CARA MUDAH DAN MURAH MEMBUAT BIBIT SUKUN

CARA MUDAH DAN MURAH MEMBUAT BIBIT SUKUN

 

Oleh: Hamdan AA. dan Suwandi

 

       Gambar 1. Buah sukun gundul

Tanaman sukun adalah salah satu jenis tanaman kehutanan yang menghasilkan buah dengan kandungan gizi yang tinggi. Selain menghasilkan kalori (karbohidrat) yang cukup, buah sukun juga mengandung vitamin C, kalsium dan fosfor yang cukup tinggi. Oleh karena itu jenis ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai alternatif bahan makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Salah satu kendala yang dihadapi dalam budidaya tanaman sukun adalah pengadaan bibit yang baik, karena jenis sukun tidak menghasilkan biji sehingga pembibitannya dilakukan secara vegetatif. Teknik pembiakan vegetatif yang dapat dilakukan antara lain pencangkokan, pemindahan tunas alami, stek akar dan stek pucuk. Akan tetapi teknik yang sudah biasa dilakukan adalah stek akar dan stek pucuk, karena dengan cara ini akan diperoleh bibit dengan jumlah yang mmadai.

 

Tahapan pembibitan sukun dengan stek akar

 

  1. Pemilihan  pohon induk yang baik dengan ciri-ciri sehat /tidak terserang hama/penyakit, produktivitas buah tinggi dan rasa buah enak
  2. Pengambilan akar dipilih yang  menjalar dekat dengan permukaan tanah dengan diameter 1-3 cm
  3. Pembuatab persemaian : akar dipotong-potong sepanjang 10-15 cm, kemudian dicuci dengan air yang telah diberi zat pengatur tumbuh akar. Stek ditanam dengan posisi tegak pada media pasir di dalam bedengan yang diberi sungkup dari plastik untuk menjaga kelembaban sampai dengan 90%. Penyiraman dapat dilakukan 1-2 kali sehari (pagi dan sore hari). Dengan memelihara kelembaban yang baik maka keberhasilan stek akar rata-rata mencapai 80-95%.
  4. Penyapihan dan pemeliharaan bibit : setelah stek akar yang tumbuh berumur 3 bulan dilakukan penyapihan ke media tanah + pupuk kompos (3:1). Bibit dipelihara di persemaian yang di naungi paranet dengan intensitas cahaya 50%. Bibit sudah siap tanam setelah berumur 6 bulan

  Gambar 2. Tahapan pembibitan sukun dengan stek akar

 Tahapan pebibitan sukun dengan stek pucuk:

 

  1. Pembuatan stek pucuk dari trubusan stek akar : biasanya pada stek akar tumbuh 2-5 tunas, untuk mendapatkan pertumbuhan bibit stek akar yang baik hanya dibiarkab satu buah tunas, sisanya dipangkas. Tunas-tunas yang tidak dimanfaatkan tersebut dapat ditanam sebagai stek pucuk dengan persen hidup rata-rata 90-100%.
  2. Pembuatan stek pucuk dari kebun pangkas : selain itu dapat pengambilan tunas dapat dilakukan dari tanaman sukun yang dipangkas. Pembuatan kebun pangkas dapat dilakukan di persemaian atau di lapangan. Tanaman sukun yang dipangkas setinggi 50 cm. Keberhasilan tumbuh stek pucuk dari kebun pangkas mencapai 64,50%.

    Gambar 3. Tahapan pembibitan sukun dengan stek pucuk

  Pembuatan stek pucuk dilakukan dengan memotong tunas sepanjang 10 cm, memiliki 2-3 daun. Satu buah tunas dapat dibuat menjadi 2 stek pucuk (potongan ujung dan bagian pangkal). Penanaman stek dilkukan pada media pasir sungai di dalam bedengan bersungkup. Stek pucuk dapat disapih ke media tanah + kompos (3:1) setelah berumur 2-3 bulan. Bibit dipelihara di persemaian dengan naungan paranet 50% sampai siap tanam. Keberhasilan tumbuh stek pucuk dapat mencapai 88,83%.

 Bahan bacaan

 Adinugraha, H.A., Kartikawati, N.K. dan Suwandi. 2004.Penggunaan Trubusan Stek Akar Tanaman Sukun Sebagai Bahan Stek Pucuk. Jurnal Penelitian Hutan tanaman vol. 1 no. 1, April 2004,   halaman 21-28. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

Adinugraha, H.A., Kartikawati, N.K dan Ismail, B. 2004. Pengaruh Ukuran Stek Posisi dan Kedalaman Tanam Terhadap Pertumbuhan Stek Akar Sukun. Jurnal Penelitian Hutan tanaman Vol. 1 No. 2, Agustus 2004,   halaman 79-86. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemu-liaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

Setiadi, D. Dan Adinugraha, H.A. 2005Pengaruh Tinggi Pangkasan Induk Terhadap Kemampuan Bertunas Tanaman Sukun Pada Kebun Pangkas. Jurnal Penelitian Hutan tanaman Vol. 2  No. 2, Agustus 2005,   halaman 13-20. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

Punica granatum atau Delima (Punicaceae)


Nama-nama umum (Common names): Pomegranate (English); totum (Cambodia); delima (Indonesia, Malaysia); phiilaa (Laos); salebin, talebin, thale (Myanmar); granada (Phillipna); thapthim (C.Thailand); phila (N.E. Tha); bakoh (N.Tha); lu’u, thap lu’u (Vietnam).

Kunci karakteristik : jenis semak atau pohon kecil ; bercabang dari dasar ; masing-masing cabang berakhir di tulang belakang ; kadang-kadang memiliki duri keras pada ranting ; duduk daun sebagian besar berlawanan
Keterangan : merupakan jenis  semak atau pohon kecil hingga 6 -10 m,  Sering kaya bercabang dari dasar , masing-masing cabang yang berakhir dengan tulang belakang . Sering juga berduri keras dari sudut daun . Duduk daun aun kebanyakan berlawanan , kadang-kadang sub - berlawanan atau berkerumun , lonjong - lanset , panjang 1-9 cm dan lebar 0,5-2,5 cm dengan basis akut atau tumpul , seluruh margin dan tip tumpul atau emarginate . Bunga 1-5 bersama-sama di atas ranting , lilin , panjangnya 4-5 cm dan lebar dengan warna  merah  sedangkan untuk kelopak putih . Buahnya 6-12 cm , sangat bervariasi dalam warna , dengan kulit kasar . Interior buah dipisahkan oleh dinding membran dan jaringan spons putih ke kompartemen dikemas dengan berbagai kantung transparan kecil yang diisi dengan cairan yang manis dan benih .
Kegunaan : Buah dimakan segar atau dibuat menjadi jus atau sirup . Hampir setiap bagian dari tanaman memiliki tradisi panjang penggunaan obat dan tinta dapat dibuat dari kulit buah .
Ekologi : jenis di daerah  subtropis Hardy yang toleransi dengan suhu musim dingin yang  rendah , kekeringan dan berbagai kondisi tanah . Di Asia Tenggara ditemukan hingga 1.600 m dpl . Di daerah dengan hijau curah hujan tinggi dengan musim berbuah berkepanjangan tetapi kualitas buah yang lebih rendah .
Distribusi : Dari asal-usulnya di Asia Tengah , sekarang telah menyebar ke sebagian besar negara subtropis dan tropis , termasuk semua negara yang dicakup oleh panduan bidang ini .
Referensi : Verheij & Coronel ( 1992) .

Diterjemahkan dari Jensen, M. 1999. TREES COMMONLY CULTIVATED IN SOUTH-EAST ASIA AN ILLUSTRATED FIELD GUIDE. RAP Publication: 1999/13. FAO


Azadirachta indica

Memiliki sinonim:
Melia indica, Melia azadirachta termasuk kedalam familia Meliaceae

Nama umum : Neem, margosa-tree (English); mimba (Indonesia); tamaka (Myanmar); mambu, sadu (Malaysia); kwinin, sadao India ; sàu-dâu (Virtnam). var. siamensis: kadao, sadao, cha-tang (Thailand).


Kunci karakteristik: memiliki percabangan rendah ; bagian dalam kulit berwarna merah muda dan mengandung za astringent ; daun berbentuk pinnately majemuk ; tepi daun berombak ; bunga berukuran kecil, berwarna putih dan harum.

Keterangan : Tingginya sampai dengan 20 m, diameter batang dapat mencapai 1 m, dengan cabang-cabang yang rendah dan berbentuk mahkota bulat padat . Kulit batang coklat ketika muda , kemudian abu-abu dengan alur-alur yang dalam dan piring bersisik . Bagian dalam kulit berwarna pink (merah muda), mengandung  zat yang pahit bila dicicipi . Daun majemuk berbentuk pinnately  dan dapat gugur  selama musim kekeringan yang parah . Setiap daun memiliki 9-17 pasang yang berukuran panjang  4- 8 cm dan ujungnya melengkung  berbentuk tombak, bergerigi dan selebaran runcing . Bunganya banyak /melimpah , kecil , putih dan harum, yang timbul di sudut tangkai daun . Buah kecil , drupes elips halus , kuning atau kehijauan - kuning saat matang .
Kegunaan : penahan angin , naungan dan pohon pakan untuk ternak , perbaikan tanah dan gurun reklamasi . Kayu serangga repellant dan digunakan untuk konstruksi, mebel, pulp kertas, chipboard dan kayu bakar . Azadirachtin , senyawa insektisida dapat diekstrak dari biji dan daun .
Ekologi : Tumbuh subur di berbagai tanah , suhu dan pola curah hujan dan ditemukan pada tanah yang miskin dari permukaan laut sampai 1.500 m dpl masih hidup suhu dari bawah 0 ° C ke lebih dari 40 ° C dan curah hujan tahunan ke 130 mm . Lebih memilih tanah asam , suhu hangat dan dari 450 sampai 1.500 mm curah hujan .


Distribusi : jenis asli pada daerah kering (dry regions) dari subcontinent India sampai Myanmar, Thailand and Malaysia to Indonesia.

References: F/FRED (1992), Hensleigh & Holaway (1988), National Research Council (1980, 1992).

Diterjemahkan dari Jensen, M. 1999. TREES COMMONLY CULTIVATED IN SOUTH-EAST ASIA AN ILLUSTRATED FIELD GUIDE. RAP Publication: 1999/13. FAO


Acacia auriculiformis

Adalah salah satu tanaman daun lebar (broadleaved trees) yang termasuk kedalam familia Leguminosae (Mimosoideae). Memiliki Synonim yaitu Acacia moniliformis, Acacia auriculaeformis. Adapun nama umum (common names) jenis ini antara lain Japanese acacia, tan wattle, northern black wattle, earpod wattle, Darwin black wattle (Australia), akasia (Indonesia), auri (Phillipina).


Kunci Karakteristik : berukuran kecil sampai sedang ; batang umumnya bengkok ; memiliki banyak cabang . Daun memiliki tangkai yang rata dengan urat daun paralel; bunga berwarna kuning dan berukuran kecil dan memiliki polong melingkar.

Deskripsi : Merupakan pohon cepat tumbuh yang berukuran kecil-menengah , tingginya 8-25 m, diameter batang/dbh  dapat mencapai 60 cm . Kebanyakan memiliki batang yang bengkok  dan beberapa memiliki percabangan rendah dan berat . Kulit batang berwarna abu-abu atau coklat , Awalnya halus , kemudian menjadi kasar dan pecah-pecah . tangkai daun rata bertindak sebagai daun ( phyllodes ) panjang 10-18 cm dan lebar 2-3 cm dengan urat paralel. Pada awal pertumbuhan bibit memiliki  daun majemuk berukuran kecil. Bunga berwarna kuning sekitar 8 cm panjangnya. Buahnya berukuran  6-8 cm panjangya berbentuk polong  melingkar dengan biji coklat yang melekat dengan filamen berwarna oranye . Dapat  berkawin silang (hibridisasi)  dengan jenis A. mangium.
Kegunaan : mengontrol erosi , reklamasi tanah dan lahan. Kayunya  dapat digunakan untuk pulp, kayu bakar dan dapat digunakan untuk konstruksi, alat dan furniture terbatas serta kulitnya mengandung tanin.
Ekologi: di habitat aslinya penjajah dari dataran rendah pesisir tropis dan ditemukan di sepanjang sungai , di hutan terbuka , sabana dan berdekatan dengan hutan bakau , sering di tanah berpasir . Sangat toleran terhadap kondisi tanah yang berbeda dan pasokan air . Tumbuh subur terbaik di iklim musiman menerima 2.000-2.500 mm curah hujan tahunan tapi mungkin di sini menjadi sangat kompetitif terhadap spesies lain .


Distribusi : Berasal Papua New Guinea , pulau-pulau di Selat Torres dan Australia utara, tetapi telah diperkenalkan ke Myanmar , Thailand , Malaysia , Indonesia dan Filipina .
Referensi : Awang & Taylor (1993 ) , Hensleigh & Holaway ( 1988) , kecil (tidak bertanggal) , MacDicken (1994 ) , Dewan Riset Nasional (1980)

Diterjemahkan dari Jensen, M. 1999. TREES COMMONLY CULTIVATED IN SOUTH-EAST ASIA AN ILLUSTRATED FIELD GUIDE. RAP Publication: 1999/13. FAO

PERTUMBUHAN TANAMAN MERBAU UMUR 7 TAHUN DI BONDOWOSO

Burhan Ismail

Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan

Merbau dengan nama botanis Intsia spp., famili Caesalpinaceae terutama I. bijuga O.Ktze/merbau pantai dan I. palembanica Miq//merbau darat ( Martawijaya, A dan Iding, K, 1977).
Penyebaran merbau di Indonesia meliputi Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Timor dan Irian Barat. Benih merbau berbentuk bulat pipih dan berwarna coklat tua kemerahan. Bunga mekar pada bulan November sampai Januari dan buah tua pada bulan Mei sampai Agustus. Benih siap dipanen setelah masak fisiologis yang ditandai dengan warna buah coklat tua sampai kehitaman, kulit buah sudah keras dan benih berwarna coklat tua kemerahan (Yuniarti, 2000).

Persentase hidup tanaman adalah jumlah tanaman yang ditanam dikurangi tanaman yang mati dikalikan seratus persen. Tinggi tanaman diukur dari pangkal tanaman sampai ujung tanaman. Diameter batang diukur pada ketinggian 10 cm dari permukaan tanah. Materi genetik yang ditanam pada plot populasi dasar jenis merbau berasal dari delapan populasi yaitu Haltim, Waigo, Seram, Oransbari, Wasior, Nabire, Biak dan Mandopi/Twanwawi. Data pengukuran disajikan pada Tabel 7 dan gambar 17 dan 18.

Tabel 1. Data persentase hidup, diameter dan tinggi tanaman merbau umur 7 tahun pada plot konservasi genetik merbau di Bondowoso

Asal Populasi

Persentase hidup

Rerata Diameter (mm)

Rerata Tinggi (cm)

Haltim

86,25%

61,35

360,54

Waigo

82,08%

50,61

309,47

Nabire

75,42%

46,4

261,09

Seram

61,56%

44,34

284,38

Wasior

87,92%

60,66

327,91

oransbari

84,17%

61,75

383,95

Mandopi/Twanwawi

79,17%

74,18

433,97

Biak

78,26%

52,71

329,23

Tipe jumlah daun 2 pasang terbanyak adalah provenan Biak (97%), tipe jumlah daun 3 pasang terbanyak adalah provenan Halmahera Timur (82,30%) dan tipe jumlah daun 4 pasang terbanyak adalah provenan Nabire (24,4%). Bentuk daun bulat telur terbanyak adalah provenan Biak (60,81%) dan bentuk daun oval terbanyak adalah provenan Wasior (93,84%). Permukaan daun licin terbanyak adalah provenan Halmahera Timur (96,19%) dan permukaan daun kasar terbanyak adalah provenan Seram (59,55%). Tanaman merbau tahun tanam 2006 di Bondowoso sebagian kecil berbunga pada bulan Nopember 2013, yaitu provenan Seram 0,56% dan provenan Mandopi/Twanwani 2,13%, sedangkan sebagian besar yang lain tidak berbunga.

Kegiatan pemeliharaan plot konservasi genetik jenis merbau, perlu dilakukan secara rutin agar tanaman dapat tumbuh dengan optimal. Pertumbuhan tanaman merbau pada tempat yang terbuka lebih baik disbanding dengan tanaman merbau yang ternaungi.

Sumber : Laporan Hasil Penelitian (LHP) Populasi Dasar Jenis Kayu Pertukanagn Tahun 2013. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan

PERTUMBUHAN TANAMAN Araucaria cunninghamii UMUR 6 TAHUN DI BONDOWOSO

Dedi Setiadi

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan

Araucaria cunninghamii Aiton ex D. Don merupakan salah satu spesies konifer dalam famili Araucariaceae yang hanya tumbuh dan menyebar secara alami di Papua, Queensland-Australia dan Papua New Guinea. Keberadaan sumber daya genetik A. cunninghamii di hutan alam tropis Papua belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pemuliaan pohon dan pengelola hutan tanaman di Indonesia. Hal ini disebabkan para pemulia pohon dan pengelola hutan tanaman di Indonesia banyak yang belum mengetahui tentang potensi, prospek dan nilai ekonomi jenis ini. Penggunaan jenis kayu ini potensial untuk semua spektrum penggunaan kayu lunak, antara lain bahan baku industri kertas dan pulp, kayu lapis, vinir, panel, lantai dan kayu pertukangan. Selain itu, getahnya mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi (Dean et al. 1988).

Pembangunan plot uji keturunan tahap I mulai dilaksanakan pada tahun anggaran 2002 sedangkan pembangunan plot uji keturunan tahap II dilaksanakan pada tahun 2007 di Desa Sumber Waringin, Kecamatan Sumber Waringin, Kabupaten Bondowoso, Propinsi Jawa Timur. Tapak uji keturunan memiliki tipe iklim B dengan rerata curah hujan sebesar 2400 mm/tahun. Musim hujan mulai bulan November sampai dengan April dengan suhu terendah 170C dan suhu tertinggi 300C. Jenis tanahnya bertekstur sedang yang meliputi lempung, lempung berdebu dan lempung liat berpasir. Tapak tergolong datar, terletak pada ketinggian tempat 800 m di atas permukaan laut.

Gambar. Tanaman Araucaria sp umur 6 tahun di Bondowoso

Tabel 1. Rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter pada uji keturunan A.cunninghamii

tahap II umur 5 tahun di Bondowoso, Jawa Timur

Provenans

Tinggi (m)

Provenans

Diameter (cm)

Kanobon

7,14

Kanobon

5,20

Napua

7,02

Napua

5,19

Kebar

6,97

Kebar

5,18

Cyklop

7,11

Cyklop

5,06

Yarraman

6,88

Yarraman

4,71

Fak-fak

6,99

Fak-fak

4,97

Rata-rata

7,02

Rata-rata

5,05

Sumber: Sumber : Laporan Hasil Penelitian (LHP). Evaluasi Uji Keturunan Araucaria cunninghamii Tahun 2013. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan


PERTUMBUHAN TANAMAN MERBAU UMUR 6 TAHUN DI SOBANG BANTEN

Hamdan Adma Adinugraha

Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan

Merbau tergolong pohon raksasa dengan tingi mencapai 40 m dan tinggi bebas cabang 30 m, serta berdiameter mencapai 200 cm. Bentuk batang agak tegak, tidak silindris sempurna, berakar papan yang rata-rata mencapai lebar 2 m dan tebal 10 cm. Bagian kulit batang yang mati setebal 0,5-1 mm berwarna kelabu sampai coklat muda. Sedangkan bagian kulit yang hidup setebal 5- 10 mm pada penampang melintang yang berwarna kuning sampai coklat. Bentuk tajuk tidak teratur dengan penampilan yang hampir mirip bila dilihat dari kejauhan. Kulit batang agak halus dan tidak gampang mengelupas atau pecah-pecah. Bentuk daun agak bulat dan ukurannya lebih kecil dari Instia palembanica (Untarto et al, 1996).

Plot uji keturunan merbau di Sobang dibangun pada tahun 2007 dengan melibatkan 100 famili yang diuji dengan rancangan acak kelompok (RCBD) yang terdiri atas 6 blok yang pada masing-masing blok terdiri atas 4 treeplot. Pertumbuhan tanaman uji keturunan merbau di Sobang sampai dengan umur 6 tahun sangat bervariasi dengan kisaran persentase hidup berkisar 8,33 – 91,7% dengan tinggi tanaman rata-rata 2,13 m dan diameter rata-rata 1,84 cm. Asal sumber benih dan famili yang digunakan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman di lapangan. Pertumbuhan tanaman terbaik ditunjukkan oleh famili-famili dari Oransbari, Manimeri dan Tandiwasior (Adinugraha et al., 2013)

Gambar 1. Variasi persentase hidup antar populasi merbau sampai dengan umur 6 tahun

Berdasarkan hasil penaksiran nilai heritabitas famili diperoleh bahwa untuk sifat tinggi diperoleh nilai heritabilitas 0,381 sedangkan untuk sifat diameter sebesar 0,426. Besaran nilai heritabilitas untuk sifat tinggi termasuk rendah dan untuk sifat diameter termasuk sedang (antara 0,4 – 0,6). Hal tersebut dimungkinkan karena adanya pengaruh interaksi yang cukup besar antara replikasi dengan famili yang diuji sehingga komponen varians interaksi cukup besar yang menyebabkan besarnya variasi pertumbuhan tanaman antar famili yang diuji.

Sumber : Laporan Hasil Penelitian (LHP) Populasi Pemuliaan Jenis Kayu Pertukanagn Tahun 2013. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan

VARIASI MORFOLOGI SUKUN NUSANTARA

Hamdan Adma Adinugraha

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan

Sukun adalah salah satu jenis tanaman serbaguna yang dapat ditanam di pekarangan, kebun, perindang jalan/taman dan rehabilitasi lahan. Buahnya merupakan sumber bahan pangan dan potensial untuk bahan makanan pokok. Kayunya dapat digunakan untuk konstruksi ringan, kerajinan, papan salancar/kano, serat dari bagian dalam kulit dapat dimanfaatkan untuk bahan tekstil dan daunnya berkhasiat untuk ramuan obat tradisional.

Potensi sukun di Indonesia sangat melimpah dengan populasi sebaran yang sangat luas dan berdasarkan hasil pengamatan terdapat variasi dalam morfologi tanaman, buah dan kandungan gizinya. Penyebaran sukun di Indonesia tidak hanya di daratan pulau-pulau besar, melainkan penyebarannya sampai ke pulau-pulau kecil yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu sukun memiliki cukup banyak nama lokal sesuai dengan daerahnya masing-masing. Selanjutnya nama sukun sering dikaitkan dengan nama daerah asalnya, seperti sukun Pulau Seribu, sukun Sorong, sukun Cilacap, sukun Bone, sukun Yogya dan sukun Bawean.


Gambar 1. Penyebaran tanaman sukun di nusantara

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangaan menunjukkan adanya variasi sukun antar daerah. Secara morfologi diketahui adanya variasi berdasarkan bentuk daun, bentuk buah, ukuran buah dan kualitas rasanya. Secara umum bentuk daun dapat dibedakan menjadi daun berlekuk sedikit, belekuk agak dalam dan berlekuk dalam. Adapun buah sukun menunjukka variasi ukuran kecil sampai besar dengan bentuk bulat sampai lonjong serta adadan tidaknya duri buah.

  1. Buah sukun dengan bentuk bulat dan tidak berduri terdapat di Sleman DIY, Cilacap, Bawean, Kediri, Banyuwangi, Pulau Seribu, Banten, Sukabumi, Mataram, Bali, Lampung
  2. Buah sukun bentuk bulat dan berduri sampai tua/matang terdapat di Ternate, Yogyakarta dan Madura
  3. Buah sukun bentuk lonjong dan tidak berduri terdapat di Sleman DIY, Cilacap, Bawean, Kediri, Banyuwangi, Pulau Seribu, Banten, Bali, Mataram, Lampung
  4. Buah sukun lonjong dan berduri terdapat di Sorong, Manokwari, Malino, Bone, Madura


Gambar 2. Variasi morfologi buah dan daun sukun di Indonesia

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 287 pengikut lainnya