PROBLEMATIKA HUTAN INDONESIA

Oleh: Hamdan AA

A. Problematika Pengelolaan Hutan Indonesia

Pengelolaan dan pengusahaan hutan Indonesia selama ini telah menyebabkan kerusakan hutan Indonesia yang sulit dilakukan rehabilitasi dalam waktu yang singkat. Pada tahun 1970-an luas kawasan hutan Indonesia mencapai 143 juta hektar, dengan asumsi 70% bervegetasi hutan, ini berarti terdapat 100 juta hektar tutan. Akan tetapi pada saat ini kondisinya sudah mengalami kerusakan yang drastis dan mengkhawatirkan. Menurut Oetomo (1997) dalam Anonim (1998) kawasan hutan yang benar-benar bervegetasi pada saat ini tinggal 21,4 juta hektar. Demikian pula Fox et al. (2000) lebih rinci menjelaskan bahwa tutupan hutan Indonesia secara aktual pada tahun 1997 yaitu; hutan lindung (kurang dari 25 Juta ha), hutan konservasi (15 juta ha), hutan produksi (25 juta ha) dan hutan produksi terbatas (25 juta ha).

Dilaporkan bahwa laju tingkat kerusakan hutan Indonesia mencapai 1,6-2 juta hektar per tahun (Barr, 2007). Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kerusakan hutan alam Indonesia antara lain penebangan pohon melampaui batas kemampuan hutan untuk memulihkan diri dengan melakukan regenerasi dan suksesi, pembalakan liar (illegal logging), konversi ke sektor non kehutanan, penjarahan dan perambahan oleh masyarakat disekitar hutan, pembukaan lahan untuk perladangan, bencana alam seperti kebakaran hutan, banjir/tsunami, tanah longsor,kebutuhan kayu yang melebihi pasokan lestari serta dampak otonomi daerah untuk mengejar peningkatan pendapatan asli daerah (PAD)

Seperti hutan alam, luas hutan mangrove Indonesia pun terus menurun dari tahun ke tahun. Menurut laporan FAO (1982), luas hutan mengrove Indonesia pada tahun 1982 sekitar 4,25 juta hektar. Tahun 1987 diperoleh informasi bahwa luas hutan mangrove telah berkurang dan tersisa tinggal 3,24 juta ha dan hasil survey tahun 1995, luasannya turun lagi menjadi 2,06 juta ha (Susilo, 1995). Data Departemen Kehutanan dalam Arif (2003) menyebutkan adanya hutan mangrove Indonesia tersisa sekitar 1,71 juta ha saja. Kerusakan hutan mangrove terjadi akibat eksploitasi yang dilakukan terus-menerus tanpa diiringi dengan upaya permudaan yang memadai, konversi fungsi lahan menjadi tambak atau pertanian, kegiatan pembangunan yang dilakukan dengan tidak mempertimbangkan kondisi lingkungan hidup dan terjadinya pencemaran laut (Supriharyono, 2007). Pada tahun 2004, dilaporkan bahwa pencemaran di kawasan pantai Pulau Seribu akibat minyak mentah menyebabkan rusaknya eksosisem terumbu karang, padang lamun, mangrove, biota dan fauna laut (Anonim, 2004).

Tingginya kerusakan hutan mendorong pemerintah (Departemen Kehutanan) berusaha keras untuk menekan laju kerusakan hutan tersebut. Diantaranya dengan menetapkan lima kebijakan yaitu 1) pemberantasan penebangan liar, 2) pengendalian kebakaran hutan, 3) restrukturisasi sektor kehutanan, 4) rehabilitasi dan konservasi sumber daya hutan dan 5) desentralisasi sektor kehutanan. Melalui penetapan lima kebijakan prioritas tersebut, diharapkan kegiatan-kegiatan pembangunan kehutanan yang dilakukan dapat lebih terarah pada upaya pencapaian pengelolaan hutan secara lestari (Wardojo, 2004).

B. Problematika Kesehatan Hutan di Indonesia

Pembangunan kehutanan yang saat ini dikembangkan lebih mengarah kepada hutan tanaman dengan sistem monokultur. Salah satu dampak negatif dari sistem monokultur adalah kerentanan terhadap hama dan penyakit, hal ini terjadi karena sumber pakan tersedia dengan melimpah dan dalam wilayah yang luas. Serangan hama dan penyakit dapat terjadi akibat kebakaran, banjir dan pembukaan lahan baru, penggunaan areal tanah yang luas hanya untuk satu jenis tanaman (monokultur), masuknya hama dari suatu daerah ke daerah lain dan punahnya predator-predator hama atau pindah ke habitat lain akibat penggunaan pestisida. Serangan hama/penyakit ini, jika tidak dikelola dengan tepat maka akan mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem sehingga akan berdampak pada prokduktifitas dan kualitas tanaman, antara lain adalah menurunkan rata-rata pertumbuhan, kualitas kayu, menurunkan daya kecambah biji dan pada dampak yang besar akan mempengaruhi pada kenampakan estetika hutan (Anonim, 2008).

Hutan tanaman industri (HTI) merupakan tegakan monokultur dengan ekosistem yang tidak banyak berbeda dengan ekosistem pertanian atau perkebunan. Keanekaragaman jenis yang sedikit mengakibatkan turunnya keseimbangan alam pada ekosistem tersebut. Pada keadaan ini pohon yang ditanam akan sangat rentan terhadap gangguan organisme seperti serangga hama dan pathogen/penyebab penyakit (Intari, 1995 dalam Sumardi 2006). Hama (pests)
secara formal didefinisikan sebagai segala organisme yang mengurangi ketersediaan, kualitas atau nilai sumber daya yang dimiliki manusia. Definisi hama semakin berkembang seiring dengan keragaman cara hama mempengaruhi manusia. Sumber daya yang dimiliki manusia itu bisa berupa tanaman atau binatang ternak yang di budidayakan untuk mencukupi pangan, kenyamanan manusia berupa binatang piaran, tanaman di tempat rekreasi. Jenis-jenis hama dan penyakit yang banyak menyerang beberapa tanaman HTI di Indonesia antara lain (Nair and Sumardi, 2000):

1. Hama dan penyakit tanaman Pinus merkusii

Hama/penyakit yang banyak menyerang tanaman pinus antara lain adalah kutu lilin yang menyerang pada semua tingkatan umur, penyakit lodoh semai (dampin-off) terutama pada periode sukulens yang disebabkan oleh jamur Fusarium, Pythium, Rhizoctonia, dan Sclerotium. Penyakit lainnya yang menyerang bibit adalah bercak daun pestalotia, muncul setelah periode sukulen semai berakhir.

2. Hama dan penyakit tanaman jati (Tectona grandis)

Hama/penyakit yang menyerang bibit di persemaian antara lain hama daun seperti ulat (Pyrausta machaeralis), tungau merah (Acarina sp), kutu putih/lilin, hama uret (Phyllophaga sp) yang menyerang akar, lalat putih yang menyerang batang dan penyakit damping off yang menyerang leher akar. Hama/penyakit yang menyerang tanaman di lapangang antara lain oleng-oleng (Duomitus ceramicus), inger-inger (Neotermes tectonae), hama kumbang bubuk basah (Xyleborus destruens) yang menyerang batang, ulat (Hyblaea puera) yang menyerang daun, rayap, penggerek pucuk jati dan penyakit layu akibat bakteri (Pseudomonas tectonae).

3. Hama dan penyakit tanaman mahoni (Swietenia macrophylla)

Hama/penyakit yang banyak menyerang bibit antara lain hama kumbang sisik (Xylosandrus compactus), hama penggerek pucuk (Hypsipyla robusta), hama ulat pemakan daun (Attacus atlas) dan sejenis lebah pemotong daun (Megachile sp) yang umumnya intensitasnya relatif kecil. Selain itu terdapat penyakit jamur akar yang seringkali menyebabkan kematian pohon. Jamur ini diperkirakan menular melalui aliran air terutama pada daerah miring serta masuk lewat luka pada akar tanaman dan menyerang seluruh bagian tanaman.

4. Hama dan penyakit tanaman Acacia mangium

Beberapa hama dan penyakit yang menyerang tanaman A. Mangium di lapangan antara lain hama penggerek batang (Coptotermes curvignathus), hama pemakan daun seperti ulat kantong (Pteroma plangiophelps), belalang (Valanga nigricormis), hama penghisap pucuk (Helopeltis theivora), penggerek ranting (Xylosabdrus sp dan Xyleborus fomicatus), penggerek batang (Xystocera festiva), penyakit karat daun (Atelocauda digitata), penyakit embun tepung, embun jelaga, busuk hati (heart rot), busuk akar (root rot) yang disebabkan oleh jamur akar merah atau Ganoderma philipi dan jamur akar putih atau Rigidoporus microporus (Nair and Sumardi, 2000)

Gambar 1. Serangan penyakit jamur akar merah (Ganoderma sp) pada tanaman Acacia

mangium (Sumber : Nurhidayati dan Mulyanto, 2004)

5.
Hama dan penyakit tanaman sengon (Paraserienthes falcataria)

Hama/penyakit yang banyak menyerang bibit sengon antara lain damping-off yang disebabkan oleh Pythium sp, Phytoptora sp, Rhizoctonia sp, penyakit antraknosa (Colletotrichum sp), penyakit busuk akar (Diplodia sp, Ganoderma sp, Ustulina sp, Rosellinia sp), penyakit kanker karat/puru (Uromycladium tepperianum), hama boktor/penggerek batang (Xystrocera festiva), hama ulat kantong pemakan daun (Pteroma plagiophleps dan Eurema blanda), hama pemakan akar dan hama pemakan kulit batang (Indarbela quadrinotat) (Nair, 2000; Suhaendah dkk, 2006).

6.    Hama dan penyakit tanaman mindi (Melia azedarach)

Hama dan penyakit yang menyerang tanaman mindi adalah hampir sama dengan jenis-jenis OPT yang menyerang tanaman mahoni. Penyakit yang berupa bakteri dan jamur yang menyerang bagian daun, ranting dan buah mindi, biasanya tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Pohon mindi mudah diserang penggerek pucuk Hypsipyla robusta dan batangnya diserang kumbang ambrosia
Xyleborus ferrugineus yang dapat menyebabkan kualitas kayu menurun
(Hendromono, 2001).

7.    Hama dan penyakit tanaman kayu putih (Melaleuca cajuputi)

Hama yang sering menyerang pada tanaman kayu putih adalah rayap akibat banyaknya bahan organik yang kaya selulosa sebagai sumber makanan rayap yang berasal dari sisa-sisa tanaman tumpangsari. Hama rayap selalu ada di petak tanaman kayu putih dan menimbulkan resiko kerusakan tinggi pada tanaman muda. Hama lain yang ditemukan adalah pengisap pucuk dan ulat penggerek menyebabkan pucuk mengering sehingga produksi panen daun kayu putih menjadi berkurang.

C. Perhatian Publik Terhadap Kelestarian Lingkungan

Permasalahan kerusakan hutan menjadi telah menjadi perhatian masyarakat dunia karena akibat pengelolaan sumber daya alam yang tidak benar telah menyebabkan berbagai masalah lingkungan seperti banjir, tanah longsor, peningkatan abrasi air laut dan peningkatan suhu bumi. Sorotan terhadap kerusakan hutan dan lingkungan dalam bentuk pernyataan keras dari para aktivis lingkungan pada dua dekade terakhir abad lalu telah berhasil membangun kepedulian publik dan politis terhadap masalah kerusakan lingkungan (Kimmins, 1997 dalam Sumardi, 2006). Adanya kesadaran lingkungan mendorong perubahan paradigma pengelolaan hutan yang dulunya hanya untuk produksi kayu bergeser menjadi pengelolaan yang mengedepankan usaha penjagaan produktivitas, perlindungan keanekaragaman ekosistem dan manfaat yang lebih luas bagi kesejahteraan masyarakat (Sumardi, 2006).

Kesadaran masyarakat akan akibat penggunaan pestisida kimia telah mendorong upaya perlindungan hama/penyakit tanaman yang ramah lingkungan. Pemerintah telah mengeluarkan Undang-undang no. 12 tahun 1992 yang melarang penggunaan sarana atau cara yang dapat mengganggu kesehatan dan mengancam keselamatan manusia serta menyebabkan gangguan terhadap lingkungan hidup. Salah satu alternatif yang telah banyak diupayakan adalah dengan penggunaan pestisida nabati yang tidak berbahaya bagi manusia, hewan dan serangga non-sasaran (Margino, 2002).

Penggunaan pestisida kimia secara terus-menerus memerlukan biaya besar dan dapat menimbulkan gangguan bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Pestisida dapat membunuh organisme pengganggu tanaman (OPT) dan organisme lain yang bukan hama. Kalshovev (1981) dalam Hardi (2006) melaporkan bahwa akibat penggunaan pestisida kimia di Indonsia telah memusnahkan 55% jenis hama dan 72% agen pengendali hayati lainnya. Akibat matinya musuh alami hama dapat menimbulkan ledakan hama kedua atau ledakan hama sekunder. Ketika hama kembali menyerang maka populasinya akan meningkat dengan cepat dan serangga lain yang awalnya bukan hama utama akan meningkat populasinya. Selain itu aplikasi pestisida dapat menyebabkan resistensi hama terhadap pestisida sehingga populasinya akan terus meningkat meskipun dilakukan penyemprotan ulang (http: //elearning.unej.ac.id/ ).

Daftar Pustaka

Anonim, 1998. Impian Dan Tantangan Manusia Indonesia Dalam Mewujudkan Hutan dan Kebun Yang Lestari Sebagai Anugerah dan Amanah Tuhan Yang Maha Esa. Departemen Kehutanan RI. Jakarta.

_______, 2004. Kumpulan Berita Pembangunan Kehutanan Tahun 2003 – 2004. Departemen Kehutanan RI. Jakarta.

_______, 2008. Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Kehutanan. http:// elqodar.multiply com/journal/item/17. Diakses tanggal 20 Mei 2008.

Arif, A. 2003. Hutan Mangrove Fungsi dan Manfaatnya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Fox, J., M. Wasson and G. Applehate. 2000. Forest Use Policies and Strategies in Indonesia: A Need for Change. Jakarta. Makalah disajikan untuk Bank Dunia Mei. 2000

Hardi, Teguh, TW. 2006. Penggunaan Pestisida Nabati di Kehutanan. Informasi Teknis Vol. 4 No. 1, Juni 2006. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta

Hendromono. 2001. Mindi Melia azerdarach L. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta

Margino, S. 2002. Pestisida Hayati dalam Pembangunan Pertanian Masa Depan. Diskusi Panel Nasional “Menuju Pertanian Organik yang Prospektif’. Dises Natalis ke-22 Fakultas Pertanian Universitas Slamet Riyadi Surakarta. Solo

Nair, KSS and Sumardi. 2000. Insect Pest and Deseases of Major Plantation Species. In : Nair K.S.S (ed) Insect and Deseases in Indoesia Forest : An assessment of major threats, research efforts and literature. CIFOR. Bogor. Indonesia.

Nurhidayati dan Mulyanto. 2004. Pengamatan Awal Serangan Penyakit Akar Merah pada Kebun Benih Semai Acacia mangium Generasi Pertama di Wonogiri Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 1 No. 2, Agustus 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta

Suhaendah, E., B. Dendang, I. Anggraeni dan W. Darwiati. 2006. Serangan Ulat Kantong Terhadap Tujuh Provenan Sengon di Ciamis. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 3 Suplemen No. 02, September 2006, Halaman 323-329. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta

Sumardi, 2006. Perubahan Orientasi Perlindungan Hutan Dalam Perkembangan Pengelolaan Hutan. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 12 Juni 2006

Supriharyono. 2007. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati di Wilayah Pesisir dan Laut Tropis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Susilo, E. 1995. Manusia dan Hutan Mangrove dalam Pelestarian dan Pengembangan Ekositem Hutan Bakau Secara Terpadu dan Berkelanjutan. Halaman 8.

Wardojo, W. 2004. Kebijakan Pemerintah Dalam Pengelolaan Hutan Lestari: Mengefektifkan Instrumen Sertifikasi dalam Mendorong Perubahan Kebijakan Pengelolaan Hutan Lestari. Disampaikan oleh M.S. Gelgel pada Sarasehan dan Kongres CBO LEI tanggal 19 Oktober 2004 di Jakarta.

%d blogger menyukai ini: