkan berkurangnya pendapatan masayarakat setempat bahkan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan penyediaan jasa transportasi wisata, olah raga air (kano), penyewaan rumah tinggal untuk hotel/penginapan, rumah makan, peningkatan produksi kerajinan/cindera mata,  produski perikanan dan lain-lain (Adinugraha, 2002).

Nuryanto (2003) menjelaskan pengelolaan zonasi dikawasan ekosistem hutan mangrove salah satunya adalah zona pemanfaatan melalui kegiatan mina hutan (sylvofishery). Penerapan kegiatan ini diharapkan dapat tetap memberikan lapangan kerja bagi petani disekitar kawasan tanpa merusak hutan itu sendiri dan adanya pemerataan luas lahan bagi masyarakat.  Harapan ini dapat terwujud dengan catatan tidak ada pemilik modal yang menguasai lahan secara berlebihan. Adapun sistem mina hutan yang dapat diaplikasikan adalah sistem empang parit dan sistem empang inti.  Sistem empang parit adalah sistem mina hutan dimana hutan bakau berada di tengan dan kolam berada di tepi mengelilingi hutan.  Sebaliknya sistem empang inti adalah sistem mina hutan dengan kolam di tengah dan hutan mengelilingi kolam (Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 1999).

Daftar Rujukan

Adinugraha, H.A. 2002. Counterpart Training Report in Japan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta. Tidak dipublikasikan.

Allen, J.R.I. 1973. Physical Processes of Sedimentation. Earth Science Series I. George Allen And Unwin Ltd., London. Hlm.248.

Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 1999.  Strategi national pengelolaan hutan mangrove di Indonesia.  Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan, Jakarta

Jara, R.S. 1985. tradisional uses of the mangrove in the Phillipines. Pp 114-130. Proceedings of the Research for Development Seminar, AIMS, Townsville, Australia, 18-25th May, 1985.

Lewis, R.R. 2001. In Riview Mangrove Restoration – Costs and Benefits of  Successful Ecological Restoration. Proceedings of the Mangrove Valuation Workshop. Universiti Sains Malaysia. Penang 4-8 April, 2001. Beijer International Institute of Ecological Economics. Stockholm, Sweden

Mac Nae, W. 1968. A General Account of Fauna and Flora of Mangrove Swamps and Forest in The Indowest-Pasific Region. dalam ;  Adv. Mar. Biol 6. 73-270.

Nuryanto, A. 2003. Silvofihsery (Mina Hutan) : Pendekatan Pemanfaatan Hutan Mangrove Secara Lestari. Makalah Falsafah Sains. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor (IPB).

Soegiarto, A. and N. Pollunin. 1982. The Marine Environtment of Indonesia. Dept. Zoology, University of Cambridge, 257p

Steenis, C.G.G. J. 1978. Flora. Pradnya Paramita, Jakarta.

The Green Blog

Automotive, Politics, Sport, Travel, Photography, Food & Health (Available in various languages​​. Please refer to the translator widget)

KabarNet.in

Aktual Tajam

F O R S A

Fans Of Rhoma and Soneta

Soedoet Pandang

Setiap Berita Banyak Cerita

in parentheses

new modernism

Before the Downbeat

Thoughts on music, creativity, imagination, and exploring the space between the notes.

Life Inspired

Home | Family | Style

wordssetmefreee

Making sense of the world through words

The Rational Optimist

Frank S. Robinson's blog on life, society, politics, and philosophy

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 540 pengikut lainnya.