SIFAT-SIFAT TANAH DAN PROBLEMATIKA LAHAN TERDEGRADASI SERTA CARA MENGATASINYA

Oleh :

Hamdan Adma Adinugraha

I. PENDAHULUAN

Kehidupannya manusia senantiasa memiliki hubungan yang sangat erat dengan tanah. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa penciptaan manusia berasal dari saripati tanah, bahkan penciptaan manusia yang pertama kali dari tanah. Manusia hidup dan tinggal diatas tanah, bercocok tanam, makan dan minum apa yang tumbuh dan dikeluarkan dari dalam tanah, serta di akhir kehidupannya manusia akan kembali ke tanah melalui proses penguraian oleh mikroba tanah. Menurut Dokuchaev, tanah (soil) diartikan sebagai benda fisik yang memiliki dimensi tiga yaitu panjang, lebar dan dalam yang merupakan lapisan paling luar dari kulit bumi. Adapun pengertian tanah yang berhubungan dengan kehidupan manusia sering disebut lahan (land) yang artinya lingkungan fisik dan biotik yang berhubungan dengan daya dukungnya terhadap kehidupan dan kesejahteraan manusia.

Dalam fungsinya tanah sebagai penyangga kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, kita telah mengetahui adanya lahan potensial atau dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia dan tanah kritis yaitu lahan yang telah mengalami kerusakan secara fisik, kimia maupun biologis sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk produksi maupun sebagai media tata air (SK Menhut no. 52/Kpts-II/2001). Lahan kritis diartikan juga sebagai lahan terdegradasi yaitu talah mengalami penurunan kemampuan tanah secara aktual maupun potensial untuk memproduksi barang dan jasa (FAO, 1977). Arsyad (1989) menyamakan antara degradasi tanah dengan kerusakan tanah yaitu hilang atau menurunnya fungsi tanah sebagai matrik tempat akar tanaman berjangkar  dan air tanah tersimpan serta tempat unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Dilaporkan bahwa kondisi lahan kritis khususnya di 60 daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia saat ini mencapai 77,8 juta hektar, terdiri atas agak kritis 47,6 juta hektar, kritis 23,3 juta hektar, dan sangat kritis 6,8 juta hektar (http://landspatial.bappenas.go.id/ias.php?menu=berita2).

Seiring dengan semakin berkuranganya luas hutan di Indonesia yang menurut Barr (2007) bahwa tingkat kerusakan hutan Indonesia mencapai 1,6-2 juta hektar per tahun, menyebabkan luas lahan kritis semakin meningkat. Pada umumnya tanah–tanah lahan kering tropika basah di luar Pulau Jawa merupakan tanah yang rentan terhadap proses degradasi. Di Jawa sendiri dilaporkan bahwa 80% dari lahan hutan yang ada, telah dikonversi menjadi lahan pertanian (Smiet, 1990). Pembukaan dan konversi lahan merupakan faktor penyebab utama terjadinya degradasi lahan dan perubahan kondisi ekologi pada lahan tersebut (Zheng, 2006) yang selanjutnya menjadi penyebab terjadinya bencana alam banjir dan lonsor di berbagai tempat karena tanah tidak mampu lagi mengatur kelembaban, sehingga cepat mengering dan jenuh bila kondisi curah hujan berubah. Adanya degradasi hutan dan ekosistemnya maka dapat menyebabkan degradasi pada tanahnya karena dalam pembentukan dan perkembangannya, tanah sangat dipengaruhi oleh faktor iklim, organisme, bahan induk, topografi dan waktu.

II. LAHAN TERDEGRADASI DAN PERMASALAHANNYA

Secara umum degradasi tanah disebabkan oleh faktor alami dan akibat campur tangan manusia (anthropogenic factor). Menurut Barrow (1991) faktor alami penyebab degradasi tanah antara lain: kelerengan lahan, sifat tanah yang mudah rusak, curah hujan intensif, bencana alam dan lain-lain.  Faktor campur tangan manusia baik langsung maupun tidak langsung lebih mendominasi dibandingkan faktor alami, antara lain: perubahan populasi, marjinalisasi penduduk, kemiskinan, masalah kepemilikan lahan, ketidakstabilan politik, kondisi sosial dan ekonomi,dan pengembangan pertanian yang tidak tepat.  Oldeman (1994) menyatakan lima faktor penyebab degradasi tanah akibat  campur tangan manusia secara langsung, yaitu: deforestasi, overgrazing, aktivitas pertanian, eksploitasi berlebihan  dan aktivitas industri. Lal (1986) dan Zheng (2006) juga mengemukakan bahwa faktor penyebab tanah terdegradasi dan rendahnya produktivitas antara lain: deforestasi, mekanisasi dalam usaha tani, kebakaran, penggunaan bahan kimia pertanian dan  penanaman secara monokultur.

  1. Perladangaan berpindah (shifting cultivation)

    Sistem usaha tani “tebas dan bakar” atau perladangan berpindah merupakan salah satu kegiatan yang dapat menyebabkan degradasi tanah. Sistem ini biasa terjadi di daerah marjinal dengan tekanan populasi terhadap lahan cukup tinggi, kebutuhan ekonomi makin meningkat mengakibatkan masa bera makin singkat sangat merusak dan menyebabkan degradasi tanah dan lingkungan (Lal, 1986), yang ditandai dengan penurunan produktivitas karena memburuknya sifat fisik dan kimia tanah. Pembukaan lahan dengan cara ini memacu terjadinya erosi yang dapat menyebabkan tanah kehilangan lapisan atas (top soil) yang umumnya kaya dengan unsur hara. McAlister et al., (1998) melaporkan bahwa setelah 5 tahun sejak pembakaran maka konsentrasi unsur hara menurun sedangkan persentase Al tinggi sehingga dapat meracuni tanaman.

  2. Kegiatan pertambangan

    Kegiatan pertambangan menyebabkan degradasi tanah dan lahan yang sangat besar, karena umumnya dilakukan penggalian dengan menyingkirkan vegatasi dan seluruh lapisan tanah di atas deposit batubara. Aktifitas penambangan akan menghasilkan kubangan besar, menyebabkan berubahnya sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Hidayati (2000) menyatakan penimbunan permukaan tanah dengan tanah galian sumur tambang emas di Sukabumi mengakibatkan penurunan status hara, penurunan populasi mikroba dan artropoda tanah dan merubah iklim mikro. Menurut Teixeira et al., (2007) kegiatan pertambangan menyebabkan perubahan topografi, kondisi fisik, kandungan kimia tanah, biologis, vegetasi yang tumbuh dan dinamika air tanah. Selain itu menyebabkan hilangnya banyak spesies fauna dan memodifikasi habitatnya. Rusaknya siklus nutrisi dan perbaikan tanah merupakan konsekuensi dari berkurangnya bahan organik dan hiangnya nutrisi yang disebabkan oleh pelindian (leaching) dan erosi. Limbah industri dalam bentuk padat atau cair yang mengandung bahan kimia berbahaya juga menimbulkan polusi tanah dan meracuni tanaman.

  3. Kerusakan hutan akibat penebangan berlebihan

    Kegiatan penebangan yang dilakukan secara berlebihan (over cutting) dan terus menerus yang dilakukan oleh perusahaan atau illegal logging oleh masyarakat di sekitar hutan merupakan penyebab rusaknya hutan Indonesia. Deforestasi akan menyebabkan penurunan sifat-sifat tanah seperti dilaporkan oleh Handayani (1999) bahwa deforestrasi menyebabkan kemampuan tanah melepas N tersedia (amonium dan nitrat) menurun.   Tian (1998) menyatakan degradasi lahan akibat land clearing dan penggunaan untuk pertanaman secara terus-menerus selama 17 tahun memicu hilangnya biota tanah dan memburuknya sifat-sifat fisik dan kimia tanah. Nilai pH tanah yang tidak terdegradasi lebih tinggi dari pada tanah yang terdegradasi.  Begitu pula ditemukan bahwa dekomposisi daun dan pelepasan unsur hara lebih rendah pada tanah terdegradasi dari pada non terdegradasi.

  4. Kebakaran hutan

    Pengaruh kebakaran pada tanah dapat bersifat positip dan negatif. Pengaruh positif antara lain menaikkan pH tanah, meningkatkan kandungan amonium, P tersedia, Na+, K+, Mg2+, dapat membersihkan sisa-sisa tanaman dan membunuh hama/penyakit. Pengaruh negatifnya antara lain terjadi perubahan pada tanah akibat tingginya suhu (pemanasan) dan hilangnya biomassa tanah (Rein et al, 2008). Kebakaran menye-babkan hilangnya lapisan bahan organik (humus) yang sangat penting dalam penyediaan unsur hara bagi tanaman, penurunan kandungan C dan N dalam tanah (Neff et al., 2005). Hilangnya lapisan organik penutup tanah menyebabkan terbukanya tanah, rusaknya agregat tanah yang dapat memacu terbentuknya lubang-lubang pada tanah yang dapat menyebabakan kerusakan akar, ancaman terhadap stabilitas tanaman dan gangguan terhadap dinamika hidrologi serta meningkatkan erosi (Robichaud et al., 2006; Rein et al., 2008).

  5. Konversi hutan menjadi tegakan monokultur dan lahan pertanian

    Konversi hutan menjadi lahan yang dikelola secara monokultur atau menjadi lahan pertanian dapat menyebabkan terjadinya perubahan sifat-sifat fisik tanah antara lain kerusakan struktur tanah sebagai akibat menurunnya porositas tanah dan daya infiltrasi tanah (Utomo, 1989 dalam Priatna, 2001). Pengelolaan hutan dalam bentuk monokultur secara berlebihan dan terus menerus akan menghabiskan persediaan hara dalam beberapa rotasi dan menurunkan produktivitas lahan tersebut (Mackensen, 2000). Dilaporkan oleh Darwati (2007) bahwa adanya konversi hutan menjadi lahan pertanian menyebabkan penurunan kondisi biologis tanah. Demikian pula dengan pembukaan lahan gambut dan dikonversi menjadi lahan perkebunan atau pertanian banyak menimbulkan masalah dalam mereklamasi lahan tersebut bahkan menjadi sumber bahan bakar pada musim kemarau. Adanya reduksi seyawa pirit menyebabkan keasaman tanah meningkat dan mengganngu pertumbuhan tanaman.

  6. Pemadatan tanah (soil compaction)

    Penggunaan alat berat dalam kegiatan pemanenan hasil hutan untuk penyaradan atau pembukaan jalan menyebabkan rusaknya kondisi fisik lantai hutan, hilanganya bahan organik, pemadatan tanah serta hilangnya tumbuhan bawah. Terjadinya pemadatan tanah akibat kegiatan penyaradan meningkatkan bulk density tanah, penurunan permeabilitas dan kapasitas infiltrasi tanah sehingga tanah lebih mudah tererosi. Penyerapan air oleh akar berkurang dan air lebih banyak terkumpul pada permukaan tanah sehingga mudah hilang akibat proses evapotranspirasi. Penurunan kandungan N dalam tanah juga terjadi karena meningkatnya denitrifikasi sehingga penguapan N ke atmosfir meningkat (Makineci et al., 2008). Pemadatan tanah dapat pula terjadi karena adanya penggembalaan yang tidak terkendali (over grazing), walaupun akibat yang ditimbulkan lebih ringgan dari pada penggunaan alat berat.

  7. Salinitas tanah

    Masalah salinitas tanah umum terjadi di bidang pertanian di seluruh dunia karena menyebabkan penurunan produktivitas dan hasil panen terutama di daerah kering (arid-semi arid). Menurut Salisbury and Ross (1995) adanya penimbunan garam dalam tanah menyebabkan tumbuhan mengalami masalah dalam memperoleh air dari tanah dan mengatasi konsentrasi ion-ion natrium, karbonat dan klorida yang tinggi yang kemungkinan beracun. Masalah salinitas akan menimbulkan dampak pada lingkungan, sosial dan ekonomi yang akan dirasakan oleh masyarakat setempat atau lebih luas yang meliputi bidang pertanian, penurunan kualitas air, kerusakan infrastruktur masyarakat serta berkurangnya keanekaragaman sumberdaya hayati. Tumbuhan yang tidak memiliki toleransi terhadap kadar garam yang tinggi akan banyak yang mati bahkan dapat terancam kepunahan. Peningkatan salinitas dapat terjadi karena beberapa hal yaitu berkurangnya penutupan tanah, pengaruh penggenangan dan interusi air laut (daerah pesisir), pengairan dengan air yang kandungan garamnya tinggi, kandungan garam-garaman dalam bahan induk tanah yang tinggi, bencana alam tsunami yang membawa endapan lumpur/pasir dari laut dan faktor iklim (curah hujan).

    III. KARAKTERISTIK TANAH TERDEGRADASI

    Gejala degradasi lahan yang utama adalah erosi karena akan membahayakan segala bentuk penggunaan lahan. Gejala lain sebagai akibat dari erosi tanah yaitu penurunan potensi tanah untuk memasok air dan unsur hara pada tanaman (Notohadiprawiro, 1992). Ciri-ciri umum lahan kritis adalah gundul, gersang bahkan muncul batu-batuan di permukaan tanah, topografi lahan pada umumnya berbukit atau berlereng curam, tingkat produktivitas rendah yang ditandai oleh tingginya tingkat kemasaman tanah, kekahatan hara P, K, C dan Mg, rendahnya kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa dan kandungan bahan organik, tingginya kadar Al dan Mn yang dapat meracuni tanaman dan kepekaan tanah terhadap erosi. Selain itu, umumnya lahan kritis didominasi tumbuhan alang-alang, pH tanah relatif rendah (4,8-6,2), tanah mengalami leaching yang tinggi, banyak ditemukan rizoma yang menjadi hambatan mekanik dalam budidaya tanaman, terdapat reaksi alelopati dari akar rimpang alang-alang yang menyebabkan gangguan pertumbuhan pada lahan tersebut.

    Lima proses utama yang terjadi timbulnya tanah terdegradasi, yaitu: menurunnya kandungan bahan organik tanah, perpindahan liat, memburuknya struktur dan pemadatan tanah, erosi tanah, deplesi dan pencucian unsur hara (Lal, 1986).  Khusus untuk tanah-tanah tropika basah terdapat tiga proses penting adanya degradasi tanah, yaitu: (a) degradasi fisik berhubungan dengan memburuknya struktur tanah sehingga memicu pergerakan, pemadatan, aliran banjir berlebihan dan erosi dipercepat; (b) degradasi kimia akibat terganggunya siklus unsur hara, dan (c) degradasi biologi akibat menurunnya kualitas dan kuantitas bahan organik tanah, aktivitas biotik dan keragaman spesies fauna tanah (Lal, 1995).  Tipe degradasi tanah terbagi 2 macam, pertama berhubungan dengan displacement bahan tanah akibat dari erosi air (hilangnya top soil dan deformasi lereng) dan erosi angin (hilangnya top soil, deformasi lereng, dan overblowing).  Kedua berdasarkan degradasi kimia (hilangnya unsur hara/ bahan organik, salinisasi, acidifikasi, polusi) dan degradasi fisik. Adapun derajat tipe degradasi terbagi menjadi rendah sedang, kuat dan ekstrim (Oldeman, 1994). Dalam lampiran Peraturan Pemerintah No. 150/2000, dijelaskan beberapa kriteria tentang kerusakan tanah untuk produksi biomassa yaitu :

