GANDARIA (Bouea macrophylla Griffith)

Gandaria (Bouea macrophylla Griffith)atau nama lokal lainnya jatake adalah tanaman yang berasal dari kepulauan Indonesia dan Malaysia. Tanaman ini tumbuh di daerah tropis, dan banyak dibudidayakan di Sumatera dan Thailand. Gandaria dimanfaatkan buah, daun, dan batangnya. Bauh Gandaria berbentuk bulat lonjong, berukuran kecil. Buah yang telah masak berwarnaa kuning atau merah muda. Daging buahnya tebal, berair, rasanya ada yang asam dan ada pula yang manis. Buah Gandaria yang telah masak , setelah dikupas dapat dimakan dalam keadaan segar. Dapat juga sebagai bahan pembuatan sirup, dan sari buah-buahan. Buah yang masih muda dapat digunakan unutk rujak dan asinan. Dapat juga dipakai sebagai pengganti jeruk nipis atau asam.

Tanaman berupa pohon dengan ketinggian hingga 27 m dengan tajuk rapat. Daunnya tunggal, berbentuk bundar telur-lonjong sampai bentuk lanset atau jorong. Waktu muda berwarna putih, kemudia berangsur ungu tua, lalu menjadi hijau tua. Perbungaannya malai, muncul di ketiak daun, Buahnya bertipe buah batu, berbentuk agak bulat, berdiameter 2,5-5 cm, berwarna kuning sampai jingga, daging buahnya mengeluarkan cairan kental; buahnya tidak berbulu, rasanya asam sampai manis, dengan bau yang khas agak mendekati bau terpentin. Keping biji berwarna lembayung. Tanaman Gandaria berbunga pada bulan Agustus September. Dan buahnya akan masak pada bulan Desember Januari.

Gandaria adalah tumbuhan tropik basah dan dapat tumbuh pada tanah yang ringan dan subur. Tumbuh liar di hutan dataran rendah di bawah 300 m dpl., tetapi dalam pembudidayaan telah berhasil ditanam pada ketinggian sekitar 850 m dpl. Gandaria (Bouea macrophylla Griff), termasuk salah satu anggota Anacardiaceae.

Tanaman Gandaria dapat diperbanyak dengan menanam biji atau mencangkok. Kayu tanaman ini dapat digunakan untuk sarung keris dan untuk bahan bangunan. Gandaria merupakan tanaman buah yang patut dilestarikan

Ditulis dalam Tanaman Kategori G. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

GAYAM (Inocarpus fagiferus (Parkinson) Fosberg)

 Nama Inggris tanaman ini adalah Otaheite chestnut, Polynesian chestnut, Tahiti chestnut, nama Lokalnya gayam (Jawa), bosua (Menado), bosua (Ternate)

Deskripsi : Pohon, tinggi mencapai 30 m dengan garis tengah batang 65 cm. Batang sering kali beralur tidak teratur, kadang-kadang berakar banir, percabangan merunduk, kulit batang bagian dalam mengandung cairan merah. Daun berseling, tunggal, kaku menyerupai kulit, lonjong, berdaun penumpu kecil, daun muda berwarna pink. Perbungaan aksiler, majemuk bulir, panjang sampai 17 cm, bunga kecil dan berbau wangi. Tabung kelopak dengan 2 – 5 gigi-gigi, daun mahkota 5 dan berwarna kekuningan, benang sari 10. Buah polong dengan 1 biji yang gepeng, berbentuk ginjal dan tidak pecah. Biji mencapai panjang 8 cm, kulit biji keras dengan endosperm putih.

Distribusi/Penyebaran :     Gayam merupakan tanaman yang berasal dari kawasan Malesia bagian timur khususnya dari Indonesia. Tanaman ini dibawa oleh imigran-imigran dari Malaya Polenisia ke Micronesia, Melanesia dan Polenisia. Tanaman ini telah tersebar luas dan ditanam di Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Semenanjung Malaya.

Habitatnya Gayam di habitat alaminya tumbuh di daerah yang berawa-rawa atau di paya-paya dan di pinggir-pinggir sungai. Buah bisa mengapung lebih dari satu bulan di atas air laut tetapi viabilitas biji cepat hilang. Tumbuh mulai dari ketinggian 0 – 500 m dpl.

Perbanyakannya pada umumnya diperbanyak dengan mengecambahkan bijinya.

Manfaat tumbuhan :     Buahnya yang mendekati masak apabila direbus atau dibakar maka enak dimakan. Kayunya yang keras dapat dimanfaatkan untuk pembuatan tempat tidur. Pohon Gayam yang bertajuk rindang ini sangat bagus sebagai tanaman peneduh.

Tanaman gayam melambangkan rasa ayem ‘tenteram, tenang’. Sama halnya dengan asem, kata gayam digunakan potongan kata atau suku kata terakhirnya yakni yam untuk menyimbolisasikan rasa ayem ‘tenteram, tenang’. Di samping itu, pohon gayam juga dipercaya sebagai pohon yang dapat menyimpan/mendekatkan air ke permukaan tanah sehingga air jernih mudah didapatkan di sekitar pohon tersebut. Ketersediaan air berarti juga ketenangan dan kesejahteraan bagi manusia. Untuk itulah pohon gayam digunakan sebagai simbol rasa keayeman. Di samping tentu saja, daunnya yang selalu lebat memberikan rasa teduh dan suasana tenang di sekitarnya.

Ditulis dalam Tanaman Kategori G. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

GANITRI (Elaecocarpus sphaericus Schum)

Oleh: Siti Susilawati

A.  Sebaran Alami Ganitri

Ganitri (Elaecocarpus sphaericus Schum) adalah salah satu jenis pohon asli Indonesia yang telah dikembangkan menjadi pohon yang multi guna. Nama lain Ganitri adalah Jenitri atau mata dewa. Di Indonesia Ganitri dikenal dengan berbagai nama lokal yaitu Ganitri (Sunda), Katulampa, mata Siwa (Bogor), Sambung Susu (Jawa), Klitri (Madura), Biji Mala (Bali), Biji Sima (Sulawesi Selatan).

Di  Amerika Utara Ganitri dikenal dengan nama sum Bead, sedangkan di India Ganitri disebut Rudraksa, dimana rudra berarti Siwa dan aksa berarti mata, dengan arti keseluruhannya sebagai mata Siwa, yang secara mitologi, di suatu saat air mata siwa menitik kemudian tumbuh menjadi pohon rudraksa.

Tanaman Ganitri tumbuh menyebar di Asia Tenggara. Ada kurang lebih 350 spesies tersebar dari Madagaskar, Cina bagian Selatan, Nepal, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Thailand, Australia dan Kepulauan Pasifik. Menurut Fitri, 2010, Sekitar 70 % pohon Ganitri ditemukan di Indonesia dan banyak ditanam di Jawa Tengah, Sumatra, Kalimantan, Bali dan Timor. Penyebarannya dilakukan melalui burung dan kelelawar serta hewan pengerat. Sementara pada edisi Nopember 2007, Majalah Trubus menginformasikan bahwa selain di Jawa, Ganitri juga banyak ditanam di Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Timor.

Menurut Heyne, 1987, Di Jawa Ganitri  terdapat pada ketinggaian kurang dari 1200m dpl terutama 500 m dpl dan 1000 m dpl. Menurut Van Delden  dalam Heyne, 1987 agak umum terdapat dibudidayakan di daerah Trenggalek (Kediri Selatan) dan Wonosobo (Kedu) yang letaknya rata-rata pada ketinggian 350 m diatas permukaan laut, selain itu juga didaerah sekitar Cicalengka,Tasikmalaya dan Banjar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B.  Pemanfaatan Ganitri oleh Masyarakat.

1.   Manfaat Lingkungan.

Di Indonesia, Ganitri dikenal sebagai pohon pelindung, berfungsi sebagai penghisap polutan. Ayunahati, 1995 dari Departemen Biologi ITB, telah melakukan penelitian tentang penyerapan Pb diudara oleh Ganitri sebagai salah satu spesies pohon pelindung di jalan R.E Martadinata Bandung.

Pohon ganitri berdiri diatas akar tunjang. Tinggi pohon bisa mencapai 35 meter dan diameter batangnya sampai 160 cm. Kayunya agak ringan hingga sedang beratnya, agak lunak, padat dan cukup halus strukturnya, berwarna coklat-kelabu dengan warna tambahan lembayung hingga coklat merah muda. Di Sukabumi digunakan sebagai kayu bangunan. Rumphius dalam Heyne, 1987 mengatakan bahwa Ganitrus kadang-kadang digunakan untuk balok-balok bangunan atas pada bangunan rumah, bila terkena tanah tidak awet.

                        Buahnya bila masak berwarna biru indah tercampur ungu. Daging buah yang masak benar rasanya agak seperti minuman anggur kadang-kadang dimakan anak-anak penggembala, akan tetapi sebagian besar dimakan oleh berbagai burung besar dan sapi, sehingga didalam kotorannya ditemukan biji yang telah bersih. Biji Ganitri seperti batu yang keras yang berlobang di bagian tengahnya yang hampir tembus. Seluruh permukaan bijinya berlubang dan beralur berulir seakan termakan cacing sehingga tampak indah seolah terukir. Penggunaan biji Ganitri umumnya untuk kalung, tasbeh dan pengobatan. Ukuran biji ganitri bervariasi dalam satu pohon. Semakin kecil ukuran biji Ganitri semakin mahal harganya.

2.   Manfaat untuk Kesehatan

                        Majalah Trubus edisi XXXVIII Nopember 2007 dan beribagai web mengukapkan bahwa manfaat ganitri bukan hanya sekedar alat hitung dalam berdoa sebagai tasbeh atau rosario. Manfaat biji ganitri untuk menghilangkan stress telah dibuktikan oleh Dr. Suhas Roy dari Benaras Hindu University. Penelitiannya mengungkapkan bahwa biji ganitri mengirimkan sinyal secara beraturan ke jantung ketika digunakan sebagai kalung. Ia mengatur aktivitas otak yang mengarah pada kesehatan tubuh. Efek itu diperoleh karena biji ganitri memiliki sifat kimia dan fisik berupa induksi listrik,  kapasitansi listrik, pergerakan listrikdan elektro magnetik. Karena itu biji ganitri mempengaruhi sistem otak pusat saat menyebarkan rangsangan bioelektrokimia. Hasiln, otak merasa tenang dan menghasilkan pikiran positif (Kamis, 2007)

                        Pembeda ganitri dan buah lain terungkap melalui riset Institut Teknologi India. Ganitri memiliki nilai spesifik grafiti sebesar 1,2 dan pH 4,48. Saat digunakan untuk berdoa misalnya, ganitri memiliki daya elektromagnetik sebesar 1000 gauss pada keseimbangan Faraday, hasil konduksi elektron alkalin, sehingga ganitri dipercaya dapat mengontrol tekanan darah, stress, serta berbagai penyakit mental (Trubus, 2007)

                        Singh R K dari Departemen Farmakologi, Banaras Hindu University dalam Trubus, 2007,membuktikan bahwa buah ganitri kering sebanyak 200 mg /kg yang dilarutkan dalam petroleum eter, benzena, kloroform,asetone dan et anol selama 30-45 menit menunjukan sifat anti pembengkakan radang akut dan nonakut pada tikus yang dilukai. Selain itu karena mengandung glikosida, steroid, alkaloid dan flavonoid, ganitri dapat melindungi tubuh dari bakteri, kanker dan pembengkakan, efektif meredam hipertensi dan menghasilkan perasaan tenang dan damai. Dalam 7 hari, tekanan darah turun bila dibarengi dengan mengalungkan ganitri di leher.

C.  Nilai Ekonomi Ganitri

            Saat ini, Indonrsia sebagai pemasok 70 % biji ganitri dunia, Nepal 20 % dan India 5 % (Bahtiar, 2007). Setiap tahun 350 ton biji ganitri diekspor keluar negeri, terutama India dan Australia. Ganitri memiliki nilai ekonomi yang menguntungkan bagi para pemiliknya. Menurut Wagino,2007 dari tanaman ganitri berumur 4 tahun didesa Dongdong, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah menghasilkan satu juta rupiah setiap pohon sekali panen.

            Harga biji ganitri bervariasi tergatung ukuran dan jumlah lekukan (mukhi). Semakin kecil ukuran biji dengan warna coklat kemerahan harganya bertambah mahal. Harga biji ganitri menurut ukurannya (ada 11 ukuran dimulai dari 5,5 mm) dan harga turun setiap penambahan ukuran sebesar 0,5 mm. Pada tahun 2008 hargany adalah untuk kelas 1 (ukuran 5,5 mm) Rp 165,- per butir; kelas 2 adalah Rp 145,-/butir; kelas 3 = Rp 125,-/butir; kelas 4 = Rp 100,-/butir; kelas 5 = Rp 75,-/butir; kelas 6 = Rp 40,-/butir; kelas 7 = Rp 30,-/butir; kelas 8 = Rp 25,-/butir; kelas 9 = Rp 18,-/butir dan kelas 10 = Rp 15,-/butir. Sedangkan untuk kelas 11 halus Rp 10.000,-/kg dan kelas 11 kasar  Rp 7000/kg. Selain ukuran biji yang mempengaruhi harga adalah bentuknya berdasarkan jumlah lekukan (mukhi), yaitu ganitri mukhi 3 seharga Rp 18.000,-/butir; ganitri mukhi 4 seharga Rp 25.000,-/butir dan ganitri mukhi 6 seharga Rp 20.000,-/butir sedangkan ganitri dempet seharga Rp 150.000,-/butir. Dalam sekali panen pada tahun 2007, petani yang mempunyai 3 pohon ganitri dapat memperoleh hasil Rp 2.100.000,-. Berdasarkan informasi tersebut, Berkebun ganitri jika lokasinya sesuai sangatlah prospektif dan menjanjikan keuntungan

D.  Budidaya Ganitri

  1. Pengadaan Benih

Tanaman ganitri ditanam untuk tujuan produksi buah, namun budidayanya belum banyak dikembangkan dan biasanya ditanam sebagai tanaman pengisi hutan rakyat dengan jarak tanam tidak teratur. Musim berbunga tanaman ini umumnya pada bulan Oktober sampai Desember, muncul buah muda pada bulan Januari dan buah masak sekitar bulan Maret yang cirinya buah sudah berwarna biru. Buah berjatuhan biasanya pada bulan April sampai akhir Mei.

Tanaman ganitri mulai berbunga pada umuir 18 bulan, dan panen perdana biasanya pada umur 2-4 tahun dengan jumlah produksi buah dapat mencapai 350.000 butir. Pengunduhan dan pengumpulan buah sebaiknya dilakukan pada pertengahan bulan April sampai awal bulan Mei pada musim kemarau. Buahnya ternmasuk jenis ortodoks sehingga viabilitasnya dapa bertahan sampai beebrapa tahun.

  1. Teknik Pembibitan

Pemebibitan secara generative dilakukan dengan memecah buah ganitri untuk diambil benihnya. Oleh karena bijinya sangat keras, biasanya untuk mempercepat berkecambah, biji dipendam dalam tanah dan dipanaskan dengan api di atasnya, atau dengan cara biji dikerat atau diretakkan kulit bijinya. Umumnya akan berkecambah setelah 3-4 bulan. Biji yabng telah berkecanbah disapih ke media campuran tanah pasir dan kompos (3:1:1) atau media campuran tanah, pasir dan sekam padi (1:1:1) dalam polibag.

  1. Teknik Penanaman dan pemeliharaan

Penanaman dilakukan dengan membuat lubang tanam 30 x 30 x 30 cm kemudian diberi pupuk kandang yang telah masak sebanyak 2-5 kg serta nematisida berbahan aktif karbofuran secukupnya. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 6 x 6 m karena sudah dianggap cukup untuk perkembangan tajuknya.

Pemeliharaan tanaman secara periodic penting dilakukan antara lain pembersihan gulma, pemupukan dan pemberantasan hama. Hanma yang banyak menyerang antara lain uret yang dapat diatasi dengan menyiramklan larutan Marshal 25 ST dengan dosis 1 sendok the kedalam 1 liter air. Hama lain yang menyerang yaitu penggerek batang walaupun inetnsitasanya rendah yaitu pada sebagian batang/cabang yang jadi.

  1. Teknik Memperkecil Biji

Mengingat harga biji ganitri yang berukuran kecil lebih mahal, biasanya masayarakat mengupayakan agar tanaman berbuah dengan ukuran lebih kecil. Cara yang biasa dilakukan antara lain memutrus distribusi makanan pada saattanaman mualai berbuah di bagian cabang/ranting, yaitu dengan cara pohon diteres atau mengelupasa kuilt sebagian cabang tanaman ganitri, melingkar dengan lebar 3-10 cm dengan tujuan untuk membatasai jumlah makanan pada bagian buah sehingga ukurannya lebioh kecil.

DAFTAR PUSTAKA

A, Syaffari Kosasih, Tati Rostiwati dan Encep ranchman. 2010. Budidaya Ganitri  ( Elaeocarpus  sphaericus) Perlu Inovasi Teknologi, MKI, Edisi V. Bogor

Ayurhahati, L .1995. studi awal Kemampuan Penyerapan Pb, yang berasal dari Udara Pada Daun dari Empat Species Pohon Pelindung di Jalan R.E. Martadinata, Bandung. Departemen Biologi: Bandung

Bachtiar, F. 2007. Ganitri, Harian Pikiran Rakyat, 26 agustus 2007

K, Heyne. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia jilid II, Badan Litbang Kehutanan, Jakarta

Kamis, A. 2007. Manfaat Ganitri, Mata siwa Penyapu Polutan

Majalah Trubus. 2007. Ganitri (Elaeocarpus  sphaericus). Edisi XXXVIII Nopember 2007. Jakarta

Wagino. 2007. Budidaya Ganitri meraup Rupiah. Cilacap Media

Geronggang (A. Cratoxylon arborescens Bl.)

Cratoxylon arborescens Bl atau yang dikenal di Indonesia dengan nama geronggang yang memiliki padanan nama yang berbeda untuk setiap daerah, diantaranya burunggang, dori, geronggang, madangbaro, mampat, mepa, tamaw, tumok (kalimantan) termasuk dalam family Clusiaceae. Tinggi pohon geronggang dapat mencapai 60 m, diameter dapat mencapapi 120 cm, tinggi banir sampai 1 m, daun berhadapan, bunga berdiameter 8 mm, dan biji bersayap kecil. Biasa dapat ditemui berasosiasi dengan hutan kerangas atau dipterokarp dan berperan sebagai tumbuhan pionir (Silk, 2011). Kulit luar berwarna kemerah-merahan sampai coklat, beralur, dan mengelupas kecil-kecil. Dengan sebaran habitat  hutan hujan tropis dengan tipe curah hujan A dan B, terutama pada tanah rawa atau zona peralihan antara tanah rawa dan tanah kering pada ketinggian sampai 60 m dpl (Martawijaya (1981) dalam Maha (1997)).

Tumbuh tersebar atau mengelompok dalam belukar atau hutan primer yang tergenang (prawira (1979) dalam Maha (1997)). Daerah penyebaran pertumbuhan pohon geronggang di indonesia meliputi sumatera utara, sumatera barat, sumatera selatan, riau, jambi, kalimantan barat, kalimantan selatan, dan kalimantan timur. Kayu teras geronggang berwarna merah jambu tua atau merah bata muda jika baru ditebang,lambat laun menjadi merah tua tetapi tidak menjadi coklat. Kayu gubal berwarna kuning, kadang-kadang semu merah jambu atau jingga. Agak mudah dibedakan dari kayu teras, tebal kira-kira 5 cm (Martawijaya (1981) dalam Maha (1997)). Manfaat kayu ini umumnya digunakan sebagai bahan untuk konstruksi dalam ruangan. Daerah sebarannya meliputi Burma, Semenanjung Malaysia, Jawa, Sumatera, dan Kalimantan (Silk, 2011).

dikutip dari : jenispohon.blogspot

Ditulis dalam Tanaman Kategori G. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

Gebang

Gebang adalah nama sejenis palma tinggi besar dari daerah dataran rendah. Pohon ini juga dikenal dengan nama-nama lain seperti gabang (Dayak Ngaju), gawang (Timor), pucuk (Btw.), pocok (Md.), ibus (Bat., Sas.), silar (Minh.) dan lain-lain. Nama ilmiahnya adalah Corypha utan.

Pohon palma yang besar, berbatang tunggal, tinggi sekitar 15-20 m. Daun-daun besar berbentuk kipas, bulat menjari dengan diameter 2-3,5 m, terkumpul di ujung batang; bertangkai panjang hingga 7 m, lebar, beralur dalam serta berduri tempel di tepinya. Bekas-bekas pelepah daun pada batang membentuk pola spiral.

Gebang hanya berbunga dan berbuah sekali, yakni di akhir masa hidupnya. Karangan bunga muncul di ujung batang (terminal), sesudah semua daunnya mati, berupa malai tinggi besar 3-5 m, dengan ratusan ribu kuntum bunga kuning kehijauan yang berbau harum. Buah bentuk bola bertangkai pendek, hijau, 2-3 cm diameternya.

Ekologi dan penyebaran

Palma ini tumbuh menyebar di dataran rendah hingga ketinggian sekitar 300 m dpl.. Gebang menyukai padang rumput terbuka, aliran sungai, tepi rawa, dan kadang-kadang tumbuh pula di wilayah berbukit. Di beberapa tempat yang cocok, biasanya tak jauh dari pantai, gebang dapat tumbuh menggerombol membentuk sabuk hutan yang cukup luas.

Gebang ditemukan menyebar luas mulai dari India melewati Asia Tenggara, Filipina dan Indonesia hingga ke Australia utara.

Kegunaan

Daun gebang, terutama yang muda, diolah menjadi berbagai bahan anyaman yang bagus; untuk bahan membuat tikar, topi, kantong, karung, tali, jala dan pakaian tradisional. Helai-helai pita dari olahan janur gebang ini pada masa lalu ramai diperdagangkan terutama di Sulawesi Selatan; dikenal beberapa macamnya seperti agel, papas, dan akan.

Sejenis serat tumbuhan yang cukup baik dapat pula dihasilkan dari tangkai daunnya, setelah dibelah-belah, direndam dan diolah lebih lanjut. Serat ini dapat dipintal menjadi tali atau, di Filipina, dianyam menjadi topi.

Umbutnya dapat dimakan. Demikian pula dengan sagu yang diperoleh dari empulur batangnya, meski biasanya sagu ini untuk makanan hewan saja dan baru dimakan orang di masa paceklik. Di Ayotupas, sagu gebang dibuat menjadi semacam kue lempengan yang dibakar dan disebut putak; biasanya dimakan bersama pisang.

Batang gebang cukup keras, terutama bagian luarnya yang mengayu, dan biasa digunakan sebagai bahan bangunan. Potongan batang yang utuh dan dibuang bagian tengahnya (empulur) biasa digunakan untuk membuat bedug.

Beberapa bagian pohon gebang memiliki khasiat obat. Akarnya digunakan untuk menyembuhkan diare ringan dan berulang. Air dari pelepahnya digunakan sebagai anti racun. Semacam getah kemerahan (blendok, Jw.) dari pucuknya digunakan untuk mengobati luka, batuk dan disentri.

Sumber: Wikipedi Indonesi

Ditulis dalam Tanaman Kategori G. Tag: , , , . Komentar Dimatikan
The Green Blog

Automotive, Politics, Sport, Travel, Photography, Food & Health (Available in various languages​​. Please refer to the translator widget)

KabarNet.in

Aktual Tajam

F O R S A

Fans Of Rhoma and Soneta

Soedoet Pandang

Setiap Berita Banyak Cerita

in parentheses

new modernism

Before the Downbeat

Thoughts on music, creativity, imagination, and exploring the space between the notes.

Life Inspired

Home | Family | Style

wordssetmefreee

Making sense of the world through words

Chronicles of an Anglo Swiss

Welcome to the Anglo Swiss World

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 553 pengikut lainnya.