Araucaria cunninghamii Aiton ex D.Don

Nama lain

Araucaria cunninghamii lebih dikenal dengan nama Hoop Pine. Nama atau sebutan lainnya yaitu Moreton Bay Pine, colonial pine, arakaria dan Dorrigi Pine. Di Propinsi Papua, jenis ini juga dikenal dengan nama Damar laki-laki.

Sebaran

Jenis ini tersebar di Australia dan pulau Papua (Papua New Guinea dan Propinsi Papua, Indonesia). Di Australia, tanaman ini tersebar di daerah pantai tropis (Coastal tropical) dan hutan hujan sub-tropis (subtropical rainforest), mulai dari northern Queensland sampai Coffs Harbour, NSW pada ketinggian 0-1000 m dpl. Sedangkan untuk pulau Papua, sebaran alami jenis ini meliputi Sungai Saga Aho di teluk Milne PNG pada 10o01′ LS, 150o15′ BT. Dengan ketinggian 550-900 m dpl dan Vogelkop Papua dekat Sausapor pada 0o03′ LS, 132o05′ BT. Di Propinsi Papua, penyebarannya mencakup Wamena, Jayapura, Nabire, Serui, Fak-fak, Sorong dan Manokwari. Diwilayah kebar, Papua, populasi Araucariacunninghamii cukup berlimpah dan berada di hamper seluruh puncak pegenungan di wilayah tersebut.

Dengan membaca tulisan ini, diharapkan para pembaca untuk bisa atau lebih mengenal jenis ini, dan akhirnya juga bisa melestarikan dan mengembangkan jenis yang asli Indonesia.


Percabangan Pohon Araucaria

Ditulis dalam Tanaman Kategori A. Tag: , , , , . Komentar Dimatikan

Instia bijuga /Merbau

 


 

Merbau termasuk famili Leguminosae (Caesalpiniaceae) merupakan pohon raksasa yang tingginya mencapai 40m dan diameternya bisa mencapai 200 cm. Penyebaran di dunia yaitu di Amerika Samoa, Australia, Birma, Kamboja, India, Indonesia, Madagaskar, Malaysia, Myanmar, Pulau-pulau di daerah Pasifik, Philipina, Vietnam, Papua Nugini, Thailand dll. Sebaran di Indonesia ada di Papua seperti di Manokwari, Sorong, Jayapura, Serui, Nabire dan Jayawijaya. Selain itu ditemukan di Maluku yaitu Seram dan Halmahera (Mahfudz et al.) potensi merbau terus menurun akibat eksploitasi yang tinggi, sehingga upaya dan pembangunan hutan tanaman merbau perlu dilakukan (Tokede et.al, 2006).

 

Pembibitan

Pembibitan merbau dapaat dilakukan secara generatif maupun vegetatif. Penyemaian benih merbau dilakukan pada media pasir sungai dengan perlakuan skarifikasi benih dengan cara mengikir kulit biji (Suripati et al dalam Untarto,199t) atau direndam air dingin 4 x 24 jam (Martawijaya et al, 1992). Teknik pembiakan vegetatif yang bisa dilakukan adalah dengan penyambungan/grafting dan stek pucuk (Mahfudz et al, 2006). Pembibitan di persemaian juga sering dilakukan dengan memanfaatkan anakan alam (wildlings) yang banyak ditemukan di hutan alam.

 

Kegunaan

Kayu merbau biasa digunakan sebagai bahan veneer, plywood, konstruksi rumah, jembatan, bantalan kereta api, kapal, lantai, meubel, interior kendaraan dll. Kayunya tergolong kelas kuat I-II dan kelas awet I-II (Martawijaya et al, 1992).

 

Bahan Bacaan

Mahfudz, Isnaini dan Moko, H. 2006. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh dan Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Stek Pucuk Merbau. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman vol. 3 No. 1. Pusat Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta.

Martawijaya, A., Kartasujana, I., Kadir, K. Dan Prawira, AP. 1992. Indonesian Wood Atlas. Volume 2. Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor.

Tokede,M,B.V. Mambai, L.B. Pangkali dan Zulfikar Mardiya. 2006. Persediaan Tegakan Alam dan analisis Perdagangan Merbau di Papua, WWF Region Sahul, Papua. Jayapura

Untarto, TM. 1997. Merbau Jenis Andalan Yang Unggul (AYU) Irian Jaya. Matoa. Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Manokwari.

ETIKA DI DALAM HUTAN

Oleh : Hamdan AA dan Suwandi

 

  • Berdoa pada saat masuk hutan dan bersyukur ketika keluar dari hutan

    Dalam melakukan suatu perbuatan kita dianjurkan berdoa untuk mendapatkan perlindungan-Nya dan memohon diberikan kemudahan dalam melaksanakannya. Selanjutnya kita wajib bersyukur apabila pekerjaan kita telah selesai dikerjakan dengan baik. Termasuk ketika kita akan memasuki hutan apalagi hutan alam yang masih rapat, kita harus berdoa mohon keselamatan dan bersyukur ketika keluar dari hutan tersebut dengan selamat.

     

  • Bersyukur ketika melihat panorama yang indah

    Di hutan akan banyak ditemukan banyak panorama alam yang menakjubkan, oleh karena itu kita harus banyak bersyukur karena Tuhan telah menciptakan alam yang indah bagi kita sebagai makhluk-Nya.

     

  • Masuk hutan sebaiknya tidak sendirian

    Sebaiknya ketika melakukan pekerjaan di hutan tidak sendirian, karena apabila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan bisa saling membantu

     

  • Membawa peralatan yang diperlukan dan bekal yang cukup

    Memasuki hutan apalagi untuk waktu yang relatif lama seperti melakukan survei potensi hutan (cruising) maka kita harus membawa peralatan dan perbekalan yang cukup dan dierhitungkan secara matang.

     

  • Tidak banyak melamun

    Ketika berada di dalam hutan kita jangan banyak melamun, banyaklah berdzikir atau melakukan aktifitas yang bermanfaat sesuai dengan tujuan semula.

     

  • Tidak berkata atau berbuat sombong

    Banyak cerita atau kejadian aneh/kecelakaan di masyarakat sekitar hutan yang bermula dari kesombongan seseorang ketika berada di dalam hutan. Seharusnya kita tetap rendah hati dan selalu memohon perlindungan Tuhan selama di dalam hutan.

     

  • Tidak membuang puntung rokok yang masih menyala

    Hutan terbakar dapat terjadi karena kelalaian membuang puntung rokok yang masih menyala. Seresah yang kering dan menumpuk di lantai hutan merupakan bahan bakar yang sangat mudah menyala ketika ada bara api. Oleh sebab itu, harus kita perhatikan betul-betul puntung rokok yang kita buang apakah sudah mati atau belum.

     

  • Tidak membuat kerusakan

    Hutan adalah salah satu karunia Tuhan yang harus dijaga dan dikelola dengaan bijaksana. Pemanfaatan yang bijak tidak akan berbuah pada kerusakan hutan yang menyisakan lahan-lahan kritis yang sulit ditanami dan memacu kerusakan lainnya seperti longsor dan banjir.

     

  • Tidak membunuh binatang kecuali untuk menyelamatkan diri dari gangguannya

    Membunuh atau berburu binatang tanpa ada keperluan/sebab atau hanya sebagai hiburan atau olah raga tentu seharusnya dihindarkan karena hanya menyakiti binatang. Apalagi perburuan terhadap binatang-binatang yang diindungi, akan mempercepat punahnya spesies binatang tersebut. Untuk kebutuhan makan kita dibolehkan membunuh/menyembelih binatang yang halal, atau membunuh binatang buas dalam rangka melindungi atau menyelamatkan diri dari gangguannya.

     

  • Tidak meninggalkan api unggun yang masih ada nyala

    Membuat api unggun di hutan, harus dibuat sedemikian rupa sehingga aman dari kebakaran. Ketika meninggalkan api unggun harus diperhatikan betul kondisi api telah benar-benar mati dan disiram dengan air.

 

  • Menanami lahan-lahan yang kosong

    Menanam pohon pada lahan-lahan yang kosong dalam rangka reboisasi/ rehabilitas hutan seharusnya terus digalakan. Hutan yang tumbuh subur adalah penghasil oksigen dan peresapan air yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia.

     

  • Tidak buang air kecil/besar sembarangan

    Ketika ingin buang air besar/kecil sebaiknya tidak di sembarang tempat, seperti ditempat yang dipakai orang-orang berkumpul atau di sumber air yang biasa dimanfaatkan airnya. Kita dianjurkan untuk mencari tempat yang tersebunyi, tidak menghadap ke arah qiblat dan beristinja sehabis buang air.

 

  • Tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan perbuatan syirik

Bagi seorang muslim, kita harus menghindarkan perbuatan-perbuatan yang dilakukan dalam rangka memohon keselamatan ketika berada dalam hutan namun menjerumuskan pada perbuatan syirik seperti memberikan sesaji pada pohon-pohon atau batu besar yang ada di hutan.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

Dalbergia latifolia Roxb./ Sonokeling

 

Sonokeling atau sonobrits termasuk kedalam famili Papilionaceae. Tinggi pohon sampai 43 m dengan diameter batang dapat mencapai 150 cm. Batang sonokeling kebanyakan berlekuk dan tidak berbanir, dengan kayu teras berwarna coklat-ungu dan memiliki garis-garis berwarna lebih tua sampai hitam. Sonokeling tumbuh di daerah dengan musim kemarau sedang sampai kering pada ketinggian 0-600 m dpl, optimum pada ketinggian 250-500 m dpl, dapat tumbuh baik tanah-tanah berbatu dan tidak subur (Martawijaya et al., 1981; Heyne, 1987).

 

Pembibitan

Pohon sonokeling jarang sekali berbuah, sehingga pembibitan biasa dilakukan secara vegetatif yaitu dengan teknik stek akar yang panjangnya 15 cm (Martawijaya et al., 1981; Heyne, 1987). Cara stek pucuk juga dilaporkan bisa dilakukan dengan menggunakan tunas muda/trubusan yang masih juvenil

 

Kegunaan

Kayu sonokeling termasuk kelas kuat II dan kelas awet I yang dapat digunakan untuk bahan baku venir hias, kayu lapis, disukai untuk pembuatan mebel (lemari, meja, kursi), daun pintu, ukiran dan lain-lain (Martawijaya et al., 1981).

 

Bahan Bacaan

Martawihaya, A., Kartasujana, I., Kadir, K. dan Prawira, S.A. 1981. Atlas Kayu Indonesia Jilid I. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid II. Badan Litbang Kehutanan. Jakarta.

Ditulis dalam Tanaman Kategori S. Tag: , , . Komentar Dimatikan

Artocarpus camansi / Keluwih

Tanaman keluwih (Artocarpus camansi Blanco) adalah salah satu jenis tanaman dari famili moraceae yang banyak ditanam oleh masyarakat. Buahnya biasa dimanfaatkan pada waktu masih muda sebagai bahan sayur. Tumbuhnya tanaman keluwih merupakan indikator bahwa sukun juga bisa tumbuh dengan baik di daerah tersebut (Alrasjid, 1993). Tanaman keluwih tersebar di negara-negara tropis dan Pasifik. Pertumbuhan terbaik umumnya pada tanah yang subur dengan soil dalam di dataran rendah di ekuator yaitu pada ketinggian tepat kurang dari 600-650 m dpl dengan curah hujan rata-rata 1300-3800 mm/tahun. Namun demikian tanaman keluwih memiliki daya adapatasi yang relatif luas terhadap berbagai kondisi lingkungan (Ragone, 2006). Tinggi pohon mencapai lebih dari 15 meter dengan diameter batang yang relatif besar.

 

Gambar. Tanaman keluwih berbuah dan perkecambahan biji keluwih (Ragone, 2006)

Pemanfaatan tanaman kluwih umumnya buahnya dipanen sebagai bahan makanan dan memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, namun kayunya juga sering digunakan karena bersifat ringan dan mudah dikerjakan, antara lain untuk membuat patung, kerajinan, perahu dan lain-lain. Bunga jantannya yang kering bisa dimanfaatkan sebagai obat anti nyamuk dengan cara dibakar (Ragone, 2006). Bibit keluwih bisa dimanfaatkan sebagai tanaman batang bawah/rootstock pada pembibitan sukun dengan cara okulasi (Pitojo, 1992).

Bahan Bacaan

Alrasjid, H. 1993. Pedoman Penanaman Sukun (Arthocarpus altilis Fosberg). Informasi Teknis No. 42. Pusat Penelitian Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor

Ragone, D. 2006. Artocarpus camansi (Breadnut). Species profiles for Pacific Island Aroforestry (WWW. Traditionaltree.org) diakses 19 Nopember 2008.

Pitojo. S. 1992. Budidaya Sukun. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Ditulis dalam Tanaman Kategori K. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

Agathis alba Foxw.

 


Agathis spp dikenal sebagai kayu damar, termasuk kedalam famili Araucariaceae. Tinggi pohon mencapai 55 m dan diameter batang mencapai ≥ 150 cm dengan bentuk batang silindris dan lurus. Tajuknya berbentuk kerucut, pohon tidak berbanir dan mengeluarkan damar yang lazim disebut kopal. Pohon ini tumbuh pada hutan primer, tanah berpasir, berbatu atau liat dan tidak tergenang air pada ketinggia 2-1.750 m dpl. Pembiakan tanaman dilakukan secara generatif. Musim buah biasanya bulan Februari-April dan Agustus- Oktober, dengan jumlah biji per kg sebanyak 4.950 butir.

 

Daerah penyebaran Agathis spp antara lain Sumatera Barat, Sumatera Utara, Seluruh Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua (Martawijaya et al, 1981). Pembibitan tanaman ini dilakukan dengan cara menyemaikan benih pada media tanah atau pasir dalam posisi berdiri. Benih mulai berkecambah setelah 6 hari. pembibitan secara vegetatif juga dapat dilakukan dengan menggunakan bahan stek batang dari anakan (Nurhasybi dan Sudarajat, 2001).

 

Kegunaan

Ksyu Agathis termasuk kelas kuat III, kelas awet V yang penggunaannya untuk venir, kayu lapis, kotak/peti, tangkai korek api, pensil, mebel, alat ukur dan gambar, pulp dan dapat juga untuk kayu perumahan.

 

Bahan Bacaan

Martawijaya, A., Kartasujana, I., Kadir, K. dan Prawira, S.A. 1981. Atlas Kayu Indonesia Jilid I. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor.

Nurhasybi dan Sudrajat, D.J. 2001. Informasi Singkat Benih Agathis Lorantifolia RA Salisbury. Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan.

Ditulis dalam Tanaman Kategori D. Tag: , , . Komentar Dimatikan

HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN JATIDAN CARA PENGENDALIANNYA

Jenis-jenis hama dan penyakit yang sering telah teridentifikasi sering menyerang tanaman jati dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu yang menyerang biji/benih, menyerang bibit di persemaian dan hama/penyakit yang menyerang tanaman di lapangan, sebagaimana disajikan pada Tabel 1 di bawah ini.

 

Tabel 1. Hama dan Penyakit Tanaman Jati

No 

Jenis Hama 

Nama Umum Hama 

Bagian Tanaman Yang Diserang 

Lokasi 

1 

Duomitus ceramicus

Oleng-oleng

Batang

Lapangan

2 

Neotermes tectonae

Inger-inger

Batang

Lapangan

3 

Hyblaea puera

Ulat jati

Daun

Lapangan

4 

Pyrausta machaeralis

Ulat jati

Daun

Persemaian, lapangan

5 

Phyllophaga sp

Uret

Akar

Persemaian, lapangan

6 

Acarina sp.

Tungau merah 

Daun

Persemaian

7 

Kutu putih/lilin

 

Daun/pucuk

Persemaian

8 

Lalat Putih 

 

Batang

Persemaian

9 

Dumping off

Penyakit layu/ busuk semai

Leher akar

Persemaian

10 

Rayap 

 

Akar  

Lapangan  

11 

Penggerek pucuk jati 

 

Pucuk  

Lapangan  

12 


Pseudococcus

Kutu putih/sisik 

Daun dan batang 

Lapangan  

13 

Peloncat flatid putih

Kupu putih 

Daun dan batang 

Lapangan  

14 

Xyleborus destruens

Kumbang bubuk basah 

Batang  

Lapangan  

15 

Pseudomonas tectonae

Penyakit layu bakteri

Batang  

Lapangan  

16 

Loranthus sp.

Benalu 

Batang  

Lapangan  

Sumber : Nair dan Sumardi (2000)

 

Dalam Anonim (2008) dijelaskan beberapa langkah pengendalian hama dan penyakit yang biasa menyerang pada tanaman jati, sebagai berikut :

a.     Hama ulat jati (Hyblaea puera & Pyrausta machaeralis) yang menyerang pada awal musim penghujan, yaitu sekitar bulan Nopember – Januari dengaan gejalan daun-daun yang terserang berlubang karena dimakan ulat. Bila jumlah ulat tersebut tidak banyak cukup diambil dan dimatikan. Bila tingkat serangan sudah tinggi, maka perlu dilakukan pengendalian dengan cara penyemprotan menggunakan insektisida.

b.     Hama uret (Phyllophaga sp) yang merupakan larva kumbang, biasanya menyerang pada bulan Februari – April dengan memakan akar tanaman terutama yang masih muda, sehingga tanaman tiba-tiba layu, berhenti tumbuh dan kemudian mati. Jika media dibongkar, akar tanaman terputus/rusak dan dapat dijumpai hama uret. Kerusakan dan kerugian paling besar akibat serangan hama uret terutama terjadi pada tanaman umur 1-2 bulan di lapangan, tanaman menjadi mati. Pencegahan dan pengendalian hama uret dilakukan dengan penambahan insektisida granuler di lubang tanam pada saat penanaman atau pada waktu pencampuran media di persemaian, khususnya pada lokasi-lokasi endemik/rawan hama uret.

c.      Hama Tungau Merah (Akarina), biasanya menyerang pada bulan Juni – Agustus dengan gejala daun berwarna kuning pucat, pertumbuhan bibit terhambat. Hal ini terjadi diakibatkan oleh cairan dari tanaman/terutama pada daun dihisap oleh tungau. Bila diamati secara teliti, di bawah permukaan daun ada tungau berwarna merah cukup banyak (ukuran ± 0,5 mm) dan terdapat benang-benang halus seperti sarang laba-laba. Pengendalian hama tungau dapat dilakukan dengan menggunakan akarisida.

d.     Hama kutu putih/kutu lilin yang bisa menyerang setiap saat pada bagian pucuk (jaringan meristematis). Pucuk daun yang terserang menjadi keriting sehingga tumbuh abnormal dan terdapat kutu berwarna putih berukuran kecil. Langkah awal pengendalian berupa pemisahan bibit yang sakit dengan yang sehat karena bisa menular. Bila batang sudah mengkayu, batang dapat dipotong 0,5 – 1 cm di atas permukaan media; pucuk yang sakit dibuang/dimusnahkan. Jika serangan sudah parah dan dalam skala yang luas maka dapat dilakukan penyemprotan dengan menggunakan akarisida.

e.     Hama lalat putih atau serangga kecil bertubuh lunak, mirip lalat, termasuk dalam ordo Homoptera. Hama ini mencucuk dan mengisap cairan tanaman sehingga menjadi layu, kerdil bahkan mati. Selain itu dapat menularkan virus dari tanaman sakit ke tanaman sehat. Pengendalian hama ini dapat dilakukan secara 1) biologis menggunakan musuh alami berupa predator dan parasitoid, 2) melakukan wiwilan daun dan penjarangan bibit dalam bedengan, 3) penyemprotan larutan campuran insektisida-deterjen sedini mungkin ketika mulai terlihat di persemaian, terutama diarahkan ke permukaan daun bagian bawah, karena serangga ini mengisap cairan dan tinggal pada bagian tersebut, 4) secara mekanis, menggunakan alat penjebak lalat putih (colour trapping) dan 6) pemupukan NPK cair, untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan bibit di persemaian.

f.     Penyakit layu–busuk semai sering terjadi pada kondisi lingkungan yang lembab, seperti pada musim hujan. Penyakit ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu 1) serangan penyakit yang dipicu oleh kondisi lingkungan yang lembab dengan gejala banyaknya bibit yang membusuk. Penanganan secara mekanis dapat dilakukan dengan penjarangan bibit, wiwil daun dan pembukaan naungan untuk mengurangi kelembaban. 2) serangan penyakit yang dipicu oleh hujan malam hari/dini hari pada awal musim hujan dengan gejala berupa daun layu seperti terkena air panas. Penyakit ini umumnya muncul pada saat pergantian musim dari musim kemarau ke musim penghujan, saat hujan pertama turun yang terjadi pada malam hari atau dini hari pada awal musim hujan. Seranga penyakit terutama pada bibit yang masih muda dan menyebar dengan cepat.

g.     Hama rayap biasa menyerang tanaman jati muda pada musim hujan yang tidak teratur atau puncak musim kemarau. Prinsip pengendaliannya dengan mencegah kontak rayap dengan batang/perakaran tanaman. Usaha yang dapat dilakukan dengan mengoleskan kapur serangga di pangkal batang, menaburkan abu kayu di pangkal batang pada waktu penanaman, pemberian insektisida granuler (G) pada lubang tanam ketika penanaman khususnya pada lokasi yang endemik/rawan rayap,
mengurangi kerusakan mekanis pada perakaran dalam sistem tumpang sari dan menghilangkan sarang-sarangnya.

h.     Hama penggerek batang/oleng-oleng (Duomitus ceramicus) adalah bentuk larva yang hidup dalam kulit pohon, menggerek kulit batang sampai kambium dan memakan jaringan kayu muda, membuat liang gerek yang panjang, terutama bila pohon jati kurang subur dan menyebabkan terbentuknya kallus (gembol). Fase larva ini biasanya berlangsung antara April – September. Pengendalian oleng-oleng dengan insektisida fumigan sehingga dapat mengenai sasaran dengan cepat. Pemilihan jenis tanaman tumpang sari yang pendeek, di daerah endemik perlu dilakukan agar ruang tumbuh di bawah tajuk tidak terlalu lembab. Pengendalian secara mekanis dapat dilakukan dengan penggunaan perangkap lampu (light trap) pada malam hari.

i.     Hama penggerek pucuk biasanya menyerang tanaman jati muda. Ulat ini berwarna kemerahan dengan kepala berwarna hitam; dibelakang kepala terdapat cincin kuning keemasan Gejala awal biasanya pada bagian pucuk apikal tiba-tiba menjadi layu dan mengering sepanjang 30-50 cm, yang disebabkan karena adanya lubang gerekan kecil (± 2mm) di bawah bagian yang layu/kering.. Pada bagian ujung batang utama yang mati akan keluar tunas-tunas air/cabang-cabang baru. Pengendalian hama ini dapat dilakukan injeksi insektisida sistemik ke batang dan mengurangi/menghilangkan tunas-tunas air yang muncul agar pucuk yang stagnasi dapat aktif tumbuh lagi. Bila tidak segera dihilangkan maka tunas air yang muncul akan menggantikan fungsi batang utama, sehingga batang di bagian atas membengkok.

j.  Hama Kutu Putih (Pseudococcu /mealybug) menyerang dengan menghisap cairan tanaman terutama pada musim kemarau. Seluruh tubuhnya dilindungi oleh lilin/tawas dan dikelilingi dengan karangan benang-benang tawas berwarna putih; pada bagian belakang didapati benang-benang tawas yang lebih panjang. Hama ini sering menyebabkan daun keriting, pucuk apikal tumbuh tidak normal (bengkok dan jarak antar ruas daun pendek). Hama ini biasanya akan menghilang pada musim hujan namun kerusakan yang terjadi dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Hama kutu ini bersimbiosis dengan semut gramang (Plagiolepis longipes) dan semut hitam (Dolichoderus bituberculatus) yang sering memindahkan kutu dari satu tanaman ke tanaman lain. Pengendaliannya dengan penyemprotan insektisida nabati dan pemotongan bagian-bagian yang cacat dan hendaknya dilakukan pada awal musim penghujan.

k.   Hama kupu putih (peloncat flatid putih) umumnya menyerang tanaman jati muda. Dari kenampakannya, hama kupu putih yang menyerang jati ini sangat mirip dengan spesies flatid putih Anormenis chloris. Jenis serangga flatid jarang dilaporkan menyebabkan kerusakan ekonomis pada tanaman budidaya. Namun demikian, apabila populasinya tinggi dalam skala luas pada musim kemarau yang panjang akan memperbesar tekanan terhadap tanaman muda sehingga meningkatkan resiko mati pucuk. Pengendalian hama ini dilakukan dengan aplikasi insektisida sistemik melalui batang (bor/bacok oles) dan penyemprotan bagian bawah daun, ranting dan batang dengan insektisida racun lambung.

l.  Hama kumbang bubuk basah (Xyleborus destruens) atau kumbang ambrosia menyerang pada batang jati di daerah-daerah dengan kelembaban tinggi. Di daerah yang curah hujannya lebih dari 2000 mm per tahun, serangan hama ini dapat ditemukan sepanjang tahun. Gejala yang nampak berupa kulit batang berwarna coklat kehitaman akibat adanya lendir yang bercampur kotoran X. destruens. Serangan hama ini tidak mematikan pohon atau mengganggu pertumbuhan tetapi akibat saluran-saluran kecil melingkar pada batang akan menurunkan kualitas kayu. Pencegahan dilakukan dengan tidak menanam jati di daerah yang curah hujannya lebih dari 2000 mm per tahun. Menebang pohon-pohon yang diserang pada waktu penjarangan. Mengurangi kelembaban mikro tegakan, misalnya dengan mengurangi tumbuhan bawah dan melakukan penjarangan dengan baik.

m.  Penyakit layu bakteri dapat menyerang bibit maupun tanaman muda di lapangan (umur 1-5 tahun) yang dapat menyebabkan kematian. Gejalanya daun (layu, menggulung, mengering dan rontok), batang (layu dan mengering) serta bagian akar rusak. Pada kambium atau permukaan luar kayu gubal nampak garis-garis hitam membujur sepanjang batang. Pengendaliannya dapat dilakukan secara biologis, kimiawi dan cara silvikultur. Cara biologi dan kimiawi baik untuk mengatasi serangan di persemaian, sedangkan untuk serangan pada tanaman di lapangan, maka cara silvikultur lebih efektif dan aman. Cara biologi dilakukan dengan menggunakan bakteri antagonis Pseudomonas fluorescens dan cara kimiawi menggunakan bakterisida, yang disemprotkan ke seluruh permukaan tanaman dan sekitar perakaran. Cara silvikultur dilakukan dengan memperbaiki drainase lahan dan pengaturan jenis tumpang sari pada tanaman pokok jati.

n.   Hama Inger-Inger (Neotermes tectonae) merupakan suatu golongan rayap tingkat rendah. Gejala kerusakan berupa pembengkakan pada batang, umumnya pada ketinggian antara 5-10 m, dengan jumlah pembengkakan dalam satu batang terdapat 1-6 lokasi dan menurunkan kualitas kayu. Waktu mulai hama menyerang sampai terlihat gejala memerlukan waktu 3-4 tahun, bahkan sampai 7 tahun. Serangan hama inger-inger umumnya pada lokasi tegakan yang memiliki kelembaban iklim mikro tinggi, seperti akibat tegakan yang terlalu rapat. Pencegahan dan Pengendalian dengan penjarangan yang sebaiknya dilakukan sebelum hujan pertama atau kira-kira bulan oktober guna mencegah penyebaran sulung (kelompok hama inger-inger yang mengadakan perkawinan). Secara biologi hama ini mempunyai musuh alami seperti burung pelatuk, kelelawar, tokek, lipan, kepik buas, cicak, dan katak pohon. Karena itu keberadaan predator-predator tersebut harus dijaga di hutan jati.

 

Bahan Rujukan

 

Nair, KSS and Sumardi. 2000. Insect Pest and Deseases of Major Plantation Species. In : Nair K.S.S (ed) Insect and Deseases in Indoesia Forest : An assessment of major threats, research efforts and literature. CIFOR. Bogor. Indonesia

Anonim. 2008. Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Kehutanan. http://elqodar. multiply com/journal/item/17. Diakses tanggal 20 Mei 2008.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , , . Komentar Dimatikan

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN Acacia mangium DAN CARA PENGENDALIANNYA

Menurut Nair dan Sumardi (2000) jenis Acacia mangium termasuk tanaman yang rawan terhadap serangan hama dan penyakit terutama yang disebabkan oleh jenis jamur. Pembangunan hutan tanaman (HTI) monokultur dan seumur merupakan akumulasi bahan makanan bagi penyakit tertentu, sehingga diperlukan teknik dan upaya pencegahan serangan penyakit supaya resiko kegagalan pembangunan hutan dapat ditekan sampai pada tingkat di bawah nilai ekonomi. Untuk itu penting diketahui jenis-jenis kerusakan pada tanaman A. mangium yang disebabkan oleh penyakit dan alternatif pengendaliannya.

 

Tabel 2. Hama dan Penyakit Tanaman Acacia mangium

No 

Tipe Kerusakan 

Penyebab/Patogen  

Lokasi  

Nama Ilmiah 

Nama Umum 

1 

Penggerek akar

Coptotermes curvignathus

(Isoptera, Rhinotermitidae)

Rayap

Lapangan

2 

Pemakan daun

Pteroma plangiophelps

(Lepdoptera, Psychidae)

Ulat kantong

Lapangan

3 

Pemakan daun 

Valanga nigricormis

(Orthoptera, Acrididae)

Belalang

Lapangan  

4 

Pencucuk pengisap

Helopeltis theivora

Serangga nyamuk

Lapangan

5 

Penggerek ranting

Xylosabdrus sp dan Xyleborus fomicatus

Penggerek ranting

Lapangan  

6 

Penggerek batang

Xytocera festiva

Penggerek batang

Lapangan  

7 

Karat daun

Atelocauda digitata

Karat daun

Persemaian Lapangan  

8 

Powder mildew (daun)

Oidium spp.

Embun tepung

Persemaian  

9 

Black mildew (daun)

Meliola spp.

Embun jelaga

Persemaian  

10 

Bintil daun

Cercospora, petalotiopsis, Collectitricum spp.

Bintil daun

Persemaian

Lapangan  

11 

Kanker batang

Corticium salmonicolor

Penyakit pink

Lapangan  

12 

Kanker hitam

Pytophtora palmivora

Cystospora sp.

Hypixylon mammatum

Kanker hitam

Lapangan  

13 

Busuk hati

Phellinus noxius

Rigidoporus hypobrunneus

Tinctoporellus epimitinus

Jamur upas 

Lapangan  

14 

Busuk akar merah

Ganoderma philipii

Jamur akar merah 

Lapangan  

15 

Busuk akar putih 

Rigidoporus microporus

Jamur akar putih 

Lapangan  

Sumber : Nair and Sumardi (2000)

 

Usaha pengendalian hama/penyakit pada saat ini umumnya menggunakan metode kimiawi yaitu dengan menggunakan pestisida sintetis. Metode ini disamping memerlukan biaya yang besar, ternyata menimbulkan bahaya terhadap kelestarian lingkungan. Efek samping yang bisa terjadi adalah terbunuhnya organisme bukan sasaran, timbulnya resistensi dan pencemaran lingkungan. Pada era tahun 60-an, dimana penggunaan pestisida sintetis (DDT:Dikloro difeniltrikloro etan) sangat intensif penggunaannya mendapat kritik sangat tajam dan membuka mata semua orang akan bahaya pestisida sintetis. Penggunaan pestisida secara tidak bijaksana dapat menyebabkan organisme selain sasaran seperti burung, kupu-kupu dan serangga berguna yang lain ikut mati. Jenis-jenis burung yang dahulu sering dijumpai di persawahan sekarang sudah jarang terlihat diantaranya akibat penggunaan pestisida. Seiring dengan gencarnya ekolabeling di dunia, penggunaan bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi lingkungan maupun kehidupan manusia harus semaksimal mungkin dihindari.

Berikut ini disampaikan beberapa jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman Acacia mangium dan teknik pengendalian yang bisa dilakukan :

  1. Hama yang menyerang bibit Acacia mangium di persemaian, diantaranya adalah hama Orgya yang termasuk kedalam ordo Lepidoptera famili Lymantridae. Telur diletakkan secara berkelompok pada batang-batang pohon, biasanya dekat kokon dari tempat betina muncul dan hama ini hidup dalam musim dingin dengan tahapan telur. Larva dapat dikenali dengan ciri-ciri rambut duri atau rambut-rambut sikat (Smith dalam Borror. et.al, 1992). Gejala serangan dan kerusakan yang diakibatkan larva O. postica adalah selain memakan daun-daun muda di pembibitan, juga memakan daun-daun yang tua. Serangan dimulai dari pinggir daun dan menyebabkan lubang-lubang pada daun. Adapun jenis penyakit yang banyak terjadi di persemaian antara lain penyakit embun tepung, embun jelaga dan bintil pada daun. Penyakit embun tepung/jelaga menyebar dengan cepat apabila kondisi persemaian memiliki kelembaban tinggi akibat kurangnya intesiatas cahaya yang masuk. Oleh karena itu perlu dilakukan pengurangan intensitas naungan atau pemindahan bibit ke tempat terbuka. Penyakit lainnya dapat terjadi karena adanya defisiensi unsur hara yang menyebabkan bibit mengalami klorosis. Usaha pencegahan yang perlu dilakukan adalah pemupukan bibit secara lengkap sehingga kebutuhan hara cukup tersedia.

 


Gambar 2. Jenis-jenis hama/penyakit yang menyerang daun Acacia mangium


(sumber foto: Google)

 

b. Hama Helopeltis theivora merupakan jenis hama yang sangat potensial menyebabkan kerusakan pada tanaman. Hal ini terjadi karena hama menghisap cairan tanaman yang masih berumur muda, sehingga akan mengakibatkan tanaman kekeringan lalu mati.

c. Penyakit jamur akar merah (Ganoderma sp.) menyerang dan menyebabkan kerusakan yang serius, bahkan kematian yang cukup besar pada tanaman Acacia mangium. Kerusakan yang timbul dianggap sebagai penyakit utama pada tanaman A. mangium umur 3 tahun dan menyebabkan kerusakan sebesar 40% dari total tanaman umur 8 tahun. Kerusakan yang pada daur kedua dilaporkan lebih parah dan lebih awal menyerang tanaman dibandingkan serangan pada tegakan daur pertama. Gejala serangan penyakit ini berupa daun menguning, layu dan gugur sehingga pohon menjadi gundul. Akar pada tanaman yang sakit tertutupi hifa dari jamur Ganoderma sp yang berwarna coklat kemerahan yang terlihat sangat jelas ketika akar dibersihkan dari tanah yang menempel. Bila serangan sudah sampai pada taraf lanjut, akan muncul badan buah fungi pada batang tanaman. Badan buah Ganoderma sp seperti kuku kuda, tipis, keras, berkayu, permukaan bawah berwarna putih, bagian atas tengah berwarna coklat dan dapat mencapai ukuran 40 cm (Semangun,1991 dalam Kurniawan, 2008).

 

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan cara pembersihan tonggak pohon-pohon pada lokasi yang telah terserang, pembuatan parit isolasi, serta penggunaan pestisida (Anonim, 2008).
Agen pengendali hayati yang sudah dikembangkan dewasa ini diantaranya adalah Trichoderma spp, Gliocladium spp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis dan lain-lain. Pada penelitian yang telah dilakukan Trichoderma sp efektif menghambat perkembangan jamur Ganoderma speudoferreum (patogen akar merah pada tanaman akasia, karet dan teh) dan jamur akar putih yang disebabkan oleh Rigidoporus sp pada skala laboratorium (Widyastuti dkk, 1998).     

    

Gambar 3. Serangan penyakit jamur akar merah (Ganoderma sp) pada tanaman Acacia mangium di Wonogiri (Foto: Nurhidayati dan Mulyanto, 2004)

 

  1. Penyakit busuk hati (heart rot) merupakan penyakit yang menyerang kayu teras. Penyakit ini disebabkan oleh hymenomycetes (dari kelompok basidiomycetes) yang menyerang selulosa dan lignin kayu (Mohammed et al., 2005). Menurut Rimbawanto (2005), jamur busuk hati umumnya adalah jamur pelapuk kayu yang saprophytic kosmopolitan atau parasit luka. Serangan busuk hati pada tegakan A. mangium menyebabkan kehilangan volume kayu hingga 17,5% di Malaysia (Zakaria et al., 1994 dalam Rimbawanto, 2005). Gejala serangan busuk hati diantaranya adalah perubahan warna kayu teras menjadi keunguan/hitam (warna gelap hingga kuning pada kayu yang sehat) kayu gubal menjadi hijau/coklat. Gejala awal pelapukan kayu teras agak sulit dideteksi tetapi akan tampak perubahan warna kayu teras menjadi agak gelap. Kerusakan tanaman oleh busuk hati sulit untuk ditanggulangi karena serangan jamur yang sudah berkembang pada kayu teras sulit untuk dihambat, tetapi kerusakan ini dapat dicegah. Usaha pencegahan dengan cara memanipulasi iklim mikro tegakan hutan supaya tidak sesuai untuk perkembangan jamur. Usaha ini dapat dimulai pada saat penyiapan lahan, pemilihan jarak tanam dan metode pemeliharaan (Kurniawan, 2008).

 


Gambar 4. Serangan penyakit busuk hati pada batang tanaman A. mangium

(sumber foto: Google)

 
 

e.  Kanker batang (Stem Cancer) adalah penyakit yang menyerang batang pokok tanaman. Kerusakan ini sangat merugikan karena rusaknya struktur kayu dan pada kerusakan tingkat lanjut tanaman tidak dapat dimanfaatkan. Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang perkembangannya sangat dipengaruhi oleh iklim mikro tegakan hutan. Patogen penyebab kanker lebih aktif pada daerah yang curah hujannya tinggi sehingga tanaman lebih rentan (Old et al., 2000). Penyakit kanker berasosiasi dengan jamur upas (pink disease) yang disebabkan oleh Corticium salmonicolor. Selain itu pada serangan penyakit ini di Benakat, Sumatera Selatan disebabkan oleh Cytospora sp (Hadi dan Simon, 1996).
Tanaman yang terserang kanker batang akan mengalami kerusakan pada batang pokok. Kerusakan berupa benjolan/pembengkakan jaringan batang dan serat kayu mengalami kerusakan. Pada kerusakan tingkat lanjut batang akan mengalami pembengkakan dari pangkal sampai batang bebas cabang.

    Salah satu cara mencegah penyebaran serangan adalah dengan memutus kontak antar akar pohon penyusun hutan. Pengendalian penyakit perakaran yang disebabkan oleh jamur dapat dilakukan dengan membuat parit isolasi untuk mencegah penularan melalui kontak akar dari pohon yang terserang dengan pohon yang sehat. Pada parit isolasi yang dibuat dapat ditambahkan kapur atau fungisida. Selain itu dapat dilakukan penjarangan sanitasi dengan menebang pohon yang telah terserang dan membersihkan semua tonggak/tunggul dan sisa-sisa akar pohon yang terserang dan dibakar (Semangun, 1991 dalam Kurniawan, 2008). 

 

Daftar Pustaka

 

Anonim. 2008. Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Kehutanan. http://elqodar. multiply com/journal/item/17. Diakses tanggal 20 Mei 2008.

Borror, D.J., Trilehorn, C.A., Norman, F and Johnson, 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. Diterjemahkan oleh Soetoyono Partosoedjono, Universitas Gadjah Mada Press Yogyakarta.

Hadi, S dan Simon T.N. 1996. Diseases Of Species And Provenances Of Acacias In West And South Kalimantan, Indonesia. Proceedings of an International Workshop held at Subanjeriji (South Sumatera) 28 April – 3 May 1996 pp. 23 – 47

Kurniawan, A. 2008. Penyakit Pada Acacia mangium Serta Alternatif Pengendaliannya. http://agusresearchweb.wordpress.com/2008 diakses pada tanggal 21 Juli 2008

Mohammed, L.C, Karen M. Barry dan Ragil S.B Irianto, 2005. Busuk hati dan busuk akar pada Acacia mangium: Identifikasi gelaja dan penilaian terhadap tingkat serangan. Lokakarya Busuk hati dan Busuk akar pada Hutan  Tanaman  Akasia.  Yogyakarta 7-9 Februari 2005 pp. 20 -30

Nair, KSS and Sumardi. 2000. Insect Pest and Deseases of Major Plantation Species. In Nair K.S.S (ed) Insect and Deseases in Indoesia Forest : An assessment of major threats, research efforts and literature. CIFOR. Bogor. Indonesia

Nurhidayati dan Mulyanto. 2004. Pengamatan Awal Serangan Penyakit Akar Merah pada Kebun Benih Semai Acacia mangium Generasi Pertama di Wonogiri Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 1 No. 2, Agustus 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta

Old, K. M., See L.S., Sharma J.K., & Yuan, Z.Q. 2000. A Manual of Diseases of Tropical Acacias in Australia, South East Asia and India. Centre for International Forestry Research. Indonesia

Rimbawanto, A. 2005. Busuk hati di hutan tanaman: Latar belakang dari proyek. Lokakarya Busuk hati dan Busuk akar pada Hutan Tanaman Akasia. Yogyakarta    7 – 9 Februari 2005 pp. 14 – 19

Suhaendah, E., B. Dendang, I. Anggraeni dan W. Darwiati. 2006. Serangan Ulat Kantong Terhadap Tujuh Provenan Sengon di Ciamis. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 3 Suplemen No. 02, September 2006, Halaman 323-329. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta

Diospyros celebica (Bakh.)/ Eboni

 

Eboni dikenal dengan nama daerah kayu hitam dan termasuk kedalam famili Ebenaceae dengan daerah sebaran alami di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Sulawesi Utara. Tinggi pohon dapat mencapai 40 m dengan diameter batang mecapai 100 cm dan memiliki banir yang tingginya bisa 4 m. Ciri utama jenis ini kayu terasnya berwarna hitam dengan garis-garis coklat kemerah-merahan. Eboni tumbuh pada berbagai jenis tanah asalkan cukup sarang dan tidak terlalu asam. Pembibitan dilakukan secara generatif dengan menyemaikan biji/ benih atau panyapihan anakan alam. Musim buah eboni biasanya sekitar bulan September s/d Nopember dengan jumlah bijinya 1.100/kg (Martawijaya et al, 1981).

 

Musim berbunga Maret-Mei, buah masak Oktober-Desember. Pemanenan dengan cara dipanjat, hindari dari jatuhan karena rentan diserang jamur Peniulliopsis clavariaeformis. Ekstraksi benih setelah diperam 24 jam untuk memudahkan dalam pengupasan. Biji tua berwarna coklat kehitaman berbentuk bulat panjang 2-5 cm tebal 0,501,5 cm. Rata-rata dalam 1 kg terdapat 1100 biji. (Soerianegara, I. 1976).

 

Kegunaan

Pohon eboni memiliki kayu yang sangat keras termasuk kelas awet I dan kelas kuat I, yang dapat digunakan untuk venir mewah, kayu lapis, mebel mewah, kerajinan patung, ukiran, alat dekoratif, tongkat, gitar, piano, alat musik tiup dan lain-lain (Martawijaya et al, 1981).

 

Bahan Bacaan

Martawijaya, A., Kartasujana, I., Kadir, K. dan Prawira, S.A. 1981. Atlas Kayu Indinesia Jilid I. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor.

Soerianegara, I. 1976. Pemuliaan Pohon Hutan. Institut Pertanian, Bogor.


 

Ditulis dalam Tanaman Kategori E. Tag: , , . Komentar Dimatikan

Anthocephalus cadamba / Jabon

 

 

Termasuk jenis cepat tumbuh (fast growing) dengan riap tinggi mencapai 3m/th dan riap diameter 7-10 cm/th). Batang lurus, silindris dengan batang bebas cabang yang tinggi. Jabon dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian tempat 0-1000 m dpl dengan curah hujan kurang dari 1.920 mm/tahun. Tumbuh pada tanah ringan, berdrainase baik. Toleran terhadap tanah asam dan berdrainase jelek tetapi bukan pada tanah tererosi. Sebaran tanaman jabon yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur, seluruh Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Irian Jaya (Nurhasybi dan Muharam, 2003). Pembibitan jabon di persemaian dapat dilakukan dengan cara generatif maupun stek pucuk (Setiaji, 2010).

 

Gambar. Pohon dan buah jabon

(sumber: Setyaji, 2010)

 

Biji disemaikan lebih dahulu di dalam bak kecambah, kemudian setelah tumbuh dan mencapai tinggi 3 cm dipindahkan ke bedeng penyapihan atau ke dalam polibag dan setelah mencapai tinggi 20-30 cm ditanam di lapangan pada permulaan musim hujan. Penanaman dapat pula dilakukan dengan cabutan atau stump. Pertumbuhan jabon termasuk cepat, sehingga pada umur 3 tahun harus dilakukan penjarangan pertama (Martawijaya et al, 1989). Permudaan secara alami banyak terdapat pada tempat-tempat terbuka seperti pada bekas tebangan, bekas jalan sarad atau bekas perladangan. Jabon termasuk jenis pionir yang dapat membentuk kelompok hutan alam murni pada tempat yang bebas persaingan cahaya.

 

Kegunaan

Kayunya berwarna putih kekuningan, yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti pulp, plywood, venir, meubel, peti, mainan anak-anak, korek api, papan, dan lain-lain.

 

Bahan Bacaan

Martawijaya, A., Iding, K., Kosasi, K. dan Suwanda A.P. 1981. Atlas Kayu Indonesia Jilid I. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor

Nurhasybi dan Muharam, A. 2003. Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) dalam: Atlas Benih Tanaman Indonesia. Publikasi Khusus Vol. 3 No.8, Desember 2003. Nurhasybi dkk. (eds.), Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan Bogor, Bogor.

Setiaji, T. 2010. Populasi Pemuliaan Jenis Alternatif untuk Kayu Pulp. Laporan Hasil Penelitian Tahun 2010. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.

Ditulis dalam Tanaman Kategori J. Tag: , , . Komentar Dimatikan
in parentheses

new modernism

Before the Downbeat

Thoughts on music, creativity, imagination, and exploring the space between the notes.

Life Inspired

Home | Family | Style

wordssetmefreee

Making sense of the world through words

The Rational Optimist

Frank S. Robinson's blog on life, society, politics, and philosophy

Chronicles of an Anglo Swiss

Welcome to the Anglo Swiss World

Hoarded Ordinaries

Mundane musings from a collector of the quotidian

Dear Me

notes from the future

A Vital Recognition

the immanence of Self, Spirit, and Nature

A Feminist Challenging Transphobia

The greatest WordPress.com site in all the land!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 521 pengikut lainnya.