Jati (Tectona grandis)

Jati (Tectona grandis)

Oleh : Hamdan Adma Adinugraha, S.Hut, M.Sc

 

Jati merupakan tanaman yang menurut beberapa literatur tumbuh asli di India, Thailand, Myanmar, Laos dan Kamboja  dengan  tinggi tempat berkisar  antara  800 m dpl.  Jati kemudian  dikembang-kan ke beberapa negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Sri Langka, Malaysia, Kepulauan Solomon, dan telah pula dikembangkan di Amerika Latin seperti Costarica, Argentina, Brazil, beberapa negara Afrika  (Na’iem, 2002).  Di Indonesia  jati tumbuh dan berkembang di Jawa, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, Lampung  dan Nusa Tenggara yang merupakan tegakan-tegakan tua jati. Pada akhir-akhir ini jati juga dikembangkan di daerah lainnya seperti Sumatera,  Kalimantan, Maluku dan Papua.

Susunan klasifikasi jati adalah sebagai berikut:

Kingdom                     : Plantae – Plants

Subkingdom                : Tracheobionta (Vascular plants)

Superdivision              : Spermatophyta  (seed plants)

Division                       : Magnoliophyta  (Flowering plants)

Class                            : Magnoliopsida  Dicotyledons)

Subclass                      : Asteridae

Order                           : Lamiales

Family                         : Verbenaceae  (Verbena family)

Genus                          : Tectona L. f.  (tectona)

Species                        : Tectona grandis Linn. f. (teak)

Jati adalah salah satu jenis pohon hutan yang menggugurkan daunnya dan terdapat pada daerah tropika. Pada habitat aslinya, jati tumbuh bersamaan atau bercampur dengan jenis lain, tetapi kadang-kadang tumbuh sebagai tegakan murni. Jati tumbuh pada daerah dengan penyebaran kondisi iklim yang luas, mulai dari daerah yang sangat kering dengan curah hujan tahunan 500 mm/tahun sampai ke daerah yang sangat lembab dengan curah hujan tahunan sebesar 5000 mm/tahun, dengan temperatur maksimum 480C sampai ke daerah dengan temperatur minimum 20o C (Seth dan Khan, 1958 dalam Kaosa-ard, 1977).   Meskipun demikian untuk memperolah kualitas kayu yang baik, jenis ini harus tumbuh pada daerah yang mempunyai musim kering selama 3-5 bulan.

Anakan jati tumbuh paling baik (optimal)  pada temperatur 27 °C sampai dengan 36 °C pada siang hari, dan antara 20°C sampai dengan 30 °C pada malam hari (Kaosa-ard, 1977). Jati adalah jenis pohon yang memerlukan cahaya atau dengan kata lain termasuk intoleran (Troup, 1921 dalam Kaosa-ard, 1977), dengan intensitas penyinaran 75 % sampai dengan 95 % untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik dari jati. Jati pada umumnya dapat tumbuh dengan baik pada tanah-tanah yang mempunyai pH antara 6,5-7,5 (Kulbarni, 1951 dalam Kaosa-ard, 1977). Jati termasuk calciolus tree spesies, yaitu tanaman yang memerlukan unsur kalsium dalam jumlah relatif besar untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.

Pembibitan dan Penanaman

Pembibitan jati dapat dilakukan baik secara generatif maupun vegetatif. Pembibitan secara generatif dilakukan dengan menyemaikan benih yang terlebih dahulu diskarifikasi untuk mempercepat perkecambahan. Penyemaian dilakukan pada bedeng tabur dengan menggunakan media pasir. Setelah berkecambah semai disapih ke media pertumbuhan berupa tanah + kompos (3:1). Cara vegetatif yang dapat diterapkan yaitu okulasi, stek pucuk dan kultur jaringan (Na’iem, 2000; Sukmadjaya dan Mariska, 2003; Mahfudz dkk, 2003). Penanaman jati umumnya dilakukan sebagai hutan tanaman (monokultur) seperti yang dilakukan Perum Perhutani, namun dikembangkan juga dalam hutan rakyat baik monokultur, campuran atau agroforestry. Jarak tanam yang digunakan umumnya 3×1 m, 3×3 m, 2×3 m atau 2x 6 m

Gambar. Teknik pembibitan jati dengan okulasi, stek pucuk dan kultur jaringan

(sumber :Mahfudz dkk, 2003; Sukmadjaya dan Mariska, 2003).

Pemanfaatan

Kayu jati mengandung semacam minyak dan endapan di dalam sel-sel kayunya, sehingga dapat awet digunakan di tempat terbuka apalagi di dalam ruangan. Pemanfaatan kayu jati untuk bahan baku kapal laut, konstruksi jembatan dan bantalan rel, furniture, rumah tradisional Jawa (joglo) : tiang-tiang, rangka atap, hingga ke dinding-dinding berukir, venir mewah, parket (parquet) penutup lantai atau furniture di luar-rumah. Ranting-ranting jati yang tak lagi dapat dimanfaatkan untuk mebel, dimanfaatkan sebagai kayu bakar kelas satu. Kayu jati menghasilkan panas yang tinggi, sehingga dulu digunakan sebagai bahan bakar lokomotif uap. Sebagian besar kebutuhan kayu jati dunia dipasok oleh Indonesia dan Myanmar. Daun jati dimanfaatkan secara tradisional di Jawa sebagai pembungkus, termasuk pembungkus makanan. Serangga hama jati juga sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan atau lauk bagi masyarakat desa seperti belalang jati (Jawa: walang kayu), yang besar berwarna kecoklatan, dan kempompong ulat-jati (Endoclita).

Daftar Pustaka

Kaosa-ard, A., 1977. Tectona grandis Linn f. Its Natural Distribution and Related  Factors.  Royal Forest Departemen,  Bangkok, Thailand

Mahfudz dkk. 2003. Sekilas Jati (Tectona grandis L.f.). Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.

Na’iem, M.,  2000.  Variasi Genetik Pada Spesies Pohon Hutan.  Training Course  on Basic  Forest Genetic.  Kerjasama Indonesia Forest Seed Project  dan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

______, 2002.   Pentingnya Penggunaan Benih Unggul  Dalam Pembuatan Tanaman Jati  dan Standarisasi Mutu Bibit Secara Nasional.  Makalah dalam  Diskusi Penye-diaan Bibit Unggul Jati tanggal 9 Agustus 2002.  Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.

Sukmadjaya, D. dan Mariska, I. 2003. Perbanyakan bibit jati melalui kultur jaringan. Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian.Bogor.

%d blogger menyukai ini: