CARA MUDAH DAN MURAH MEMPRODUKSI BIBIT JATI BERKUALITAS

CARA MUDAH DAN MURAH MEMPRODUKSI BIBIT JATI BERKUALITAS

 

Oleh :  Mahfudz dan  M. Anis Fauzi

Tulisan 3. Pembuatan Okulasi Jati

 

Sebagaimana  perbanyakan pada jenis-jenis tanaman perkebunan seperti karet, kakao maupun mangga, pada jenis jatipun dapat dilakukan dengan  cara okulasi. Okulasi ini dapat dilakukan dengan cara menempelkan mata/ tunas dari scion ( tanaman yang diambil mata/tunasnya ) pada rootstock  ( tanaman yang ditempeli mata/tunas ). Prinsip kerjanya memanfaatkan fungsi kambium, sehingga kambium scion harus bersentuhan dan melekat pada understamnya. Keberhasilan okulasi sangat ditentukan  dari rekatnya kambium kedua batang yang disambung. Pelaksanaan Grafting

  • Batang bawah dipilih  dari bibit yang sudah  berumur 6-9 bulan dengan tinggi rata-rata 70-100 cm dan diameter 0,6-1,5 cm.  Diameter bagian bawah disesuaikan dengan ukuran scion. Sekitar 7 cm dari atas pangkal leher dibuat sesetan dengan panjang 3-5 cm dan lebar 1,5 cm.
  • Mata tunas ( Scion )  dipilih sesuai dengan ukuran rootstock  dan dalam keadaan dorman,. Scion diambil pada cabang-cabang kecil/ ranting-ranting sehingga ukurannya tidak  terlalu besar dan daya tumbuhnya tinggi.
  • Scion segera ditempelkan pada rootstock  dan diikat dengan tali rafia. Ikatan dimulai dari bagian bawah ke atas dan kembali ke bawah hingga di pangkal akar. Ikatan  tidak perlu terlalu kuat tetapi seluruh daerah tempelan harus  tertutup rapat
  • Untuk mengurangi penguapan, bagian rootstock yang dipotong dicat meni.
  • Bibit siap ditanam dalam media yang telah disiapkan dengan posisi batang  miring.
  • Pemeliharaan

Gambar 3. Pembuatan okulasi pada jati

Namun demikian  bibit jati  yang baik sebagaimana dibuat diatas tidak cukup dalam kegiatan pengembangan jati yang baik. Faktor lingkungan seperti kesesuaian tempat tumbuh dan upaya  sivikulturpun sangat berpengaruh dalam penanaman  jati ini Kegiatan pemeliharaan dan penerapan silvikultur sering terlupakan dalam penanaman pohon hutan selama ini . Kita menginginkan hasil panen kayu jati yang bagus tetapi tanpa adanya usaha pemupukan, pengaturan jarak tanam, penjarangan dan kegiatan pemeliharaan yang lain tentu saja mustahil tercapai.

 Pemilihan klon – klon tertentu yang sesuai dengan kondisi lahan dan iklim setempat juga menjadi pertimbangan sebelum kita melaksanakan kegiatan penanaman jati. Apabila kondisi dan upaya penerapan silvikultur kita lupakan akan mengkibatkan kerugian yang besar baik dari sisi finansial maupun dari sisi genetik jati itu sendiri.

 Tanaman  seperti halnya  manusia membutuhkan nutrisi yang cukup agar dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Pemberian pupuk, penjarangan, pengaturan jarak tanam, pemberantasan hama penyakit dan pemeliharaan lainnya akan memberikan respon yang optimal pada pertumbuhan tanaman jati. Pemeliharaan dan perawatan tanaman pada tingkat semai harus dilakukan untuk menjaga kondisi bibit sebelum siap tanam.

Daftar Bacaan

Hartmann, H.T., D.E Kester and Davies, F.T,  1990.  Plant Propagatio  Principle and  Paractice.  Prentice Hall. Inc. ,  Englewood Cliffs.  New Jersey

Pertanian  Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta .

Kaosa-ard, A., V. Suangtho and E.d Kjaer. 1998.  Experience From Tree Improvement of  Teak (Tectona grandis) in Thailand.  Danida Forest Tree Seed Centre .

Leksono, B.,  2001.   Pentingnya Benih Unggul  Dalam Program Penanaman Jati  dan strategi Pencapaiannya.  Makalah dalam Workshop Nasional Jati 2001 tanggal 4-6 September 2001.  Universitas Sumatera Utara.  Medan

Mahfudz,   2003.   Sekilas  Tentang Jati.   Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.  Yogyakarta.

Na,iem,  M. 2003.  Penelitian dan Pengembangan Pemuliaan Jati  Puslitbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.  Makalah dalm Ekspose Hasil-Hasil Penelitian P3BPTH ,  Yogyakarta.

               , M., 2003.  Pembiakan Vegetatif dan Implementasinya  dalam Skala Operasional  di Kehutanan.  Diskusi Hasil-Hasil Litbang Pusat Penelitian dan Konservasi Alam.  Bogor.

Wudianto,  1995.  Membuat Stek, Cangkok dan Okulasi.  Penebar Swadaya, Jakarta

Zobel, B.J. and J. Talbert, 1984.  Aplied Forest Tree Improvement.  John Wiley and  Sons, New York.

%d blogger menyukai ini: