PEMULIAAN TANAMAN PULAI (Alstonia spp)

Disusun Oleh Suwandi

PENDAHULUAN

Latar belakang

Pulai (Alstonia spp.) sebagai tanaman yang dapat dimanfaatkan berupa kulit, daun dan kayunya bisa dipergunakan untuk; mainan anak-anak, papan gambar, bingkai gambar, kerajinan seperti topeng, kotak korek api, perabotan rumah tangga dan batang korek api. Pohon ini mulai dikhawatirkan keberadaannya di hutan alam, karena banyak penembangan liar yang tidak terkendalikan oleh pihak-pihak yang berwenang, jenis ini termasuk dalam famili/suku Apocynaceae, di indonesia dan juga di beberapa negara seperti; Papua New Guinea, Philipina, india, Vietnam, Malaisya, Afrika Barat, Burma dan Thailand, dikenal jenis-jenis Alstonia scholaris, Alstonia angustiloba, Alstonia spatulata, Alstonia congensis, Alstonia actinophylla dan Alstonia angustifolia.

Hampir seluruh wilayah di indonesia di tumbuhi oleh jenis pulai (Alstonia sp),diantarnya adalah: Kalimantan (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengan dan Selatan), Sumatra (Sumtra Barat, Sumtra Utara, Sumtra Selatan, Aceh, Riau, Jambi dan Bengkulu), Jawa (Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengan dan Daerah Istimewa Yogyakarta).

Sedangkan di Pulau Dewata (Bali) pohon pulai dianggap keramat, sampai pohon pulai dibiarkan dipura mereka mencapai diameter 200 cm. Ada beberapa marga yang tumbuh di daerah darat/dataran tinggi, berbukit dengan ketinggian 1000 m dari permukaan laut. Diantaranya marga Alstonia scholaris, sebagaian dari masyarakat di indonesia menyebut marga scholaris yaitu Pulai gading, untuk sementara ini yang paling diminati masyarakat adalah pulai gading karena kayunya berserat halus dan tempat tumbuhnya pun tidak selalu di daerah rawa.

Melihat kondisi sebagaimana dalam uraian diatas, maka untuk mengembanhkan hutan tanaman pulai guna memenuhi permintaan kayu sebagai bahan baku industri, diperlukan penelitian yang berkesenambungan dari berbagai aspek terkait, seperti: Teknologi perbenihan Pemuliaan pohon, silvikultur intensif, Analisis Ekonomi/Pasar dan kajian sosial budaya.

Rumusan Masalah

Pengembangan hutan tanaman pulai sudah mendesak dilaksanakan karena permintaan kayu pulai untuk bahan baku industri sudah terbuka. Terkait dengan hal tersebut, maka pengadaan bibit dalam jumlah dan kualitas yang memadai sangat diperlukan. Sampai saat ini jenis pulai yang dapat di manfaatkan sangat terbatas, sehingga untuk mengembangkan hutan tanaman pulai di perlukan penelitian terpadu dari beberapa aspek terkait yang dilaksanakan secara berkesenambungan dengan menggunakan strategi yang tepat dan teknologi yang memadai.

Hipotesis

Penguasaan teknologi perbenihan, penerapan tehnik silvikultur yang baik dengan pendekatan sosial budaya serta pengembangan program Pemuliaan pohon induk untuk tanaman pulai yang tepat akan mempercepat terwujudnya tegakan pulai dengan kualitas yang baik sesuai dengan permintaan pasar.

Tujuan dan Sasaran

  1. Tujuan

    Mengembangkan hutan tanaman pulai untuk memenuhi permintaan kayu sebagai bahan baku industri.

  2. Sasaran
    1. Dikuasainya teknologi perbanyakan pulai dan peningkatan genetik pulai untuk pembangunan hutan tanaman dengan produktivitas tinggi.
    2. Didapatkanya informasi pasar dan nilai ekonomi serta aspek sosial budaya pengembangan hutan tanaman pulai.

RUANG LINGKUP

Penelitian dan pengembangan jenis pulai dilakukan untuk memenuhi permintaan bahan baku industri kayu dengan meningkatkan produktivitas tegakan yang dihasilkan. Keterbatasan sumber benih yang tersedia dan belum adanya sumber benih dengan kualitas yang tinggi, diperlukan serangkaian kegiatan yang mengacu pada potensi yang tersedia dan strategi yang dapat diterapkan untuk jenis pulai. Oleh kebutuhan bibit pulai sudah sangat mendesak, maka tahap awal yang harus dilaksanakan adalah penelitian teknologi perbanyakan secara generatif dan pembiakan vegetatif dari sumber benih yang sudah tersedia diikuti dengan konservasi ex-situ dan penelitian peningkatan produktivitas tanaman dengan memanfaatkan potensi genetik yang tersedia dihutan alam maupun tanaman.

Lingkup kegiatan penelitian yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan, dengan strategi menguasai teknologi perbanyakan dan peningkatan genetik pulai untuk membangun hutan tanaman dengan produktivitas tinggi. Dengan strategi tersebut diharapkan dapat memberikan arah dengan konsekuen yang jelas dan saling terkait.

  1. Teknologi Perbenihan

Penelitian dilakukan untuk mengantisipasi kebutuhan bibit dalam jangka pendek dengan menggunakan materi yang ada. Paket teknologi perbenihan yang akan dilakukan adalah dalam rangka perbanyakan bibit secara generatif dan vegetatif untuk memperoleh bibit dalam jumlah yang memadai dengan sumber benih yang terbatas, sehingga materi yang digunakan belum berasal dari pohon-pohon induk yang terseleksi akan tetapi menggunakan bahan yang telah tersedia.

Penguasaan teknik perbanyakan secara generatif dan vegetatif sangat diperlukan sebagai dasar dalam pelaksanaan kegiatan penelitian tanaman pulai. Mengingat jenis tanaman pulai masih sangat sedikit informasi hasil penelitian dari aspek tersebut. Teknik yang dilakukan dalam rangka perbanyakan tanaman pulai ini meliputi teknik perbanyakan yang tepat untuk pembangunan populasi dasar dalam bentuk konservasi genetik ex-situ, populasi pemuliaan atau populasi uji, populasi propagasi untuk perbanyakan produksi benih dan produksi dalam bentuk materi tanaman.

B. Silvikultur

    Uji silvikultur dilaksanakan untuk mendapatkan informasi teknik silvikultur terbaik dalam mengoptimalkan pertumbuhan pulai pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda. Penelitian ini meliputi uji jarak tanam, persiapan lahan, perlakuan pruning, teknik pemeliharaan serta kegiatan teknik silvikultur yang lainnya. Dalam jangka panjang informasi teknik silvikultur ini sangat berguna dalam rangka mengoptimalkan potensi genetik hasil pemuliaan pohon setelah benih unggul dihasilkan dari populasi pemuliaan pada setiap generasi.

    C. Pemuliaan pohon

    Kegiatan penelitian pemuliaan pohon dilaksanakan untuk mendapatkan individu-individu superior dan mengetahui potensi genetik yang dimiliki oleh individu penyusun uji genetik yang akan digunakan sebagai materi hutan tanaman melalui populasi propagasi. Hasil pemuliaan akan digunakan sebagai materi uji genetik pada tahap berikutnya untuk meningkatkan produktivitas hutan tanaman. Kegiatan penelitian yang akan dilaksanakan dari aspek pemuliaan pohon adalah sebagai berikut:

1. Populasi Propagasi

Populasi perbanyakan diutamakan akan menggunakan metode generatif dan vegetatif makro. Selain mudah diaplikasikan di lapangan juga memberikan hasil yang baik serta dapat dilakukan dengan teknologi sederhana terutama untuk konsumsi pengembangan program hutan rakyat. Pada tahap awal, populasi propagasi dibangun dari materi yang belum diseleksi untuk dapat menghasilkan bibit dalam jumlah yang berlimpah dalam waktu yang relatif singkat tanpa bergantung lagi kepada hutan alam. Penguasaan teknik perbanyakan generatif dan vegetatif serta pembangunan populasi perbanyakan juga akan digunakan pada saat telah diperoleh benih hasil seleksi melalui uji keturunan pada tahap selanjutnya.

Populasi perbanyakan dapat dibangun dalam bentuk kebun benih semai, kebun benih klon atau kebun pangkas. Untuk dapat menghasilkan hal tersebut diperlukan teknik-teknik perbanyakan yang tepat sesuai peruntukannya agar dapat menghasilkan bibit dan tanaman yang baik.

2. Keragaman Genetik (pendekatan DNA)

Marker atau penanda molekuler merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk mendeteksi individu secara genetik (finger printing) untuk mengontrol kualitas tanaman, menentukan hubungan kekerabatan, analisis parental dan mengetahui tingkat perpindahan gen (gen flow) dalam usaha untuk memahami kualitas genetik tanaman. Informasi dalam distribusi variasi genetik juga dapat dimanfaatkan dalam usaha seleksi, pemuliaan dan konservasi tanaman kehutanan.

    Penelitian keragaman genetik pada jenis pulai dilakukan untuk mengetahui hubungan kekerabatan antar populasi dan individu didalam populasi. Informasi dari hasil analisis DNA ini akan digunakan sebagai dasar dalam penentuan strategi pemuliaan dan konservasi genetik pada jenis pulai. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui; apakah masih terdapat keragaman genetik yang cukup untuk dilakukan seleksi melalui uji genetik, atau sistem apa yang tepat dikembangkan untuk jenis pulai dalam membangun uji genetik apabila terdapat informasi masih terdapat keragaman genetik pada jenis pulai. Dengan demikian, informasi hasil analisis DNA akan diperlukan dalam memperbaiki strategi yang pernah dibuat apabila terdapat informasi yang tidak sesuai dengan hipotesa sebelumnya.

3. Studi Phenologi

    Pengetahuan masa pembungaan dan pembuahan pulai sangat dibutuhkan dalam membangun uji genetik untuk menghasilkan benih unggul. Informasi waktu berbunga dan berbuah (kalender bunga dan buah) untuk jenis pulai akan sangat berguna pada saat dilakukan persilangan dalam strategi jangka panjang. Sedangkan dalam jangka pendek akan bermanfaat untuk mengetahui masa panen raya jenis pulai dan waktu koleksi yang tepat untuk uji genetik. Studi Phenologi akan dilaksanakan pada kebun konservasi ex-situ yang dibangun dari berbagai ekotipe hutan.

    Peningkatan genetik dapat dihasilkan melalui uji genetik yang dilaksanakan secara komprehensif dalam program pemuliaan pohon. Pada tahap awal, peningkatan genetik dalam rangka peningkatan kinerja suatu jenis tanaman dapat dilakukan melalui seleksi tingkat individu dari populasi alam untuk membangun sumber benih dalam jangka pendek. Individu-individu pohon dengan phenotipe bagus dipilih sebagai pohon induk untuk membangun sumber benih. Sedangkan dalam jangka menengah dapat dilakukan melalui serangkaian kegiatan uji keturunan dalam populasi pemuliaan.

    Uji keturunan merupakan uji atau populasi pemuliaan (breeding population) yang menjadi pusat kegiatan dari strategi pemuliaan suatu jenis. Populasi pemuliaan terdiri dari pohon-pohon terpilih dalam suatu seri uji keturunan dimana siklus seleksi dan penyilangan akan dilakukan berulang-ulang dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Keberhasilan dari strategi ini tergantung pada informasi parameter genetik yang dihasilkan dari sipat-sipat yang unggul serta metode yang diterapkan pada setiap tahapan. Seleksi. Adapun tujuan dari uji keturunan adalah untuk mendapatkan informasi potensi genetik dan individu superior untuk menghasilkan benih unggul. Uji keturunan dilaksanakan setelah mendapatkan informasi hasil analisis keragaman genetik yang dilakukan dengan pendekatan DNA.

EKONOMI

Beberapa informasi mengenai pasar hasil industri yang menggunakan bahan baku kayu pulai selama ini belum dipahami dengan baik. Hal ini sangat diperlukan dalam upaya percepatan pembangunan hutan tanaman yang memerlukan informasi pasar dalam negeri maupun pasar dunia dari industri yang menggunakan bahan baku jenis tersebut. Terkait dengan hal tersebut, diperlukan penelitian tentang kajian peluang pasar dan daya saing dalam perdagangan kayu pulai. Penelitian ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui:

1). Kinerja pasar kayu pulai baik pasar dalam negeri maupun pasar dunia,

2). Peluang pasar kayu pulai yang tersedia dipasar dalam negeri maupun pasar

Dunia, dan

3). Daya saing kayu pulai sebagai substitusi kayu impor dan ekspor kayu sejenis

dan atau jenis lainnya untuk bahan baku industri di pasar dalam negeri maupun

pasar dunia

SOSIAL BUDAYA

Dalam pengembangan hutan tanaman pulai, di beberapa wilayah Indonesia masih mengalami kendala terutama terkait dengan anggapan masyarakat bahwa pohon pulai merupakan pohon keramat yang tidak boleh ditebang, disisi lain masyarakat setempat memerlukan bahan baku tersebut untuk industri kerajianan sebagai komoditi ekspor dan domestik. Kondisi demikian menyebabkan bahan baku tersebut didatangkan dari luar yang juga kondisinya sangat terbatas dengan harga yang relatif lebih tinggi karena memerlukan transportasi dan semakin langka. Kajian sosial ini dilakukan sebagai upaya pendekatan sosial budaya dalam pengembangan hutan tanaman pulai agar diperoleh solusi terbaik dalam mengembangkan jenis ini tanpa ada permasalahan dengan masyarakat.

PENUTUP

Dengan diadakannya suatu penelitian pemuliaan tanaman pulai diharapkan memberikan suatu kontribusi pengetahuan kepada kalayak ramai, terutama tentang jenis-jenis tanaman pulai yang ada di Indonesia, karena selama ini masih banyak masyarakat yang belum mengenal tentang tanaman pulai. Hanya orang tertentu saja yang tahu tentang tanaman pulai misalnya; pengusaha kerajinan topeng dibantul, Bali dan para pegawai kehutanan itupun belum tentu semua pegawai kehutanan mengetahui tanaman pulai.

Danu dan Nurhasybi. 1998. Dari Benih ke Penanaman Jelutung Untuk Hutan Tanaman Rawa Gambut. TEKNO BENIH Vol. III No. 1, 1998. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Balai Teknologi Perbenihan. Bogor

A. A. Hamdan, Moko. H. dan Suwandi. 2002. Efek Pemberian Pupuk Majemuk NPK Terhadap Pertumbuhan Bibit Shorea javanica K&V Asal Pucuk. Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon. Vol. 6 No. 2, 2002 P3BPTH, Yogyakarta.

Anonim. 2006. Usulan Kegiatan Penelitian (UKP) 2006-2009 P3HT Bogor.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , , , , . Komentar Dimatikan

Pulai (Alstonia scholaris R.BR.)

Pulai (Alstonia scholaris  R.BR.)

Oleh : Hamdan Adma Adinugraha, S.Hut,M.Sc

 

Pulai (Alstonia scholaris) merupakan salah satu jenis indegenous species dan tumbuh cepat (fast growing species) yang mempunyai prospek bagus untuk dikembangkan untuk HTI. Jenis ini termasuk dalam famili Apocinaceae (bergetah putih). Daerah sebaran pulai sangat luas yaitu hampir di seluruh wilayah Indonesia. Wirjodarmodjo (1959) menyampaikan bahwa pulai tumbuh pada ketinggian   1m – 1.230 m dpl dan  tempat yang tidak pernah tergenang air. Pohon pulai dapat mencapai tinggi 40 m, batang bebas cabang 28 m dan diameter setinggi  dada mencapai 150 cm. Sampai saat ini pulai belum banyak dikembangkan dalam skala luas karena pohon ini masih mudah diperoleh di hutan belukar (Wawo, 1996 dalam Pratiwi, 2000).

Pembibitan

Sampai saat ini permintaan bibit pulai berkualitas untuk pembangunan hutan tanaman belum dapat dipenuhi mengingat ketersediaan sumber benih pulai belum ada. Oleh karena itu Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta telah melakukan upaya pemuliaannya untuk memperoleh benih unggul. Tanaman pulai juga dapat diperbanyak secara vegetatif dengan teknik cabang dan stek pucuk (Leksono, 2003; Mahfudz, et al, 2003; Mashudi et al, 2004).

 Pemanfaatan

Kayu pulai mempunyai kelas awet V dan kelas kuat IV-V yang biasa digunakan untuk pembuatan venir, peti, korek api, hak sepatu, barang kerajinan seperti wayang golek dan topeng, cetakan beton dan pulp (Samingan, 1980; Martawijaya, et al., 1981). Beberapa industri yang menggunakan bahan baku kayu pulai saat ini adalah industri pensil ”slate” di Sumatera Selatan, industri kerajinan topeng di Yogyakarta dan industri kerajinan ukiran di Bali (Mashudi, 2005).

 Bahan Bacaan

Leksono, B., 2003. Konservasi Ex-situ Pulai dari Beberapa Ekotipe Hutan. Laporan Litbang Pemuliaan Pulai (Alstonia spp.). Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.

Mahfudz, Hamdan, A.A. dan M. Anis F. 2003. Pengaruh Media dan Dosis Rootone-F terhadap Keberhasilan Stek Pucuk Pulai (Alstonia scholaris). Jurnal Penelitian Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Vol. 1 (1).

Martawijaya, A., I. Kartasujana, K. Kadir, dan S. A. Prawira. 1981. Atlas Kayu Indonesia. Jilid I. Badan Litbang Kehutanan. Bogor.

Pratiwi. 2000. Potensi dan Prospek Pengembangan Pohon Pulai untuk Hutan Tanaman. Buletin Kehutanan dan Perkebunan Vol. 1(1).

Samingan, T.,  1980. Dendrologi. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Wirjodarmodjo, H., 1959. Pohon-Pohon Terpenting di Indonesia. Pengumuman No. 71  Seri 1.  Lembaga Pusat Penyelidikan Kehutanan. Bogor.

Mashudi. 2005. Pulai Merupakan Jenis Potensial untuk Pengembangan Hutan Tanaman. Informasi Teknis Vol.3 No. 1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Yogyakarta.

Mashudi, Hamdan AA dan Surip. 2004. Teknik Pembiakan Vegetatif Pulai. Informasi Teknis. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta

Ditulis dalam Tanaman Kategori P. Tag: , , , . Komentar Dimatikan

Perbanyakan Tanaman Pulai

Perbanyakan Tanaman Pulai

(Oleh:Suwandi)

I. PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Pulai (Alstonia spp.) sebagai tanaman yang dapat dimanfaatkan berupa kulit,daun dan kayunya bisa dipergunakan untuk ; mainan anak-anak,papan gambar,bingkai gambar,kerajinan seperti topeng,kotak korek api,perabotan rumah tangga dan batang korek api.(Samingan,1982). Pohon ini mulai dikhawatirkan keberadaannya di hutan alam, karena banyak penembangan liar yang tidak terkendalikan oleh pihak-pihak yang berwenang,jenis ini termasuk dalam famili/suku Apocynaceae,di indonesia dan juga di beberapa negara seperti; Papua New Guinea,Philipina,india,Vietnam,Malaisya,Afrika Barat,Burma dan Thailand,dikenal jenis-jenis  Alstonia scholaris, Alstonia angustiloba,Alstonia spatulata,Alstonia congensis,Alstonia actinophylla dan Alstonia angustifolia.

Hampir seluruh wilayah di indonesia di tumbuhi oleh jenis pulai (Alstonia sp),diantarnya adalah: Kalimantan (Kalimantan Barat,Kalimantan Tengan dan Selatan),Sumatra (Sumtra Barat,Sumtra Utara,Sumtra Selatan,Aceh,Riau, Jambi dan Bengkulu), Jawa (Jawa Barat,Jawa Timur,Jawa Tengan dan Daerah Istimewa Yogyakarta).

Sedangkan di Pulau Dewata (Bali) pohon pulai dianggap keramat, sampai pohon pulai dibiarkan dipura mereka mencapai diameter 200 cm.

Ada beberapa marga yang tumbuh di daerah darat/dataran tinggi,berbukit dengan ketinggian 1000 m dari permukaan laut. Diantaranya marga Alstonia scholaris,sebagaian dari masyarakat di indonesia menyebut marga scholaris yaitu Pulai gading untuk sementara ini yang paling diminati masyarakat pulai gading karena kayunya berserat halus dan tempat tumbuhnya pun tidak selalu di daerah rawa.

Perbanyakan Pulai dengan stek cabang dan stek pucuk banyak mengalami kegagalan terutama materi yang diambil jauh dari lokasi penyetekan dilakukan. Kalau perbanyakan dengan benih memang tidak banyak mengalami kegagalan namun kesulitannya yaitu penentuan kepastian informasi kapan pulai mulai berbuah, dari masyarakat setempat dimana daerah yang dituju untuk mengeksplorasi buah tersebut.

Sehingga dalam juknis ini disajikan bagaimana tehnik perbanyakan dengan cara vegetatif dan dengan Generatif.

B. Tujuan

Tehnik stek cabang dan tehnik stek pucuk bisa diterapkan untuk beberapa keperluan yaitu untuk mendapatkan bibit unggul yang fenotipnya sama dengan pohon induknya,supaya mempercepat perbanyakan bibit dalam jangka waktu relatif tidak begitu lama. Juknis ini ditulis untuk memberikan informasi tehnis tentang perbanyakan tanaman pulai kepada masyarakat umum.

 

II. TEHNIK PERBANYAKAN

1.      Cara generatif

Buah pulai (Alstonia spp), berbentuk polong,persis seperti buah kacang panjang,kalau buah yang sudah masak kulit buah berwarna hitam kecoklatan,dan permukaan kulit polong mulai mengeras.biji berbentuk kapuk jika ditiup angin akan mudah terbang. Dari itu jika ingin mengunduh buahnya jangan tunggu sampai kulit buah pecah.

Panjang buah antara 25 cm-35 cm,dengan diameter 1,5 cm. Pengunduhan buah sebaiknya dengan cara memanjat pohon yang sedang berbuah dan buahnya sudah agak tua,khusus untuk pohon-pohon yang tinggi dan berdiameter besar perlu menggunakan alat panjat yang memadai.

Ektrasi buah dapat dilakukan dengan cara dijemur dibawah sinar mata hari selama lebih kurang 5 hari atau 7 hari,biasanya buah akan membelah (pecah) biji akan keluar berhamburan karena biji pulai tipis bersayap atau mempunyai kapas seperti kapuk.(Danu dan Nurhasbi,1998). Untuk mengkecambahkan biji pulai (Alstonia spp), tersebut adalah sebagai berikut:

a)      Media tabur

Media yang digunakan untuk penaburan biji pulai (Alstonia spp), adalah bisa dari gambut halus,tanah campur pasir dengan perbandingan 1:1,sabut kelapa halus dan bisa dengan pasir saja tanpa campuran apa-apa.

Sebaiknya sebelum penaburan dilakukan media yang akan digunakan untuk penaburan biji pulai tersebut terlebih dahulu disiram dengan fungisida ( Benlate atau Dithane 45),tujuannya agar media tersebut tidak terserang oleh jamur. Unutk meletakan media bisa kita gunakan bok dari plastik. Dan media dibiarkan untuk beberapa saat agar zat-zat beracun hilang.

b)      Penaburan/pengecambahan

Benih yang sudah di ektrasi bisa langsung di tabur di media tabur tanpa memberi perlakuan, dan juga bisa biji pulai tersebut sebelum ditabur terlebuh dahulu direndam dengan air dingin selama 24 jam,kemudian ditiriskan. Selanjutnya biji di tabur pada secara merata pada media yang telah disediakan terlebih dahulu

Benih yang telah ditabur dimedia tabur disiram 2 kali sehari pagi dan sore hari dan bak taburnya ditutup dengan plastik bening agar penguapannya terjaga,dan juga supaya biji tidak terlalu kepanasan.

 c)      Media sapih

Media sapih dapat menggunakan tanah campur pasir campur kompos (1:1:1),kemudian dimasukan kedalam kantong plastik(polybag) ukuran 15×25 cm. Setelah 3 minggu penyapihan dilakukan baru media sapi diberi pupuk NPK 2-3 butir/polybag dan Furadan 3G 2-3 butir/polybag. Dan disiram setiap hari sebanyak 2 kali sehari pagi dan sore hari.

2.      Cara Vegetatif

Bibit pohon pulai dapat diproduksi dengan perbanyakan secara vegetatif,terutama berupa setek pucuk dan setek cabang atau ranting pohon pulai. Kita sudah berbicara tentant setek tetapi apa sebenarnya setek itu, setek itu sering di defenisikan oleh orang-orang pandai sebagai suatu perlakuan pemisahan,pemotongan beberapa bagian dari tanaman (akar,batang,daun dan tunas) dengan tujuan agar bagian-bagian itu membentuk akar. dengan dasar itu maka muncullah istilah setek akar,setek batang,setek cabang,setek daun,setek umbi, dan sebagainya.(Wudianto, 2002)

Sedangkan keuntungan dari mengembangbiakan tanaman secara vegetatif (Pracaya,1999) adalah sebagai berikut:

-          Tanaman yang terbentuk mempunyai sifat-sifat yang sama seperti pohon induknya. Bila dari biji mungkin akan terjadi tanaman yang berbeda sifatnya.

-          Tanaman cepat berbunga dan cepat berbuah.

-          Bila biji tanaman tidak bisa tumbuh atau lemah perkecambahannya,atau tidak berbiji maka dikembangbiakan secara aseksual(vegetatif).

Tata cara memproduksi bibit pulai dengan cara vegetatif (setek) adalah sebagai berikut;

(a)    Pemilihan pohon induk

Pemilihan pohon induk pohon pulai (Alstonia spp), dengan cara mengekplorasi pohon pulai ke beberapa daerah yang ada di wilayah indonesia.mengambil berupa cabang dan pucuknya. Syarat pohon induk yang baik adalah tumbuh subur dan normal,sehat,serta produktif berbunga dan berbuah.

(b)   Persiapkan Alat dan Bahan
1)      Alat

Alat yang disiapkan untuk melakukan kegiatan penyetekan adalah sbb:

-          Karung plastik

-          Ember/Baskom untuk penampungan air

-          Bak pasir

-          Gergaji

-          Parang/Golok

-          Gunting setek

-          Cangkul,Skop

2)      Bahan

-          Tanah,Pasir Pupuk kompos,Pupuk kandang

-          Fungisida,Rhotone F dan Rhizatun F untuk perangsang akar

(c)    Pelaksananan penyetekan/menyetek

1). Setek cabang.

Sebagain orang menyebut setek cabang dengan setek kayu,karena umumnya tanaman yang dikembang biakandengan setek cabang  adalah tanaman yang berkayu. Setek cabang ini meliputi setek cabang yang telah tua dan cabang setengah tua. Digolongkan demikian karena ada beberapa tanaman yang hanya di kembangbiakan dengan stek cabang yang telah tua,tapi ada juga yang hanya dapat di setek dengan cabang setengah tua,(Wudianto.R,2002) namun lain halnya dengan tanaman pulai (Alstonia spp),cabang yang bisa di setek yaitu cabang dari hasil terubusan tanaman tua. Itu pun tingkat keberhasilannya belum begitu memuaskan. Adapun tata cara pelaksanan penyetekkan cabang adalah sbb:

  1. Pilih cabang pohon pulai (Alstonia spp),yang sehat dan berwarna hijau muda. Potong cabang menjadi beberapa potongan sepanjang ±15 cm-20 cm atau tiap potong mengandung dua ruas mata tunas.kalau bisa usahakan cabang dari tanaman yang tidak terlalu tua trubus dari pohon pulai yang sudah ditebang tapi masih mengeluarkan trubus.
  2. Celupkan setek tadi kedalam larutan fungisida (Benlate atau Dikthane 45),dengan kosentrasi ±0,2% untuk menghindari adanya serangan jamur terhadap setek tersebut.
  3. Rendam pangkal setek dalam larutan Rhootone F (kosentrasi 100 gram/5 liter air selama 1 jam),atau dengan larutan Athonik 100cc/5 liter air selama 2 jam.

2). Setek pucuk.

Sesuai dengan namanya,setek pucuk ini diambil dari pucuk-pucuk batang yang masih muda dan masih dalam masa pertumbuhan. Banyak jenis tanaman yang dapat diperbanyak dengan setek pucuk.

Untuk jenis tanaman kehutanan khususnya,ada beberapa tanaman yang bisa dikembang biakan dengan setek diantaranya; Acacia mangium,Eucalyptus pellita,Pulai(Alstonia sp,shorea sp,dan sebagainya. Unutuk penyetekan pucuk sbenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan cara penyetekan dari cabang,adapun cara penyetekan pucuk adalah sbb;

  1. Pilih pucuk pulai (Alstonia spp),yang segar atau yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda serta masih dalam masa pertumbuhan.
  2. Buang 2/3 dari daun(Maksimal tinggal 2 helai daun),kemudian daun yang masih tersisa tiap daun dipotong ½ daun bertujuan untuk mengurangi penguapan.
  3. Panjang setek ±10 cm atau disesuaikan dengan kondisi pucuk yang ada.
  4. Pemotongan pangkal setek pucuk diusahakan dibawah ketiak daun,karena biasanya akar paling cepat keluar dari bawah ketiak daun tersebut.
  5.  Sebelum setek ditanam terlebih dahulu bagian pangkal setek di celupkan kedalam hormon Rootone F atau Rizatun.

III.PENANAMAN SETEK

 Setelah kegiatan penyetekan selesai,selanjutnya kitan akan segera melakukan penanaman setek tersebut. Sebenarnya sebelum melakukan penyetekan kita terlebih dahulu menyiapkan tempat untuk penanaman setek tersebut. Diantaranya;

  1. Menyiapkan media

Kalau yang kita setek itu adalah cabang dari pohon pulai (Alstonia spp),maka media yang kita gunakan untuk penanaman setek ada dua alternatif yaitu: 1. Pasir sungai 2. Tanah :Pasir:Kompos (2:1:1).semua media dimasukan kedalam kantong plastik (polybag) baik yang bening atau yang gelap dengan diameter 60 cm x 40 cm.

Sedangkan jika setek pucuk tidak menggunakan tanah sebagai media, soalnya takut setek pucuk terserang jamur. Media yang digunakan cukup pasir saja kalau stek pucuk tidak harus menggunakan polybag sebagai tempat media,cukup dengan bak yang telah di isi dengan pasir.

  1. Menyiapkan bedengan dan Sungkup

Dalam penyiapan bedengan yang harus kita perhatikan adalah letak bedengan,dan harus ada sumber air,jika sumber air tidak ada atau jauh bedengan nanti akan mengalmi kesulitan dalam penyiraman setek,terutama setek cabang.

Bedengan bisa dibuat permanen dan semi permanen,jika bedengan itu dibuat permanen bedengan dibuat dari batu bata dan di semen,untuk menahan sinar mata hari agar tidak terkena langsung terhadap setek,dan untuk mengurangi tekanan air hujan maka bedengan diberi tiang dari besi dan di tutup dengan sarloon dan di bawah sarloon dibuat lagi penutup dari plastik bening agar penguapan terjaga penutup tersebut dinamai sungkup.

Sedangkan bedengan semi permanen pembatasnya cukup dibuat dari kayu,juga tiang untuk penutup bedengan terbuat dari kayu.

Bedengan di buat membujur utara-selatan,bedengan menghadap kearah timur lebar bedengan 1 m2 dan panjang 5 m2 atau sesuai keinginan kita.

  1. Penanaman setek

Sebelum setek-setek kita tanam media yang telah disiapkan itu di siram dengan air sampai jenuh,barulah setek mulai ditanam

Setek yang sudah direndam (Setek cabang) atau dicelupkan (Setek pucuk) dalam laruan hormon Rootone F di tanam di media yang sudah disediakan tersebut.seperti yang telah disebutkan diatas setelah semua setek di tanam maka bedengan ditutup dengan plastik bening(Sungkup),kalau menggunkan bak maka baknya juga ditutp dengan plastik bening.

IV. PEMELIHARAAN DAN PENYAPIHAN SETEK

 Agar setek yang sudah  ditanam dapat bertunas dengan baik kita perlu melakukan pemelihraan setek-setek tersebut. Disini pemiliraan stek digolongkan kedalam dua bagian sesua dengan jenis seteknya.diantanya;

  1. Pemeliharaan
  1. Pemiliharaan setek cabang

Pemeliharan setek cabang agak berbeda sedikit dengan setek pucuk terutama dalam hal penyiraman,setek batang cukup disiram dua kali sehari,pagi dan sore hari,akan tetapi apabila media masih kelihatan basah kita tidak perlu menyiram dua kali dalam sehari cukup sekali saja. Alat yang digunakan untuk penyiraman setek batang bisa menggunakan slang air atau gembor dengan cara menyiramkan langsung pada setek tersebut.

Jika media setek kelihatan berwarna hitam seperti limbah berarti media tersebut telah diserang oleh jamur maka kita perlu menyemprot fungisida kemedia tersebut dengan menggunakan Benlate atau dithane 45.

  1. Pemeliharaan setek pucuk (cutting)

Pemeliharaan stek pucuk harus agak ekstra hati-hati karena setek pucuk lebih gampang busuk jika terlalu banyak air dan juga pucuk akan kering apabila kekurangan air.

Terus alat penyiraman juga harus yang semprotan airnya halus,supaya setek tidak bergoyang atau bergeser dari tempat dimana setek ditanam. Alat yang digunakan biasanya sprayer,bisa disiram dua kali sehari ada juga sitem penyiraman berinterval sperti yang dilakuna oleh perusahaan untuk memproduksi setek pucuk dalam berskala besar.

            Seperti yang dilakukan PT Arara Abadi diriau tapi yang diproduksi adalah stek pucuk Acacia mangium,penyiraman dilakuan sebagai berikut;

-          Setek umur 0-21 hari dengan lama penyiraman 7-10 detik dengan interval 7-10 menit (artinya penyiraman dilakukan setelah 7-10 menit sekali).

-          Setek berumur 4 minggu lama penyiraman 15-20 detik dengan interval 15-20 menit

-          Setek berumur 5 minggu lama penyiraman 20-30 detik dengan interval 30 menit.

-          Setek ber umur di atas 7 cukup disaram du kali sehari.

Perlu diketahui penyiraman dengan sistem menit dan berinterval hanya dapat digunakan dipersemaian permanen dan menggunakan alat pengabutan(sumber dari mandor lapangan Nusery PT Arara Abadi hasil wawancara tahun 2000).

  1. Penyapihan

Setelah setek ber umur 2-4 bulan jika sudah ada yang berakar kita pindahkan ke polybag. Kemudian kita siram media dengan air bersih secukupnya. Ini apa bial media seteknya cuma pasir saja biasanya yang sering dilakukan penyapihan adalan setek pucuk,karena disamping polybagnya kecil juga medianya cum pasir saja sedangkan setek cabang yang medianya sudah ada campuran tanah:pupuk kompos:pasir(2:1:1),hanya kita keluarkan saja dari sungkup agar mendapat cahaya yang cukup.

V. KESIMPULAN

 Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perbanyakan pulai (Alstonia Sp),dengan tehnik generatif tidak mendapat kesulitan yang berarti. Cuma kesulitannya dalam hal pengambilan buah karena biasanya buah diambil dari pohon induk yang telah di tunjuk, kebetulan tempatnya jauh dari lokasi dimana tempat perbanyakan dilakukan.

Cuma yang ada mengalami kesulitan dalam perbanyakan dengan tehnik vegetatif, baik stek cabang maupun steek pucuk,kesulitannya hampir sama.akan tetapi jika materi setek pucuk yang diambil dari kebun pangkas tingkat keberhasilannya lumayan cukup bagus.

DAFTAR PUSTAKA

 Danu dan Nurhasybi. 1998. Dari Benih ke Penanaman Jelutung Untuk Hutan Tanaman Rawa Gambut. TEKNO BENIH Vol. III No. 1, 1998. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Balai Teknologi Perbenihan. Bogor

A. A Hamdan, Siagian. T. Y. dan Suwandi. 2003. Pengembangan Produksi Bibit Tanaman  Kayu putih (Melaleuca cajuputi) Wana Benih vol. 4 No. 1, Juni 2003 P3BPTH Yogyakarta.

A. A. Hamdan, Moko. H. dan Suwandi. 2002. Efek Pemberian Pupuk Majemuk NPK Terhadap Pertumbuhan Bibit Shorea javanica K&V Asal Pucuk. Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon.  Vol. 6 No. 2, 2002 P3BPTH, Yogyakarta.

Rukmana, Rahmat. 1997. Soka, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Pracaya. 1999. Jeruk Manis, P. T. Penebar Swadaya, Jakarta.

Wudianto, R. , 1992, Membuat Setek, Cangkok dan Okulasi, P. T. Penebar Swadaya, Jakarta.

Anonim. 1987. Pengaruh Hormon Dan Konsentrasi Pada Pembiakan Vegetatif Acacia mangium di Kaliurang, Yogyakarta. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan Bagian Proyek Pusat Produksi Benih dan Pemuliaan Pohon. Laporan Proyek.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , , . Komentar Dimatikan
in parentheses

new modernism

Before the Downbeat

Thoughts on music, creativity, imagination, and exploring the space between the notes.

Life Inspired

Home | Family | Style

wordssetmefreee

Making sense of the world through words

The Rational Optimist

Frank S. Robinson's blog on life, society, politics, and philosophy

Chronicles of an Anglo Swiss

Welcome to the Anglo Swiss World

Hoarded Ordinaries

Mundane musings from a collector of the quotidian

A Vital Recognition

the immanence of Self, Spirit, and Nature

A Feminist Challenging Transphobia

The greatest WordPress.com site in all the land!

Dear Me

notes from the future

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 521 pengikut lainnya.