Ramin (Gonystylus bancanus Kurz. )

Tanaman ramin termasuk kedalam famili Thymelaceae dengan nama daerah antara lain gaharu buaya, lapis kulit, medang ramuan, menamang, panggatutup, pinang baek, ramin dan lain-lain. Tinggi pohon 40-50 m, tinggi bebas cabang 20-30 m, dbh 30-120 cm. Batang sangat lurus, tajuk kecil bulat dan tipis. Kulit batang luar berwarna cokelat pirang, pecah-pecah kecil seperti sisik. Pada pohon yang mengandung gaharu kulit yang bersisik menjadi keriting. Pohon tidak berbanir tapi memiliki akar napas. Kayu teras berwarna kuning pada saat baru tebang kemudian menjadi hamper putih apabila sudah kering. Kayunya termasuk kelas kuat II-III dan kelas awet V, yang dimanfaatkan untuk konstruksi ringan dibawah atap, kusen pintu, jendela, mebel, kayu lapis, moulding, mainan anak-anak dan kayu yang mengandung gaharu biasa digunakan sebagai wewangian (Martawijaya et al, 1981).

Tanaman ramin tumbuh baikpada tanh gambut, tanah berpasir dan tanah liat yang sewaktu-waktu tergenang air, cukup basah dan terlindung dari sinar matahari yang keras, sampai dengan ketinggian tempat 100m dpl. Pembibitan dapat dilakukan dengan cara penyapihan anakan alam (wildlings) yang tingginya25-35 cm dan berdaun 3-7 helai atau dengan menyemaikan benih ramin dalam polibag sedalam 1,5 cm. Selain itu dapat dilakukan dengan cara stump yang dibuat dari bibit yang tingginya 35-75 cm kemudian bagian pucuk dipotong dan tinggal 10-20 cm dan bagian akar dipotong sehingga tinggal 20 cm (Martawihjaya et al, 1981). Pembibitan dengan cara stek pucuk juga bisa dilakukan pada jenis ini yang dibuat pada bedengan stek di persemaian yang diberi naungan rapat dengan intensitas cahaya maksimal 30% (Daryono, 1998).

Sumber bacaan :

Daryono, H. 1998. Pembuatan Bibit Stek  Jenis Ramin (Gonystylus bancanus) Dalam Rangka Rehabilitasi dan Pembangunan Hutan Industri di Hutan Rawa Gambut. Informasi Teknis No. 1/98. Balai teknologi Reboisasi Banjar Baru, Kalimantan Selatan

Martawijaya, A., Kartasujana, I., Kadir, K. dan Prawira, AP. 1981. Atlas Kayu Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor.

%d blogger menyukai ini: