BIOLOGI TANAH HUTAN

Oleh:

Hamdan Adma Adinugraha

A. Pendahuluan

Pada tanah hutan akan ditemukan berbagai aktifitas organisma, dimana kondisinya lebih beraneka ragam apabila dibandingkan dengan kondisi tanah pertanian. Mayoritas organisme tersebut hidup di bawah lapisan seresah dan kebanyakan bentuknya sulit dilihat namun memiliki fungsi yang sangat penting dalam ekosistem hutan. Kondisi lingkungan yang baik/menguntungkan pada tanah hutan akan mendukung perkembangbiakan banyak organisma yang memiliki peran yang sangat komplek dalam pembentukan tanah, penghancuran seresah, penyediaan unsur hara dan metabolisme serta pertumbuhan tanaman.

Keberadaan atau hilangnya suatu spesies organisme tanah akan memiliki pengaruh positif atau negatif yang luar biasa pada suatu lokasi. Kemampuan hidup organisme pada suatu lingkungan tergantung pada jenis organisme dan kondisi tanahnya seperti kelembaban, suhu, aerasi, pH tanah, ketesediaan makanan dan energi. Faktor itu pula yanag mempengaruhi penyebaran organisme dalam tanah. Kondisi lingkungan yang menguntungkan bagi kehidupan organisme tanah hutan adalah pada lapisan seresah dan horison tanah di bagian bawahnya.

Tanah hutan mengandung sangat banyak bahan organik dan zat makanan yang tersedia sebagai sumber carbon dan sumber energi serta kondisi lingkungan yang sangat cocok untuk kehidupan bermacam-macam organisme hewan mulai dari yang berukuran kecil/mikroskopik sampai dengan yang berukuran besar. Mereka hidup atau menghabiskan sebagian besar hidupnya di dalam tanah. Pengelompokan yang umum dari organisme dalam tanah adalah pengelompokan menjadi 2 kelompok besar yaitu jenis hewan dan jenis tumbuhan.

B. Jenis Tumbuhan (Microflora) Dalam Tanah

Jenis tumbuhan mikro di dalam tanah dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar berdasarkan sumber energi dan karbon yang digunakan, yaitu jenis heterotophic dan autotrophic. Jenis yang heterotophic memerlukan bahan organik sebagai sumber energi/karbon, sedangkan jenis autotrophic mampu menghasilkan energi sendiri dengan memanfaatkan energi mataharia atau melalui proses oxidasi senyawa anorganik dan karbon diperoleh melalui asimilasi CO2.

  1. Bakteri

Bakteri adalah jenis mikroflora yang bersel tunggal, yang memperbanyak diri dengan cara memperpanjang dan membelah diri manjadi dua bagian. Kemampuannya memperbanyak diri hampir tidak terbatas sehingga jumlahnya dalam tanah sangat berlimpah. Perkembangan bakteri sangat tergantung pada persediaan bahan makanan, persaingan dengan organisme lain dan syarat lainnya, namun selalu ada dan menjalankan peranannya di dalam tanah. Ukuran bakteri sangat kecil, yang berukuran besar dapat mencapai 4-5 mikron (0,004-0,005 mm).

Berdasarkan ketersediaan O2 pada tanah, bakteri dapat dibedakan menjadi tiga yaitu ; bakteri aerob (memerlukan O2), bakteri anaerob (bisa hidup pada tempat yang tidak terdapat O2) dan bakteri fakultatif anaerob (dapat hidup pada tempat yang terdapat atau tidak mengandung O2).

Berdasarkan sumber energi yang diperlukannya, terdapat bakteri autotrop yang terdiri atas 2 tipe yaitu photoautothrop yang memperoleh energi dari cahaya matahari dan chemoautothrop yang memproleh energi dari proses oxidasi senyawa anorganik. Jenis bakteri chemoautothrop terbatas pada beberapa jenis saja, namun sangat penting keberadaannya dalam tanah, antara lain bakteri yang berperan dalam siklus nitrogen, siklus sulfur dan lain-lain. Bakteri chemoautothrop yang berperan pada oksidasi amonium menjadi nitrit antara lain Nitrosomonas, Nitrosococcus dan oksidasi nitrit menjadi nitrat adalah Nitrobacter. Bakteri yang berperan dalam oksidasi senyawa anorganik sulfur adalah Thiobacillus thiooxidans, T. Denitrificans dan Desulfovibrio desulfuricans. Bakteri yang berperan dalam oksidasi senyawa logam berat seperti besi adalah T. Ferrooxidans dan pada proses reduksi ferric adalah Bacillus, Clostridium dan Pseudomonas.

Selain itu terdapat bakteri yang bersifat heterotrop yaitu memerlukan senyawa organik sebagai sumber energi dan karbon. Bekteri ini merupakan kelompok terbesar yang ada dalam tanah. Jenis-jenis bakteri dalam kelompok ini antara lain bakteri yang mampu melakukan fixasi N2 dari udara seperti Azotobacter, Azomonas, Beijerinekia dan Azospirillum. Selanjtnya adalah jenis lainnya adalah bakteri yang bersimbiosis dengan tanaman dan mampu mengikat N2, seperti Rhizobium. Jenis lainnya yaitu bakteri yang berperan dalam dekomposisi bahan organik.

Keadaan tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Diantaranya yang terpenting adalah persediaan oksigen (bakteri aerob, anaerob dan fakultatif), persediaan air atau kelembaban yang optimum bagi tanaman tingkat tinggi biasanya paling baik bagi kebanyakan bakteri, temperatur (umumnya 70o – 100oF), jumlah dan sifat bahan organik tanah, konsentrasi ion H+ dalam larutan tanah serta jumlah kalsium yang dapat dipertukarkan (Ca yang tinggi, pH tanah naik menjadi 6-8, umumnya terbaik bagi kebanyakan bakteri. Faktor lain yang mempengaruhi jumlah populasi pada suatu lahan adalah kebakaran lahan. Hasil penelitian (Supriyo, 2007) menjelaskan bahwa kebakaran yang terjadi pada lahan gambut menyebabkan penurunan jumlah bakteri dan fungi tanah. Akan tetapi penurunan tersebut hanya terjadi pada lapisan atas dengan kedalaman 0-5 cm saja.

  1. Actinomycetes

Actinomycetes termasuk jamur berfilamen, sering bercabang-cabang dan menghasilkan badan buah dengan cara yang serupa. Benang-benang miselia lebih kecil daripada benang fungi. Jenis ini bersel tunggal mirip bakteri, demikian pula dengan penampangnya. Apabila mereka membelah menjadi spora nampak sekali seperti bakteri. Berdasarkan susunannya, actinomycetes berada diantara jamur sejati dan bakteri. Meskipun sering digolongkan kedalam fungi namun sering disebut bakteri benang. Setelah bakteri, jumlah actinomycetes memiliki jumlah terbanyak dibandingkan yang lainnya pada tanah yang pH nya lebih dari 5. Jumlahnya pada tanah yang berada di daerah hangat lebih besar dari pada di daerah dingin.

Jenis ini berperan dalam dekomposisi selulosa dan bahan organik lainnya. Jenis ang termasuk genus Streptomyces dapat menghidrolisis chitin, sedangkan jenis Nocardia melakukan metabolisma paraffins, phenols, steroid dan pyrimidines. Hasil akhir dari aktifitas actinomycetes adalah molekul senyawa komplek yang dianggap sangat penting dalam fraksi humus pada tanah mineral. Beberapa jenis actinomycetes ada yang menghasilkan antibiotik dan enzym yang mampu membunuh bakteri atau jamur. Hal ini penting dalam proses pengaturan keseimbangaan jumlah populasi mikrobial dalam komunias tanah.

  1. Jamur (fungi)

Fungi adalah mikroba tanah hutan yang memiliki ciri-ciri adanya bentuk vegetatif yang berupa benang-benang atau miselia serta banyak yang memiliki badan buah yang muncul di permukaan tanah hutan pada musim basah. fungi memegang peranan dalam dekomposisi bahan organik/seresah dan merupakan agen utama pada semua tipe keasaman tanah. Fungi berkembang hebat di tanah-tanah asam, netral atau alkali. Beberapa jenis menyukai tanah yang pHnya sangat rendah dimana bakteri dan actinomycetes tidak banyak berkembang. Fungi/jamur benang terdapat di seluruh horison tanah dan terbesar di lapisan atas/permukaan dimana tersedia baanyak bahan organik dan aerasinya baik.

Secara umum fungi pada tanah diklasifikasikan menjadi dua kelas yaitu Hypomycetes dan Zygomycetes. Jenis-jenis Hypomycetes menghasilkan spora aseksual, miceliumnya septate dan bagian conidia pada spora seksual memiliki struktur yang khusus disebut conidiospora. Zygomycetes dan jenis fungi lainnya bersifat sebaliknya, menghasilkan spora yang aseksual maupun seksual. Paling tidak ada 6 kelas fungi yang lain, namun jumlah dan frekuensinya lebih sedikit di dalam tanah. Pengelompokan fungi tanah hutan dapat dilakukan berdasarkan peranannya di dalam tanah yaitu :

  1. Fungi yang melakukan dekomposisi selulosa dan senyawa lain yang sejenis. Fungi sangat aktif dalam tanah awal dekomposisi bahan tanaman/kayu atau bahan organik debris pada permukaan tanah hutan, termasuk hemicellulose, pectins, starches, lemak dan lignin, dimana beberapa baakteri tidak dapat melakukannya.
  2. Fungi yang memanfaatkan protein (nitrogen dan karbon) sehingga kadang-kadang berkompetisi dengan tanaman tingkat tinggi dalam pengambilan N yang tersedia dalam tanah.
  3. Fungi yang bersifat sebagai predator bagi beberapa jenis fauna tanah seperti protozoa, nematoda dan rhizopoda tertentu.
  4. Fungi yang menyebabkan penyakit (pathogen) dan bersifat parasit obligat atau parasit fakultatif. Jenis-jenis fungi yang bersifat pathogen antara lain dari genus Rhizoctonia, Pythium dan Phytophtora yang menyebabkan penyakit damping-off pada tingkat persemaian. Fusarium dapat menyebabkan penyakit akar pada tingkat semai maupun pohon dewasa. Jenis lain yang menyerang akar diantaranya dari genus Armillaria,
    Verticillium, Phymototrichurn dan Endoconidiophora.
  5. Fungi yang melakukan asosiasi/simbiosis dengan akar tanaman tingkat tinggi (mycorrhiza). Jenis ini bermanfaat bagi tanaman dan banyak dikembangkan dalam media untuk operasioanl di persemaian maupun penanaman.
  6. Fungi yang berperan dalam perkembangan sifat tanah

  1. Gangang (algae)

Ganggang tanah umumnya adalah organisme yang berklorofil dan kebanyakan hidup di atau dekat permukaan tanah yang subur dan kaya akan nitrogen dan posfor yang tersedia. Secara alami algae tanah dalam bentuk vegetatif terdapat banyak sekali di lapisan permukaan. Umumnya bersel tunggal, juga berbentuk filamen yang pendek atau koloni. Jenis alga dikelompokkan menjadi ganggang hijau, biru-hijau, kuning-hijau dan diatome. Dengan klorofil yang dimiliki, alga dapat memanfaatkan sinar matahari sebagai energi untuk fiksasi CO2 (photosintesis) dan menghasilkan photoautothropic nutrition. Alga hijau dan diatome banyak terdapat di daerah temperate sedangkan alga biru-hijau banyak ditemukan di daerah tropis.

Algae berguna membantu pada proses pelarutan mineral tanah, dengan menghasilkan senyawa organik dari bahan anorganik dan meningkatkan kandungan humus pada tanah. Alga biru-hiaju dapat mengasimilasi dan fiksasi nitrogen dari atmosfir sehingga membantu penyediaan nitrogen pada tanah. Terutama pada tanah yang terendam banjir atau tanah yang alkalinitasnya bertambah akibat kebakaran. Lichenes merupakan bentuk simbiosis antara fungi dan algae, dan merupakan bentuk pionir pada tanah berbatu serta membantu penyediaan bahan organik yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman.

  1. Jenis Fauna Tanah Hutan

Fauna tanah memegang peranan yang sangat penting dalam ekosistem tanah. Semua jenis fauna tanah yang ada umumnya sangat mempengaruhi kesuburan tanah bahkan bisa mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Ukuran fauna tanah sangat beragam mulai dari binatang liar atau binatang peliharaan sampai pada fauna yang berukuran satu sel seperti protozoa. Pengaruh fauna berukuran besar terhadap tanah hutan sangat kecil kecuali pada tanah-tanah penggembalaan, dimana terjadi pengurangan vegetasi penutup tanah, perubahan komposisi jenis, pemadatan tanah dan berkurangnya infiltrasi tanah yang berakibat terjadinya erosi tanah (Lavelle, 1997).

Berdasarkan cara mempengaruhi sistem tanah, maka jenis-jenis fauna dibagi menjadi dua kelompok yaitu :

  1. Hewan eksopedonik yaitu mempengaruhi dari luar tanah, biasanya merupakan binatang-binatang yang berukuran besar dan tidak menghuni tanah. Jenis tersebut antara lain mamalia, aves, reptilia dan ampibia.
  2. Hewan endopedonik yaitu mempengaruhi dari dalam tanah, berupa binatang-binatang kecil (diameter kurang dari 1 cm) yang tinggal di dalam tanah dan mempengaruhi penampilan tanah dari sisi dalam. Jenis-jenis tersebut antara lain arachnidae, crustacea, onychpoda, oligochaeta, hirudinae dan gastropoda.

Berdasarkan cara hidupnya fauna tanah dibagi menjadi tiga kelompok yaitu :

  1. Jenis epigeic : hidup dan makan di permukaan tanah, berperan dalam penghancuran seresah menjadi ukuran yang lebih kecil dan dalam pelepasan unsuer hara. Akan tetapi organisme ini tidak aktif dalam distribusi bahan organik kedalam profil tanah.
  2. Jenis anecic : fauna yang aktif memindahkan seresah dari permukaan tanah dibawa masuk kedalam profil tanah melalui aktifitas makannya.
  3. Jenis endogeic : fauna yang hidup di dalam tanah dan memakan bahan organik termasuk bagian akar yang telah mati.

Berdasarkan ukuran tubuhnya fauna tanah dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu :

  1. Macrofauna

Makrofauna adalah jenis fauna yang memiliki ukuran tubuh lebih dari 2mm. Jenis-jenis hewan yang termasuk macrofauna dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu : (1)vertebrata, berupa hewan pengerat dan pemakan serangga, (2) Arthoropoda yang meliputi jenis serangga tanah dan (3) Annelida yaitu jenis cacing tanah.

Kelompok pengerat (rodenta) antara lain tupai tanah, musang kantung, marmut, tikus, kangguru dan anjing prairi. Aktifitas hewan ini adalah menghaluskan, menggumpalkan dan memindahkan tanah dala jumlah cukup besar. Hewan pemakan serangga, terutama tikus pondok, dalam beberapa hal memiliki arti penting. Sementara aktifitas bermacam-macam hewan ini pada umumnya tidak menguntungkan dari segi pertanian, tetapi peranannya bagi tanah sering-sering berguna dan mirip dengan pengolahan tanah. Kegiatan hewan-hewan ini tidak hanya dalam hubungannya dengan bahan organik di dalam tanah tetapi juga lubang-lubang hewan tersebut memperbaiki aerasi dan drainase tanah. Dalam beberapa hal mereka sangat merusak horison tanah sehingga akan mempersukar penentuan sifat asli profil tanah.

Banyak jenis serangga terdapat di tanah. Beberapa diantaranya memiliki peranan yang kecil terhadap bahan organik tanah, sedangkan sebagian yang lain seperti semut, kumbang dan lain-lain sangat mempengaruhi susunan humus karena ditranslokasikan atau dicernakan. Di beberapa daerah hasil kegiatan semut sering sangat nyata. Bersama-sama dengan serangga ini adalah millipoda, bubuk, tungau dan siput, makhluk yang mempergunakan jaringan tumbuhan yang sedikit banyak telah terurai sebagai makanan. Jadi, mereka sebagai pengurai perintis proses yang akan dilanjutkan oleh bakteri dan fungi. Empat jenis bianatang yang bertanggung jawab dalam pencernaan bahan organik khususnya tanah hutan adalah bubuk, tungau/sejenis kutu, springtail dan si kaki seribu (Soegiman, 1982).

Hewan lainnya yang memiliki peran penting dalam tanah hutan adalah cacing tanah. Di daerah tropis dan semitropis lazim terdapat berbagai jenis dan ukuran cacing tanah. Ada yang berukuran kecil dan ada yang berukuran sangat besar. Jenis cacing yang paling umum ditemukan adalah Lumbricus terrestris yang berwarna kemerahan dan Allobophora calliginosa yang berwarna merah muda pucat. Jumlah caacing dalam tanah hutan diperkirakan mencapai 500.000 – 2.500.000 ekor/ha. Cacing tanah mencerna bahan organik, tanah dan bahan mineral, yang kemudian menghasilkan kotoran yang sangat berguna untuk kesuburan tanah. Diperkirakan setiap tahun mampu menghasilkan material tanah 30 – 1.100 mg/ha/tahun yang keluar dari tubuhnya. Hasil penelitian Woliny membuktukan bahwa cacing tanah mempunyai pengaruh yang baik terhadap produktivitas tanah. Dengan aktivitas cacing tanah meningkatkan penguraian bahan organik, kemampuan pertukaran kation, ketersediaan N, P, K, Mg, Ca dalam tanah. Pengaruh lainnya dari cacing tanah adalah lubang-lubang yang ditinggalkan di tanah menyebabkan peningkatan aerasi dan drainase.

Hasil penelitian Harsoyo (2002) menunjukkan beberapa jenis hewan yng ditemukan pada beberapa tipe penggunaan lahan menunjukkan adanya jenis-jenis hewan seperti cacing tanah (oligochaeta), kumbang badak (coleoptera), belalang (acrididae), belalang sembah (mantiddae), jangkrik (gryllidae), walang kayu (mantiddae), laba-laba (arachnidae). Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa semakin dalam tanah cenderung semakin sedikit ditemukannya fauna tanah. Hal tersebut mungkin dikarenakan semakin dalam ketersediaan bahan organik sebagai sumber makanan dan oksigen semakin berkurang sehingga jumlah organisme yang bisa hidup berkurang jumlahnya.

Tabel 1. Sebaran makrofauna tanah pada berbagai pola penggunaan lahan dan lapisan tanah

No

Sebaran vertikal

(kedalaman)

Kebun teh

Kebun jagung

Kebun

kopi

Kebun cengkeh

Tegakan sengon

Rata-rata

1

Lapisan seresah

8

11

11

12

8

10,0

2

Tanah 0 – 10 cm

3

2

4

3

5

3,4

3

Tanah 11 – 20 cm

6

4

2

3

2

3,4

4

Tanah 21 – 30 cm

2

1

3

2

3

2,2

Sumber : Harsoyo (2002)

  1. Mesofauna

Mesofauna adalah jenis fauna yang memiliki ukuran tubuh 0,1 – 2 mm. Umumnya jenis yang mendominasi pada tanah hutan adalah arthropoda. Jenis-jenis springtails, sow bugs, ticks dan mites, jumlahnya banyak sekali pada semua tanah hutan dan sangat berperan dalam proses dekomposisi seresah. Jenis-jenis ini umumnya makan bahan organik dan melakukan pemindahan bahan organik dari permukaan kedalam horison tanah. Beberapa jenis seperti sow bugs aktif sebagai pemakan daun atau kayu yang mati sehingga sangat penting dalam proses penghancuran daun-daun segar yang jatuh. Dengan demikian akan memperbaiki struktur pada tanah permukaan.

Jumlah populasi fauna tanah bervariasi pada tempat-tempat yang berbeda. Pada tabel berikut menunjukkan bahwa tipe penggunaan lahan berpengaruh terhadap jumlah populasi fauna tanah. Pada lahan yang mengalami kebakaran, menyebabkan jumlah fauna tanah yang hidup sangat sedikit.

Tabel. Distribusi ordo, famili dan spesies pada empat tipe penggunaan lahan di daerah Gunung Bawang

No

Penggunaan lahan

Jumlah Ordo/kelas

Jumlah Famili

Jumlah Spesies

1

Hutan sekunder tua

30

128

150

2

Kebun karet

27

79

95

3

Daerah semak resam/paku-pakuan

23

52

65

4

Ladang atau lahan terbakar

16

31

36

Sumber : Darwati (2007)

  1. Mikrofauna

Mikrofauna adalah jenis fauna tanah yang memilki ukuran tubuh kurang dari 0,1 mm. ada tiga jenis mikrofauna yaitu nematoda, protozoa dan rotifera.

  1. Nematoda adalah jenis cacing yang umum disebut cacing benang atau cacaing belut, terdapat hampir di semua tanah dengan jumlah yang sangat banyak. Nematoda dapat dibagi menjadi tiga golongan berdasarkan cara makannya : (1) hidup di bahan organik yanag telah membususk, (2) hidup sebagai predotor nematoda lainnya, cacing tanah kecil dan sejenisnya dan (3) hidup sebagai parasitis, menyerang akar tanaman tingkat tinggi, karena sebagian dalam siklus hidupnya berada pada jaringan tumbuhan. Golongan pertama dan kedua adalah yang paling banyak jenisnya dan jumlahnya pada kebanyakan jenis tanah.

    Jenis yang ketiga terutama dari genus Heterodera adalah jenis mikrofauna yang paling penting karena bentuknya yang runcing, memungkinkan untuk menembus jaringan akar tumbuhan dan bersifat merugikan tanaman tersebut. Pada tingkat persemaian pun jenis ini sangat mengganggu dan merupakan penyakit yang sangat merugikan (Soegiman, 1982).

  2. Protozoa, merupakan bentuk kehidupan binatang yang paling sederhana. Meskipun hewan ini bersel tunggal, namun ukurannya jauh lebih besar dari pada bakteri dan susunannya jelas bertingkat lebih tinggi. Beberapa diantaranya berupa massa protoplasma yang telanjang amuba, dan yang lainnya memperlihatkan perkembangan yang lebih tinggi yaitu memiliki kulit kersik atau khitin. Protozoa dibedakan menjadi tiga golongan yaitu : (1) amuba, (2) ciliata atau infusoria yang memiliki cilia/ rambut dan (3) flagellata yang memiliki flagel berupa tonjolan protoplasma yang berbentuk cambuk panjang. Flagellata biasanya jumlahnya teresar dalam tanah lalu berikutnya amuba dan ciliata.

    Protozoa merupakan jenis mikrofauna tanah yang jumlahnya sangat banyak dan bervariasi. Yang telah diisolasikan sudah lebih dari 250 spesies. Akan tetapi umumnya jumlah protozoa berfluktuasi tergantung pada kondisi tanah seperti aerasi dan kandungan makan. Kebanyakan protozoa tinggal di horison permukaan dan menjadikan bahan organik sebagai sumber makanannya, namun ada petunjuk bahwa beberapa jenis protozoa merupakan pemakan bakteri.

    c. Rotifera, jenis mikrofauna yang biasanya terdapat di tanah lembab, terutama di daerah rawa. Jumlahnya dapat besar sekali, dalam suatu lokasi yang sesuai jumlahnya dapat mencapai 105/m2. Jenis fauna ini biasanya berukuran mikroskopis. Bagian anterior (muka) berupa cakram retraktil (yang dapat mengembang dan mengerut), mengandung lingkaran-lingkaran cilia yang dalam geraknya nampak seperti yang berjalan sesuai dengan namanya. Rambut cambuk ini mengalirkan makanan kedalam tubuh hewan tersebut. Bagian posterior (belakang) membulat panjang yang menjadi alat penyerang rotifera terhadap sesuatu yang mengganggu. Jenis ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu pemakan bahan organik dan pemakan protozoa dan algae. Manfaat roteifera belum dikenal, namun diduga terlibat dalam siklus penghancuran bahan organik di tanah gambut dan tempat-tempat basah di tanah mineral.

    Daftar Pustaka

    Buckman, H.O. and N.C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Diterjemahkan oleh Prof. Soegiman. Penerbit Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

    Darwati. 2007. Keragaman Dan Kelimpahan Mesofauna Tanah Pada Beberapa Tipe Penggunaan Lahan di Daerah Gunung Bawang. Thesis S2. Fakultas Kehutanan. Program Pasca Sarjana. UGM. Yogyakarta

    Fisher, R.F. and D. Binkley. 2000. Ecology and Management of Forest Soil. Third Edition. John Wiley & Sons, Inc. New York.

    Harsoyo, E. 2002. Keragaman dan Dinamika Makrofauna Tanah Pada Berbagai Pola Penggunaan Lahan di Pekalongan Jawa Tengah. Thesis S2. Fakultas Kehutanan. Program Pasca Sarjana. UGM. Yogyakarta

About these ads
Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , . Komentar Dimatikan
The Green Blog

Automotive, Politics, Sport, Travel, Photography, Food & Health (Available in various languages​​. Please refer to the translator widget)

KabarNet.in

Aktual Tajam

F O R S A

Fans Of Rhoma and Soneta

Soedoet Pandang

Setiap Berita Banyak Cerita

in parentheses

new modernism

Before the Downbeat

Thoughts on music, creativity, imagination, and exploring the space between the notes.

Life Inspired

Home | Family | Style

wordssetmefreee

Making sense of the world through words

The Rational Optimist

Frank S. Robinson's blog on life, society, politics, and philosophy

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 540 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: