KLERAK (Sapindus rarak DC)

Tumbuhan ini berbentuk pohon tinggi, besar. Tingginya mencapai ± 42 m dengan diameter batang ± 1 m. Daun bentuknya bundar telur sampai lanset. Perbungaan majemuk, malai, terdapat di ujung batang warna putih kekuningan. Bentuk buah bundar seperti kelereng kalau sudah tua/masak warnanya coklat kehitaman, permukaan buah licin/mengkilat. Biji bundar juga warna hitam. Antara buah dan biji terdapat daging buah berlendir sedikit dan aromanya wangi.

Kategori : Biopestisida

Deskripsi :     Tumbuhan ini berbentuk pohon tinggi, besar. Tingginya mencapai ± 42 m dengan diameter batang ± 1 m. Daun bentuknya bundar telur sampai lanset. Perbungaan majemuk, malai, terdapat di ujung batang warna putih kekuningan. Bentuk buah bundar seperti kelereng kalau sudah tua/masak warnanya coklat kehitaman, permukaan buah licin/mengkilat. Biji bundar juga warna hitam. Antara buah dan biji terdapat daging buah berlendir sedikit dan aromanya wangi.

Distribusi/Penyebarannya terdapat di seluruh Indonesia, terutama di hutan-hutan daerah Jawa dan Sumatera.

Habitatnya liar di hutan-hutan pada ketinggian antara 450 sampai 1500 m dari permukaan laut.

Perbanyakannya dii Indonesia belum pernah dibudidayakan. Dijumpai ditanam penduduk 1 – 2 pohon saja di pekarangan rumahnya.

Buah lerak dipergunakan untuk mencerahkan warna yang diperoleh dari soga alam / pewarna alami. Selain itu dipergunakan untuk mencuci kain batik, supaya awet dan warnanya tetap baik/tidak luntur. Daging buahnya mengandung zat saponin (beracun), sedangkan bijinya mengandung minyak. Lerak sangat baik sebagai obat pembunuh serangga, dan sangat baik untuk membasmi cacing tanah. Biasa juga dipergunakan sebagai sabun wajah untuk mengurangi jerawat.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , . Komentar Dimatikan

METHODS FOR PLANTING STOCK PRODUCTION OF FOREST TREE SPECIESES FOR FOREST AND LAND REHABILITATION ACTIVITIES IN INDONESIA

Oleh : Hamdan dan Suwandi

No

Tree Species

Generative

Vegetative

Seed Type

1

Acacia spp (akasia)

Seeds

Shoot cuttings

Ortodocs

2

Arenga pinnata (aren)

Seeds, wildlings

-

Ortodocs

3

Dendrocalamus sp (bambu)

Seldom

Stem cuttings

-

4

Elmerillia sp (cempaka)

Seeds

-

Recalcitrant

5

Santalum album (cendana)

Seeds

Tissue culture

Recalcitrant

6

Agathis lorantifolia (dammar)

Seeds

-

Recalcitrant

7

Shorea javanica

(damar mata kucing)

Seeds

Shoot cuttings

Recalcitrant

8

Lansium domesticum (duku)

Seeds

-

Recalcitrant

9

Durio zibethinus(durian)

Seeds

Buddings

Recalcitrant

10

Eucalyptus sp (eukaliptus)

Seeds

Shoot cuttings,

Grafting

Ortodocs

11

Gmelina arborea (jati putih)

Seeds

-

Ortodocs

12

Anacardium occidentale

(jambu mete)

Seeds,wildlings

-

Ortodocs

13

Tectona grandis (jati)

Seeds

Shoot cuttings, budding, tissue culture

Ortodocs

14

Cinnamomum spp (kayu manis)

Seeds

-

-

15

Maesospis eminii (kayu afrika)

Seeds, wildlings

-

Recalcitrant

16

Melaleuca cajuputi (kayu putih)

Seeds

Shoot cuttings, grafting

-

17

Khaya anthotheca (kaya)

Seeds

-

Recalcitrant

18

Aleurites moluccana (kemiri)

Seeds

-

-

19

Swietenia macrophylla (mahoni)

Seeds

Shoot cuttings

Recalcitrant

20

Mangrove specieses

Seeds

-

Recalcitrant

21

Shorea spp (shorea)

Seeds (irregular fruiting season), wildlings

Shoot cuttings

Recalcitrant

22

Morus spp (murbei)

Seeds

Stem cuttings

-

23

Arthocarpus integra (nangka)

Seeds

-

Recalcitrant

24

Pinus merkusii (pinus)

Seeds

-

Ortodocs

25

Alstonia scholaris (pulai gading)

Seeds

Shoot cuttings

Recalcitrant

26

Nephelium sp (rambutan)

Seeds

Budding, air layering

Recalcitrant

27

Manilkara kauki (sawo kecik)

Seeds

-

Ortodocs

28

Falcataria moluccana (sengon)

Seeds

Air layering

Ortodocs

29

Dalbergia latifolia (sonokeling)

Seeds

Root cuttings, shoot cuttings

Ortodocs

30

Artocarpus altilis (sukun)

-

Root cuttings, stem cuttings, shoot cuttings

-

31

Peronema canescens (sungkai)

Seldom

Stem cuttings

-

32

Mimusops elengi (tanjung)

Seeds

-

Recalcitrant

33

Shorea stenoptera (tengkawang)

Seeds

Wildlings

Shoot cuttings

Recalcitrant

34

Altingia excels (rasamala)

Seeds

-

Recalcitrant

Source : Departemen Kehutanan RI. 2003. Teknik Pembibitan dan Konservasi Tanah. Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Buku I.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , . Komentar Dimatikan

Rukem Pohon an langka

Buahnya bertipe buah buni yang bentuknya bulat, bulat gepeng sampai bulat telur sungsang, berdiameter 2-2,5 cm, berwarna hijau muda sampai merah jambu atau hijau-lembayung sampai merah tua, berdaging keputih-putihan, banyak mengandung air yang asam rasanya.

Manfaat

Buah rukam yang matang dapat dimakan dalam keadaan segar, dapat pula dibuat rujak dan asinan, atau dicampur gula dijadikan selai atau permen. Daun mudanya dapat dimakan mentah sebagai lalap. Buah mudanya digunakan dalam ramuan obat tradisional untuk mengobati diare dan disentri. Air perasan daunnya dipakai untuk mengobati kelopak mata yang bengkak. Di Filipina, seduhan akar rukam diminum oleh wanita yang baru saja melahirkan.
Kayu rukam keras dan kuat, dapat digunakan untuk membuat perabot rumah tangga, seperti alu dan mebel. Di Bali khususnya terdapat anggapan masyarakat bahwa buah rukem dapat dimanfaatkan sebagai penambah stamina khusus pria atau dikenal sebagai afrodisiak. Obat tradisional ini, yang kemungkinan bekerja secara hormonal maupun nonhormonal karena pada umumnya cara kerja obat tradisional belum bisa diungkapkan secara rinci seperti halnya obat modern.

Syarat Tumbuh

Rukam tumbuh di lingkungan tropik basah pada ketinggian sampai 1500 m dpl., tetapi dijumpai juga yang tumbuh liar pada ketinggian 2100 m dpl. Habitat alaminya adalah hutan primer dan sekunder, seringkali dijumpai di sepanjang sungai, dan rukam ini tumbuh di bawah naungan atau di lahan terbuka. Pohon rukam tampaknya dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai suhu, curah hujan, dan tipe tanah.

Pedoman Budidaya

Rukam biasanya ditumbuhkan dari benih, tetapi pohon rukam juga mengeluarkan tunas akar yang dapat digunakan untuk perbanyakan vegetatif, misalnya pohon yang tak berduri. Sambungan mata atau sambungan pucuk dapat dilaksanakan, juga pada jenis Flacourtia lainnya. Di Indonesia, sambungan mata rukam pada F. inermis Roxb. sering dilakukan. Pohon rukam ditanam dengan jarak tanam 8-12 m.

Hama dan Penyakit

Lalat buah dan penggerek batang sering dijumpai pada- jenis-jenis Flacourtia, dan di Indonesia ulat-ulat pemakan daun, Pygaera reftztura dan Cuphya erimanthis, khusus dijumpai pada rukam.
diambil dari situs : Distributor Tanaman Langka

RESPON PERTUMBUHAN TANAMAN TERHADAP CEKAMAN SALINITAS TANAH

Oleh : Hamdan Adma Adinugraha

I. PENDAHULUAN

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan hasil interaksi antara faktor genetik, faktor internal yang mengitegrasikan berbagai sel, jaringan dan organ menjadi satu kesatuan struktural dan fungsional serta faktor lingkungan (Loveless, 1991). Faktor genetik tanaman meliputi umur tanaman, kondisi hormon dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan, sedangkan faktor lingkungan meliputi cahaya matahari, suhu dan kelembaban, ketersediaan unsur hara dan air serta kompetisi antar tanaman (Crowder, 1986; Loveless, 1991). Selain itu, sistem budidaya suatu tanaman yang tepat melalui pemilihan varietas dan pengolahan lingkungan tumbuh melalui perbaikan cara bercocok tanam seperti pengolahan tanah, pemupukan, pengairan dan sebagainya merupakan upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mendapatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman secara optimal.

Faktor yang sangat menentukan keberhasilan tumbuh tanaman adalah kondisi tanah atau lahan yang digunakan. Semakin baik kondisi tanah atau subur, maka pertumbuhan tanaman akan meningkat. Salah satu masalah yang banyak ditemukan pada lahan-lahan pertanian adalah salinitas tanah. Dalam hubungannya dengan salinitas, tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis tanah (Buckman and Brady, 1982). Pertama, adalah tanah salin yaitu tanah yang mengandung konsentrasi garam terlarut netral yang jumlahnya cukup besar bagi pertumbuhan kebanyakan tanaman. Sekitar 15% kemampuan pertukaran kation tanah ini diduduki oleh ion natrium dan pH biasanya kurang dari 8,5. Hal ini disebabkan oleh garam terlarut kebanyakan bereaksi netral dan hanya sebagian kecil natrium yang dapat tertukar. Tanah semacam ini kadang-kadang disebut tanah alkali putih, karena terdapat kerak di permukaan yang berwarna muda/cerah.

Kedua adalah tanah salin-sodik yaitu kelompok tanah yang mengandung cukup banyak garam netral terlarut dan ion natrium teradsorpsi yang sangat merugikan tanaman. Kemampuan pertukaran kation natrium lebih dari 15% dengan pHnya kurang dari 8,5. lectric conductivity (EC) pada tanah ini lebih dari 4 mmhos/cm. Perbedaan dengan tanah salin adalah pelindian akan menaikkan pH tanah salin-sodik dengan nyata. Kenaikan pH ini tidak akan terjadi apabila garam-garam yang terdapat didalam tanah salin-sodik adalah garam Ca dan Mg. Hal ini sangat merugikan karena ion natrium menjadi aktif dan dapat mendispersi koloida mineral yang membentuk struktur tanah yang kuat dan kedap. Dengan demikian dapat terjdi keracunan natrium yang nyata.

Tanah sodik dalah tanah yang mengandung banyak garam terlarut netral. Pengaruh merusak pada tanaman sebagian besar disebabkan oleh keracunan ion Na dan ion OH. Natrium yang dapat tertukar lebih dari 15% dari kemampuan pertukaran total tanah ini, bebas untuk dihidrolisa. EC pada tanah ini lebih kecil dari 4 mmhos/cm dengan pH lebih dari 8,5 bahakan sampai 10. Kebasaan tanah ini sangat tingi disebabkan oleh kandungan Na2CO3 pada permukaan tanah yang dapat menimbulkan perubahan warna tanah menjadi gelap, sehingga sering disebut alkali hitam. Tanah semacam ini sering terdapat di daerah sempit yang licin (slick-spots) yang dikelilingi oleh tanah-tanah produktif.

II. SALINITAS TANAH DAN PERMASALAHANNYA

A. Permasalahan Salinitas Tanah

Masalah salinitas tanah merupakan masalah umum dalam bidang pertanian di seluruh dunia, yang dapat menyebabkan penurunan produktivitas dan hasil panen terutama di daerah kering (arid-semi arid). Jutaan hektar tanah menjadi tidak produktif karena adanya penimbunan garam dalam tanah dimana pada daerah-daerah tersebut tumbuhan akan menghadapi dua masalah. Pertama dalam memperoleh air dari tanah dan kedua dalam mengatasi konsentrasi ion-ion natrium, karbonat dan klorida yang tinggi yang kemungkinan beracun (Salisbury and Ross, 1995). Dalam skala yang lebih luas, masalah salinitas akan menimbulkan dampak pada lingkungan, sosial dan ekonomi, yang akan dirasakan oleh masyarakat setempat atau bahkan masyarakat yang lebih luas. Secara umum pengaruh salinitas akan berdampak pada bidang pertanian, penurunan kualitas air, kerusakan infrastruktur masyarakat di desa dan perkotaan serta berkurangnya keanekaragaman sumberdaya hayati. Tumbuh-tumbuhan yang tidak memiliki toleransi terhadap kadar garam yang tinggi akan banyak yang mati bahkan dapat terancam kepunahan.

Dalam bidang pertanian banyak dilaporkan bahwa peningkatan salinitas menyebabkan penurunan produksi dan produktifitas tanaman pertanian. Menurut Brinkman and Singh (1982) dalam Sembiring dan Gani (2006) melaporkan bahwa dengan peningkatan salinitas tanah menjadi 6-10 ds/m menyebabkan penurunan hasil gabah sampai 50%. Secara umum salinitas menyebabkan terbatasnya pertumbuhan dan produktivitas tanaman (Ghazi and Al Karaki, 2006 dalam Sharifi et al, 2007). Dilaporkan pula bahwa sekitar 10-35% tanah pertanian di dunia mengalami penurunan kualitas akibat salinitas dan menjadi tidak bisa dimanfaatkan untuk penanaman tanaman pertanian (http://www.liv.ac.uk/~sd21/stress /salt.htm).

Salinitas yang tinggi akan meningkatkan konsentrasi garam dalam air sungai dan mengurangi kualitas air tanah. Hal tersebut akan berdampak negatif bagi manusia, ternak dan air irigasi untuk pertanian. Selain diperlukan biaya yang tinggi untuk pengolahan air, juga dapat menyebabkan berkaratnya pipa-pipa air dan berbagai mesin serta peralatan rumah tangga. Dampak kerusakan dirasakan pula pada infastruktur lainnya seperti bangunan rumah, pagar, jalan, pipa bawah tanah, kabel dan lain-lain yang pada akhirnya dapat berdampak buruk pada kesehatan manusia.

B. Pendugaan dan Pengukuran Salinitas Tanah

Tingkat salinitas tanah bervariasi antara satu daerah dengan daerah lainnya, bahkan dan satu lokasi pun bisa bervariasi. Perbedaan tingkat salinitas tanah dapat disebabkan oleh tingkat penutupan vegetasi, pengaruh penggenangan air laut, bencana alam tsunami, tingginya kandungan garam di dalam tanah, pengairan/irigasi dengan air yang mengandung garam-garaman tinggi dan faktor iklim (terutama curah hujan). Untuk mengatasi dampak buruk yang bisa ditimbulkan akibat salinitas tanah pada suatu lokasi maka perlu dilakukan pendugaan dan pengukuran salinitas tanah. Dengan usaha ini, maka dapat ditempuh langkah-langkah pengelolaan tanah yang tepat dan mengurangi kerugian ekonomi.

Pengukuran salinitas tanah dapat dilakukan dengan cara pengambilan sampel tanah untuk diekstrak dan dianalisis di laboratorium dengan cara mengukur daya hantar listriknya (electric conductivity/EC). Cara kedua adalah dengan pengukuran langsung di lapangan menggunakan alat induksi elektromagenetik (EM38). Alat tersebut diletakkan pada tanah dengan posisi tegak untuk mendeteksi salinitas pada kedalaman lebih dari 45 cm dan diletakkan dengan posisi tidur untuk mendeteksi salinitas pada kedalaman kurang dari 45 cm. Hasil pengukuran ini dipakai untuk menaksir tingkat salinitas di daerah tersebut (Slavish dkk, 2006). Hubungan tingkat salinitas dan pengaruhnya terhadap tanaman disajikan pada Tabel 1.

Gambar 1. Pendugaan salinitas tanah menggunakan alat EM38 dengan posisi tegak

dan posisi tidur (foto : Slavish et al, 2006)

Tabel 1. Pengaruh tingkat salinitas pada tanaman (Follet et al, 1981 dalam Sipayung,2003)

No

Tingkat salinitas

Konduktivitas (mmhos)

Pengaruh terhadap tanaman

1

Non salin

0 – 2

Dapat diabaikan

2

Rendah

2 – 4

Tanaman yaang peka terganggu

3

Sedang

4 – 8

Kebanyakan tanaman terganggu

4

Tinggi

8 – 16

Tanaman yang toleran belum terganggu

5

Sangat tinggi

> 16

Hanya beberapa jenis tanaman toleran yang dapat tumbuh

Pada tanaman pertanian umumnya memiliki toleransi terhadap salinitas sampai 3 ds/m, padahal di lapangan seringkali terjadi peningkatan salinitas 4-8 ds/m sehingga kebanyakan tanaman dapat mengalami stress garam (Shofiyanti dan Wahyunto, 2006). Sebagai langkah awal maka gejala-gejala pertumbuhan tanaman yang ditanam pada lokasi tersebut, dapat dijadikan dasar untuk menduga tingkat salinitasnya. Menurut Waskom (2003) gejala-gejala yang ditunjukkan tanaman merupakan akibat dari kondisi tanah pada lahan tersebut sebagaimana disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Pendugaan tingginya derajat keasaman (pH), salinitas atau sodisitas di lapangan

No

Permasalahan

Gejala potensial

1 Tingginya pH Terjadi kekurangan unsur-unsur hara yang dicirikan dengan tanaman tumbuh kerdil dan menguning atau hijau tua sampai keungu-unguan
2 Tanah salin Terdapat kerak berwarna putih di permukaan tanah

Tanaman mengalami cekaman air (water stress)

Bagian ujung daun seperti terbakar

3 Pengairan dengan air yang berkadar garam tinggi Daun-daun tanaman seperti terbakar

Pertumbuhan sangat lambat

Tanaman mengalami cekaman kelembaban (moisture stress)

4 Tanah sodik Darainase tidak baik, banyak mengandung kerak

Kemampuan infiltrasi air rendah

Terdapat residu berbentuk tepung yang berwarna gelap pada permukaan tanah

Tanaman kerdil dan bagian tepi daun terbakar

5 Tanah salin-sodik Umumnya menunjukkan gejala yang sama dengan tanah salin

Sumber : Waskom (2003)

C. Pengendalian Salinitas Tanah

Untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang baik, maka salinitas tanah merupakan masalah yang harus diatasi secara serius. Menurut Buckman dan Brady (1982) cara untuk mengusahakan tanah yang salin dan sodik agar tidak merugikan tanaman atau mengurangi pengaruh yang bisa ditimbulkannya dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Menghilangkan (eradication)

Eradikasi yaitu usaha yang dilakukan untuk menghilangkan kandungan garam atau mengurangi jumlah garam yang ada pada tanah dengan cara-cara seperti; (1) penerapan drainase bawah, (2) pelindian atau pembasahan dan (3) pengerukan garam pada daerah permukaan tanah. Biasanya kombinasi cara nomor satu dan dua memberikan hasil yang memuaskan yaitu setelah dipasang pipa penyalur kemudian dilakukan penggenangan. Kalau cara ini dilakukan di daearh irigasi maka pemberian air harus dilakukan secara berulang-ulang sehingga garam-garam menjadi terlarut dan mengalir melalui saluran penyalur. Air yang digunakan harus air yang relatif bebas dari debu dan garam, terutama yang mengandung natrium.

  1. Pengubahan (convertion)

Konversi gipsum (CaSO4) pada tanah-tanah alkali sering dianjurkan untuk mengubah sebagian alkali karbonat menjadi sulfat. Pemberian gipsum dilakukan pada kondisi tanah yang lembab dengan cara disebarkan didalam tanah dan tidak dibenamkan. Selanjutnya dilakukan pelindian tanah dengan air irigasi untuk membebaskannya dari natrium sulfat. Gipsum bereaksi dengan baik terhadap Na2CO3 maupun dengan natrium teradsorpsi sebagai berikut :

Na2CO3
+ CaSO4 ===== CaCO3 + Na2SO4

                         dapat terlindi

Na

+ CaSO4 ===== Ca + Na2SO4

Na                      dapat terlindi

Pemakaian sulfur pada tanah bergaram, terutama pada tanah yang banyak mengandung natrium karbonat. Okidasi sulfur mengasilkan asam sulfat, tidak saja akan mengubah natrium karbonat menjadi natrium sulfat, tetapi juga cenderung menurunkan kebasaannya. Reaksi antara asam sulfat dengan senyawa yang mengandung natrium adalah sebagai berikut :

Na2CO3
+ H2SO4 ===== CO2 + Na2SO4 + H2O

                        dapat terlindi

Na                         H

+ H2SO4 ===== + + Na2SO4

Na              H         dapat terlindi

  1. Pengendalian (control)

Pengendalian proses penguapan/evapotranspirasi merupakan usaha yanag penting dalam pengendalian tanah bergaram. Hal ini tidak hanya menghemat air juga menghambat naiknya garam larut ke zona perakaran. Pengaturan waktu irigasi juga sangat penting terutama pada saat musim tanam atau musim semi karena tanaman muda sangat peka terhadap garam, penanaman segera diikuti dengan irigasi untuk mengangkut garam-garam kedalam tanah. Umumnya sesudah tanaman menjadi besar maka sifat toleransinya terhadap garam bertambah.

  1. Penggunaan jenis-jenis tanaman yang toleran terhadap garam

Lewis (1976) menjelaskan bahwa kemampuan tanaman dalam mengkonversi sumber daya tanah, air dan udara menjadi produk yang berguna bagi manusia tergantung pada interaksi genotipe dan lingkungan. Oleh karena itu dalam menghadapi kondisi cekaman lingkungan perlu dikembangkan tanaman yang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi secara genetik. Banyak jenis tanaman yang telah menunjukkan toleransi terhadap salinitas tanah yang bisa diaplikasikan di lahan-lahan yang yang berkadar garam tinggi. Sifat toleransi tanaman terhadap salinitas menjadi tiga kelompok yaitu; (1) toleransi rendah seperti apel, lemon, peach, pear, plum, (2) toleransi sedang misalnya bougenvile, kembang sepatu, krisant, alfalfa, gandum, anggur, tomat, wortel, jagung manis, kol, brokoli, mentimun dan (3) toleransi tinggi seperti kapas, salt grass, sugar beets, kurma, asparagus, bayam dan lain-lain (Buckman and Brady, 1982; FAO, 2005)

  1. Pemupukan dengan bahan organik, penggunaan mikorisa dan amelioran biologi.

Pemberian bahan organik (humus) yang mengandung asam humik berperan untuk menekan penyerapan Na+ oleh perakaran tanaman (Mac Carthy et al, 1990 dalam Delvian, 2007). Pemberian asam humik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman inang dan produksi spora mikorisa pada beberapa tingkatan salinitas tanah. Dengan demikian dapat terbentuk simbosis yang mutualistik bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman maupun cendawan mikorisa (Delvian, 2007; Sharifi et al, 2007). Penggunaan bahan amelioran bilogi juga dapat meningkatkan ketahanan tanaman pada kondisi salinitas tanah yang tinggi karena dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air (water use eficiency), merangsang pertumbuhan akar dengan memproduksi fitohormon atau mengurangi konsentrasi ethylene pada tanaman (Yildrim et al, 2006).

III. RESPON TANAMAN TERHADAP SALINITAS TANAH

A. Pengaruh Salinitas Tanah Terhadap Pertumbuhan Tanaman

Kadar garam yang tinggi pada tanah menyebabkan tergganggunya pertumbuhan, produktivitas tanaman dan fungsi-fungsi fisiologis tanaman secara normal, terutama pada jenis-jenis tanaman pertanian. Salinitas tanah menekan proses pertumbuhan tanaman dengan efek yang menghambat pembesaran dan pembelahan sel, produksi protein, serta penambahan biomass tanaman. Tanaman yang mengalami stres garam umumnya tidak menunjukkan respon dalam bentuk kerusakan langsung tetapi dalam bentuk pertumbuhan tanaman yang tertekan dan perubahan secara perlahan (Sipayung, 2003). Dalam FAO (2005) dijelaskan bahwa garam-garaman mempengaruhi pertumbuhan tanaman umumnya melalui : (a) keracunan yang disebabkan penyerapan unsur penyusun garam yang berlebihan, (b) penurunan penyerapan air dan (c) penurunan dalam penyerapan unsur-unsur hara yang penting bagi tanaman.

Pengaruh salinitas tanah tergantung pada tingkatan pertumbuhan tanaman, biasanya pada tingkatan bibit sangat peka terhadap salinitas. Waskom (2003) menjelaskan bahwa salinitas tanah dapat menghambat perkecambahan benih, pertumbuhan yang tidak teratur pada tanaman pertanian seperti kacang-kacangan dan bawang. Viegas et a l,. (2003) dalam Da Silva et al, (2008) melaporkan bahwa pertumbuhan tunas pada semai Leucaena leucocephala mengalami penurunan sebesar 60% dengan adanya penambahan salinitas pada media sekitar 100 mM NaCl. Adanya kadar garam yang tinggi pada tanah juga menyebabkan penurunan jumlah daun, pertumbuhan tinggi tanaman dan rasio pertumbuhan panjang sel. Demikian pula dengan proses fotosintesis akan terganggu karena terjadi akumulasi garam pada jaringan mesophil dan meningkatnya konsentrasi CO2 antar sel (interseluler) yang dapat mengurangi pembukaan stomata (Robinson, 1999 dalam Da Silva et al, 2008). Pada tanaman semusim antara lain meningkatnya tanaman mati dan produksi hasil panen rendah serta banyaknya polong kacang tanah dan gabah yang hampa (Anonim, 2007).

Gambar 2. Pengaruh salinitas tanah terhadap pertumbuhan tanaman sorghum

(foto : http://www.liv.ac.uk/~sd21/stress/salt.htm )

Gambar 3. Pengaruh salinitas pada tanaman padi

(foto : http://www.knowledgebank.irri.org/regionalSites/indonesia)

Proses pengangkutan unsur-unsur hara tanaman dari dalam tanah akan terganggu dengan naiknya salinitas tanah. Manurut Salisbury and Ross (1995) bahwa masalah potensial lainnya bagi tanaman pada daerah tersebut adalah dalam memperoleh K+ yang cukup. Masalah ini terjadi karena ion natrium bersaing dalam pengambilan ion K+. Tingginya penyerapan Na+ akan menghambat penyerapan K+. Menurut Grattan and Grieve (1999) dalam Yildirim et al (2006), salinitas yang tinggi akan mengurangi ketersedian K+ dan Ca++ dalam larutan tanah dan menghambat proses transportasi dan mobilitas kedua unsur hara tersebut ke daerah pertumbuhan tanaman (growth region) sehingga akan mengurangi kualitas pertumbuhan baik organ vegetatif maupun reproduktif. Salinitas tanah yang tinggi ditunjukkan dengan kandungan ion Na+ dan Cl- tinggi akan meracuni tanaman dan meningkatkan pH tanah yang mengakibatkan berkurangnya ketersediaan unsur-unsur hara mikro (FAO, 2005). Demikian pula dengan hasil penelitian Yousfi et al (2007) bahwa salinitas menyebabkan penurunan secara drastis terhadap konsentrasi ion Fe di daun maupun akar pada tanaman gandum (barley). Penurunan tersebut disebabkan karena berkurangnya penyerapan Fe pada kondisi salinitas tinggi.

B. Mekanisme Toleransi Tanaman

Untuk mempertahankan kehidupannya, jenis-jenis tanaman tertentu memiliki mekanisme toleransi tanaman sebagai respon terhadap salinitas tanah. Jenis-jenis tanaman memiliki toleransi yang berbeda-beda terhadap salinitas. Beberapa tanaman budidaya misalnya tomat, bit gula, beras belanda lebih toleran terhadap garam dibandingkan tanaman lainnya (Salisbury and Ross, 1995). Secara garis besar respon tanaman terhadap salinitas dapat dilihat dalam dua bentuk adaptasi yaitu dengan mekanisme morfologi dan mekanisme fisiologi (Sipayung, 2003).

  1. Mekanisme morfologi

Bentuk adaptasi morfologi dan anatomi yang dapat diturunkan dan bersifat unik dapat ditemukan pada jenis halofita yang mengalami evolusi melalui seleksi alam pada kawasan huta pantai dan rawa-rawa asin. Salinitas menyebabkan perubahan struktur yang memperbaiki keseimbangan air tanaman sehingga potensial air dalam tanaman dapat mempertahankan turgor dan seluruh proses bikimia untuk pertumbuhan dan aktivitas yang normal. Perubahan struktur meliputi ukuran daun yang lebih kecil, stomata yang lebih kecil per satuan luas daun, peningkatan sukulensi, penebalan kutikula dan lapisan lilin pada permukaan daun, serta lignifikasi akar yang lebih awal (Haryadi dan Yahya, 1988 dalam Sipayung, 2003).

Ukuran daun yang lebih kecil sangat penting untuk mempertahankan turgor, sedangkan lignifikasi akar diperlukan untuk penyesuaian osmose yang sangat penting untuk untuk memelihara turgor yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhan dan fungsi metabolisme yang normal. Dengan adaptasi struktural ini kondisi air akan berkurang dan mungkin akan menurunkan kehilangan air pada transpirasi. Namun pertumbuhan akar pada lingkungan salin umumnya kurang terpengaruh dibandingkan dengan pertumbuhan daun (pucuk) atau buah. Hal ini diduga karena akibat perbaikan keseimbangan dengan mempertahankan kemampuan menyerap air. Pertumbuhan tanman yang cepat juga merupakan mekanisme untuk mengencerkan garam. Dalam hal ini bila garam dikeluarkan oleh akar, maka bahan organik yang tidak mempunyai efek racun akan tertimbun dalam jaringan, dan ini berguna untuk mempertahankan keseimbangan osmotik dengan larutan tanah (Salisbury dan Ross, 1995).

  1. Mekanisme Fisiologi

Bentuk adaptasi dengan mekanisme fisiologi terdapat dalam beberapa bentuk sebagai berikut :

  1. Osmoregulasi (pengaturan potensial osmose)

    Tanaman yang toleran terhadap salinitas dapat melakukan penyesuaian dengan menurunkan potensial osmose tanpa kehilangan turgor. Untuk memperoleh air dari tanah sekitarnya potensial air dalam cairan xilem harus sangat diturunkan oleh tegangan. Pada beberapa halofita mampu menjaga potensial osmotik terus menjadi lebih negatif selama musim pertumbuhan sejalan dengan penyerapan garam. Pada halofita lainnya memiliki kemampuan mengatur penimbunan garam (Na+ dan Cl-) pada kondisi cekaman salinitas, misalnya tanaman bakau yang mampu mengeluarkan 100% garam (Ball, 1988 dalam Salisbury and Ross, 1995).

    Osmoregulasi pada kebanyakan tanaman melibatkan sintesis dan akumulasi solute organik yang cukup untuk menurunkan potensial osmotik sel dan meningkatkan tekanan turgor yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Senyawa-senyawa organik berbobot molekul rendah yang setara dengan aktifitas metabolik dalam sitoplasma seperti asam-asam organik, asam amino dan senyawa gula disintesis sebagai respon langsung terhahadp menurunnya potensial air eksternal yang redah. Senyawa organik yang berperan mengatur osmotik pada tanaman glikopita tingkat tinggi adalah asam-asam organik dan senyawa-senyawa gula. Asam malat paling sering menyeimbangkan pengambilan kation yang berlebihan. Dalam tanaman halofita, oksalat adalah asam organik yang menyeimbangkan osmotik akibat kelebihan kation. Demikian juga pada beberapa tanaman lainnya, akumulasi sukrosa yang berkontribusi pada penyesuaian osmotik dan merupakan respon terhadap salinitas (Harjadi dan Yahya, 1988 dalam Sipayung, 2003)

  2. Kompartementasi dan sekresi garam

    Tanaman halofita biasanya dapat toleran terhadap garam karena mempunyai kemampuan mengatur konsentrasi garam dalam sitoplasma melalui transpor membran dan kompartementasi. Garam disimpan dalam vakuola, diakumulasi dalam organel-organel atau dieksresi ke luar tanaman. Pengeluaran garam pada permukaan daun akan membantu mempertahankan konsentrasi garam yang konstan dalam jaringan tanaman (Salisbury and Ross, 1995). Ada pula tanaman halofita yang mampu mengeluarkan garam dari kelenjar garam pada permukaan daun dan menyerap air secara higroskopis dari atmosfir (Mooney at al, 1980 dalam Salisbury and Ross, 1995).

    Banyak halofita dan beberapa glikofita telah mengambangkan struktur yang disebut glandula garam (salt glands) dari daun dan batang. Pada jenis-jenis mangrove biasanya tanaman menyerap air dengan kadar salinitas tinggi kemudian mengeluarkan atau mensekresikan garam tersebut keluar dari pohon. Secara khusus pohon mangrove yang dapat mensekresikan garam memiliki kelenjar garam di daun yang memungkinkan untuk mensekresi cairan Na+ dan Cl-. Beberapa contoh mangrove yang dapat mensekresikan garam adalah Aegiceras, Aegialitis, Avicennia, Sonneratia, Acanthus, dan Laguncularia.

  3. Integritas membran

    Sistem membran semi permeabel yang membungkus sel, organel dan kompartemen-kompartemen adalah struktur yang paling penting untuk mengatur kadar ion dalam sel. Lapisan terluar membran sel ataau plasmolemma memisahkan sitoplasma dan komponen metaboliknya dari larutan tanah salin yang secara kimiawi tidak cocok. Membran semi permeabel ini berfungsi menghalangi difusi bebas garam ke dalam sel tanaman, dan memberi kesempatan untuk berlangsungnya penyerapan aktif atas unsur-unsur hara essensial. Membran lainnya mengatur transpor ion dan solute lainnya dari sitoplasma dan vakuola atau organel-organel sel lainnya termasuk mitokondria dan kloroplas. Plasmolemma yang berhadapan langsung dengan tanah merupakan membran yang pertama kali menderita akibat pengaruh salinitas. Dengan demikian maka ketahanan relatif membran ini menjadi unsur penting lainnya dalam toleransi terhadap garam (Harjadi dan Yahya, 1988 dalam Sipayung, 2003).

IV. PENUTUP

Salinitas tanah merupakan masalah bagi pertumbuhan tanaman, karena dengan meningkatnya salinitas tanah kandungan garam-garam terlarut dalam tanaman meningkat sehingga menimbulkan stress salinitas. Tingkat stress yang dialami oleh tanaman berbeda-beda menurut kemampuan toleransi jenis tanaman tersebut. Demikian pula dengan tingkat kerusakan yang bisa timbul sangat tergantung pada tingkatan salinitas, jenis tanaman dan tingkatan pertumbuhannya. Umumnya pengaruh yang ditimbulkan oleh peningkatan salinitas tanah tidak berbentuk kerusakan secara langsung, akan tetapi lebih tampak pada terhambatnya pertumbuhan tanaman dan penurunan produktivitas tanaman, walaupun pada tingkat salinitas yang lebih parah dapat menyebabkan kematian tanaman.

Oleh karena itu perlu dilakukan usaha untuk mengatasi permasalahan salinitas tersebut, yang dimulai dari pengamatan dan pengukuran salinitas, penerapan strategi penurunan salinitas tanah dengan sistem pengairan dan pengolahan lahan yang tepat serta pemilihan jenis-jenis adaptif terhadap salinitas. Penggunaan jenis-jenis adaptif terhadap salinitas penting dilakukan karena jenis tersebut memiliki mekanisme toleransi terhadap salinitas baik secara morfologi maupun fisiologis yang mampu mempertahankan hidupnya terhadap cekaman salinitas. Penelitian genetika mungkin diperlukan untuk mendapatkan varietas-varietas yang tahan terhadap salinitas untuk meningkatkan produksi khususnya pada jenis-jenis tanaman pangan (pertanian).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Pertanian di Aceh Pasca Tsunami. http://www.dpi.nsw.gov.au/data/assets /pdf diakses tanggal 17 Mei 2008

Buckman, H.O. and N.C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Soegiman. Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

Crowder, L.,V. 1986. Genetika Tumbuhan. Terjemahan Lilik Kusdiarti. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Da Silva, E.C., R.J.M.C. Nogueira, F.P. de Araujo, N.F. de Melo and A.D. de Ajevedo Neto. 2008. Physiological Respon to Salt Stress in Young Umbu Plants. Journal Environmental and Experimental Botany. Elsevier. http:.//www.sciencedirect .com diakses tanggal 6 Mei 2008.

Delvian. 2007. Penggunaan Asam Humik dan Kultur Trapping Cendawan Mikorisa Arbuskula dari Ekosistem Dengan Salinitas Tinggi. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia. Vol. 9 No. 2, 2007, hal. 124-129. http://www.bdpunib.org/jipi /artikeljipi/2007/124.PDF diakses tanggal 9 Mei 2008.

Food and Agricultural Organization (FAO) of United Nations. 2005. Panduang Lapang FAO. 20 hal untuk diketahui tentang dampak air laut pada lahan pertanian di Propinsi NAD.

http://www.liv.ac.uk/~sd21/stress/salt.htm. Effects of Abiotic Stress on Plants. Diakses tanggal 19 Mei 2008.

Lewis, C.F. 1976. Potensi Genetik untuk Mengatasi Problema Cekaman Mineral Tanah. Diterjemahkan oleh W.B. Suwarno. http://willy.situshijau.co.id/wp-content/ uploads/2008/05/cekaman-mineral-tanah.pdf. Di akses tanggal 17 Mei 2008.

Loveless, A.R. 1991. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Gramedia. Jakarta.

Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid 3. Penerbit ITB. Bandung.

Sharifi, M., M. Ghorbanli and H. Ebrahimzadeh. 2007. Improved Growth of Salinity Stressedd Soybean after Inoculation with Salt Pre-treated Mycorrhizal Fungi. Journal of Plant Physiology. Elsevier. http:.//www.sciencedirect.com diakses tanggal 6 Februari 2008.

Sembiring, H. dan A. Gani. 2006. Adaptasi Varietas Padi Pada Tanah Terkena Tsunami. http://www.dpi.nsw.gov.au/data/assets/pdf_file/0009/199449/Adaptability-of-rice-on-tsunami-affected-soil.pdf

diakses tanggal 17 Mei 2008.

Shofiyanti, R. dan Wahyunto. 2006. Inderaja untuk Indetifikasi Kerusakan Lahan Akibat Tsunami dan Rehabilitasinya. Warta Pertanian dan Pengembangan Pertanian Vol. 28 No. 23, 2006. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor.

Sipayung, R. 2003. Stress Garam dan Mekanisme Toleransi Tanaman. Http://www.library.USU.ac.id/download/fp/bdp.rosita2.pdf. diakses pada tanggal 25 Maret 2008.

Slavish, P., M. Mcleod, N. Moore, T. Iskandar dan A. Rachman. 2006. Pengkajian Salinitas Tanah Secara Cepat di Daerah yang Terkena Dampak Tsunami Pengalaman di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Yildrim, E., A.G. Taylor and T.D. Spittler. 2006. Ameliorative Effects of Biological Treatments on Growth of Squash Plant Under Salt Stress. Scientia Horticulturae 111 (2006) 1-6. Elsevier. http://www.sciencedirect.com diakses tanggal 6 Mei 2008.

Yousfi, S., M.S. Wissal, H. Mahmoudi, C. Abdelly and M. Gharsally. 2007. Effect of Salt on Physiological Responses of Barley to Iron Deficiency. Journal of Plant Physiology and Biochemistry. Elsevier. http://www.sciencedirect.com diakses tanggal 13 Maret 2008.

Waskom, R. 2003. Diagnosing Salinity Problems. Adapted by K.E. Pearson. http://waterquality.montana.edu/docs/methane/waskomsummary.pdf. diakses pada tanggal 17 Mei 2008.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

STRUKTUR SEL TUMBUHAN DAN FUNGSINYA

Oleh : Hamdan Adma Adinugraha

I. SEL TUMBUHAN

Sel merupakan penyusun tubuh makhluk hidup sebagaimana telah dibuktikan melalui pengamatan mikroskopis oleh Mathias Schleiden (seorang ahli anatomi tumbuhan) dan Theodor Schwann (seorang ahli anatomi hewan) yang kemudian merumuskan bahwa : “sel merupakan kesatuan struktural kehidupan“.

Max Schultze dan Thomas Huxley menyatakan bahwa : “sel merupakan satu kesatuan fungsional kehidupan” yang menunjukkan bahwa aktivitas yang berlangsung dalam tubuh makhluk hidup tercermin dalam aktifitas dalam sel.

Rudolf Virchow (1858) mengemukakan bahwa sel berasal dari sel (omnis cellula e cellula) sehingga lahirlah teori : “sel merupakan kesatuan pertumbuhan“. Setelah ditemukan gen dalam kromosom yang ada di dalam nukleus maka lahirlah teori : “sel merupakan kesatuan heriditas dari makhluk hidup“. Walther Flemming (1843-1913) dan Eduard Strasburger (1875) mengamati pembelahan sel pada reproduksi sel sehingga memunculkan teori sel baru yaitu : “sel merupakan kesatuan reproduksi dari makhluk hidup“.

II. STRUKTUR SEL TUMBUHAN

Sel-sel tumbuhan dewasa berbeda satu dengan yang lain dalam ukuran, bentuk, struktur dan fungsinya. Walaupun demikian semua sel tumbuhan memiliki persamaan dalam beberapa segi sehingga dapat dibanyangkan suatu hipotesis sebuah sel yang segi-segi dasarnya ada dalam bentuk yang secara nisbi tidak termodifikasi. Sel hipotesis ini seperti disajikan pada gambar 1, terdiri atas tiga bagian : (1) Membran sel yang dibagian luarnya di selubungi oleh dinding sel, (2) selapis protoplasma yang melapisi dinding itu dan disebut protoplas, dan (3) rongga yang disebut vakuola sentral yang menempati bagian terbesar ruang di dalam sel.

Gambar 1. Struktur anatomi sel tumbuhan

  • Dinding sel

    Sel tumbuhan terdiri atas protoplas yang terselubungi oleh dinding sel. Dinding sel tumbuhan memiliki struktur yang kompleks dengan memiliki tiga bagian fundamental yang dapat dibedakan yaitu lamela tengah, dinding sel primer dan dinding sel sekunder. Semua sel memiliki lamela tengah dan dinding sel primer, sedangkan dinding sel sekunder hanya pada sel-sel tipe tertentu.

    Lamela tengah adalan suatu lapisan perekat antar sel yang menyekat dinding primer dua buah sel yang bersebelahan. Lapisan ini sebagian besar terdiri atas air dan zat-zat pectin yang bersifat koloid dan bersifat plastik (dapat mudah dibentuk) sehingga memungkinkan gerakaan antar sel dan penyesuaiannya yang diperlukan sebelum sel-sel dapat mencapai ukuran dan bentuk dewasa.

    Dinding sel primer adalah dinding sel sejati pertama yang dibentuk oleh sebuah sel baru. Walaupun air, zat-zat pektin dan protein banyak dijumpai di dalamnya, dinding sel primer terutama terdiri atas selulosa dan hemiselulosa. Pada kondisi tertentu dinding sel dapat menebal sehingga memenuhi ruang dalam sel. Zat-zat pembentuk dinding sel tambahan ini disebut dinding sel sekunder yang terdiri atas dua atau lebih lapisan yang terpidah-pisah. Sel yang memiliki dinding sel sekunder volumenya tidak dapat bertambah dengan pertumbuhan permukaan atau kembali ke kondisi awal/dinding sel primer. Penyusun dinding sel sekunder sebagian besar selulosa dan zat-zat lain khususnya lignin (zat kayu).

    Lignifikasi tidak terlalu mengganggu permeabilitas dinding sel terhadap air dan bahan-bahan terlarut, akan tetapi mengubah sifat fisik dan kimiawi dinding sel. Dinding sel yang terlignifikasi menjadi lebih keras dan lebih tahan terhadap tekanan dari pada dinding sel yang berselulosa.

  • Plasmodesmata

    Plasmodesamata adalah benang-benang protoplasmik halus yang terletak pada tempat-tempat tertentu pada dinding sel primer (yaitu pada noktah yang berupa bagian dinding sel yang tidak mengalami penebalan). Plasmodesamata dapat menembus pori-pori kecil pada dinding sel primer dan lamella tengah diantara sel-sel yang bedekatan sehingga protoplasma kedua sel dapat berhubungan. Plasmodesmata memudahkan proses transportasi bahan-bahan dari sebuah sel ke sel berikutnya tanpa harus melalui selaput-selaput hidup. Adanya plasmodesmata menunjukkan bahwa tumbuhan berperilaku lebih sebagai suatu organisme tunggal dari pada sebagai sekumpulan unit sel bebas.

  • Membran sel

    Membran sel atau membran plasma merupakan bagian sel yang paling luar yang membatasi isi sel dan sekitarnya. Membran ini tersusun dari dua lapisan yang terdiri dari fosfolipid (50%) dan protein/lipoprotein (50%). Membran plasma bersifat semipermeabel atau selektif permeabel yang berfungsi mengatur gerakan materi atau transportasi zat-zat terlarut masuk dan keluar dari sel.

    Gambar 2. Membran plasma

  • Nukleus

    Nukleus adalah inti sel yang memiliki membran inti dengan susunan molekul sama dengan membran sel yaitu berupa lipoprotein. Pori-pori pada membran inti memungkinkan hubungan antara nukleoplasma dan sitoplasma. Fungsi utama nukleus adalah sebagai pusat yang mengontrol kegiatan sel dan mengandung bahan-bahan yang menentukan sifat-sifat turun-temurun suatu organisma. Didalam inti sel tersusun atas tiga komponen yaitu :

    • Nukleoulus (anak inti) yang berfungsi untuk menyintesis berbagai macam molekul RNA (asam ribonukleat) yang digunakan dalam perakitan ribosom.
  • Nukleoplasma (cairan inti) merupakan cairan yang tersusun dari protein
    • Butiran kromatin yang terdapat pada nukleoplasma, yang dapat menebal menjadi struktur seperti benang yaitu kromosom yang mengandung DNA (asam deoksiribonukleat) yang berfungsi menyampaikan informasi genetik melalui sintesa protein.

  • Sitoplasma

    Sitoplasma merupakan cairan yang terdapat di dalam sel, kecuali di dalam inti sel dan organel sel. Sitoplasma bersifat koloid yaitu tidak padat dan tidak cair. Sitoplasma terdiri atas air yang di dalamnya terlarut banyak molekul kecil, ion dan protein. Bahan-bahan lain yang lazim terdapaat dalama sitoplasma adalah butir minyak dan berbagai macam kristal yang dalam banyak hal tersusun dari kalsium oksalat. Ukuran partikel terlarut adalah 0,001 – 0,1 mikron dan bersifat transparan.

    Sitoplasma terikat pada permukaan luarnya oleh sebuah selaput yang disebut plasmolema (selaput plasma) dan pada permukaan dalamnya, yang berbatasan dengan vaakuola sentral, oleh selaput lain yang disebut tonoplas (selaput vakuola). Plasmolema dan tonoplas sangat penting dalam fisiologi sel-sel karena sebagian besar mengontrol pertukaran bahan antara sitoplasma dan ruang diluar sitoplasma dan di dalam vakuola

    Koloid sitoplasma dapat mengalami perubahan dari fase sol ke fase gel atau sebaliknya. Fase sol jika konsentrasi air tinggi dan gel jika konsentrasi air rendah. Di dalam sitoplasma terkandung organel-organel sel atau daerah pada sitoplasma hidup yang teralokasi khusus untuk fungsi tertentu. Organel-organel tersebut adalah :

    • Retikulum endoplasma

      Retikulum endoplasma merupakan perluasan membran yang saling berhubungan yang membentuk saluran pipih atau lubang seperti tabung di dalam sitoplasma. Dalam pengamatan mikroskop, retikulum endoplasma nampak seperti saluran berkelok-kelok dan jala yang berongga-rongga. Saluran-saluran tersebut berfungsi membantu gerakan subsatansi-subsatansi dari satu bagainsel ke bagian sel lainnya. Dalam sel terdapat dua tipe retikulum endoplasma (RE) yaitu retikulum endoplasma kasar (REK) dan retikulum endoplasma halus (REH).

      REK dikatakan kasar karena permukaannya diselubungi oleh ribosom sehingga tampak seperti helaian panjang kertas pasir. Ribosom adalah tempat sintesa protein yang hasilnya akan melekat pada retikulum endoplasma dan biasanya ditujukan untuk luar sel. REH tidak ditempeli ribosom sehingga permukaannya nampak halus. REH memiliki enzim-enzim pada permukaannya yang berfungsi untuk sintesis lipid, glikogen dan persenyawaan steroid seperti kolesterol, gliserida dan hormon.

      Gambar 3. Organel sel tumbuhan : (1) Nukleus, (2) Pori-pori nuklear, (3). RE kasar, (4) RE halus, (5) Ribosom pada RE kasar, (6) Protein yang ditranspor, (7) Vesikel transpor, (8) Badan golgi, (9) Bagian cis dari badan golgi, (10) Bagian trans dari badan golgi dan (11) Cisternae badan golgi

    • Badan golgi.

      Badan golgi adalah sekelompok kantong (vesikula) pipih yang dikelilingi membran. Organel ini terdapat hampir di semua sel eukariotik. Badan golgi pada sel tumbuhan biasa disebut diktiosom. Badan golgi dibangun oleh membran yang berbentuk sisterna, tubulus dan vesikula. Sisterna mebentuk pembuluh halus (tubulus). Dari tubulus diepaskan kantong-kantong kecil yang berisi bahan-bahanyang diperlukan seperti enzim-enzim atau pembentuk dinding sel. Fungsi badan golgi dalam sel yaitu :

      • Membentuk kantong-kantong (vesikula) yang bersisi enzim-enzim dan bahan lain untuk sekresi, terutama pada sel-sel kelenjar.
      • Membentuk membran plasma
      • Membentuk dinding sel
      • Membentuk akrosom pada sel spermatozoa yang berisis enzim untuk memecah dinding sel telur dan pembentukan lisosom.
    • Ribosom

      Ribosom adalah organel kecil bergaris tengah 17 – 20 mikron yang tersusun oleh RNA ribosom dan protein. Ribosom terdapat pada semua sel hidup dan terdapat bebas dalam sitoplasma atau melekat pada REK. Tiap ribosom terdiri atas dua sub unit yang saling behubungan dalam suatu ikatan yang distabilkan oleh ion magnesium. Ribosom berfungsi untuk sintesis protein, dimana pada waktu sintesis protein, ribosom mengelompok membentuk poliribosom (polisom).

    • Peroksisom dan glioksisom

      Peroksisom adalah kantong-kantong yang memiliki membran tunggal. Peroksisom berisi berbagai enzim dan yang paling khas adalah enzim katalase. Fungsi enzim tersebut adalah mengkatalisis perombakan hydrogen peroksida (H2O2). Senyawa tersebut merupakan produk metabolisme sel yang berpotensi membahayakan sel. Peroksisom juga berperan dalam perubahan lemak menjadi karbohidrat.

      Glioksisom hanya terdapat pada sel tumbuhan mislnya pada lapisan aleuron biji padi-padian . aleuron merupakan bentuk dari protein atau kristal yang terdapat dlam vakuola. Glioksisom sering ditemukan pada jaringan penyimpan lemak dari biji yang berkecambah. Gioksisom berisi enzim pengubah lemak menjadi gula. Proses perubahan tersebut menghasilkan energi yang diperlukan dalam perkecambahan.

    • Mitokondria

      Mitokondria adalah organel sel penghasil energi sel. Mitokondria mempunyai dua lapisan membran, yaitu membran dalam dan membran luar. Membran luar memiliki permukaan halus, sedangkan membran dalam berlekuk-lekuk yang disebut kista. Mitokondria adalah struktur yang mampu bereproduksi sendiri. Pada pembelahan sel, semua kitokondria membelah diri, setenganhnya menuju ke sel anak yang satu dan setengahnya ke sela anak yang lain. Mitokondria mengandung enzim-enzim untuk fosforilasi oksidatif dan sistem transpor electron. Pada bagian membran dalam dihasilkan enzim pembuatn ATP dan protein yang diperlukan untuk pernafasan antar sel.

      Membran dalam mitokondria terbagi menjadi dua ruang yaitu :

      • Ruang intermembran yaitu ruangan diantara membran luar dan membran dalam. Membran luar dapat dilalui oleh semua molekul kecil tetapi tidak dapat dilalui protein dan molekul besar.
      • Matriks mitokondria : merupakan ruangan yang diselubungi oleh membran dalam. Didalam matriks tersebut tahapan metabolisme terjadi, mengandung enzim untuk siklus Krebs dan oksidasi asam lemak, mengandung banyak butiran protein dan DNA, ribosom dan beberapa jenis RNA. Mitokondria dapat menyintesis protein sendiri karena memiliki DNA, RNA dan ribosom.

    • Plastida

      Plastida adalah organel sitoplasma yang tersebar pada sel tumbuhan dan terlihat jelas di bawah mikroskop sederhana. Plastida sangat bervariasi ukuran dan bentuknya, pada sel-sel tumbuhan berbunga biasanya berbentuk piringan kecil bikonveks. Meskipun macam-macam plastida dihubungkan dengan fungsi-fungsi fisiologis yang tetap, namun macam tersebut diklasifikan berdasarkan warnanya yaitu :

      Gambar 4. Kloroplast dan klorofil

      • Leukoplast (tidak berwarna) : biasanya lazim terdapat dalam sel-sel yang tidak terkena cahaya matahari, misalnya pada jaringan yang terletak sangat dalam pada bagian tumbuhan baik di atas maupun di dalam tanah. Fungsinya adalah sebagai pusat sintesis dan penyimpanan makanan cadangan seperti pati.
      • Kloroplast yang mengandung klorofil yaitu suatu campuran pigmen yang memberi warna hijau pada tumbuhan. Fungsinya adalah menangkap energi cahaya yang diperlukan untuk proses potosintesis.
      • Kromoplast yang mengandung pigmen-pigmen lain yang menentukan timbulnya warna merah, jingga dan kuning pada bagian-bagian tumbuhan. Fungsinya masih belum jelas, tetapi berhubungan dengan kemasakan buah dari mulai hijau sampai dengan berwarna merah berhubungan dengan penurunan dan peningkatan jumlah kromoplast.

    • Vakuola sentral

      Vakuola adalah rongga besar di bagian dalam sel yang berisi cairan vakuola yang merupakan suatu larutan cair berbagai bahan organik dan anorganik yang kebanyakan adalah cadangan makanan atau hasil sampingan metabolisme. Vakuola diselubungi oleh selaput vakuola yang disebut tonoplas. Umumnya vakuola tidak berwarna, namun dapat berwarna kebiru-biruan atau kemerah-merahan karena adanya pigmen terlarut yang termasuk bahan kimia kelompok antosianin. Pada tumbuhan muda berisi banyak vakuola berukuran kecil, akan tetapi dengan semakin matangnya usia sel maka terbentuk vakuola yang semakin membesar. Vakuola berisi bahan-bahan antara lain : asam organik, asam amino, glukosa, gas, garam-garam kristal, alkaloid (nikotin, kafein, kinin, tein, teobromin, solanin dan lain-lain)

      Vakuola dijuluki sebagai “tangki” bahan simpanan atau eksresi. Kehadiran vakuola menjadikan sitoplasma terdorong ke pinggiran sel sehingga protoplas dekat dengan permukaan. Dengan demikian pertukaran bahan antara sebuah sel dengan sekelilingnya menjadi lebih efifisien. Vakuola sentral mempunyai fungsi rangka yang penting karena biasanya volume cairan yang dikandungnya cukup besar untuk menyebabkan dinding sel bagian luar akan meregang. Tekanan ke arah dalam pada cairan vakuola yang disebabkan oleh dinding sel yang meregang tadi menimbulkan ketegaran pada dinding sel, dan karena itu juga pada sel secara keseluruhan. Jika terjadi penghilangan cairan dalam vakuola lebih cepat dari pada penggantinya, tumbuhan akan mengalami kelayuan, daunnya berguguran dan batangnya merunduk. Kondisi ini akan pulih apabila vakuola segera kembali “mengembung” sebagai akibat penyerapan air oleh akar lebih cepat dari pada hilangnya air dari bagian-bagian lain tumbuhan itu.

BAHAN BACAAN

Loveless, A.R. 1991. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik. Jilid 1. PT Gramedia Pustaka. Jakarta.

Pratiwi, D.A, S. Maryati, Srikini, Suharno dan Bambang S. 2007. Biologi. Jilid 2. Penerbit Erlangga Jakarta.

Sumber lain : internet.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , . 3 Comments »

SIFAT-SIFAT TANAH DAN PROBLEMATIKA LAHAN TERDEGRADASI SERTA CARA MENGATASINYA

Oleh :

Hamdan Adma Adinugraha

I. PENDAHULUAN

Kehidupannya manusia senantiasa memiliki hubungan yang sangat erat dengan tanah. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa penciptaan manusia berasal dari saripati tanah, bahkan penciptaan manusia yang pertama kali dari tanah. Manusia hidup dan tinggal diatas tanah, bercocok tanam, makan dan minum apa yang tumbuh dan dikeluarkan dari dalam tanah, serta di akhir kehidupannya manusia akan kembali ke tanah melalui proses penguraian oleh mikroba tanah. Menurut Dokuchaev, tanah (soil) diartikan sebagai benda fisik yang memiliki dimensi tiga yaitu panjang, lebar dan dalam yang merupakan lapisan paling luar dari kulit bumi. Adapun pengertian tanah yang berhubungan dengan kehidupan manusia sering disebut lahan (land) yang artinya lingkungan fisik dan biotik yang berhubungan dengan daya dukungnya terhadap kehidupan dan kesejahteraan manusia.

Dalam fungsinya tanah sebagai penyangga kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, kita telah mengetahui adanya lahan potensial atau dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia dan tanah kritis yaitu lahan yang telah mengalami kerusakan secara fisik, kimia maupun biologis sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk produksi maupun sebagai media tata air (SK Menhut no. 52/Kpts-II/2001). Lahan kritis diartikan juga sebagai lahan terdegradasi yaitu talah mengalami penurunan kemampuan tanah secara aktual maupun potensial untuk memproduksi barang dan jasa (FAO, 1977). Arsyad (1989) menyamakan antara degradasi tanah dengan kerusakan tanah yaitu hilang atau menurunnya fungsi tanah sebagai matrik tempat akar tanaman berjangkar  dan air tanah tersimpan serta tempat unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Dilaporkan bahwa kondisi lahan kritis khususnya di 60 daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia saat ini mencapai 77,8 juta hektar, terdiri atas agak kritis 47,6 juta hektar, kritis 23,3 juta hektar, dan sangat kritis 6,8 juta hektar (http://landspatial.bappenas.go.id/ias.php?menu=berita2).

Seiring dengan semakin berkuranganya luas hutan di Indonesia yang menurut Barr (2007) bahwa tingkat kerusakan hutan Indonesia mencapai 1,6-2 juta hektar per tahun, menyebabkan luas lahan kritis semakin meningkat. Pada umumnya tanah–tanah lahan kering tropika basah di luar Pulau Jawa merupakan tanah yang rentan terhadap proses degradasi. Di Jawa sendiri dilaporkan bahwa 80% dari lahan hutan yang ada, telah dikonversi menjadi lahan pertanian (Smiet, 1990). Pembukaan dan konversi lahan merupakan faktor penyebab utama terjadinya degradasi lahan dan perubahan kondisi ekologi pada lahan tersebut (Zheng, 2006) yang selanjutnya menjadi penyebab terjadinya bencana alam banjir dan lonsor di berbagai tempat karena tanah tidak mampu lagi mengatur kelembaban, sehingga cepat mengering dan jenuh bila kondisi curah hujan berubah. Adanya degradasi hutan dan ekosistemnya maka dapat menyebabkan degradasi pada tanahnya karena dalam pembentukan dan perkembangannya, tanah sangat dipengaruhi oleh faktor iklim, organisme, bahan induk, topografi dan waktu.

II. LAHAN TERDEGRADASI DAN PERMASALAHANNYA

Secara umum degradasi tanah disebabkan oleh faktor alami dan akibat campur tangan manusia (anthropogenic factor). Menurut Barrow (1991) faktor alami penyebab degradasi tanah antara lain: kelerengan lahan, sifat tanah yang mudah rusak, curah hujan intensif, bencana alam dan lain-lain.  Faktor campur tangan manusia baik langsung maupun tidak langsung lebih mendominasi dibandingkan faktor alami, antara lain: perubahan populasi, marjinalisasi penduduk, kemiskinan, masalah kepemilikan lahan, ketidakstabilan politik, kondisi sosial dan ekonomi,dan pengembangan pertanian yang tidak tepat.  Oldeman (1994) menyatakan lima faktor penyebab degradasi tanah akibat  campur tangan manusia secara langsung, yaitu: deforestasi, overgrazing, aktivitas pertanian, eksploitasi berlebihan  dan aktivitas industri. Lal (1986) dan Zheng (2006) juga mengemukakan bahwa faktor penyebab tanah terdegradasi dan rendahnya produktivitas antara lain: deforestasi, mekanisasi dalam usaha tani, kebakaran, penggunaan bahan kimia pertanian dan  penanaman secara monokultur.

  1. Perladangaan berpindah (shifting cultivation)

    Sistem usaha tani “tebas dan bakar” atau perladangan berpindah merupakan salah satu kegiatan yang dapat menyebabkan degradasi tanah. Sistem ini biasa terjadi di daerah marjinal dengan tekanan populasi terhadap lahan cukup tinggi, kebutuhan ekonomi makin meningkat mengakibatkan masa bera makin singkat sangat merusak dan menyebabkan degradasi tanah dan lingkungan (Lal, 1986), yang ditandai dengan penurunan produktivitas karena memburuknya sifat fisik dan kimia tanah. Pembukaan lahan dengan cara ini memacu terjadinya erosi yang dapat menyebabkan tanah kehilangan lapisan atas (top soil) yang umumnya kaya dengan unsur hara. McAlister et al., (1998) melaporkan bahwa setelah 5 tahun sejak pembakaran maka konsentrasi unsur hara menurun sedangkan persentase Al tinggi sehingga dapat meracuni tanaman.

  2. Kegiatan pertambangan

    Kegiatan pertambangan menyebabkan degradasi tanah dan lahan yang sangat besar, karena umumnya dilakukan penggalian dengan menyingkirkan vegatasi dan seluruh lapisan tanah di atas deposit batubara. Aktifitas penambangan akan menghasilkan kubangan besar, menyebabkan berubahnya sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Hidayati (2000) menyatakan penimbunan permukaan tanah dengan tanah galian sumur tambang emas di Sukabumi mengakibatkan penurunan status hara, penurunan populasi mikroba dan artropoda tanah dan merubah iklim mikro. Menurut Teixeira et al., (2007) kegiatan pertambangan menyebabkan perubahan topografi, kondisi fisik, kandungan kimia tanah, biologis, vegetasi yang tumbuh dan dinamika air tanah. Selain itu menyebabkan hilangnya banyak spesies fauna dan memodifikasi habitatnya. Rusaknya siklus nutrisi dan perbaikan tanah merupakan konsekuensi dari berkurangnya bahan organik dan hiangnya nutrisi yang disebabkan oleh pelindian (leaching) dan erosi. Limbah industri dalam bentuk padat atau cair yang mengandung bahan kimia berbahaya juga menimbulkan polusi tanah dan meracuni tanaman.

  3. Kerusakan hutan akibat penebangan berlebihan

    Kegiatan penebangan yang dilakukan secara berlebihan (over cutting) dan terus menerus yang dilakukan oleh perusahaan atau illegal logging oleh masyarakat di sekitar hutan merupakan penyebab rusaknya hutan Indonesia. Deforestasi akan menyebabkan penurunan sifat-sifat tanah seperti dilaporkan oleh Handayani (1999) bahwa deforestrasi menyebabkan kemampuan tanah melepas N tersedia (amonium dan nitrat) menurun.   Tian (1998) menyatakan degradasi lahan akibat land clearing dan penggunaan untuk pertanaman secara terus-menerus selama 17 tahun memicu hilangnya biota tanah dan memburuknya sifat-sifat fisik dan kimia tanah. Nilai pH tanah yang tidak terdegradasi lebih tinggi dari pada tanah yang terdegradasi.  Begitu pula ditemukan bahwa dekomposisi daun dan pelepasan unsur hara lebih rendah pada tanah terdegradasi dari pada non terdegradasi.

  4. Kebakaran hutan

    Pengaruh kebakaran pada tanah dapat bersifat positip dan negatif. Pengaruh positif antara lain menaikkan pH tanah, meningkatkan kandungan amonium, P tersedia, Na+, K+, Mg2+, dapat membersihkan sisa-sisa tanaman dan membunuh hama/penyakit. Pengaruh negatifnya antara lain terjadi perubahan pada tanah akibat tingginya suhu (pemanasan) dan hilangnya biomassa tanah (Rein et al, 2008). Kebakaran menye-babkan hilangnya lapisan bahan organik (humus) yang sangat penting dalam penyediaan unsur hara bagi tanaman, penurunan kandungan C dan N dalam tanah (Neff et al., 2005). Hilangnya lapisan organik penutup tanah menyebabkan terbukanya tanah, rusaknya agregat tanah yang dapat memacu terbentuknya lubang-lubang pada tanah yang dapat menyebabakan kerusakan akar, ancaman terhadap stabilitas tanaman dan gangguan terhadap dinamika hidrologi serta meningkatkan erosi (Robichaud et al., 2006; Rein et al., 2008).

  5. Konversi hutan menjadi tegakan monokultur dan lahan pertanian

    Konversi hutan menjadi lahan yang dikelola secara monokultur atau menjadi lahan pertanian dapat menyebabkan terjadinya perubahan sifat-sifat fisik tanah antara lain kerusakan struktur tanah sebagai akibat menurunnya porositas tanah dan daya infiltrasi tanah (Utomo, 1989 dalam Priatna, 2001). Pengelolaan hutan dalam bentuk monokultur secara berlebihan dan terus menerus akan menghabiskan persediaan hara dalam beberapa rotasi dan menurunkan produktivitas lahan tersebut (Mackensen, 2000). Dilaporkan oleh Darwati (2007) bahwa adanya konversi hutan menjadi lahan pertanian menyebabkan penurunan kondisi biologis tanah. Demikian pula dengan pembukaan lahan gambut dan dikonversi menjadi lahan perkebunan atau pertanian banyak menimbulkan masalah dalam mereklamasi lahan tersebut bahkan menjadi sumber bahan bakar pada musim kemarau. Adanya reduksi seyawa pirit menyebabkan keasaman tanah meningkat dan mengganngu pertumbuhan tanaman.

  6. Pemadatan tanah (soil compaction)

    Penggunaan alat berat dalam kegiatan pemanenan hasil hutan untuk penyaradan atau pembukaan jalan menyebabkan rusaknya kondisi fisik lantai hutan, hilanganya bahan organik, pemadatan tanah serta hilangnya tumbuhan bawah. Terjadinya pemadatan tanah akibat kegiatan penyaradan meningkatkan bulk density tanah, penurunan permeabilitas dan kapasitas infiltrasi tanah sehingga tanah lebih mudah tererosi. Penyerapan air oleh akar berkurang dan air lebih banyak terkumpul pada permukaan tanah sehingga mudah hilang akibat proses evapotranspirasi. Penurunan kandungan N dalam tanah juga terjadi karena meningkatnya denitrifikasi sehingga penguapan N ke atmosfir meningkat (Makineci et al., 2008). Pemadatan tanah dapat pula terjadi karena adanya penggembalaan yang tidak terkendali (over grazing), walaupun akibat yang ditimbulkan lebih ringgan dari pada penggunaan alat berat.

  7. Salinitas tanah

    Masalah salinitas tanah umum terjadi di bidang pertanian di seluruh dunia karena menyebabkan penurunan produktivitas dan hasil panen terutama di daerah kering (arid-semi arid). Menurut Salisbury and Ross (1995) adanya penimbunan garam dalam tanah menyebabkan tumbuhan mengalami masalah dalam memperoleh air dari tanah dan mengatasi konsentrasi ion-ion natrium, karbonat dan klorida yang tinggi yang kemungkinan beracun. Masalah salinitas akan menimbulkan dampak pada lingkungan, sosial dan ekonomi yang akan dirasakan oleh masyarakat setempat atau lebih luas yang meliputi bidang pertanian, penurunan kualitas air, kerusakan infrastruktur masyarakat serta berkurangnya keanekaragaman sumberdaya hayati. Tumbuhan yang tidak memiliki toleransi terhadap kadar garam yang tinggi akan banyak yang mati bahkan dapat terancam kepunahan. Peningkatan salinitas dapat terjadi karena beberapa hal yaitu berkurangnya penutupan tanah, pengaruh penggenangan dan interusi air laut (daerah pesisir), pengairan dengan air yang kandungan garamnya tinggi, kandungan garam-garaman dalam bahan induk tanah yang tinggi, bencana alam tsunami yang membawa endapan lumpur/pasir dari laut dan faktor iklim (curah hujan).

    III. KARAKTERISTIK TANAH TERDEGRADASI

    Gejala degradasi lahan yang utama adalah erosi karena akan membahayakan segala bentuk penggunaan lahan. Gejala lain sebagai akibat dari erosi tanah yaitu penurunan potensi tanah untuk memasok air dan unsur hara pada tanaman (Notohadiprawiro, 1992). Ciri-ciri umum lahan kritis adalah gundul, gersang bahkan muncul batu-batuan di permukaan tanah, topografi lahan pada umumnya berbukit atau berlereng curam, tingkat produktivitas rendah yang ditandai oleh tingginya tingkat kemasaman tanah, kekahatan hara P, K, C dan Mg, rendahnya kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa dan kandungan bahan organik, tingginya kadar Al dan Mn yang dapat meracuni tanaman dan kepekaan tanah terhadap erosi. Selain itu, umumnya lahan kritis didominasi tumbuhan alang-alang, pH tanah relatif rendah (4,8-6,2), tanah mengalami leaching yang tinggi, banyak ditemukan rizoma yang menjadi hambatan mekanik dalam budidaya tanaman, terdapat reaksi alelopati dari akar rimpang alang-alang yang menyebabkan gangguan pertumbuhan pada lahan tersebut.

    Lima proses utama yang terjadi timbulnya tanah terdegradasi, yaitu: menurunnya kandungan bahan organik tanah, perpindahan liat, memburuknya struktur dan pemadatan tanah, erosi tanah, deplesi dan pencucian unsur hara (Lal, 1986).  Khusus untuk tanah-tanah tropika basah terdapat tiga proses penting adanya degradasi tanah, yaitu: (a) degradasi fisik berhubungan dengan memburuknya struktur tanah sehingga memicu pergerakan, pemadatan, aliran banjir berlebihan dan erosi dipercepat; (b) degradasi kimia akibat terganggunya siklus unsur hara, dan (c) degradasi biologi akibat menurunnya kualitas dan kuantitas bahan organik tanah, aktivitas biotik dan keragaman spesies fauna tanah (Lal, 1995).  Tipe degradasi tanah terbagi 2 macam, pertama berhubungan dengan displacement bahan tanah akibat dari erosi air (hilangnya top soil dan deformasi lereng) dan erosi angin (hilangnya top soil, deformasi lereng, dan overblowing).  Kedua berdasarkan degradasi kimia (hilangnya unsur hara/ bahan organik, salinisasi, acidifikasi, polusi) dan degradasi fisik. Adapun derajat tipe degradasi terbagi menjadi rendah sedang, kuat dan ekstrim (Oldeman, 1994). Dalam lampiran Peraturan Pemerintah No. 150/2000, dijelaskan beberapa kriteria tentang kerusakan tanah untuk produksi biomassa yaitu :

    Tabel 1. Kriteria baku kerusakan tanah di lahan kering akibat erosi air

    Tebal Tanah

    Ambang Kritis Erosi

    Metode Pengukuran

    Peralatan

    Ton/ha/th

    Mm/10 th

    < 20 cm

    >0,1- < 1 > 0,2 – < 1,3

    1. Gravimetrik

    2. Pengukuran

    langsung

    • timbangan tabung ukur, penera debit sungai dan peta DAS
    • Patok erosi

    20 – < 50 cm

    1 – < 3 1,3 – < 4,0

    50 – < 100 cm

    3 – < 7 4,0 – < 9,0

    100 – 150 cm

    7 – 9 9,0 – 12

    > 150 cm

    > 9 > 12

    Tabel 2. Kriteria baku kerusakan tanah di lahan kering

    No

    Parameter

    Ambang Kritis

    Metode Pengukuran

    Peralatan

    1

    Ketebalan solum < 20 cm Pengukuran langsung Meteran

    2

    Kebatuan permukaan > 40% Pengukuran langsung imbangan batu dan tanah dalam unit luasan Meteran, counter (line atau total)

    3

    Komposisi fraksi < 18% koloid;

    > 80% pasir kuarsitik

    Warna pasir, gravimetrik Tabung ukur, timbangan

    4

    Berat isi 1,4 g/cm3 Gravimetrik pada satuan volume Lilin, tabung ukur, ring sampler, timbangan analitik

    5

    Porositas total < 30%; > 70% Perhitungan berat isi (BI) dan berat jenis (BJ) Piknometer, timbangan analitik

    6

    Derajat pelulusan air < 0,7 cm/jam

    > 8,0 cm/jam

    Permeabilitas Ring sampler, double ring permeameter

    7

    pH (H2O) 1 : 2,5 < 4,5 ; > 8,5 Potensiometrik pH meter, pH stick skala 0,5 satuan

    8

    Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm Tahanan listrik EC meter

    9

    Redoks < 200 mV Tegangan listrik pH meter, elektroda platina

    10

    Mikroba < 102
    cfu/g tanah
    Plating technique Cawan petri, colony counter

    Tabel 3. Kriteria baku kerusakan tanah di lahan basah

    No

    Parameter

    Ambang Kritis

    Metode Pengukuran

    Peralatan

    1 Subsidensi gambut di atas pasir kuarsa > 35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut ≥3 m atau 10%/5 tahun untuk ketebalan < 3m Pengukura langsung Patok subsidensi
    2 Kedalaman lapisan berpirit dari permukaan tanah < 25 cm

    pH £ 2,5

    Reaksi oksidasi dan pengukuran langsung Cepuk plastik, H2O2, pH stick skala 0,5 satuan, meteran
    3 Kedalaman air tanah dangkal > 25 cm Pengukuran langsung Meteran
    4 Redoks untuk tanah berpirit > -100 mV Tegangan listrik pH meter, elektroda platina
    5 Redoks untuk gambut > 200 mV Tegangan listrik pH meter, elektroda platina
    6 pH (H2O) 1 : 2,5 < 4,0; > 7,0 Potensiometrik pH meter, pH stick skala 0,5 satuan
    7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm Tahanan istrik EC meter
    8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah Plating technique Cawan petri colony counter


    IV. PENINGKATAN PRODUKTIVITAS LAHAN TERDEGRADASI

    1. Aplikasi usaha tani konservasi

    Keadaan lahan kritis dapat diperbaiki melalui penerapan usaha tani konservasi (conservation farming) yaitu bentuk budidaya pertanian yang menekankan pemanfaatan lahan sekamsimal mungkin sepanjang tahun dengan memperhatikan kaidah-kaidan atau teknik konservasi. Tujuan utamanya adalah untuk mencegah kerusakan tanah, mempertahankan dan meningkatkan produktivitas maupun kesuburan tanahnya (Rukmana, 1995). Kunci keberhasilan budidaya tanaman pangan berkelanjutan antara lain: a) mengusahakan agar tanah tertutup tanaman sepanjang tahun guna melindungi tanah dari erosi dan pencucian b) mengembalikan sisa-sisa tanaman, kompos dan pupuk kandang ke dalam tanah guna memperbaiki/mempertahankan bahan organik tanah (Effendi et al, 1986). Kebiasaan petani dalam mengusahakan tanaman pangan sebagian besar limbah pertaniannya diangkut keluar untuk pakan ternak dan kayu bakar, dibakar pada saat persiapan tanah atau terbawa erosi, oleh karena itu makin lama kandungan bahan organik tanah makin menurun dan diikuti oleh peningkatan erosi tanah karena kurangnya tindakan konservasi tanah.

    Pengusahaan budidaya tanaman yang dapat menutup permukaan tanah sepanjang tahun merupakan tindakan konservasi vegetatif yang baik. Tindakan tersebut akan lebih baik lagi jika sisa tanaman juga dikembalikan sebagai tambahan bahan organik tanah. Bahan organik yang tinggi tidak hanya akan menambah nutrisi tanah setelah melapuk, tetapi juga dapat berperan sebagai penyanggah dari pupuk yang diberikan, mengikat air lebih baik dan meningkatkan daya infiltrasi tanah dari curah hujan yang jatuh akhirnya dapat mengurangi erosi dan aliran permukaan serta dapat meningkat produksi dan pendapatan petani. Toha dan Abdurahman (1991) mengemukakan bahwa pemberian mulsa lamtorogung 30 ton/ha dengan tanpa pupuk N dapat mengimbangi pemupukan 45 kg N/ha dengan tanpa mulsa.

    2. Penggunaan Amelioran

    Penggunaan pupuk organik (pupuk kandang atau pupuk hijau ) dan kapur dapat meningkatkan efisiensi pemakaian pupuk anorganik, karena kedua unsur tersebut dapat meningkatkan daya pegang air dan hara di tanah, sementara itu, residu pupuk diharapkan dapat mengurangi jumlah pemakaian pupuk anorganik pada tanam berikutnya. Hasil penelitian Arief dan Irman (1993) disimpulkan bahwa pemberian amelioran berupa kapur, pupuk kandang, daun gamal, jerami padi dan kiserit mampu meningkatkan hasil padi gogo dan kedelai di tanah podzolik merah kuning. Selain itu dapat dilakukan dengan penggunaan zeolit yang merupakan kelompok mineral aluminosilikat yang memiliki ciri-ciri seperti: mempunyai struktur yang khas, permukaan yang luas dan muatan negatif yang tinggi, mengandung kation (seperti: Na+, K+, Ca2+, Mg2+). Sehubungan dengan sifat-sifat tersebut bahan ini dapat digunakan sebagai: penjerap unsur atau senyawa yang tidak diinginkan seperti logam berat, pembawa unsur hara, meningkatkan kapasitas penyangga tanah, dapat menyimpan air. Oleh karena itu kelompok mineral ini mempunyai prospek untuk bahan remediasi lahan bekas tambang. Penggunaan zeolit dapat dilakukan dengan cara-cara ditebarkan langsung ke tanah sebagai bahan pembenah tanah, dicampur dengan pupuk untuk meningkatkan efisiensinya, sebagai campuran media tumbuh tanaman dan penjernih air kolam atau tambak ikan dengan cara ditebar.

    Cara lain yang bisa dilakukan untuk meningkatakan pertumbuhan tanaman dilahan ktritis yang mengalami kendala rehabilitasi lahan akibat kurangnya unsur hara, fiksasi P yang tinggi, pH sangat asam, toksisitas alumunium dan rendahnya bahan organik adalah dengan penggunaan mikorisa (Santoso dkk, 2006). Menurut Nuhamara (1994) sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah, berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim, meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin dan menjamin terselenggaranya proses biogeokemis.

    3. Sistem Budidaya Lorong

    Budidaya lorong adalah upaya pemanfaatan lahan dengan tanaman tahunan dan tanaman semusim. Tanaman semusim ditanam di lorong tanaman pagar yang umumnya berupa famili kacang-kacangan. Tanaman pagar berfungsi sebagai penahan erosi dan penghasil bahan organik yang dapat meningkatkan produktivitas lahan (IPB, 1987). Hasil penelitian Evenson dan Jost (1986) di Sitiung, Sumatera Barat, menunjukkan bahwa tanaman pagar jenis Albisia menghasilkan biomas dan nitrogen lebih banyak dibanding Kaliandra. Sedangkan Adiningsih dkk, (1986) mengemukakan bahwa di Kuamang Kuning, Jambi, Kalindra dan Lamtoro menghasilkan biomas lebih banyak daripada Flemengia congesta. Hasil penelitian Hakim et al., (1993) menunjukkan bahwa budidaya lorong dengan rumput raja (king grass) sebagai tanaman pagar dan rotasi jagung-kedelai atau jagung-jagung sebagai tanaman lorong, dapat disarankan pada lahan kritis. Rumput raja selain sebagai pupuk hijau juga dapat menekan laju erosi. Penanaman dengan jenis-jenis legum cover crop pada bawah tegakana diharapkan akan meningkatkan ketersediaan unsur hara melalui pengikatan nitrogen (nitrogen fixing) dan tambahan bahan organik tanah.

    4. Perlakuan Pertanian Organik

    Pertanian organik adalah suatu bentuk pertanian yang tidak menggunakan input sintesis seperti pestisida dan pupuk sehingga dapat menjaga keberlanjutan sistem dalam waktu yang tidak terhingga. Namun demikian, pertanian organik bukan sekedar pertanian tanpa bahan kimia. Pertanian organik menggunakan teknik-teknik seperti rotasi tanaman, jarak tanam yang mencukupi antar tanaman, penggabungan bahan organik ke dalam tanah dan penggunaan pengendalian biologi untuk menaikkan pertumbuhan tanaman yang optimum dan meminimumkan masalah hama. Pemakaian pestisida organik dipertimbangkan sebagai upaya terakhir dan digunakan dengan hemat. Keberhasilan pertanian organik tergantung pada program pengelolaan penggunaan input-input secara intensif dalam rangka menghasilkan produktivitas tanaman yang optimum. Pelaksanaan pengelolaan pertanian organik terdiri atas: (a)  penambahan bahan organik terdekomposisi, (b) rotasi tanaman untuk meningkatkan kesuburan dan mengurangi serangan hama dan penyakit, (c) memakai pupuk hijau dan tanaman penutup untuk memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan populasi organisme yang bermanfaat dan mengurangi erosi, (d) pengurangan pengolahan tanah (minimum tillage) untuk memperbaiki struktur tanah dan mengurangi erosi, (e) memakai tanaman penangkal (trap crops), jasad pengendali biologi dan teknik manipulasi habitat lainnya (seperti tumpang sari atau penggunaan pembatas) untuk mempertinggi mekanisme pengendalian biologi alami pada pertanian, dan (f)   pembuatan zona penyangga dan pembatas untuk menandai area penghasil organik dan membantu melindungi area tersebut dari bahan-bahan terlarang. Zona penyanga ditanami dengan tanaman pemecah angin (wind breaker) atau tanaman yang bukan untuk dipanen

    Dalam kegiatan penanaman huatan dilahan terdegradasi dapat dilakukan dengan penerapan teknik pemberian mulsa vertikal, yaitu limbah hutan berupa seresah, sisa-sisa kayu, cabang, ranting dan bahan organik lainnya dimasukkan ke dalam lubang yang dibuat berupa saluraan menurut konturnya sehingga akan terdekomposisi dan menjadi sumber unsur hara bagi tanaman (Pratiwi, 2006).

    5. Seleksi Tanaman Adaptif Pada Kondisi Cekaman Lingkungan

    Masalah mendasar dan tantangan berat yang harus dihadapi pada lahan kritis adalah bagaimana mengubah lahan tersebut menjadi lahan produktif dan bagaimana menghambat agar lahan kritis tidak semakin meluas. Karena itu berbagai teknik rehabilitasi dan sistem budidaya yang tepat telah banyak dicobakan pada lahan kritis tersebut. Upaya-upaya yang selama ini dilakukan membutuhkan biaya yang cukup besar dan memerlukan dukungan semua pihak serta perlu dukungan ahli ekofisiologi dan pemulia tanaman untuk menghasilkan varietas tanaman pangan yang adaptif pada lahan kritis yang memiliki karakteristik cekaman lingkungan tertentu (kesuburan rendah, ketersediaan air terbatas/berlebih dan lain-lain). Tanaman pangan adaptif yang dimaksud adalah tanaman yang di satu sisi mampu beradaptasi dan di sisi lain mampu berproduksi secara optimal sehingga dapat diharapkan sebagai penyedia pangan di masa mendatang

    Tabel 4. Jenis-jenis tanaman legum

    Nama latin Nama lokal Kegunaan Persyaratan tumbuh
    Ficus subcordata Wunut (J), bunut lengis (B), sipadi (M). Reklamasi lahan, tanaman pagar, penahan angin (windbreak) Elevasi 0-800 m dpl, tumbuh baik pada lahan kering dan lahan berlereng dengan curah hujan 900-2500 mm. Cocok pada berbagai jenis tanah, termasuk tanah calcareous (pH tinggi).
    Gliricidia sepium Gamal (J), Glirisidia (I) Tanaman penaung, tanaman pagar, pupuk hijau, reklamasi lahan Curah hujan 900-1500 mm dengan sekitar 5 bulan periode kering. Cocok pada berbagai jenis tanah dari masam sampai basa.
    Leucaena leucocephala Lamtoro gung, petai cina (I), kemlandingan (J) Tanaman serbaguna Elevasi 0-1.000 m dpl, curah hujan 650-1500 mm. Juga ditemukan pada daerah yang lebih kering atau lebih basah. Cocok pada tanah dengan pH>5 dan ditemukan juga pada tanah bergaram (salin).
    Sesbania grandiflora
    Turi (I, J, S),
    tuwi (B)
    Penahan angin, tiang panjat, tanaman penaung Elevasi 0-800 m dpl, curah hujan 800-4000 mm. Tumbuh pada berbagai jenis tanah, termasuk tanah tandus atau tanah sering tergenang. Toleran terhadap tanah bergaram dan tanah alkalin.
    Sesbania sesban Jayanti (S),
    Janti (J)
    Pupuk hijau, tanaman naungan Elevasi 0-2300 m dpl, curah hujan 500-2000 mm.Tumbuh pada berbagai jenis tanah mulai dari tanah berpasir sampai tanah liat. Toleran terhadap tanah salin dan tanah masam.
    Calliandra calothyrsus Kaliandra (I) Tanaman konservasi pada lembah, jurang (gully) dan lahan berlereng curam, tanaman pagar, pupuk hijau. Elevasi 200-1800 m dpl, curah hujan 700-4000 mm dengan 1-7 bulan kering. Cocok pada berbagai jenis tanah termasuk tanah masam berkesuburan rendah. Menyukai tanah dengan tekstur ringan (lempung-berpasir).

    Keterangan : I (Indonesia), J (Jawa) dan S (Sunda)

    III. PENUTUP

    Tanah memiliki kedudukan dan peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dalam kehidupannya manusia tidak bisa dipisahkan dari keberadaan tanah itu sendiri. Manusia secara langsung atau tidak langsung menjadi faktor yang sangat mempengaruhi kondisi tanah dan lingkungannnya. Kerusakan-kerusakan lingkungan tanah tidak lepas dari aktifitas manusia seperti pengolahan tanah pertanian, pembukaan hutan untuk perladangan, pemukiman, pertambangan, pembakaran hutan, penebangan secara tidak terkendali dan lain-lain. Oleh karena itu sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk mengupayakan pengelolaan lingkungan yang baik dan lestari. Dengan terciptanya kondisi lingkungan yang baik maka manusia akan merasakan manfaatnya. Tugas tersebut bukan hanya merupakan tugas pemerintah, rimbawan, ahli tanah dan lingkungan, namun merupakan tugas kita semua sebagai masyarakat dalam ekosistem secara luas. Usaha yang dilakukan untuk menjaga kondisi keseimbangan lingkungan dengan memperbaiki kerusakan yang ada serta tidak melakukan kerusakan lainnya merupakan tugas mulia sebagai perwujudan ibadah kepada Sang Pencipta alam semesta. Beberapa usaha yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kondisi lingkungan tanah yang telah mengalami degradasi antara lain adalah penerapan usaha tani konservasi, penerapan sistem pertanian organik, penggunaan bahan pembenah tanah (amelioran), melakukan daur ulang bahan organik menjadi pupuk organik, kombinasi tanaman kehutanan dan pertanian serta melakukan pemilihan jenis-jenis yang adaptif.

    DAFTAR PUSTAKA

    Arief, A dan Irman. 1993. Ameliorasi lahan kering masam untuk tanaman pangan. Proseding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Jakarta, Bogor 23-25 Agustus 1993

    Arsyad, S.  1989.  Konservasi tanah dan air.  IPB Press.  290 hal.

    Barr, C. 2007. Intensively Managed Forest Plantation in Indonesia. Overview of recent trend and current plans. Meeting of the Forest Dialogue. Pekanbaru March 7-8, 2007. Center for International Forestry Research (CIFOR)

    Barrow, C.J.  1991.  Land degradation.  Cambridge University Press.  295p.

    Darwati. 2007. Keragaman Dan Kelimpahan Mesofauna Tanah Pada Beberapa Tipe Penggunaan Lahan di Daerah Gunung Bawang. Thesis S2. Fakultas Kehutanan. Program Pasca Sarjana. UGM. Yogyakarta

    Effendi, S., G. Ismail dan G Wibawa, 1986. Pola usahatni konservasi pada lahan keirng podsolik merah kuning. Makalah disampaikan pada lokakarya usahatni konservasi di Lahan Alang-alang. Palembang 11 – 13 Pebruari 1986. 21p

    FAO.  1977.  FAO soil bulletin: assesing soil degradation.  UN.  Rome.  83p.

    Handayani, I.P.  1999.  Kuantitas dan variasi nitrogen-tersedia pada tanah setelah penebangan hutan.  J. Tanah Trop. 8:215-226

    Hidayati, N.  2000.  Degradasi lahan pasca penambangan emas dan upaya reklamasinya: kasus penambangan emas Jampang-Sukabumi. PROSIDING Konggres Nasional VII HITI: Pemanfaatan sumberdaya tanah sesuai dengan potensinya menuju keseimbangan lingkungan hidup dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat.  Bandung 2 – 4 Nopember 1999.  Buku I.  Himpunan Tanah Indonesia.   Hal: 283-294

    Institut Pertanian Bogor. 1987. Monitoring and improving agriline use in trans II area. Laporan Akhir Tim Studi Kapur (TSK IPB). Kerjasama PSP2DT Pusat dengan IPB.

    Lal, R.  1986.  Soil surface management in the tropics for intensive land use and high and sustained production.  Stewart, B.A.(editor).  Advances in soil science volume 5.  Springer-Verlag  New York Inc. p:1-110.

    _____. 1995.  Sustainable management of soil resources in the humid tropics.  United Nations University Press.  Tokyo.  146p

    Mackensen, J. 2000. Pengelolaan Unsur Hara pada Hutan Tanaman Industri (HTI) di Indonesia. Petunjuk praktis ke arah pengeloaan unsure hara terpadu. Terjemahan Leti Sundawati. Badan Kerjasama Teknis Jerman.

    Makineci, E., M. Demir, A. Comez and E. Yilmaz. 2008. Effect of timber skidding on chemical characteristics herbaceous cover, forest floor and top soil on skidroad of an Oak (Quercus petrea L.) forest. Journal of Terramechanics (2008). http: http://www.science direct.com.

    McAlister, J.J., B.J. Smith, and B. Sanchez.  1998.  Forest clearence: impact of landuse change on fertility status of soils from the Sao Francisco area of Niteroi, Brazil.  Land Degradation & Development.  9:425-440.

    Neff, J.C., J.W. Harden and G. Gleixner. 2005. Fire effects on soil organic content, composition, and nutrients in boreal interior Alaska. Canadian Journal of Forest Resources 35 : 2178-2187 (2005).

    Notohadiprawiro, T. 1992. Kerangka Evaluasi Kemampuan Lahan. Kuliah Pelatihan Inventarisasi dan Evaluasi Sumber Daya Lahan ke-2. Keluarga Mahasiswa Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian UGM. 20-22 Agustus 1992. Yogyakarta.

    Nuhamara, S.T., 1994. Peranan mikoriza untuk reklamasi lahan kritis. Program Pelatihan Biologi dan Bioteknologi Mikoriza

    Oldeman, L.R.  1994.  The global extent of soil degradation.  Greenland,D.J. and I. Szabolcs (editor).  Soil resilience and sustainable land use.  CAB International. p:99-118

    Pratiwi, 2006. Konservasi Tanah dan Air : Pemanfaatan Limbah Hutan Dalam Rehabilitasi Hutan dan Lahan Terdegradasi. Ekspose hasil penelitian di Padang tanggal 20 September 2006. Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Bogor

    Priatna, S.J. 2001. Indeks Erodibilitas dan Potensi Erosi pada Areal Kebun Kopi Rakyat dengn Umur dan Lereng Yang Berbeda. Jurnal Ilmmu-ilmu Pertanian Indonesia volume 3, No. 2 (2001), halaman 84-88.

    Rein, G., N. Cleaver, C. Ashton, P. Pironi and J.L. Torero. 2008. The Severity of smouldering peat fires and damage to the forest soil. Catena 70 (3) pp: 304-309, 2008

    Robichaud, P.R., T.R. Lillybridge and J.W. Wegenbrenner, 2006. Effects of post fire seeding and fertilizing on hill slope erosion in North-central Washington, USA. Catena 67 (2006) 56-57.

    Rukmana, R. 1995. Teknik Pengelolaan Lahan Berbukit dan Kritis. Penerbit Kanisius.

    Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid 3. Penerbit ITB. Bandung

    Santoso, E., M. Turjaman dan R.S.B. Irianto. 2006. Aplikasi Mikorisa untuk Meningkatkan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Terdegradasi. Ekspose Hasil Penelitian Konservasi dan Rehabilitasi Sumber Daya Hutan di Padang 20 september 2006.

    Smiet, A.C. 1990. Forest Ecology on Java: Conservation and usage in historical perspective. Journal of Forest Science 2:286-302

    Teixeira, S.T., W.J. de Melo and E.T. Silva. 2007. Plant nutrients in a degraded soil treted with water treatment sludge and cultivated with grasses and leguminous plants. Soil Biologi and Biochemistry 39 (2007) 1348-1354.

    Tian G.  1998.  Effect of soil degradation on leaf decomposition and nutrient release under humid tropical conditions.  Soil Science. 163(11):897-906

    Toha H.M. dan Abdurrahman, A. 1991. Penggunaan bahan organik pada pola tanam lahan kering di tanah vulkanik eutropept laboratotoirum lapangan uangaran, semarang. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian . Departemen Pertanian. 1991

    Zheng, Fen-li. 2006. Effect of Vegetation Changes on soil Erosion on the Loess Plateau. Pedospher 16(4): 420-427. Elsevier Limited and Science Press.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , . Komentar Dimatikan

TANAH VERTISOL:SEBARAN, PROBLEMATIKA DAN PENGELOLAANNYA

Oleh : Hamdan Adma Adinugraha

I. PENDAHULUAN

A. Definisi Tanah Vertisol

Nama vertisol untuk jenis tanah liat berwarna kelam-hitam yang bersifat fisik berat ini diusulkan oleh Soil survey staff USDA. Dalam Buckman dan Brady (1982), vertisols (berasal dari L. Vertere; verto; vertic atau pembalikan) adalah jenis tanah mineral yang mempunyai warna abu kehitaman, bertekstur liat dengan kandungan lempung lebih dari 30% pada horizon permukaan sampai kedalaman 50 cm yang didominasi jenis lempung montmorillonit sehingga dapat mengembang dan mengerut. Pada musim kering tanah ini membentuk retakan yang dalam dan lebar, sehingga sejumlah bahan yang ada di lapisan atas tanah dapat runtuh masuk ke dalam retakan, akan menimbulkan pembalikan sebagian massa tanah (invert). Jenis tanah ini dahulu dikenal dengan nama grumusol yang diusulkan oleh Oakes dan Y. Thorp (1950), berasal dari istilah gromus (gumpal keras) karena dapat membentuk gumpalan besar dan keras pada musim kering. Nama-nama lain untuk jenis tanah ini antara lain tanah margalite (Indonesia), regur (India), black cotton soils (USA), vlei soil (Afrika Selatan) dan gilgai (Australia).

B. Pembentukan Tanah Vertisol

Tanah vertisol umumnya terbentuk dari bahan sedimen yang mengandung mineral smektite dalam jumlah tinggi, di daerah datar, cekungan hingga berombak (Driesen dan Dudal, 1989 dalam Prasetyo, 2007). Bahan induknya terbatas pada tanah bertekstur halus atau terdiri atas bahan-bahan yang sudah mengalami pelapukan seperti batu kapur, batu napal, tuff, endapan aluvial dan abu vulkanik. Pembentukan tanah vertisol terjadi melalui dua proses utama, pertama adalah proses terakumulasinya mineral 2:1 (smektite) dan kedua adalah proses mengembang dan mengerut yang terjadi secara periodik hingga membentuk slickenside atau relief mikro gilgai (vanWambeke, 1992 dalam Prasetyo, 2007).

Dalam perkembangannya mineral 2:1 yang sangat dominan dan memegang peran penting pada tanah ini. Komposisi liat dari vertisol selalu didominasi oleh mineral 2:1, biasanya monmorilonit dan dalam jumlah sedikit sering dijumpai mineral liat lainnya seperti illith dan kalolinit (Ristori et al, 1992). Tanah ini sangat dipengaruhi oleh proses argillipedoturbation yaitu proses pencampuran tanah lapisan atas dan bawah yang diakaibatkan oleh kondisi basah dan kering yang disertai pembentukan rekahan-rekahan secara periodik (Fanning, 1989 dalam Prasetyo, 2007). Proses-proses tersebut menciptakan struktur tanah dan pola rekahan yang sangat spesifik. Ketika basah tanah menjadi sangat lekat dan plastis serta kedap air, tetaapi ketika kering tanag sangat keras dan masif atau membentuk pola prisma yang terpisahkan oleh rekahan (van Wambeke, 1992 dalam Prasetyo, 2007).

Faktor pembentuk tanah yang dominan untuk vertisol adalah iklim yang relatif agak kering sampai kering, dengan bulan-bulan kering yang jelas dan atau bahan induk tanah yang relatif kaya basa, seperti bahan volkan intermedier, batu gamping, napal, batu liat berkapur atau bahan alluvial. Selain itu topografi berupa dataran antar perbukitan yang tertutup, dalam arti, tidak terdapat aliran outlet keluar wilayah, dan basa-basa dari lingkungan sekitar yang lebih tinggi berakumulasi di dataran, menyebabkan terbentuknya tanah vertisols, landform-nya, dimaksudkan sebagai dataran volkan atau dataran antar perbukitan.

II. SEBARAN TANAH VERTISOL

A. Sebaran Tanah Vertisol di Dunia

Tanah vertisol meliputi sekitar 335 juta hektar di seluruh dunia. Diperkirakan sekitar 150 juta hektar merupakan lahan potensial untuk pertanian. Sebaran di daerah tropis sekitar 200 juta hektar atau sekitar 4% dari luas daratan dunia (Driessen dan Dudal, 1989 dalam Prasety, 2007). Sekitar 25% dari luasan tersebut merupakan lahan pertanian. Kebanyakan tanah vertisol ditemukan di daerah semi-arid yang memiliki rata-rata curah hujan 500-1000 mm. Namun demikian tanah ini juga ditemukan di daerah tropis basah seperti di Trinidad dimana curah hujannya 3000 mm/tahun. Sebaran tanah vertisol umumnya terdapat pada dataran rendah di beberapa negara antara lain di Sudan, India, Ethiopia, Australia, bagian barat daya USA (Texas), Uruguay, Paraguay dan Argentina. Tanah ini ditemukan di daearh adataran rendah (lembah) seperti dasar danau yang kering, endapan pinggiran sungai atau dataran rendah lainnya yang sering terendam.


Gambar 1. Sebaran tanah vertisol di dunia menurut FAO/UNESCO

B. Sebaran Tanah Vertisol di Indonesia

Di Indonesia jenis tanah ini terbentuk pada tempat-tempat yang tingginya tidak lebih dari 300 meter di atas muka laut dengan topografi agak bergelombang sampai berbukit, temperatur tahunan rata-rata 25o C dengan curah hujan kurang dari 2500 mm dan pergantian musim hujan dan kemarau nyata. Luas penyebaraan tanah vertisol di Indonesia mencapai sekitar 2,1 juta hektar (Subagyo et al, 2004 dalam Prasetyo, 2007) yang tersebar di Nusa Tenggara Timur (0.198 juta ha), Jawa Timur (0.96 juta ha) yang terdapat di Ngawi, Bojonegoro, Nusa Tenggara Barat (0.125 juta ha) seperti di Lombok, Sumbawa, Sulawesi Selatan (0.22 juta ha), Sulawesi Utara dan Jawa Tengah (0.4 juta ha). Di Nusa Tenggara Barat, sebaran tanah vertisol terdapat di bagian selatan Lombok yang kondisinya kering dan usaha budidaya tanaman sangat tergantung pada curah hujan. Sistem pertanian yang dilakukan di daerah tersebut adalah “gogorancah” (Ma’shum et al, 2008). Di Jawa Tengah antara lain terdapat di Kabupaten Wonogiri yang menerapkan sistem alley cropping atau penanaman menurut kontur (Paimin et al, 2002). Di Yogyakarta terdapat di Gunung Kidul (Ispandi, 2003).

III. KARAKETRISTIK TANAH VERTISOL

A. Morfologi Tanah


Gambar 2. Kenampakan tanah vertisol

Ciri-ciri tanah vertisol adalah sebagai berikut; (1)tekstur lempung dalam bentuk yang mencirikan, (2) tanpa horison eluvial dan iluvial, (3) struktur lapisan atau granuler, sering berbentuk seperti bunga kubis, dan lapisan bawah gumpal atau pejal, (4) mengandung kapur, (5) koefisien mengembang mengkerut tinggi jika dirubah kadar airnya, (6) seringkali mikrorelifnya gilgai (peninggian-peninggian setempat yang teratur, (7) konsistensi luar biasa plastis, (8) bahan induk berkapur atau basaltic dan berlempung sehingga kedap air, (9) kedalaman solum rata-rata 75 cm dan (10) warna tanah kelam/hitam atau chroma kecil.

B. Sifat Fisik Tanah

Tanah vertisols relatif sulit diolah karena memiliki konsistensi yang sangat kuat karena memiliki kandungan lempung yang tinggi yaitu lebih dari 30%, bahkan menurut Prasetyo (2007) kandungan liat pada tanah vertisol dapat lebih dari 60%. Tanah ini sangat keras pada waktu kering (musim kemarau) dan sangat plastik dan lengket ketika basah. Pengolahan dapat dilaksanakan di dalam musim kemarau baik secara manual maupun dengan menggunakan alat berat/traktor.


Gambar 3. Kelas tekstur tanah menurut USDA

Menurut Prasetyo (2007), berdasarkan bahan induknya tanah vertisol memiliki ciri-ciri yang berbeda-beda. Semua pedon yang diteliti mempunyai tekstur yang tergolong pada liat berat dengan kandungan fraksi liat > 60%. Tingginya kandungan faraksi lita berhubungan dangan bahan induk tanahnya. Bahan induk vertisol terdiri atas alluvium, napal, peridotit, batu kapur, volkan andesitik dan dasitik yang tergolong sudah lapuk serta endapan banjir dan lakustrin yang memang sudah halus ukuran butirannya.

Pedon yang berasal dari alluvium volkan tersusun atas asosiasi andesin dan amfibol dengan kandungan mineral lainnya seperti opak, hiperstin, augit, gelas volkan dan kuarsa. Komposisi mineral pasir tersebut sangat mencirikan bahan volkan yang bersifat andesitik. Nampak disini bahwa jumlah mineral mudah lapuk seperti gelas volkan, andesin, amfibol, augit dan hiperstin masih sangat tinggi >70%. Hal ini menunjukkan bahwa cadangan sumber hara pada pedon tersebut tergolong tinggi.

Pedon yang berasal dari kaki lereng didominasi mineral opak dan kuarsa. Adanya kuarsa mungkin berasal dari penutup (mantel) bahan induk yaitu batuan peridotit yang merupakan batuan ultabasis yang pada awalnya mengandung >30% mineral olivin sebagai mineral yang pali dulu habis karena proses pelapukan sehingga tidak dijumpaai lagi pada profil tanahnya. Ciri pada pedon ini cadangan sumber hara tergolong rendah.

Pedon yang berasal dari dataran aluvial banyak mengandung meneral pasir kuarsa, dalam jumlah sedikit mineral andesin, sanidin dan epidot. Pedon ini berkembang dari bahan induk alluvium batu gamping yang seharusnya didominasi oleh mineral kalsit dan dolomit sebagi mineral penysun utama batu gamping. Kalsit dan dolomit tergolong mudah lapuk sehingga sudah tidak ada dalam profil tanahnya. Cadangan hara pada pedon ini juga tergolong rendah.

Pedon yang berasal dari endapan lakustrin didominasi oleh kuarsa, dalam julah sedikit ditemukan mineral orthokls, sanidin dan andesin. Asosiasi mineral tersebut menun jukkan bahana endapan lakustrin berasal darai bahan volkan yang bersifat masam. Mineral epidot, amfibol, augit dan hiperstin masih ditemukaan da;am jumlah sangat sedikit. Cadangan hara pada pedon ini tergolong sedang.

Kandungan bahan organik umumnya antara 1,5-4%. Warna tanah dipengaruhi oleh jumlah humus dan kadar kapur yang terkandung dalam tanahnya. Solum tanah vertisol mulai dangkal-dalam, memiliki struktur tanah yang kurang baik, permeabilitas yang lambat, aerasi dan drainase yang kurang baik serta kesuburan fisiknya kurang baik (Supriyo, 2008). Struktur tanah yang kurang stabil menyebabkan tanah lebih peka terhadap erosi karena mudah hancur oleh energi pukulan air hujan. Struktur tanah yang kurang meloloskan air antara lain gumpal menyudut, prismatik, kolumnar bahkan tanpa struktur (pejal dan kersai) Sedangkan permeabilitas tanah yang lambat dapat menyebabkan tanah mudah jenuh air dan mudah terjadi aliran permukaan sehingga potensial terhadap bahaya erosi. Demikian juga tekstur tanah yang berat akan menyebabkan lambatnya permeabilitas (Notohadiprawiro, 2000).


Gambar 4. Struktur tanah dan pergerakan air (infiltrasi)

C. Sifat Kimia Tanah

Sifat-sifat kimia tanah verstisol umumnya memiliki kesuburan kimia yang tinggi, banyak mengandung Fe++, memiliki KPK yang relatif baik, kejenuhan basa relatif besar, kapasitas mengikat air (water holding capacity) yang tinggi dengan pH tanah 6-8,5 (Supriyo, 2008). Secara kimiawi tanah ini kaya akan hara karena mempunyai cadangan sumber hara yang tinggi dengan kapasitas tukar kation tinggi dan pH netral hingga alkali (Deckers et al, 2001). Akan tetapi tingkat kesuburannya dapat bervariasi menurut asal bahan induknya (Prasetyo, 2007).

Di lahan kering tanah Vertisol, hara Posfor dalam tanah sangat mudah terfiksasi oleh ion Ca menjadi senyawa fosfat atau apatit yang tidak tersedia bagi tanaman. Pupuk ZA yang bereaksi asam dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ketersediaan hara P dalam tanah sehinga kebutuhan tanaman akan hara Posfor lebih dapat terpenuhi (Feagley and Hossner, 1978 dalam Ispandi, 2003). Kadar Kalium yang tersedia umumnya rendah yaitu 0,2 me/100g (Munir, 1996). Kadar K yang rendah ini akibat adanya mineral lempung tipe 2:1 (monmorilonit yang mampu menjerap K di antara kisi-kisi mineral. Selain itu unsur hara K dalam tanah yang bersifat mobil, mudah tercuci atau mudah terangkut oleh aliran air ke tempat lain (Foth dan Ellis, 1988) perlu mendapat pertimbangan dalam melakukan pemupukan K pada tanaman ubikayu khususnya di lahan kering Vertisol. Dengan demikian perlu dicari teknologi untuk meningkatkan efisiensi pemupukan K sehingga diperoleh produksi tanaman pangan yang optimal. Zat lemas dan unsur-unsur hara mikro umumnya sering kahat seperti halnya fosfor (Ispandi, 2003; Sudadi et al, 2007).

Tabel 1. Beberapa sifat kimia dan fisika tanah vertisol ( Sudadi et al, 2007)

No

Macam analisis

Nilai

Satuan

Pengharkatan )*

1

2

3

4

5

6

7

8

pH H2O

pH KCl

Bahan organik

K total

K tersedia

P tersedia

N total

Nilai COLE

6,76

5,32

2,94

1,54

0,10

12,60

0,24

0,59

-

-

%

me/100g

me/100g

ppm

%

g/cm3

Netral

-

Rendah

Sangat tinggi

Sangat rendah

Rendah

Sedang

-

Keterangan : * = pengharkatan menurut Pusat Penelitian Tanah 1983

IV. PENGELOLAAN DAN PROBLEMATIKA TANAH VERTISOL

Berdasaarkan sebarannya, tanah vertisol dimanfaatkan untuk berbagai keperluan hidup manusian seperti ladang penggembalaan, pemukimaan, jalan raya dan lahan pertanian. Beberapa permasalahan yang sering dihadapi hubungannya dengan pemanfaatan jenis tanah ini adalah sebagai berikut :

  1. Pemanfaatan tanah vertisol sebagai lahan pertanian umumnya menghadapi permasalahan kesuburan yang cenderung rendah. Walaupun tanah ini memiliki kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa relatif tinggi namun kadar bahan organiknya rendah sering kurang dari 1% , kandungan unsur hara N, P dan K yang tersedia bagi tanaman umumnya rendah. Kadar K yang rendah terjadi karena unsur hara K terfiksasi dalam kisi-kisi mineral lempung tipe 2:1 (monmorilonit). Untuk mengatasinya dilakukan dengan pemberian mulsa dan pupuk kandang (Suteja, 1999). Mulsa berfungsi menjaga kelembaban tanah dan keadaan yang lembab/basah menyebabkan kalium yang terfiksasi oleh mineral 2:1 dibebaskan kembali ke dalam larutan tanah bersamaan dengan pelepasan kembali air yang teretensi oleh mineral K tersebut (Poerwowidodo, 1991). Pemberian mulsa dan pupuk kandang secara signifikan menyebabkan peningkatan k-tersedia dalam tanah verstisol (Sudadi et al, 2007).


  2. Hasil penelitian Ma’shum (2004) selama tiga tahun dapat diungkapkan bahwa alternatif paket pengelolaan vertisols tadah hujan daerah semi arid seperti Nusa Tenggara Barat untuk pertanaman padi selain sistem sawah dan Gogo Rancah adalah paket pengelolaan pertanaman padi dengan sistem bedeng “raised bed” yaitu tanah tak diolah atau diolah minimum dan tanah tak tergenang (aerobic unfloode soil) serta pengembalian residu tanaman. Untuk meningkatkan kemantapan agregat tanah serta memperbaiki struktur tanah antara lain dapat dilakukan penambahan bahan organik berupa kompos atau pupuk hijau yang ditanam pada akhir musim hujan yang sekaligus berfungsi sebagai soil conditioner yang mudah didapat.


    Gambar 5. Tanaman sukun yang dipadukan dengan tanaman pertanian di Gunung Kidul

    Hasil penelitian Triwilaida (2001) menunjukkan bahwa Penambahan bahan organik berupa kompos daun tanaman kayu putih pada tanah-tanah bertekstur berat (liat) dapat meningkatkan aerasi tanah melalui perbaikan struktur dan peningkatan porositas tanah. Dalam kegiatan penanaman huatan dilahan terdegradasi dapat dilakukan dengan penerapan teknik pemberian mulsa vertikal, yaitu limbah hutan berupa seresah, sisa-sisa kayu, cabang, ranting dan bahan organik lainnya dimasukkan ke dalam lubang yang dibuat berupa saluraan menurut konturnya sehingga akan terdekomposisi dan menjadi sumber unsur hara bagi tanaman (Pratiwi, 2006).

  3. Dalam pembangunan gedung dan jalan raya, Buckman dan Brady (1982) menjelaskan bahwa membangun di atas tanah yang mempunyai sifat kembang susut yang tinggi sering menyulitkan karena dapat menimbulkan masalah seperti : kerusakan pada lantai bangunan, keretakan pada dinding tembok, permukaan jalan bergelombang karena penurunan yang tidak merata. Gaya kembang susut yang terjadi akibat pergantian musim sering menimbulkan badan jalan jadi bergelombang, mudah retak, dan cepat rusak. Dalam bidang teknik sipil, khususnya tentang jalan raya, rekayasa yang dilakukan adalah dengan membuat inovasi badan jalan difondasi dengan beton, semen cor. Kemudian atasnya dilapisi dengan aspal supaya bisa terasa relatif empuk. Jika di atas tanah ini semen langsung tanpa adanya aspal sebagai pelapis, akan memberikan keugian ban mobil cepat halus (botak).

  4. Permasalahan tama pada tanah vertisols adalah sukarnya trafficability selama musim hujan dan tekanan kekeringan (Drought stress) maupun peretakan tanah yang intensif selama musim kemarau. Sebagai tambahan untuk pembatas yang berupa kebasahan tanah (Soil wetness), Vertisols juga mudah untuk mengalami erosi yang dipercepat. Semakin besar dan dalam bentuk retakan tanah, maka akan mudah diisi oleh organisme pemakan akar serta menghalangi proses absorpsi air dan nutrisi (Beek et al. 1980). Penimbunan garam mengakibatkan salinisasi dan sodikasi serta dapat pula menjadi faktor pembatas pada tanah Aridisols dan Vertisols (Gupta and Abrol, 1990).

  5. Struktur tanah vertisols kurang baik sehingga sangat peka kepada erosi oleh air dan longsor. Tanah mediteran (Alfisols) dan Grumusol (Vertisols) yang terbentuk dari batuan induk batu liat, napal, dan batu kapur dengan kandungan liat 2:1 (Montmorilonit) tinggi, sehingga pengelolaan lahan yang disertai oleh tindakan konservasi sangat diperlukan. Dalam sistem budidaya pada lahan berlereng >15% lebih diutamakan campuran tanaman semusim dengan tanaman tahunan atau sistem wanatani (agroforestry). Salah satu ciri lahan peka longsor adalah adanya rekahan tanah selebar >2 cm dan dalam >50 cm yang terjadi pada musim kemarau. Pada kedalaman tertentu dari tanah Podsolik atau Mediteran terdapat akumulasi liat (argilik) yang pada kondisi jenuh air dapat juga berfungsi sebagai bidang luncur pada kejadian longsor.


    Gambar 6. Rekahan-rekahan yang terjadi pada tanah vertisol

  6. Sifat vertik yang menyebabkan adanya lubang-lubang rekahan yang lebar dan dalam dapat mengakibatkan putusnya perakaran tanaman terutama yang berakar dangkal serta kurang stabilnya tanah. Dalam hal ini penanaman tanaman berakar dalam perlu dipertimbangkan karena umumnya sifat vertik dominan pada permukaan (lapisan atas). Jenis tanaman yang diutamakan adalah jenis-jenis legume yang mampu menyumbang bahan organik tanah serta mengikat N udara seperti lamtorogung, Glyricidae dan Acacia. Tanaman tersebut selain mampu tumbuh pada tanah-tanah kritis juga mampu mengambil unsur dari sub soil dan mengembalikannya dalam bentuk serasah sebagai penyumbang bahan organik tanah yang mempunyai multi fungsi dalam memperbaiki sifat tanah termasuk meningkatkan KTK tanah, mengikat unsur, meningkatkan aktivitas biologi serta memperbaiki sifat fisik tanah.

  7. Tanah vertisol umumnya terdapat di daerah-daerah yang beriklim kering, sehingga air merupakan permasalahan serius yang sering dihadapi. Pengelolaan air yang tepat perlu dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada lahan tersebut. Hidromeliorasi adalah tindakan orang dengan mengatur kealiran lahan yang mencakup irigasi, pengatusan (drainage) dan mengelola sifat hidrologi lahan. Irigasi adalah pemberian air secara buatan pada sebidang lahan untuk memenuhi kebutuhan pertanaman. Pengatusan dikerjakan orang untuk membuang kelebihan air dari sebidang lahan yang mengganggu atau menghalangi penggunaan lahan itu. Sifat hidrologi lahan adalah semua sifat hakiki lahan yang menentukan dinamika air, baik pada muka tanah maupun di dalam tubuh tanah (Notohadiprawiro et al, 1983).

    V. PENUTUP

    Tanah memiliki kedudukan dan peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Kehidupannya manusia, hewan dan tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan tanah itu sendiri. Makhluk hidup, tanah dan iklim marupakan tiga faktor yang tidak bisa diisahkan dan saling memengaruhi satu sama lain. Tanah vertisol adalah salah satu jenis tanah yang pembentukannya selain bahan induk, relief, waktu juga dipengaruhi oleh iklim dan makhluk hidup yang ada di atasnya. Sifat-sifat tanah vertisol sendiri akan memengaruhi jenis tanaman yang dapat tumbuh dan teknik pengelolaannya oleh manusia yang memanfaatkan tanah vertisol sebagai lahan pertanian. Pengelolaan yang tepat dapat meningkatkan kualitas lahan tersebut. pengelolaan tanah vertisol yang utama adalah pengaturan air, pengolahan lahan dan pemberian bahan organik.

    DAFTAR PUSTAKA

    Beek, K. J., Blokhuis, W. A., Driessen, P. M., Breeman, N. V., Brinkman, R., and Pons, L. J. 1980. Problem Soils : Their Reclamation and Management. ILRI Publication No. 27. ILRI. Wageningen. Nedherlands.

    Buckman, H.O. dan N.C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Prof. Dr. Soegiman. Penerbit Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

    Dixon, R. O. D., and Wheeler, C. T. 1983. Biochemical, Physiological and Environmental Aspect of Symbiotic Nitrogen Fixation. In: Gordon, J. C., and Wheeler, C. T. Ed. Biological Nitrogen Fixation in Forest Ecosystem: Foundations and Applications. Martinus Nijhoff. The Hague. 107-171.

    Foth N.O. and B.G. Ellis. 1988. Soil Fertility. John Wiley & Sons. New York – Singapore 212 pp.

    Gupta, R. K., and abrol, I, P. 1990. Salt Affected Soils: Their Reclamations and Managenent for Crop Production. Advances in Soil Science 11. 223-287

    Hubble G D. 1984. The cracking clay soils: definition, distribution, nature, genesis and use. In: J W McGarity, H E Hoult and H B So (eds), The properties and utilization of cracking clay soils. Reviews in Rural Science No. 5. University of New England, Armidale, NSW, Australia. pp. 3-13.

    Ispandi, A. 2003. Pemupukan P, K dan Waktu Pemberian Pupuk K pada Tanaman Ubikayu di Lahan Kering Vertisol. Jurnal Ilmu Pertanian Vol. 10, No. 2 halaman 35-50.

    Latham M. 1987. Soil management network – management of Vertisols under semi-arid conditions. In: IBSRAM highlights 1986. IBSRAM (International Board on Soil Research and Management) Bangkok, Thailand

    Ma’shum, M., Sukartono, Mahrup, I.G.M. Kusnarta, Halil, I. Yasin dan H. Idris. 2008. Aciar Cropping Model (ACM): An alternative Farming System on Rainfed Vertisols for Improving Farmer’s Income in Southern Lombok. Makalah Seminar Nasional Pulang Kampus Alumni Fakultas Pertanian universitas Mataram di Mataram 23-24 Februari 2008.

    Ma’shum, M. 2004. Pengelolaan Tanah dan Pertanaman untuk Keberlanjutan Produktivitas Lahan Tadah Hujan di Lombok Bagian Selatan. http://ntb.litbang.deptan.go.id/ diakses tanggal 19 Mei 2009.

    Notohadiprawiro, T., S. Soekodarmodjo, S. Wisnubroto, E. Sukana dan M. Dradjad. 1983. Pelaksanaan Irigasi Sebagai salah satu Unsur Hidromeliorasi Lahan. Makalah dalam diskusi panel UGM-DPU : Peningkatan Efisiensi Pemanfaatan Air Pada Tingkat Usaha Tani. Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta, 16-18 Maret 1983.

    Paimin, Triwilaida dan Wardojo. 2002. Upaya Peningkatan Produktivitas Lahan di Daerah Tangkapan Air Waduk Gadjah Mungkur, Wonogiri. Prosiding Ekspose BP2TPDAS IBB Surakarta. Wonogiri 1 Oktober 2002.

    Prasetyo, B.H. 2007. Perbedaan Sifat-Sifat Tanah Vertisol Dari Berbagai Bahan Induk. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. Volume 9, No. 1, Halaman 20-31.

    Pratiwi, 2006. Konservasi Tanah dan Air : Pemanfaatan Limbah Hutan Dalam Rehabilitasi Hutan dan Lahan Terdegradasi. Ekspose hasil penelitian di Padang tanggal 20 September 2006. Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Bogor

    Sudadi, Y.N. Hidayati dan Sumani. 2007. Ketersediaan K dan Hasi Kedelai (Glycine max L. Merril) Pada Tanah Vertisol Yang Diberi Mulsa dan Pupuk Kandang. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 7 No. 1, halaman 8-12.

    Supriyo, H. 2008. Catatan kuliah Kesuburan Tanah dan Pemupukan (KTB 617). Pasca Sarjana Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

OPTIMALISASI PERTUMBUHAN TANAMAN MELALUI PENGATURAN CAHAYA

Oleh :

Hamdan AA

I. PENDAHULUAN

Semua organisme tanaman dan binatang baik berukuran besar maupun jasad mikro serta manusia, sangat tergantung pada lingkungan habitatnya. Mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di dalam lingkungan yang cocok. Di dalamnya terjadi interaksi baik diantara sesama maupun dengan kelompok lainnya serta interaksi dengan lingkungannya sebagai satu kesatuan ekosistem yang besar. Secara umum faktor-faktor yang saling berinteraksi tersebut dapat digolongkan menjadi faktor alam (abiotik) dan biologi (biotik). Faktor abiotik meliputi faktor iklim (cahaya, suhu, curah hujan, kelembaban udara, angin) dan fator edafis dan fisiografi (tanah, geologi, topografi), sedangkan faktor biotik meliputi tumbuhan, hewan dan manusia.

Meskipun lingkungan merupakan sistem yang komplek dan sangat besar peranannya dalam kehidupan semua makhluk di permukaan bumi. Goldsworthy dan Fisher (1996) menjelaskan bahwa faktor iklim memegang peranan yang sangat penting dalam penentuan jenis dan kultivar tanaman yang dapat dibudidayakan dan dalam penentuan hasil akhir. Keberhasilan produksi tanaman mensyaratkan penggunaan sumber daya iklim, seperti penyinaran matahari, karbon dioksida dan air secara efisien. Akan tetapi kehidupan itu tidak sepenuhnya menggantungkan pada lingkungan hidupnya, antara lain karena banyak kehidupan yang mampu memodifikasi lingkungan sehingga cocok untuk hidupnya atau organisme itu berusaha sedemikian rupa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Lingkungan di suatu tempat bersifat dinamis, biasanya semakin menjauhi daerah tropika (semakin dekat ke kutub) dinamika lingkungan semakin besar. Daniel et al (1995) menyampaikan pembagian besar hutan-hutan dunia berdasarkan kondisi lingkungannya yaitu 1) hutan tropika daun lebar (50%), 2) hutan iklim sedang berdaun lebar (15%) dan 3) hutan conifer (35%). Di dalam kelas-kelas besar terdiri atas banyak unsure-unsur kecil yang mungkin sangat bervariasi karakteristik ekologisnya.

Untuk mengatasi lingkungan yang tidak menguntungkan pada tumbuhan antara lain ada beberapa cara : adaptasi, modifikasi, mutasi dan evolusi. Yang akhirnya semua proses tersebut menyebabkan adanya hubungan yang spesifik sehingga sering ditemukan organisme yang khas di lingkungan tertentu, yang kemudian disebut ekotipe. Dengan demikian lingkungan dan organisme mempunyai hubungan timbal balik.

    

II. MATAHARI SEBAGAI SUMBER ENERGI KEHIDUPAN DI BUMI

Matahari merupakan sumber energi bagi kehidupan di bumi. Dengan adanya tumbuhan energi cahaya matahari dirubah menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis. Energi kimia yang dihasilkan tanaman tersimpan dalam tumbuh tanaman yang akan dimanfaatkan oleh manusia dan hewan sebagai sumber energi baik secara langsung mauoun tidak langsung. Hasil fotosintesis berupa karbohidrat merupakan sumber energi bagi manusia dan hewan. Mikroorganisme ada yang bisa melakukan sintesis energi secara langsung dari cahaya matahari, namun sebagian besar memanfaatkan energi dari sisa-sisa bahan organik tanah. Perubahan energi cahaya matahari menjadi energi kimia oleh tumbuhan dan pemanfaatan energi kimia tersebut oleh makhluk hidup lainnya membentuk suatu rantai makanan dalam ekosistem.

Melalui proses fotosintesis dihasilkan O2 yang sangat penting untuk kehidupan seluruh manusia dan binatang (heterotrop) di bumi. Kesimbangan satbilitas karbon dioksida dan oksigen di atmosfir sangat tergantung pada proses fotosintesis yang terjadi pada tumbuhan autotrop baik di daratan maupun dilautan. Selain itu kita mengambil keuntungan dari simpanan energi fotosintesis pada abad geologi masa lampau seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam sebagai bahan bakar. Pemanfaatan serat kayu untuk berbagai kebutuhan hidup manusia, juga merupakan salah satu produk simpanan energi dari proses fotosintesis (Daniel et al, 1995).

Sinar matahari yang mencapai atmosfir bumi sebagian akan direfleksikan dan diabsorpsi oleh atmosfir itu sendiri yaitu oleh awan dan partikel padat yang ada di atmosfir dan sebagian diserap oleh vegetasi dan permukaan bumi. Pada saat mendung, radiasi matahari banyak yang ditahan oleh lapisan atmosfir sehingga bumi tetap hangat. Demikian pula pada malam hari suhu udara relatif sejuk karena efek pemanasan radiasi di lapisan awan ini (Utomo, 2006).

Bagi manusia, sinar matahari juga dapat memberikan manfaat secara langsung untuk memelihara kesehatan tubuh, antara lain (Anonim, 2008) :

1. dapat menghasilkan vitamin D pada waktu berkas sinar ultraviolet disaring di kulit maka sinar matahari mengubah simpanan kolesterol di kulit menjadi vitamin D.

2. mengurangi kolesterol dalam darah

3. dapat dijadikan penawar infeksi dan pembunuh bakteri

4. mengurangi gula darah dengan merangsang tubuh untuk mengubah gula darah (glukosa) menjadi gula yang tersimpan (glycogen)

5. meningkatkan kebugaran tubuh dan pernafasan.

6. berguna dalam pembentukan dan memperbaiki tulang, dengan meningkatkan penyerapan kalsium.

7. meningkatkan beberapa jenis kekebalan tubuh dengan meningkatkan jumlah sel darah putih terutama limfosit, yang digunakan untuk menyerang penyakit.

III. PERAN ENERGI CAHAYA MATAHARI BAGI TUMBUHAN

  1. Peran Energi Cahaya Pada Pertumbuhan Tanaman

    Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan interaksi antara faktor genetika, faktor internal yang mengitegrasikan berbagai sel, jeringan dan organ menjadi satu kesatuan struktural dan fungsional serta faktor lingkungan (Loveless, 1991). Faktor genetik tanaman meliputi umur tanaman, kondisi hormon dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan, sedangkan faktor lingkungan meliputi cahaya matahari, suhu dan kelembaban, ketersediaan unsur hara dan air serta kompetisi antar tanaman (Crowder, 1986 ; Loveless, 1991).

    Selain itu sistem budidaya suatu tanaman yang tepat melalui pemilihan varietas dan pengolahan lingkungan melalui perbaikan cara bercocok tanam seperti pengolahan tanah, pemupukan, pengairan dan sebagainya merupakan upaya-upaya yang dilakukan untuk mendapatkan pertumbuhan dan produksi tanaman secara optimal. Ton (2007) menjelaskan bahwa pengaturan jarak tanam, populasi dan pengolahan tanah berpengaruh terhadap parameter pertumbuhan dan produksi tanaman. Dengan pengaturan yang tepat maka persaingan atau kompetisi antar individu maupun populasi dapat diatur sehingga tidak menghambat pertumbuhan tanaman.

    Cahaya adalah faktor lingkungan yang diperlukan untuk mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Alasan utamanya karena cahaya menyebabkan fotosíntesis. Lagi pula, cahaya mempengaruhi perkembangan dengan cara menyebabkan pototrofisme. Ada banyak efek lain dari cahaya yang tidak berhubungan sama sekali dengan fotosíntesis; sebagian besar efek tersebut mengendalikan wujud tumbuhan artinya, perkembangan struktur atau morfogénesisnya (awal dari pembentukan wujudnya). Pengendalian morfogénesis oleh cahaya disebut fotomorfogenesis (Sallisbury and Loss, 1995). Intensitas cahaya yang optimal selama periode tumbuh penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pada tanaman tertentu jika menerima cahaya yang berlebihan maka akan berpengaruh terhadap pembentukan buah atau umbi. Sebaliknya berkurangnya radiasi sebagai akibat keawanan atau ternaung akan mengurangi laju pembentukan buah atau umbi dan menyebabkan pertumbuhan vegetatif berlebihan.

    Cahaya sebagai sumber energi dan terutama untuk vegetasi mempunyai tiga faktor penting, yaitu : intensitasnya, kualitasnya dan fotoperiodesitasnya. Kualitas cahaya berpengaruh berbeda terhadap proses-proses fisiologi tanaman. Tiap proses fisiologi  di dalam respon terhadap kualitas cahaya juga berbeda-beda sehingga di dalam menganalisis komposisi cahaya untuk tiap-tiap proses fisiologi tersebut sangat sukar. Tiap-tiap spesies tanaman juga mempunyai tanggapan yang berbeda-beda terhadap tiap kualitas cahaya. Fotoperiodisitas yaitu panjangnya penyinaran matahari pada siang hari. Biasanya dari daerah tropik semakin ke kutub panjang penyinaran matahari semakin panjang. Dalam hal ini dikenal adanya tanaman hari panjang, dan tanaman hari pendek. Beberapa kemungkinan beberapa spesies tanaman dapat tumbuh baik di dalam situasi cahaya yang penuh jika spesies tanaman tersebut memang membutuhkan cahaya yang tinggi dalam proses pertumbuhannya. Tanaman-tanaman yang kekurangan cahaya sebagai faktor lingkungan hidupnya maka gejala pertama yang tampak adalah defisiensi N. Selain itu pertumbuhan tanaman cenderung akan lambat (Ton, 2007).

  2. Peran Cahaya Pada Fotosíntesis

    Fotosintesis merupakan proses pemanfaatan energi matahari oleh tumbuhan hijau yang terjadi pada kloroplast. Dalam fotosintesis tiga macam reaksi yaitu reaksi fisik, reaksi fotokimia dan reaksi kimia dan enzim. Pada reaksi fisik, karbón dioksida ditransfer dari atmosfir ke dalam daun untuk dilarutkan dalam air. Pada reaksi fotokimia : 2-4% radiasi yang diteriam digunakan untuk fotosintesis, dengan panjang gelombang yang paling aktif pada bagian merah dan biru sfektrum warna. Pigmen klorofil menyerap lebih banyak cahaya terlihat pada warna biru (400-450 nanometer) dan merah (650-700 nanometer) dibandingkan hijau (500-600 nanometer) karena kedua gelombang cahaya tersebut paling efektif dalam fotosintesis. Energi diserap oleh klorofil a dan b (dan beberapa pigmen pembantu) dan diubah oleh molekul klorofil besar menjadi ikatan posfat bernergi tinggi dalam molekul adenosie triphosfat (ATP).

    Pada reaksi kimia dan enzim terjadi banyak tahapan reaksi kimia dengan penggunaan enzim (Daniel et al, 1995). ATP dan NADPH yang dihasilkan dalam proses fotosintesis memicu berbagai proses biokimia. Pada tumbuhan proses biokimia yang terpicu adalah siklus Calvin yang mengikat karbon dioksida untuk membentuk ribulosa (dan kemudian menjadi gula seperti glukosa). Reaksi ini disebut reaksi gelap karena tidak bergantung pada ada tidaknya cahaya sehingga dapat terjadi meskipun dalam keadaan gelap/tanpa cahaya (Wikipedia, 2008).

    Kecepatan fotosintesis dipengaruhi oleh faktor tanaman dan lingkungan. Faktor-faktor tanaman meliputi tahap pertumbuhan tanaman, perilaku stomata, umur daun, posisi pohon, posisi tajuk, perbedaan genotipe, jenis daun (daun lebar/daun jarum). Adapun faktor lingkungan yang mempengaruhi laju fotosintesis yaitu cahaya, suhu, konsentrasi CO2, ketersediaan air dan nutrisi tanaman (Daniel et al, 1995). Cahaya merupakan satu-satunya sumber energi yang diperlukan untuk fotosintesis tanaman yang menjadi dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan tanamaan tersebut. Intensitas cahaya yang sangat rendah akan sangat merugikan bagi tanaman. Oleh karena itu pengaturan intensitas cahaya harus dijadikan pertimbangan dalam konservasi jenis-jenis tertentu (Liu et al, 2006).

    Cahaya dalam hubungannya dengan proses pertumbuhan tanaman, selain berperan dalam fotosíntesis, cahaya juga mempengaruhi proses-proses fisiologi tanaman yang lain, misalnya sintesis khlorofil, prilaku stomata, transpirasi, respirasi dan translokasi. Dengan adanya cahaya tersebut maka kelangsungan proses-proses fisiologi tersebut dapat berjalan dengan baik.

  3. Peran Cahaya Pada Perkecambahan Biji

    Cahaya memiliki peranan yang sangat penting dalam perkecambahan biji pada beberapa jenis tanaman, baik dalam merangsang atau menghambat perkecambahan biji tersebut. Biji-biji yang untuk perkecambahannya sangat dipengaruhi cahaya dengan biji-biji yang light sensitif. Berdasarkan pengaruh cahaya terhadap perkecambahan biji, tanaman dapat dibedakan menjadi 1) tanaman yang perkecambahannya membutuhkan cahaya, 2) tanaman yang berkecambah dengan baik pada keadaan intensitas tinggi, 3) tanaman yang perkecambahannya terhambat dengan adanya cahaya dan 4) tanaman yang perkecambahannya sangat berkurang bila kena cahaya. Biji sebagian besar jenis yang memberikan respon terhadap cahaya adalah spesies liar an kaya akan lemak, sedangkan sebagian besar biji tanaman terbudidaya tidak memerlukan cahaya. Biji yang membutuhkan cahaya untuk berkecambah disebut fotodormansi (Salisbury and Ross, 1995).

    Hartman et al (1990) menyampaikan bahwa banyak jenis yang memerlukan cahaya untuk berkecambah atau biji fotodormansi. Biji tersebut akan gagal berkecambah tanpa adanya pencahayaan yang cukup. Hal tersebut dipengaruhi oleh mekanisme biokimia fitokrom dalam biji. Sebagian besar spesies di daerah temperate, tumbuhan pionir di daerah tropika humida seperti eucalyptus dan spathodea memiliki biji yang fotodormansi. Oleh karena itu untuk mengatasinya maka dalam perkecambahan benih tersebut perlu dilakukan pencahayaan. Menurut Utomo (2006) benih dengan dormansi cahaya akan berkecambah pada kondisi cahaya antara merah dan merah jauh (far red) seperti sinar matahari langsung. Di alam rangsangan cahaya untuk mengatasi dormansi cahaya selalu tersedia selama perkecambahan yaitu dengan mengecambahkan benih dalam media yang terkena cahaya.Adapun benih yang mengalami gangguan perkecambahan apabila dilakukan pada pencahyaan penuh misalnya pada jenis mahoni (Swietenia macrophylla). Benih akan lambat berkecambah, karena calon tunas tumbuh berputar/berpilin di dalam media sebagi respon terhadap penyinaran matahari (Alrasjid dan Mangsud, 1973 dalam Adinugraha, 1998).

  4. Peran Cahaya Pada Pembentukan Bunga dan Buah

    Pembungaan pada tanaman berkayu adalah proses sangat kompleks yang meliputi banyak tahapan perkembangan. Karena sifatnya yang perenial (berumur panjang/menahun), pohon harus berinteraksi dengan kondisi lingkungan setiap waktu sepanjang tahun, dan pembungaan biasanya dihubungkan dengan perubahan iklim. Proses pembungaan pada dasarnya merupakan interaksi dari pengaruh dua faktor besar, yaitu faktor eksternal (lingkungan) dan internal. Faktor eksternal (lingkungan) yang berpengaruh antara lain suhu, cahaya, kelembaban dan status unsur hara, sedangkan faktor internal yaitu fitohormon dan genetik (Daniel et al, 1995).

    Gambar 1. Rangkaian proses perkembangan bunga dan buah pada Eucalyptus pellita (Sumber : Ratnaningrum, 2001)

    Faktor cahaya berpengaruh terhadap pembungaan melalui dua cara yaitu intensitas cahaya dan fotoperiodisitas (panjang hari). Intensitas cahaya merupakan sumber energi bagi proses pembungaan. Pengurangan intensitas cahaya akan mengurangi inisiasi bunga pada banyak spesies pohon. Peningkatan intensitas cahaya harian meningkatkan produksi bunga (Lu, 2004). Manajemen kanopi untuk memaksimalkan penetrasi cahaya dapat memberikan efek yang serupa. Kuncup bunga lebih banyak terbentuk pada ujung cabang/ranting yang mendapatkan cahaya matahari penuh. Intensitas cahaya yang tinggi dapat memacu pembungaan pada pinus dengan cara meningkatkan suhu dalam primordia.


    Fotoperiodisitas merupakan perbandingan antara lamanya waktu siang dan malam hari. Di daerah tropis panjang siang dan malam hampir sama. Makin jauh dari equator (garis lintang besar), perbedaan antara panjang siang dan malam hari juga makin besar. Sehubungan dengan fotoperiodisitas tersebut, pada daerah-daerah 4 musim, tanaman dapat dibedakan menjadi: tanaman berhari pendek, tanaman berhari panjang, tanaman yang butuh hari pendek untuk mengawali pembungaannya, namun selanjutnya butuh hari panjang untuk melanjutkan proses pembungaan itu dan tanaman yang dapat berbunga setiap waktu.

    IV. PENGENDALIAN FAKTOR LINGKUNGAN PERTUMBUHAN

    A. Pengaturan Naungan di Persemaian

    Berdasarkan tingkat kebutuhan cahaya di dalam proses hidupnya, tanaman dapat dibagi menjadi 4 kelompok. Pertama adalah tanaman-tanaman yang dapat hidup baik pada keadaan yang penuh dengan sinar matahari (heliophytes). Kedua adalah tanaman-tanaman yang dapat hidup baik pada intensitas cahaya yang lebih rendah (sciophytes). Ketiga adalah tanaman yang dapat hidup baik, baik pada keadaan penuh sinar matahari maupun pada keadaan teduh (fakultatif sciophytes). Keempat adalah tanaman-tanaman yang dapat hidup baik tanpa sinar matahari yang intensif (obligativ sciophytes). Oleh karena itu untuk mendapatkan tingkat pertumbuhan bibit yang optimal terlebih dahulu harus diketahui karakter jenis tanaman yang dikembangkan, sehingga perlakuan naungan dapat diberikan dengan tepat.

    Banyak hasil penelitian menunjukkan pentingnya pengaturan naungan di persemaian karena sangat menentukan tingkat pertumbuhan bibit yang dikembangkan. Pengaturan naungan yang tepat memberikan intensitas cahaya sesuai dengan tingkat kebutuhan tanaman. Intensitas cahaya yang tinggi akan meningkatkan suhu tanaman yang dapat menyebabkan respirasi meningkat (Dwijseputro, 1996). Hasil penelitian Widiastuti dkk, 2004) menyebutkan dengan peningkatan intensitas cahaya dari 75% menjadi 100% menyebabkan berat kering tajuk menurun karena dengan tingginya respirasi maka hasil fotosintesis bersih yang tersimpan dalam jaringan berkurang. Sebaliknya semakin besar intensitas naungan maka semakin kecil intensitas cahaya yang diterima tanaman. Hal itu menyebabkan penurunan suhu tanaman sedangkan kelembabannya meningkat yang berakibat terganggunya fotosintesis tanaman (Kramer dan Kozlowski, 1960 dalam Widiastuti dkk, 2004). Naungan yang rapat menyebabkan berkurangnya enzym fotosintetik yang berfungsi sebagai katalisator dalam proses fiksasi CO2 serta menurunkan tingkat kompensasi cahaya (Cruz, 1997 dalam Djukri dan Purwoko, 2003).

    Jenis-jenis tanaman memberikan respon pertumbuhan yang berbeda terhadap intensitas naungan yang diberikan. Pada kegiatan pembibitan jambu mente (Anacardium oxcidentale) dengan teknik sambungan menunjukkan keberhasilan yang lebih baik pada intensitas cahaya rendah 27-30% dengan persen jadi mencapai 56,5-63%, sedangkan pada intensitas cahaya penuh (100%) keberhasilannya hanya mencapai 37,4% (Dhalimi, 2003). Hasil yang berbeda pada pembuatan sambungan jenis Eucalyptus pellita, keberhasilan sambungan yang diberi naungan paranet (55%) mencapai 83,33% sedangkan di tempat terbuka dapat mencapai 73,33% (Adinugraha, 2004). Pada jenis kayu bawang (Protium javanicum) diperoleh pertumbuhan bibit umur 3 bulan di persemaian meningkat pada pemberian naungan dengan kerapatan 55% (Siahaan dkk, 2001). Rosman dkk (2004) juga menyampaikan bahwa dengan naungan 50% dapat meningkatkan jumlah daun, lebar tajuk, lingkar batang, berat basah, berat kering pada tanaman nilam.

    Untuk pembibitan jenis-jenis tanaman dengan cara stek pucuk terdapat tiga faktor utama yang menentukan keberhasilannya yaitu kelembaban, cahaya dan suhu (Hartmann et al, 1990; Kijkar, 1991). Pada jenis-jenis Shorea diperlukan intensitas cahaya 5000 lux dan kelembaban udara 95% serta suhu tidak melebihi 30oC yang dapat ditempuh dengan cara sederhana dengan menggunakan sungkup plastik dan pemberian naungan paranet (Sakai et al, 2001).

    Selain mengurangi tingkat pertumbuhan, pemberian naungan yang berlebihan bahkan bisa menimbulkan serangan penyakit pada semai. Tingginya kelembaban udara dan rendahnya suhu akibat naungan yang rapat dapat memacu perkembangan jamur-jamur patogen yang merugikan tanaman. Misalnya penyakit rebah semai (damping off) pada jenis Pinus sp, penyakit embun tempung pada jenis-jenis Acacia mangium dan A. auriculiformis (Siregar, 2005). Hendromono (1998) juga melaporkan bahwa dengan penaungan sebesar 50% menyebabkan terbentuknya kutil pada jenis Shorea javanica yang intensitasnya (58%) dua kali lebih besar dari tanaman di tempat terbuka.

    Selanjutnya teknik pengendalian faktor-faktor lingkungan dapat dilakukan dengan penerapan teknologi tinggi. Di negara-negara maju seperti Jepang telah dikembangkan sistem pertanian dengan lingkungan yang terkontrol (Controlled Environment in Agriculture/CEA)), karena CEA dapat mempertahankan dan menstabilkan kondisi lingkungan sesuai kondisi optimal untuk pertumbuhan tanaman. Tujuannya adalah mengoptimalkan produksi tanaman, peningkatan kualitas panen, dan efisiensi produk. Tanaman dalam CEA dapat dipertahankan kondisi lingkungannya dengan menggunakan pencahayaan tambahan, supplai nutrisi, suhu maupun kelembaban yang dapat dikontrol menggunakan komputer. Media tumbuh yang mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dapat diformulasikan dan disesuaikan dengan karakter tanaman (Falah, 2008).

    B. Pengaturan Tajuk

    Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan interaksi antara faktor genetika dan lingkungan. Pengelolaan system budidaya suatau tanaman merupakan suatu sistem manipulasi yang dilakukan agar faktor genetika melalui pemilihan varietas dan pengolahan lingkungan melalui perbaikan cara bercocok tanam seperti pengolahan tanah, pemupukan, pengairan dan sebagainya merupakan upaya-upaya yang dilakukan untuk mendapatkan pertumbuhan dan produksi tanaman secara optimal.

    Di hutan yang merupakan sebuah ekosiste selalu terjadi interaksi antara satu populasi dengan populasi lain atau antara satu individu dengan individu lain adalah bersifat persaingan (kompetisi). Persaingan terjadi bila kedua individu mempunyai kebutuhan sarana pertumbuhan yang sama sedangkan lingkungan tidak menyediakan kebutuhan tersebut dalam jumlah yang cukup termasuk persaingan untuk mendapatkan cahya. Persaingan ini akan berakibat negatif atau menghambat pertumbuhan individu-individu yang terlibat. Persaingan dapat terjadi diantara sesama jenis atau antar spesies yang sama (intraspesific competition), dan dapat pula terjadi diantara jenis-jenis yang berbeda (interspesific competition). Persaingan sesama jenis pada umumnya terjadi lebih awal dan menimbulkan pengaruh yang lebih buruk dibandingkan persaingan yang terjadi antar jenis yang berbeda (Ton, 2007).

    Cahaya merupakan faktor penting yang menentukan proses regenerasi pada suatu hutan. Pohon-pohon yang mampu bersaing mendapakan cahaya penuh akan memiliki kepasitas pertumbuha tinggi yang lebih baik sehingga sering mendominasi pada lapisa tajuk paling atas. Jenis-jenis lainnya yang lebih toleran berada pada lapisan di bawahnya. Dalam Daniel et al (1995) disebutkan ada lima kelas pohon di hutan berdasarkan kemampuan persaingan dalam memperoleh cahaya. Pertama adalah pohon dominan yang berada pada lapisan tajuk paling atas sehingga mendapatkan cahaya penuh dari atas dan samping. Kedua adalah pohon kodominan yang tingginya lebih rendah dari pohon dominan, namun masih merupakan penyusun utama lapisan tajuk atas. Pohon ini menerima cahaya penuh dari atas, namun dari samping terhalangi pohon dominan. Ketiga adalah pohon intermediate yaitu tingginya lebih rendah lagi sehingga hanya memperoleh cahaya melalui lubang-lubang kanopi. Keempat adalah pohon tertekan yang hanya memperoleh cahaya dari lubang kanopi yang kebetulan terbuka. Biasanya pohon ini tumbuh lambat dan lemah. Kelima adalah pohon mati yaitu pohon yang tidak memperoleh cahaya sehingga tertekan dan mati.

    Oleh karena itu pengaturan cahaya sangat diperlukan untuk merangsang pertumbuhan anakan dan tanaman muda yang ada dibawah kanopi. Adanya pembukaan tajuk memberi peluang anakan dan tanaman muda dapat tumbuh lebih baik. Hasil penelitian Guo et al (2001) membuktikan bahwa pembukaan tajuk memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan anakan alam jenis cherrybark oak. Wang et al (2005) menyampaikan bahwa pendekatan sistem tebang habis dengan permudaan buatan (clearcut and planting) merupakan salah satu pendekatan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman yang tertekan. Adanya celah kanopi (gap) di hutan menyebabkan terjadinya perubahan kondisi fisik lingkungan yaitu peningkatan intensitas cahaya dan unsur hara dan suhu tanah serta penurunan kelembaban udara. Perubahan kondisi lingkungan tersebut meningkatkan kelimpahan jenis, memacu anakan dan sapling dapat tumbuh dan berkembang dengan baik (Clarke and Kerrigan, 2000). Dalam pengelolaan hutan alam produksi dengan SILIN, upaya pengaturan cahaya dengan pengurangan pohon-pohon pengganngu sangat diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pokok yang ditanam pada jalur-jalur tertentu (Tim SILIN, 2007).

    Pada lahan-lahan yang ditumbuhi alang-alang, pengaturan tajuk dengan penanaman jenis-jenis pohon di lahan tersebut sehingga mengurangi intensitas cahaya yang sampai ke lantai hutan sangat berguna untuk menekan pertumbuhan alang-alang. Purnomosidhi dan Rahayu (2008) menyebutkan bahwa dengan adanya naungan dari pohon-pohon sebesar 88% maka dalam waktu 2 bulan alang-alang sudah tidak dapat tumbuh lagi.

    V. PENUTUP

    Pertumbuhan tanaman secara keseluruhan merupakan hasil interaksi antara faktor internal tumbuhan itu sendiri dengan faktor lingkungannya. Oleh karena itu untuk mendapatkan tingkat pertumbuhan tanaman secara optimal, maka upaya yang dilakukan adalah pengendalian kedua faktor tersebut. Secara garis besar faktor lingkungan dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu biotik dan abiotik. Pengendalian faktor lingkungan biotik adalah dalam rangka mencegah agen-agen biotik dalam ekosistem berada dalam keseimbangan sehingga tidak menjadi agen perusak bagi tanaman yang dikembangkan. Pengendalian faktor lingkungan pertumbuhan (abiotik) yang meliputi faktor iklim dan edafik dalam rangka menjamin ketersediaan faktor-faktor tersebut untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang otimal. Ketiga hal tersebut selanjutnya menjadi satu kesatuan yang harus dilakukan dalam pengelolaan hutan yaitu genetik, lingkungan dan pengelolaan hama terpadu (integrated pest management/IPM).


    Gambar 2. Tiga faktor utama dalam pengelolaan hutan lestari

    Cahaya merupakan faktor lingkungan yang sangan penting bagi kelangsungan hidup tanaman pada semua tahapan kehidupannya, mulai dari perkecambahan, pertumbuhan vegetatif dari tingkat semai sampai pohon dewasa dan pertumbuhan reproduksinya. Cahaya memegang peran penting dalam proses-proses fisiologi tanaman yang dapat menjamin kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu pengaturan cahaya merupakan salah satu strategi yang harus dilakukan dalam pengembanga suatu jenis tanaman. Kegiatan tersebut diawali dengan pemilihan jenis-jenis yang unggul, teknik pembudidayaannya sesuai dengan data-data silvika yang telah diketahui melalui penelitian-penelitian yang telah dilakukan. Upaya manipulasi lingkungan pertumbuhan tanaman di tingkat persemaian dapat dilakukan dengan pemberian naungan dengan intensitas yang sesuai, sedangkan ditingkat lapangan dapat dilakukaan dengan penerapan teknik silvikultur yang tepat dalam pengaturan komposisi jenis dan jarak tanam/kerapatannya.

    Penerapan teknologi modern dalam manipulasi lingkungan merupakan suatu hal yang harus dipertimbangkan dalam rangka meningkatkan produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkannya. Cara tersebut antara lain dapat dilakukan dengan penerapan teknologi dalam pembibitan di rumah kaca yang terkontrol, penerapan teknik pencahayaan dalam perkecambahan benih dengan growth chamber dan lain-lain.

    DAFTAR PUSTAKA

    Anonim, 2008. Manfaat Sinar Matahari. http://kumpulan-artikel-menarik.blogspot.com
    /2008/02/manfaat- sinar -matahari.html. Diakses tanggal 26 April 2008.

    Adinugraha, H.A. 1998. Pengaruh Cara Penyemaian dan Variasi Penggunaan Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan Bibit Mahoni Daun Lebar (Swietenia macophylla King) di Persemaian. Skripsi S1 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tidak dipublikasikan.

    Adinugraha, H.A. dan S. Sunarti. 2004. Pengaruh Naungan dan Asal Scion Terhadap Keberhasilan Sambungan Eucalyptus pellita. Jurnal Penelitian Hutan tanaman Vol. 1 No. 1/2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.

    Clarke, P.J. and R.A. Kerrigan. 2000. Do Forest Gaps Influence the Population Structure and Species Composition of Mangrove Stands in Northern Australia. Biotropica 32 (4a) : 642-652.

    Crowder, L.,V. 1986. Genetika Tumbuhan. Terjemahan Lilik Kusdiarti. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

    Daniel, T.W., J.A. Helms and F.S. Baker. 1995. Prinsip-Prinsip Silvikultur. Edisi kedua. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

    Dhalimi, A. 2003. Pengaruh Intensitas Cahaya dan Jenis Pembalut Terhadap keberhasilan Sambung Pucuk Jambu Mente. Buletin TRO Volume XIV No. 1, 2003. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat . Bogor.

    Djukri dan B.S. Purwoko. 2003. Pengaruh Naungan Paranet Terhadap Toleransi Tanaman Talas (Colocassia esculentha (L) Schott). Jurnal Ilmu Pertanian Vol.10, No.2, 2003. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

    Dwijoseputro. 1996. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.

    Falah, M.A.F. 2008. Perspektif Pertanian dalam Lingkungan yang Terkontrol http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=148 . Diakses tanggal 2 Mei 2008.

    Goldsworthy, P.R. and N.M. Fisher. 1996. Fisologi Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

    Guo, Y., Shelton, M.G. and Lockhart, B.R. 2001. Effects of Light Regimes on the Growth of Cherrybark Oak Seedlings http://www.ingentaconnect.com /content/saf/fs/2001. diakses tanggal 1 April 2008.


    Hartman, H.T., D.E. Kester and F.T. Davies. 1990. Plant Propagation. Principle and Practice. Fifth edition. Prentice Hall. Inc. Englewood. Clifft. New Jersey.

    Hendromono. 1998. Pengaruh Bahan Tanaman dan Intensitas Naungan Terhadap Prosentase Pertumbuhan Akar Stek Shorea javanica K&V. Buletin Penelitian Hutan No. 616 : 1-11, 1998. Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.

    Kijkar, S. 1991. Producing Rooted Cuttings of Eucalyptus camaldulensis. Handbook. ASEAN-Canada Forest Tree Seed Centre Project. Muak-Lek, Saraburi Thailand.

    Liu, P., Y.S. Yang, G. Xu and C. Hao. 2006. Physiological response of rare and endangered seven-son-flower (Heptacodium miconioides) to light stress under habitat fragmentation. Environmental and Experimental Botany. Elsevier. Http:// http://www.science direct.com diakses tanggal 17 April 2008.

    Loveless, A.R. 1991. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. PT. Gramedia. Jakarta.

    Lu, T.J. 2004. The Effects of Different Amounts of Light Energy on Plant Growth and Development.

    Purnomosidhi, P. dan S. Rahayu. Pengendalian Alang-Alang dengan Pola Agroforestry. http://www.icraft.cgiar.org/sea.
    Diakses tanggal 1 Mei 2008.

    Romell, E. 2007. Artificial canopy gaps and the establishment of planted dipterocarp seedlings in Macaranga spp. dominated secondary tropical rain forests of Sabah, Borneo

    Rosman, R., Setyono dan H. Suhaeni. 2004. Pengaruh Naungan dan Pupuk Posfor Terhadap Perumbuhan Tanaman Nilam. Buletin TRO Volume XV No. 1, 2004. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat . Bogor

    Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid 3. Penerbit ITB. Bandung.

    Siahaan, H., N. Herdiana, T. Rahman S. Dan N. Sagala. 2006. Peningkatan Pertumbuhan Bibit Kayu Bawang (Protium javanicum Burm. F) Dengan Aplikasi Arang Kompos dan Naungan. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian Konservasi dan Rehabilitasi Sumber Daya Hutan di Padang 20 September 2006. Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Palembang.

    Sakai, C., A. Subiakto, I. Heriansyah dan H.S. Nuroinah. 2001. Rehabilitation of Degraded Forest with Shorea leprosula and S. selanica Cuttings. Workshop Proceedings : Rehabilitation of Degraded Tropical Forest Ecosystem, 2-4 November 1999. Bogor. Indonesia.

    Siregar, E.B.M. 2005. Penyakit Pada Tanaman Pinus. http://library.usu.ac.id/download/ fp/hutan-edi%20batara14.pdf. Diakses tanggal 26 April 2008.

    Tim SILIN. 2007. Modul Pembekalan Umum Silvikultur Intensif. Program Pelatihan Pengembangan Pendidikan Profesi Kehutanan Juli – Desember 2007 di PT Sari Bumi Kusuma. Kalimantan Barat

    Ton, B. 2007. Pengaruh Kerapatan Tanaman Terhadap Pertumbuhan Tanaman. http://mymathematicalromance.wordpress.com. Diakses tanggal 26 April 2008.

    Utomo, B. 2006a. Ekologi Benih. Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara. Medan. http://library.usu.ac.id/download/fp/06006997.pdf Diakses tanggal 26 April 2008.

    Utomo, B. 2006b. Hutan Sebagai Masyarakat Tumbuhan Hubungannya dengan Lingkungan. Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara. Medan

    Wanga, , , G.G., W.L. Bauerleb and B.T. Mudder. 2005. Effects of light acclimation on the photosynthesis, growth, and biomass allocation in American chestnut (Castanea dentata) seedlings. Http: http://www.science direct.com. diakses tanggal 4 Mei 2008.

    Ward, J.S. and T.E. Worthley. Forest Regeneration Handbook. http://www.canr.uconn. Edu/ces/forest. Diakses tanggal 1 Mei 2008.

    Widiastuti, L., Tohari dan E. Sulistyaningsih. 2004. Pengaruh Intensitas Cahaya dan Kadar Daminosida Terhadap Iklim Mikro dan Pertumbuhan Tanaman Krisan Dalam Pot. Jurnal Ilmu Pertanian Vol. 11, No. 2, 2004. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

    Wikipedia. 2008. Fotosintesis. http://id.wikipedia.org/wiki/Fotosintesis. Diakses tanggal 26 April 2008.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

Meranti (Shorea sp.)

Meranti termasuk marga shorea, famili Dipterocarpaceae. Jumlah spesiesnya mencapai 130 jenis dan sebagian besar tumbuh secara alami di hutan Kalimantan dan Sumatera. Dalam perdagangan dikenal jenis meranti kuning, meranti merah dan meranti putih.

  • Meranti kuning
    • Spesies yang termasuk meranti kuning adalah Shorea acuminatissima, S. faguetiana, S. gibbosa, S. hopeifolia dan S. multiflora. Daerah penyebaran di Indonesia meliputi Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Riau, dan seluruh Kalimantan. Tinggi pohon 20-60 m dengan diameter 150 cm dan batang bebas cabang 10-45 m. Bentuk batang silindris lurus dan berbanir 3-6.5 m dari permukaan tanah.
    • Meranti kuning tumbuh pada tanah latosol, podzolik merah kuning dan podzolik kuning. Dapat tumbuh sampai ketinggian 850 m pada curah hujan A dan B. Pohon ini mulai berbuah pada umur 6-9 tahun dan belum tentu berbuah setiap tahun karena sangat dipengaruhi oleh musim. Musim berbuahnya pada bulan Oktober-April.
  • Meranti merah
    • Ada 22 jenis spesies yang termasuk meranti merah antara lain Shorea acuminata, S. joharensis, S. lepidota, dan S. leprosula. Pohon ini banyak ditemukan di Sumatera, Kalimantan dan Maluku. Tinggi pohon mencapai 50 m diameter 100 cm dan batang bebas cabang 30 m. Pohon berbanir 2.5m dari permukaan tanah, kulit luar berwarna kelabu atau cokelat dengan tebal sekitar 5 mm.
    • Meranti merah tidak memerlukan tempat tumbuh yang khusus, hidup baik pada berbagai jenis tanah kecuali tanah liat yang berat. Tumbuh terpencar , bercampur dengan jenis yang lain pada ketinggian 0-800 m dpl. dengan tipe iklim A – D. Musim berbunga dan berbuah terjadi sepanjang tahun. Buah masak antara bulan Mei-Desember.
  • Meranti putih
    • Ada 6 spesies yang termasuk meranti putih yaitu : Shorea assamica, S. bracteolata, S. javanica, S. lamellata, S. ochracea, S. retionades dan S. virescens.  Daerah penyebarannya meliputi seluruh Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Bentuk batang lurus, silindris dan berbanir setinggi 3.5 m dari permukaan tanah. Tinggi pohon dapat mencapai 12-55 m dengan diameter 180 cm dan batang bebas cabang 8-37 m.
    • Meranti putih tumbuh pada ketinggian 0-700 m dpl. dengan tipe curah hujan A dan B. Tumbuh pada tanah kering, tanah yang kadang-kadang atau selalu tergenang, tanah liat, tanah berbatu-batu, dan tanah berpasir dengan topografi datar sampai miring.
    • Musim berbunga dan berbuah sangat dipengaruhi iklim. Pembungaan biasanya terjadi setelah melewati dekade iklim yang kering dan panas. Buah masak pada bulan Oktober-April.

    sumber: http://www.situshijau.co.id/tanaman/hutan/m.htm#meranti diunduh tgl 17 Januari 2013

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , . Komentar Dimatikan

Nama Tanaman Keras dan Nama Latin

  • Ajan Kelicung (Diospyros macrophylla)
  • Andalas (Morus macroura)
  • Baobab (Adansonia Digitata)
  • Bintaro (Cerbera manghas)
  • Eboni (Diospyros celebica)
  • Gaharu (Aquilaria moluccensis)
  • Gandaria (Bouea macrophylla)
  • Jati (Tectona grandis)
  • Karet (Hevea braziliensis)
  • Kapuk Randu (Ceiba pentandra)
  • Kenari (Canarium ovatum)
  • Kendal (Cordia bantamensis)
  • Kepuh (Sterculia foetida)
  • Kokoleceran (Vatica bantamensis)
  • Limpasu (Baccaurea lanceolata)
  • Maja (Aegle marmelos)
  • Majegau (Dysoxylum densiflorum)
  • Nagasari (Palaquium rostratum)
  • Trembesi (Albizia saman Sin. Samanea saman)

sumber: http://alamendah.wordpress.com/2011/02/20/daftar-nama-tumbuhan-tanaman-dan-nama-latin/ diunduh tgl 17 Januari 2013

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

Kehutanan Wonogiri

Departemen Kehutanan percepat rehabilitasi hutan dan pembangunan hutan tanaman
“Untuk mengimbangi laju degradasi sumber daya hutan yang rata-rata setiap tahun mencapai 2,1 juta ha, dan merehabilitasi hutan dan lahan kritis yang saat ini lebih dari 43 juta ha, maka Departemen Kehutanan telah melaksanakan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN), dengan target 3 juta hektar selama 5 tahun.”

Dalam Peraturan Menteri Kehutanan nomor SK. 154/Menhut-II/2004 tentang Restorasi Ekosistem di Kawasan Hutan Produksi. Melalui kebijakan ini dilakukan dengan pemberian ijin selama 55 tahun dalam bentuk Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK). Prosedur dan mekanisme pemberian ijin ini sama dengan prosedur dan mekanisme pemberian IUPHHK pada hutan alam, yang juga dengan pelelangan melalui penawaran.

Lahan yang dicatat oleh Dinas Lingkungan Hidup, Kebutuhan dan Pertambangan sebesar 43.826 ha lebih kecil dari tahun sebelumnya yang sebesar 53.868 ha yang tersebar di 25 Kecamatan. Dan Kecamatan Giriwoyo memiliki luas lahan kritis terbesar yaitu 6.277 ha.

Adapun Potensi serta fungsi hutan dapat kami sampaikan seperti tabel berikut :

POTENSI HUTAN BERDASARKAN FUNGSINYA
DI KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2007

No.

Fungsi Hutan

Luas ( ha )

Tahun 2005

Tahun 2006

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

  Hutan Lindung
  Hutan Produksi
  Hutan Suaka Cagar Alam
  Hutan Suaka Marga Satwa
  Hutan Wisata
  Hutan Tujuan Istimewa
  Lain-lain


  J u m l a h

3.928,40
16.402,5
-
-
-
7,1
559,6


 

20.897,60

3.928,40
16.402,5
--
-

7,1
559,6


 

20.897,60

 

HASIL PEMBINAAN DALAM PENGADAAN PEMBIBITAN OLEH PERHUTANI DI KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2007

N0. Jenis Tanaman Volume
1.
2.
3.
4 .
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
Pinus
Mahoni
Jati
Puspa

Accasia Decuren       Sonokeling
Jambu Mete
Johar
Duwet
Kayu Putih
Gmelina
Mimbo
MPTS
Pinus Plus
Salam
Mindi
Apokat
Suren
Damar
Pete
Sengon
Durian
Kenanga
Rambutan

484.830  Plances
50.603  Plances
362.080  Plances
195.851 Plances
52.180  Plances
64.161  Plances
55.142 Plances
201.992 Plances
25.978 Plances
14.406 Plances
50.421 Plances
104.120 Plances
14.115 Plances
0      Plances
8.400 Plances
34.368 Plances
20.000 Plances
28.447 Plances
2.000 Plances
90.405 Plances
501.000 Plances
48.916 Plances
10.520 Plances
10.000 Plances

PRODUKSI HASIL HUTAN PERUM PERHUTANI DI KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2007

Sumber : www.wonogirikab.go.id

No.

Jenis

Satuan

Produksi

Tahun 2007

Tahun 2006

1
2
3
4
5

  Kayu Pertukangan
Kayu Bakar
Getah Pinus
Daun kayu Putih
Minyak kayu Putih


Sm
Kg
Kg
Liter

2.10.28
4
1.131.019
22.519
179.000

2.891,13
78
1.600,611
22.352
166.662

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , , . Komentar Dimatikan

PENGELOLAAN VEGETASI DAN HASIL AIR

Disusun Oleh Suwandi

PENGELOLAAN VEGETASI DAN HASIL AIR.

  • Dalam kegiatan penatagunaan lahan yang bersifat merubah tipe atau jenis penutup lahan (Vegetasi) dalam suatu kawasan DAS, perlu dilakukan suatu tindakan yang dapat membuat suatu kawasan DAS stabil dan tidak adanya pengurangan/mempengaruhi besar kecilnya hasil air, serta dapat mempertahan penyebaran dan besarnya curah hujan serta memperkecil terjadinya perubahan iklim setempat.

PENGELOLAAN VEGETASI DAN ALIRAN AIR

  • Kegiatan pengelolaan vegetasi dan aliran air ini, baru bias dikatakan berpengaruh terhadap besar kecilnya aliran air, jika pengelolaan vegetasi didaerah hulu sungai tepat dalam pemilihan jenis vegetasi yang bisa meningkatkan hasil air.

  • Artinya tidak semua vegetasi hutan dapat menambah debit aliran air, karena ada beberapa vegetasi justru sebaliknya, malah mengurangi jumlah aliran air tahunannya. Sebab adanya Evapotranspirasi vegetasi yang besar, sehingga terjadi penyerapan air tanah yang cukup besar, selain faktor vegetasi ada juga faktor lain seperti; tanah, iklim dan persen luas DASnya.

PERUBAHAN VEGETASI & CURAH HUJAN

  • Pengaruh penebangan hutan terhadap curah hujan sangat kecil, masih banyak menimbulkan silang pendapat menyangkut daerah tropis. Menurut tulisan Asdak ini, yang perlu diingat ialah bahwa pengaruh hutan terhadap curah hujan hanya terjadi bersifat local.

  • Namun demikian bukan berarti kita boleh menebang kawasan yang berhutan seenaknya saja, sebelum melakukan penebangan hutan ada hal-hal yang harus dipertimbnagkan, bukan hanya tentang pengaruh besar kecilnya curah hujan saja, tapi faktor-faktor lain juga harus di perhatikan misalnya kelangsungan ekosistem yang ada di suatu kawasan berhutan yang akan di tebang itu, seperti hutan itu tempat tinggalnya binatang-binatang, burung-burung dan lain sebagainya.

  • Jika hutannya dibabat maka binatang-binatang dan burung-burung terancam tempat tinggal dan kelestariannya. Biasanya jika tempet tinggalnya habis maka binatang akan menyerobot ke pemukiman penduduk, secara tidak langsung penduduk yang didatangi oleh binatang-binatang tersebut akan terganggu ke tentramannya, dari itu tindakan penebangan hutan baik secara legal maupun illegal ada dampak negatifnya,

HUBUNGAN HUTAN, IKLIM DAN BANJIR

  • Pada alenia ini di jelaskan bahwa pengaruh hutan menambah curah hujan dan mengalirkan sumber-sumber air yang sebelumnya tidak ada menurut Asdak itu merupakan salah kaprah. Tapi kalau menurut saya apaun bukti-bukti penelitian bahwa hutan tidak begitu berpengaruh terhadap curah hujan, iklim dan aliran air, keberadaan hutan secara lestari itu tetap diperlukan.

HUTAN DAN BANJIR

  • Jika hutan memang tidak berpengaruh secara signifikan menurut para peneliti yang telah meneliti tentang pengaruh hutan terhadap banjir, tapi setidaknya hutan yang ada kiri-kanan atau dihulu sungai dapat mempengaruhi ke seimbangan air jika saat terjadi banjir. Karena pohon menyerap air atau menahan air melalu perakarannya, kemudian diuapkan maka dengan demikian terjadi suatu keseimbangan debit air (jika hutanya tumbuh secara Alami).

  • Terjadinya suatu banjir karena sungai sudah tidak sanggup lagi menampung debit air. Jadi intinya hutan itu masih ada perannya dalam kaitan dengan peristiwa banjir. Seperti berikut ini merupakan faktor keterkaitan hutan dengan banjir;
  • Keberadaan hutan mempertahankan tanah pada tempatnya.
  • Keberadaan hutan memeberikan tambahan kapasitas tampung air
  • Keberadaan hutan meningkatkan infiltrasi

HUTAN DAN KEKERINGAN

  • Kekeringan ialah keadaan suatu daerah yang kekurangan curah hujan atau kelembaban

  • Menurut Asdak nggak mungkin suatu daerah akan jadi gurun akibat penebangan hutan, tapi kalau menurut saya jadi gurun sih nggak tapi bias menjadi wilayah yang dipenuhi ilalang dan gersang, jika penebangan hutan dilakukan secara terus menerus dan menggunakan alat berat untuk memungut hasil hutan tersebut di suatu kawasan hutan, dan di ikuti dengan pembakaran serta pengembalaan ternak sehingga tanah menjadi padat dank eras maka wilayah itu akan mengalami kekeringan.

HUTAN DAN MATA AIR

  • Memang menurut hasil penelitian tidak ada pengaruhnya terhadap besar kecilnya mata air, tapi pada daerah-daerah tertentu hilangnya hutan justru menghilangkan mata air, memang jika berbicara masalah melestarikan hutan dan pengaruhnya terhadap mata air belum begitu nyata.

  • Jadi sekali lagi kalau menurut saya jika memang hasil penelitian menunjukan bahwa pengaruh hutan terhadap aliran air, curah hujan, banjir dan mata air tidak terlalu berpengaruh, bukan berarti pembalakan liar di biarkan begitu saja, karena masih banyak hal-hal yang penting dari hutan itu sendiri.

PROBLEMATIKA DAN PEMECAHAN PERMASALAHAN DI INDUSTRI KERAJINAN KAYU

Disusun Oleh Suwandi

  1. PENDAHULUAN

Usaha kerajinan kayu bagi masyarakat Indonesia terutama yang tinggal di daerah pariwisata umumnya merupakan usaha yang telah lama di tekuni dan merupakan usaha turun temurun dari generasi sebelumnya.

Sentra kerajinan kayu dari daerah kunjungan wisata yang menonjol antara lain dari Bali, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Irian Jaya dan Nusa Tenggara.

Barang-barang kerajinan kayu tersebut di minati oleh wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia, malahan ada beberapa produk mainan yang sudah diekspor ke manca negara, meskipun secara volume dan nilai ekspor belum dapat bersaing dengan volume dan nilai ekspor komoditi andalan yang lainnya baik di sektor migas maupun non migas.

Khususnya barang-barang ekspor Indonesia di luar non migas yang berbahan kayu lebih di dominasi oleh ekspor kayu lapis dan kayu olahan lainnya, oleh karena itu data ekspor yang khusus kerajinan kayu dari BPS belum dapat di observasi secara langsung, masih dikaitkan dengan ekspor barang-barang dari kayu laiinya.

Bahan baku kayu bagi industri kerajinan dapat di katakan hampir tidak mempunyai batasan jenis dan ukuran, bahkan limbah kayu pun dapat dimanfaatkan sehingga secara nasional pengembangan usaha ini akan memberikan dampak positif terhadap kenaikan efisiensi sumber daya alam Indonesia. Akan tetapi permasalahan tentang bahan baku ini tentang ketersediaannya atau pasokannya untuk memenuhi kebutuhan industri itu yang sedang bermasalah.

Industri perkayuan saat ini menghadapi kekurangan pasokan bahan baku yang berdampak negatif pada kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Hal ini tercermin dari menurunnya nilai PDB sektor kehutanan dari 6% pada tahun 1997 menjadi hanya sekitar 1% pada tahun 2004 (Departemen Kehutanan, 2006). Departemen Perindustrian (2005) juga mencatat. bahwa penurunan ekspor barang-barang kayu pada periode tahun 2001 – 2005 sebesar 1,7%. Meskipun demikian, industri perkayuan tetap menjadi salah satu komponen pilar industri dalam bangun industri Indonesia di masa mendatang. Hasil analisis pengukuran daya saing terhadap industri yang sudah berkembang di Indonesia oleh Departemen Perindustrian (2005), menempatkan industri kayu dan mebel termasuk kelompok industri padat sumber daya alam yang prospektif dan terus akan dikembangkan di masa mendatang serta berpotensi ekspor.

Propinsi Jawa Tengah merupakan salah satu pusat industri kayu nasional, terutama mebel. Dalam lima tahun terakhir, produk industri permebelan di Jawa Tengah untuk ekspor meningkat, tetapi pertumbuhannya menurun. Menurut Masyarakat Industri Kehutanan (MIK) Jawa Tengah (2006), kontribusi ekspor produk mebel pada tahun 2000 sebesar 34,33% dari total nilai ekspor produk kayu olahan dan mebel nasional dan pada tahun 2004 kontribusinya menurun menjadi 18,50%. Selanjutnya MIK (2006) menyatakan bahwa industri pengolahan kayu khususnya produk pengerjaan kayu (wood working) dan mebel di Jawa Tengah membutuhkan bahan baku kayu sebesar 2 juta 3 m /tahun (di luar kebutuhan industri primer).

  1. DAN PEMECAHANNYA
  1. Permasalahan

Ketersediaan akan bahan baku untuk memenuhi pasokan industri kerajinan kayu ini sudah mengalami penurunan, seperti yang sudah di jelaskan di bagian pendahuluan diatas. Seperti misalnya industri kayu di jawa tengah Kebutuhan bahan baku kayu tersebut sebenarnya dapat tercukupi dari potensi pasokan kayu yang ada di Jawa Tengah yang jumlahnya sekitar 2,5 juta m3 /tahun. Jumlah 3 3 pasokan tersebut berasal dari Perhutani sebesar 0,5 juta m3, dari hutan rakyat 1,0 juta m3 dan dari luar Jawa sebesar 1,5 juta m3. Namun kenyataannya, banyak industri yang kekurangan bahan baku kayu sehingga bekerja di bawah kapasitasnya bahkan ada yang menghentikan operasinya. Hal tersebut diduga karena adanya permasalahan dalam mekanisme pasokan dan permintaan atau sistem disribusi bahan baku kayu. Akses industri wood working dan mebel terhadap sumber bahan baku kayu lemah atau bahan baku kayu lebih banyak digunakan untuk produk lain. Pada kondisi demikian, sampai saat ini belum ada pengaturan sistem distribusi bahan baku kayu secara terpadu yang memberikan jaminan bahan baku untuk keberlangsungan industri. Di sisi lain, maraknya illegal logging (penebangan liar) dan illegal trading (perdagangan kayu liar) sampai saat ini belum dapat dituntaskan (MIK, 2006).

Meskipun menghadapi situasi sulitnya bahan baku, industri pengolahan kayu dan mebel Jawa Tengah masih dianggap prospektif. Sebagai gambaran, di kawasan Kedungsapur (Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, Salatiga dan Purwodadi), industri kayu termasuk di antara 19 proyek investasi yang dipromosikan dalam Semarang Business Forum (Sembiz) dengan total nilai investai Rp 3,2 triliun (Kompas, 2007a). Ini salah satu contoh industri yang bergerak di perkayuan yang mengalami kekurangan akan bahan baku, mungkin masih banyak industri-industri lain yang bergerak di perkayuan yang mengalami nasib yang sama.

Kekurangan akan bahan baku pada era sekarang tidak dapat dipungkiri, oleh pengusaha-pengusaha kerajinan kayu, banyak hal yang menyebabkan kurangnya bahan baku misalnya bahan baku tidak ada peningkatan tetapi yang meningkat malah industrinya maka bahan baku tidak bisa tercukupi untuk industri kerajinan kayu, memang kendala yang cukup serius dalam usaha perkayuan ini yaitu bahan baku ini.

Kurangnya pasokan bahan baku kayu bagi industri telah lama berlangsung di Indonesia sejak berkurangnya produksi kayu dari hutan alam. Sedangkan dua permasalahan umum lainnya yaitu kebijakan dan iklim usaha yang kurang kondusif serta kompetensi SDM, teknologi, kelembagaan dan sarana/prasarana. Untuk menyelesaikan permasalahan kekurangan bahan baku ini mungkin ditempuh atau mengkaji penyebab utama dari berkurangnya bahan baku kayu, dibawah ini sedikit di uraikan pemecahan permasalahan kekurangan bakan baku kayu yaitu :

  1. Diperlukan suatu institusi yang menjembatani antara sisi pasokan bahan baku kayu (BBK) dengan kebutuhannya oleh industri.
  2. Pembangunan Terminal Kayu Terpadu merupakan solusi yang tepat sebagai jembatan pemasok BBK dengan industri.
  3. Adanya perlindungan dari Pemerintah, baik dalam hal kepastian BBK, tenaga kerja dan pungutan.
  4. Adanya kesatuan langkah dari para stakeholder industri (pemerintah, pelaku usaha dan asosiasi).
  5. Pemerintah diharapkan mengeluarkan kebijakan yang tidak saling bertentangan satu sama lain, konsisten dan tidak mudah berubah ubah.
  6. Memanfaatkan jenis-jenis kayu kurang dikenal ( lesser used species) sebagai BBK alternatif (adanya diversifikasi BBK)
  7. Efisiensi penggunaan BBK melalui penggunaan mesin-mesin modern berpresisi tinggi dan pemanfaatan kayu limbah sebagai BBK
  8. Menyeimbangkan kapasitas industri dengan persediaan BBK a.l melalui gerakan penanaman, pengembangan hutan rakyat dengan mengefektifkan pola kemitraan dan Industri membina hubungan kerjasama dengan kelompok tani penghasil kayu.
  9. Percepatan program sertifikasi hutan negara dan hutan rakyat dengan kemudahan prosedur dan biaya lebih murah.

  1. KESIMPULAN

    1. Jika ingin membuka suatu usaha kerajinan kayu yang perlu dipertimbangkan dengan seksama adalah masalah pasokan akan bahan baku.
    2. Perlunya suatu wadah penyalur bahan baku kayu yang dapat memecahkan masalah kekurangan akan bahan baku ini sangatlah penting. Atau Terminal Kayu Terpadu (TKT)
    3. TKT akan kesulitan mendapatkan pasokan kayu karena saat ini terjadi defisit secara nasional maupun global sehingga pembangunannya saat ini tidak akan efektif.
    4. Anggaran untuk pembangunan sebaiknya digunakan untuk mendukung pembangunan hutan tanaman.
Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

PEMULIAAN TANAMAN PULAI (Alstonia spp)

Disusun Oleh Suwandi

PENDAHULUAN

Latar belakang

Pulai (Alstonia spp.) sebagai tanaman yang dapat dimanfaatkan berupa kulit, daun dan kayunya bisa dipergunakan untuk; mainan anak-anak, papan gambar, bingkai gambar, kerajinan seperti topeng, kotak korek api, perabotan rumah tangga dan batang korek api. Pohon ini mulai dikhawatirkan keberadaannya di hutan alam, karena banyak penembangan liar yang tidak terkendalikan oleh pihak-pihak yang berwenang, jenis ini termasuk dalam famili/suku Apocynaceae, di indonesia dan juga di beberapa negara seperti; Papua New Guinea, Philipina, india, Vietnam, Malaisya, Afrika Barat, Burma dan Thailand, dikenal jenis-jenis Alstonia scholaris, Alstonia angustiloba, Alstonia spatulata, Alstonia congensis, Alstonia actinophylla dan Alstonia angustifolia.

Hampir seluruh wilayah di indonesia di tumbuhi oleh jenis pulai (Alstonia sp),diantarnya adalah: Kalimantan (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengan dan Selatan), Sumatra (Sumtra Barat, Sumtra Utara, Sumtra Selatan, Aceh, Riau, Jambi dan Bengkulu), Jawa (Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengan dan Daerah Istimewa Yogyakarta).

Sedangkan di Pulau Dewata (Bali) pohon pulai dianggap keramat, sampai pohon pulai dibiarkan dipura mereka mencapai diameter 200 cm. Ada beberapa marga yang tumbuh di daerah darat/dataran tinggi, berbukit dengan ketinggian 1000 m dari permukaan laut. Diantaranya marga Alstonia scholaris, sebagaian dari masyarakat di indonesia menyebut marga scholaris yaitu Pulai gading, untuk sementara ini yang paling diminati masyarakat adalah pulai gading karena kayunya berserat halus dan tempat tumbuhnya pun tidak selalu di daerah rawa.

Melihat kondisi sebagaimana dalam uraian diatas, maka untuk mengembanhkan hutan tanaman pulai guna memenuhi permintaan kayu sebagai bahan baku industri, diperlukan penelitian yang berkesenambungan dari berbagai aspek terkait, seperti: Teknologi perbenihan Pemuliaan pohon, silvikultur intensif, Analisis Ekonomi/Pasar dan kajian sosial budaya.

Rumusan Masalah

Pengembangan hutan tanaman pulai sudah mendesak dilaksanakan karena permintaan kayu pulai untuk bahan baku industri sudah terbuka. Terkait dengan hal tersebut, maka pengadaan bibit dalam jumlah dan kualitas yang memadai sangat diperlukan. Sampai saat ini jenis pulai yang dapat di manfaatkan sangat terbatas, sehingga untuk mengembangkan hutan tanaman pulai di perlukan penelitian terpadu dari beberapa aspek terkait yang dilaksanakan secara berkesenambungan dengan menggunakan strategi yang tepat dan teknologi yang memadai.

Hipotesis

Penguasaan teknologi perbenihan, penerapan tehnik silvikultur yang baik dengan pendekatan sosial budaya serta pengembangan program Pemuliaan pohon induk untuk tanaman pulai yang tepat akan mempercepat terwujudnya tegakan pulai dengan kualitas yang baik sesuai dengan permintaan pasar.

Tujuan dan Sasaran

  1. Tujuan

    Mengembangkan hutan tanaman pulai untuk memenuhi permintaan kayu sebagai bahan baku industri.

  2. Sasaran
    1. Dikuasainya teknologi perbanyakan pulai dan peningkatan genetik pulai untuk pembangunan hutan tanaman dengan produktivitas tinggi.
    2. Didapatkanya informasi pasar dan nilai ekonomi serta aspek sosial budaya pengembangan hutan tanaman pulai.

RUANG LINGKUP

Penelitian dan pengembangan jenis pulai dilakukan untuk memenuhi permintaan bahan baku industri kayu dengan meningkatkan produktivitas tegakan yang dihasilkan. Keterbatasan sumber benih yang tersedia dan belum adanya sumber benih dengan kualitas yang tinggi, diperlukan serangkaian kegiatan yang mengacu pada potensi yang tersedia dan strategi yang dapat diterapkan untuk jenis pulai. Oleh kebutuhan bibit pulai sudah sangat mendesak, maka tahap awal yang harus dilaksanakan adalah penelitian teknologi perbanyakan secara generatif dan pembiakan vegetatif dari sumber benih yang sudah tersedia diikuti dengan konservasi ex-situ dan penelitian peningkatan produktivitas tanaman dengan memanfaatkan potensi genetik yang tersedia dihutan alam maupun tanaman.

Lingkup kegiatan penelitian yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan, dengan strategi menguasai teknologi perbanyakan dan peningkatan genetik pulai untuk membangun hutan tanaman dengan produktivitas tinggi. Dengan strategi tersebut diharapkan dapat memberikan arah dengan konsekuen yang jelas dan saling terkait.

  1. Teknologi Perbenihan

Penelitian dilakukan untuk mengantisipasi kebutuhan bibit dalam jangka pendek dengan menggunakan materi yang ada. Paket teknologi perbenihan yang akan dilakukan adalah dalam rangka perbanyakan bibit secara generatif dan vegetatif untuk memperoleh bibit dalam jumlah yang memadai dengan sumber benih yang terbatas, sehingga materi yang digunakan belum berasal dari pohon-pohon induk yang terseleksi akan tetapi menggunakan bahan yang telah tersedia.

Penguasaan teknik perbanyakan secara generatif dan vegetatif sangat diperlukan sebagai dasar dalam pelaksanaan kegiatan penelitian tanaman pulai. Mengingat jenis tanaman pulai masih sangat sedikit informasi hasil penelitian dari aspek tersebut. Teknik yang dilakukan dalam rangka perbanyakan tanaman pulai ini meliputi teknik perbanyakan yang tepat untuk pembangunan populasi dasar dalam bentuk konservasi genetik ex-situ, populasi pemuliaan atau populasi uji, populasi propagasi untuk perbanyakan produksi benih dan produksi dalam bentuk materi tanaman.

B. Silvikultur

    Uji silvikultur dilaksanakan untuk mendapatkan informasi teknik silvikultur terbaik dalam mengoptimalkan pertumbuhan pulai pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda. Penelitian ini meliputi uji jarak tanam, persiapan lahan, perlakuan pruning, teknik pemeliharaan serta kegiatan teknik silvikultur yang lainnya. Dalam jangka panjang informasi teknik silvikultur ini sangat berguna dalam rangka mengoptimalkan potensi genetik hasil pemuliaan pohon setelah benih unggul dihasilkan dari populasi pemuliaan pada setiap generasi.

    C. Pemuliaan pohon

    Kegiatan penelitian pemuliaan pohon dilaksanakan untuk mendapatkan individu-individu superior dan mengetahui potensi genetik yang dimiliki oleh individu penyusun uji genetik yang akan digunakan sebagai materi hutan tanaman melalui populasi propagasi. Hasil pemuliaan akan digunakan sebagai materi uji genetik pada tahap berikutnya untuk meningkatkan produktivitas hutan tanaman. Kegiatan penelitian yang akan dilaksanakan dari aspek pemuliaan pohon adalah sebagai berikut:

1. Populasi Propagasi

Populasi perbanyakan diutamakan akan menggunakan metode generatif dan vegetatif makro. Selain mudah diaplikasikan di lapangan juga memberikan hasil yang baik serta dapat dilakukan dengan teknologi sederhana terutama untuk konsumsi pengembangan program hutan rakyat. Pada tahap awal, populasi propagasi dibangun dari materi yang belum diseleksi untuk dapat menghasilkan bibit dalam jumlah yang berlimpah dalam waktu yang relatif singkat tanpa bergantung lagi kepada hutan alam. Penguasaan teknik perbanyakan generatif dan vegetatif serta pembangunan populasi perbanyakan juga akan digunakan pada saat telah diperoleh benih hasil seleksi melalui uji keturunan pada tahap selanjutnya.

Populasi perbanyakan dapat dibangun dalam bentuk kebun benih semai, kebun benih klon atau kebun pangkas. Untuk dapat menghasilkan hal tersebut diperlukan teknik-teknik perbanyakan yang tepat sesuai peruntukannya agar dapat menghasilkan bibit dan tanaman yang baik.

2. Keragaman Genetik (pendekatan DNA)

Marker atau penanda molekuler merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk mendeteksi individu secara genetik (finger printing) untuk mengontrol kualitas tanaman, menentukan hubungan kekerabatan, analisis parental dan mengetahui tingkat perpindahan gen (gen flow) dalam usaha untuk memahami kualitas genetik tanaman. Informasi dalam distribusi variasi genetik juga dapat dimanfaatkan dalam usaha seleksi, pemuliaan dan konservasi tanaman kehutanan.

    Penelitian keragaman genetik pada jenis pulai dilakukan untuk mengetahui hubungan kekerabatan antar populasi dan individu didalam populasi. Informasi dari hasil analisis DNA ini akan digunakan sebagai dasar dalam penentuan strategi pemuliaan dan konservasi genetik pada jenis pulai. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui; apakah masih terdapat keragaman genetik yang cukup untuk dilakukan seleksi melalui uji genetik, atau sistem apa yang tepat dikembangkan untuk jenis pulai dalam membangun uji genetik apabila terdapat informasi masih terdapat keragaman genetik pada jenis pulai. Dengan demikian, informasi hasil analisis DNA akan diperlukan dalam memperbaiki strategi yang pernah dibuat apabila terdapat informasi yang tidak sesuai dengan hipotesa sebelumnya.

3. Studi Phenologi

    Pengetahuan masa pembungaan dan pembuahan pulai sangat dibutuhkan dalam membangun uji genetik untuk menghasilkan benih unggul. Informasi waktu berbunga dan berbuah (kalender bunga dan buah) untuk jenis pulai akan sangat berguna pada saat dilakukan persilangan dalam strategi jangka panjang. Sedangkan dalam jangka pendek akan bermanfaat untuk mengetahui masa panen raya jenis pulai dan waktu koleksi yang tepat untuk uji genetik. Studi Phenologi akan dilaksanakan pada kebun konservasi ex-situ yang dibangun dari berbagai ekotipe hutan.

    Peningkatan genetik dapat dihasilkan melalui uji genetik yang dilaksanakan secara komprehensif dalam program pemuliaan pohon. Pada tahap awal, peningkatan genetik dalam rangka peningkatan kinerja suatu jenis tanaman dapat dilakukan melalui seleksi tingkat individu dari populasi alam untuk membangun sumber benih dalam jangka pendek. Individu-individu pohon dengan phenotipe bagus dipilih sebagai pohon induk untuk membangun sumber benih. Sedangkan dalam jangka menengah dapat dilakukan melalui serangkaian kegiatan uji keturunan dalam populasi pemuliaan.

    Uji keturunan merupakan uji atau populasi pemuliaan (breeding population) yang menjadi pusat kegiatan dari strategi pemuliaan suatu jenis. Populasi pemuliaan terdiri dari pohon-pohon terpilih dalam suatu seri uji keturunan dimana siklus seleksi dan penyilangan akan dilakukan berulang-ulang dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Keberhasilan dari strategi ini tergantung pada informasi parameter genetik yang dihasilkan dari sipat-sipat yang unggul serta metode yang diterapkan pada setiap tahapan. Seleksi. Adapun tujuan dari uji keturunan adalah untuk mendapatkan informasi potensi genetik dan individu superior untuk menghasilkan benih unggul. Uji keturunan dilaksanakan setelah mendapatkan informasi hasil analisis keragaman genetik yang dilakukan dengan pendekatan DNA.

EKONOMI

Beberapa informasi mengenai pasar hasil industri yang menggunakan bahan baku kayu pulai selama ini belum dipahami dengan baik. Hal ini sangat diperlukan dalam upaya percepatan pembangunan hutan tanaman yang memerlukan informasi pasar dalam negeri maupun pasar dunia dari industri yang menggunakan bahan baku jenis tersebut. Terkait dengan hal tersebut, diperlukan penelitian tentang kajian peluang pasar dan daya saing dalam perdagangan kayu pulai. Penelitian ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui:

1). Kinerja pasar kayu pulai baik pasar dalam negeri maupun pasar dunia,

2). Peluang pasar kayu pulai yang tersedia dipasar dalam negeri maupun pasar

Dunia, dan

3). Daya saing kayu pulai sebagai substitusi kayu impor dan ekspor kayu sejenis

dan atau jenis lainnya untuk bahan baku industri di pasar dalam negeri maupun

pasar dunia

SOSIAL BUDAYA

Dalam pengembangan hutan tanaman pulai, di beberapa wilayah Indonesia masih mengalami kendala terutama terkait dengan anggapan masyarakat bahwa pohon pulai merupakan pohon keramat yang tidak boleh ditebang, disisi lain masyarakat setempat memerlukan bahan baku tersebut untuk industri kerajianan sebagai komoditi ekspor dan domestik. Kondisi demikian menyebabkan bahan baku tersebut didatangkan dari luar yang juga kondisinya sangat terbatas dengan harga yang relatif lebih tinggi karena memerlukan transportasi dan semakin langka. Kajian sosial ini dilakukan sebagai upaya pendekatan sosial budaya dalam pengembangan hutan tanaman pulai agar diperoleh solusi terbaik dalam mengembangkan jenis ini tanpa ada permasalahan dengan masyarakat.

PENUTUP

Dengan diadakannya suatu penelitian pemuliaan tanaman pulai diharapkan memberikan suatu kontribusi pengetahuan kepada kalayak ramai, terutama tentang jenis-jenis tanaman pulai yang ada di Indonesia, karena selama ini masih banyak masyarakat yang belum mengenal tentang tanaman pulai. Hanya orang tertentu saja yang tahu tentang tanaman pulai misalnya; pengusaha kerajinan topeng dibantul, Bali dan para pegawai kehutanan itupun belum tentu semua pegawai kehutanan mengetahui tanaman pulai.

Danu dan Nurhasybi. 1998. Dari Benih ke Penanaman Jelutung Untuk Hutan Tanaman Rawa Gambut. TEKNO BENIH Vol. III No. 1, 1998. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Balai Teknologi Perbenihan. Bogor

A. A. Hamdan, Moko. H. dan Suwandi. 2002. Efek Pemberian Pupuk Majemuk NPK Terhadap Pertumbuhan Bibit Shorea javanica K&V Asal Pucuk. Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon. Vol. 6 No. 2, 2002 P3BPTH, Yogyakarta.

Anonim. 2006. Usulan Kegiatan Penelitian (UKP) 2006-2009 P3HT Bogor.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , , , . Komentar Dimatikan

Fisika Mekanika Kayu

Di Susun Oleh Suwandi

  • Proses penyusunan penebalan dinding sel oleh Microfibril secara umum ada 2 yaitu :
    • Penebalan spiral

      Penebalan spiral dapat terjadi pada permukaan dalam lapisan dinding sekunder (S3) dalam trakeit sejumlah kayu daun jarum yang terbatas. Penebalan spiral relative lazim dalam kayu daun lebar yang mungkin terdapat dalam pembuluh, serabut dan beberapam sel jari-jari. Penabalan spiral adalah punggung-punggung microfibril yang terbentuk pada permukaan lapisan S3 dengan kejelasan yang berbeda-beda penebalan spiral dapat diklasifikasikan sebagai tak bercabang, bercabang, ( dalam kayu daun lebar dan kayu daun jarum) dan berkelok-kelok (hanya terdapat pada kayu daun lebar). Penebalan spiral cenderung mengikuti arah spiral microfibril lapisan S3 dan kerap kali arahnya jelas sejajar dengan arah mikrifibril dalam S3. penebalan spiral merupakan kelanjutan lapisan S3

    • Penebalan bergerigi

      Terdapat dalam trakeit-trakeit jari-jari kayu pinus dan merupakan penebalan secara gerigi apabila dilihat dibawah mikroskop

  • el-sel penyusun kayu daun jarum dan kayu daun lebar adalah sebagai berikut ;
    • Sel-sel penyusun pada kayu daun lebar
      • Sel Pembuluh
      • Sel serabut
      • Sel parenkem beruas
      • Sel Parenkem baris
    • Sel-sel penyusun pada kayu daun jarum
      • Sel trakeit longitudinal
      • Sel parenkem jari-jari
      • Sel trakeit jari-jari
      • Sel epitel
  • Ekstratif

    Kayu mungkin mengandung pelbagai bahan pengisi terutama bahan organik yang yang secara bersama-sama disebut bahan luar (extranous) atau ekstratif. Ekstratif tersusun atas pelbagai zat seperti damar, lemak, lilin, resin, gula, minyak, pati, alkaloid, zat warna dan tanin. Nama ekstratif didasarkan atas kemungkinan ekstrasi (pengeluaran/isolasi) zat-zat tersebut dengan air dingin/panas atau dengan pelarut organik netral seperti alkohol. Bensen, aseton, eter dan lain-lain. Kandungan ekstratif kayu 1-10%, bahkan jenis kayu tropika dapat mencapai 30% atau lebih. Bahan-bahan organik tertentu seperti garam-garam, kalsium dan silika, tidak larut dalam pelarut diatas, tetapi dipandang sebagai ekstratif karena tidak merupakan bagian dari dinding sel.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

KEBUTUHAN KAYU SECARA NASIONAL 5 TAHUN TERAKHIR

Oleh Suwandi

  1. PENDAHULUAN

Secara umum industri kehutanan Indonesia (khususnya pengelolaan hutan alam) saat ini berada dalam kondisi yang “bergejolak dan penuh ketidak pastian” sehingga tidak heran bila sementara pihak mulai mengangkat isue “moratorium” dan menyebutnya sebagai “sunset industry”.

Melihat sejarahnya industri pengusahaan kayu bulat Indonesia bisa dilacak jauh ke belakang. Bahkan sejak kedatangan kolonialis Barat dari era abad ke 17 sampai 19 telah terjadi pengrusakan hutan jati di Jawa. Tahun 1743 terjadi kontrak karya antara VOC dengan Kerajaan Mataram yang menyebutkan seluruh jati adalah milik Kompeni sedangkan tanahnya tetap milik Kerajaan Mataram. Begitu juga di tahun 1849, Sultan Jogja diserahi hak mengelola hutan jati yang terletak di kesultanannya, namun karena sering terjadi penebangan tanpa ijin, maka pada tahun 1875 semua penebangan pohon harus seijin Pemerintah Hindia Belanda.

Tampaknya dalam upaya untuk menguasai seluruh lahan hutan yang ada, pemerintah di tahun 1870 menerbitkan UU Agraria “Agrariche Wet” yang mengatakan bahwa semua lahan yang tidak dibebani hak adalah milik negara. Bahkan UU No 5 Tentang Pokok-pokok Agraria Tahun 1960 juga tidak jauh berbeda dengan UU Agraria 1870. Ini adalah cikal bakal permasalahan pertanahan (dalam hal ini konflik sosial kehutanan) yang ada sampai saat ini. Bahkan UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia dan UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sepertinya memberi peluang bagi pembagian hak dengan masyarakat setempat tetapi juga pada kenyataannya tidak semulus itu. Maka pertentangan antara pemerintah dengan masyarakat adat maupun tarik menarik kewenangan antara pemerintah pusat dengan PEMDA semakin menjadi-jadi.

  1. ANALISA KOSUMSI KAYU

Pembangunan industri kehutanan (wood based industry) di Indonesia didorong oleh upaya pencapaian tujuan pembangunan ekonomi meningkatkan penghasilan devisa melalui eksport, meningkatkan penciptaan lapangan kerja, dan mencapai nilai tambah. Industri kehutanan selalu dianggap sebagai sektor ekonomi utama yang mempunyai keunggulan comparative karena melimpahnya bahan baku dan upah buruh yang murah.

Akibat adanya persepsi keunggulan comparative itulah maka terlihat kecenderungan industri kehutanan Indonesia terus tumbuh dan berkembang. Kapasitas industri terpasang dari tahun ke tahun meningkat dengan pesat. Lihat Tabel di bawah ini. Kapasitas pabrik penggergajian kayu meningkat dari 8,8 juta m3 di tahun 1985 menjadi 11 juta m3 di tahun 2002. Pabrik plywood kapasitasnya relatif stabil di angka 9,4 juta m3, walaupun pernah melewati angka 10 juta m3 di tahun 1989 dan 1990. Walaupun demikian produksi dari industri penggergajian dan plywood memperlihatkan trend yang menurun. Kecuali industri pulp dan kertas, baik kapasitas industri terpasang maupun realisasi produksinya yang terlihat menaik.

Kondisi ini sebetulnya sudah menggambarkan realitas dimana produksi yang mengandalkan bahan baku kayu berukuran diameter besar dari hutan alam mulai berkurang, sedangkan industri yang tidak mengandalkan ukuran diameter kayu besar (yang bisa disupply dari kayu hutan tanaman dengan daur yang singkat) tetap terus tumbuh.

Kebutuhan akan bahan baku kayu dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pembangunanmasarakat, sedangkan areal hutan semakin menyusut, Menteri Kehutanan, M.S. Ka’ban, mengungkapkan, kebutuhan dunia atas bahan baku kayu pada tahun 2014 diperkirakan setidaknya mencapai 350 juta meter kubik per tahun. Permintaan bahan baku kayu itu diperkirakan cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan pabrik kertas, mebel, pertukangan, dan lainnya,

Menurut Harian Umum Pelita Online kebutuhan kayu secara Nasional diperkirakan mencapai 60 juta m3, pertahun, sedangkan dari departemen kehutanan memberi jatah produksi kayu secara nasional berdasarkan Keputusan Menteri kehutanan lima tahun terakhir sebagai berikut:

No.

Tahun

SK Menhut. No.

Kebutuhan Kayu Nasional

1

2005

SK. 207/Menhut-II/2004

5.456.570 m3

2

2006

SK.357/MENHUT-VI/2005

8.152.250 m3

3

2007

SK.72/Menhut-VI/2007

12.428.000 m3

4

2008

SK.388/Menhut-VI/2007

9.100.000 m3

5

2009

SK. 400/Menhut-II/2008

9.100.000 m3

Jika dilihat dari jatah produksi yang di berikan oleh pihak Departemen Kehutanan seperti yang tertera pada tabel diatas sepertinya kebutuhan kayu secara nasinal belumlah terpenuhi rata-rata per tahun jatah produksi hanyalah sekitar 8. 847.364 m3

  1. KESIMPULAN

Untuk mencapai kondisi ideal dunia kehutanan, ada beberapa hal yang bisa menjadi dasar pertimbangan dalam membuat kebijakan yang bisa mengontrol dan atau mengendalikan sisi penawaran maupun permintaan kayu.

Pasar kayu nasional merupakan pasar yang regulated, dimana pemerintah menentukan berapa besaran produksi (JPT) setiap tahunnya. Namun seperti juga di tempat yang lain, pasar tidak bisa didikte begitu saja. Bila konsumsi meningkat, sementara potensi untuk meningkatkan produksi ada, sedangkan sisi aturan dan penerapan hukum lemah, maka akan terjadi “perlawanan” pasar, dalam hal industri kehutanan, sebagai illegal logging. Jadi pengawasan atau kontrol illegal logging bisa dilakukan melalui pendekatan regulasi pasar. Tetapi harus dipahami bahwa ekuilibirum pasar merupakan kondisi sesaat yang bisa berubah setiap saat. Sehingga regulasipun harus siap melakukan antisipasi setiap saat. Tidak ada regulasi yang bertahan lama, kecuali akan segera menjadi ketinggalan jaman, karena pasar pasti akan segera melakukan perlawanan mencari keuntungan bagi

pelaku pasar.

REFRENSI

Kayu di DKI Dapat Menutup, Kebutuhan Nasional (2009) Harian Umum Pelita Online. http://www.pelita.or.id/baca.php?id=5425/tgl28-10-2009

Sumardjani Lisman, et all (2007) Analisa Kosumsi Kayu Nasional http://www.rimbawan.com/kkn/KKN_02mei07_a.pdf/ di download tgl 28-10-2009

Sk Menhut : http://portal.mahkamahkonstitusi.go.id/eLaw/mg58ufsc89hrsg/SK_72_2007.pdf/tgl 28-10-2009

http://groups.yahoo.com/group/lingkungan/message/22431/tgl 28-10-2009

http://www.aceh-eye.org/data_files/bahasa_format/indo_gov_bhs/indgovt_decrees/indgovt_decrees_2005_10_13_00.pdf/ tgl 28-10-2009

http://www.dephut.go.id/files/388_07.pdf/ tgl 28-10-2009

http://www.dephut.go.id/files/400_08.pdf/26-10-2009

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

TANAMAN UJI KLON SUKUN (Artocarpus altilis)Produktivitas dan Potensi Pemanfaatannya

Oleh :

Hamdan Adma Adinugraha dan Noor Khomsah Kartikawati

A. Pendahuluan

Sukun adalah salah satu jenis tanaman serbaguna yang dapat ditanam di pekarangan, kebun, perindang jalan/taman dan rehabilitasi lahan. Buahnya merupakan sumber bahan pangan dan potensial untuk bahan makanan pokok. Kayunya dapat digunakan untuk konstruksi ringan, kerajinan, papan salancar/kano, serat dari bagian dalam kulit dapat dimanfaatkan untuk bahan tekstil dan daunnya berkhasiat untuk ramuan obat tradisional.

B. Pertumbuhan Tanaman Uji Klon Sukun

Tanaman uji klon sukun di Gunung Kidul Yogyakarta, pada umur 5 tahun memiliki tinggi rata-rata 4,8 m, dbh 10,4 cm dan sekitar 70% klon sudah berbuah dengan jumlah buah 2-25. Jumlah klon yang dapat tumbuh dari populasi Yogyakarta (60%), Bali (70%), Lampung (50%) dan Manokwari (66,7%). Kondisi iklim yang sangat kering menyebabkan tanaman mengalami cekaman air (water stress) yang mengakibatkan kematian tanaman muda dan kerontokan buah.


Gambar 1. Tanaman uji klon sukun umur 5 tahun di Gunung Kidul Yogyakarta

(Foto: Hamdan AA)

C. Variasi Morfologi Daun dan Buah

Klon-klon sukun menunjukkan adanya variasi berdasarkan bentuk daun, bentuk buah, ukuran buah dan kualitas rasanya. Secara umum dapat dibedakan menjadi daun berlekuk sedikit, belekuk agak dalam dan berlekuk dalam. Buah berukuran kecil sampai besar dengan bentuk bulat sampai lonjong.

Gambar 2. Variasi bentuk daun dan buah sukun dari Manokwari, Gunung Kidul,

Cilacap dan Sleman

Tabel 1. Hasil analisis kandungan gizi buah sukun pada plot uji klon di Gunung Kidul

Populasi Pati Serat Vit. C Ca Phosfor Morfologi buah
1. Bali 9.44 1.65 23.71 191.06 16.74 Buah bulat-lonjong, tidak berduri, ukuran sedang-besar
2. Lampung 9.65 1.63 23.82 213.77 13.47 Buah bulat-lonjong, tidak berduri, ukuran sedang-besar
3. Sleman 9.56 1.61 22.96 195.04 16.87 Buah bulat-lonjong, tidak berduri, ukuran sedang-besar
4. Cilacap 8.70 1.65 26.88 143.55 11.33 Buah bulat-lonjong, tidak berduri, ukuran sedang-besar
5. Manokwari 7.47 1.96 36.10 179.16 12.80 Buah lonjong, berduri, ukuran sedang sampai besar
6. Gunung Kidul 8.68 1.73 23.49 181.63 17.80 Buah bulat, berduri, kecil-sedang

D. Teknologi Perbaanyakan Klon

Dalam rangka penyediaan bibit sukun yang berkualitas, jumlahnya banyak dengan biaya relatif murah dapat dilakukan dengan kombinasi stek akar dan stek pucuk. Persentase hidup
stek akar rata-rata 80% dan persen hidup stek pucuk rata-rata mencapai 90%.


Gambar 3. Teknologi pembibitan dengan kombinasi stek akar dan stek pucuk

E. Potensi Sukun sebagai Sumber Bahan Pangan

Buah sukun memiliki kandungan gizi yang cukup sebagai sumber bahan pangan. Buah sukun dapat diolah menjadi berbagai macam makanan baik untuk makanan ringan/pendamping bahkan untuk makanan pokok. Buah sukun dapat dimanfaatkan dalam bentuk buah segar, gaplek, tepung maupun patinya (Pitojo, 1992; Ragone, 1997).

Gambar 4. Pengolahan buah sukun sebagai bahan pangan (berbagai sumber)

KabarNet.in

Aktual Tajam

F O R S A

Fans Of Rhoma and Soneta

Soedoet Pandang

Setiap Berita Banyak Cerita

in parentheses

new modernism

Before the Downbeat

Thoughts on music, creativity, imagination, and exploring the space between the notes.

Life Inspired

Home | Family | Style

wordssetmefreee

Making sense of the world through words

Chronicles of an Anglo Swiss

Welcome to the Anglo Swiss World

The Rational Optimist

Frank S. Robinson's blog on life, society, politics, and philosophy

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 547 pengikut lainnya.