    Tabel 1. Kriteria baku kerusakan tanah di lahan kering akibat erosi air

    Tebal Tanah

    Ambang Kritis Erosi

    Metode Pengukuran

    Peralatan

    Ton/ha/th

    Mm/10 th

    < 20 cm

    >0,1- < 1 > 0,2 – < 1,3

    1. Gravimetrik

    2. Pengukuran

    langsung

    • timbangan tabung ukur, penera debit sungai dan peta DAS
    • Patok erosi

    20 – < 50 cm

    1 – < 3 1,3 – < 4,0

    50 – < 100 cm

    3 – < 7 4,0 – < 9,0

    100 – 150 cm

    7 – 9 9,0 – 12

    > 150 cm

    > 9 > 12

    Tabel 2. Kriteria baku kerusakan tanah di lahan kering

    No

    Parameter

    Ambang Kritis

    Metode Pengukuran

    Peralatan

    1

    Ketebalan solum < 20 cm Pengukuran langsung Meteran

    2

    Kebatuan permukaan > 40% Pengukuran langsung imbangan batu dan tanah dalam unit luasan Meteran, counter (line atau total)

    3

    Komposisi fraksi < 18% koloid;

    > 80% pasir kuarsitik

    Warna pasir, gravimetrik Tabung ukur, timbangan

    4

    Berat isi 1,4 g/cm3 Gravimetrik pada satuan volume Lilin, tabung ukur, ring sampler, timbangan analitik

    5

    Porositas total < 30%; > 70% Perhitungan berat isi (BI) dan berat jenis (BJ) Piknometer, timbangan analitik

    6

    Derajat pelulusan air < 0,7 cm/jam

    > 8,0 cm/jam

    Permeabilitas Ring sampler, double ring permeameter

    7

    pH (H2O) 1 : 2,5 < 4,5 ; > 8,5 Potensiometrik pH meter, pH stick skala 0,5 satuan

    8

    Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm Tahanan listrik EC meter

    9

    Redoks < 200 mV Tegangan listrik pH meter, elektroda platina

    10

    Mikroba < 102
    cfu/g tanah
    Plating technique Cawan petri, colony counter

    Tabel 3. Kriteria baku kerusakan tanah di lahan basah

    No

    Parameter

    Ambang Kritis

    Metode Pengukuran

    Peralatan

    1 Subsidensi gambut di atas pasir kuarsa > 35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut ≥3 m atau 10%/5 tahun untuk ketebalan < 3m Pengukura langsung Patok subsidensi
    2 Kedalaman lapisan berpirit dari permukaan tanah < 25 cm

    pH £ 2,5

    Reaksi oksidasi dan pengukuran langsung Cepuk plastik, H2O2, pH stick skala 0,5 satuan, meteran
    3 Kedalaman air tanah dangkal > 25 cm Pengukuran langsung Meteran
    4 Redoks untuk tanah berpirit > -100 mV Tegangan listrik pH meter, elektroda platina
    5 Redoks untuk gambut > 200 mV Tegangan listrik pH meter, elektroda platina
    6 pH (H2O) 1 : 2,5 < 4,0; > 7,0 Potensiometrik pH meter, pH stick skala 0,5 satuan
    7 Daya Hantar Listrik (DHL) > 4,0 mS/cm Tahanan istrik EC meter
    8 Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah Plating technique Cawan petri colony counter


    IV. PENINGKATAN PRODUKTIVITAS LAHAN TERDEGRADASI

    1. Aplikasi usaha tani konservasi

    Keadaan lahan kritis dapat diperbaiki melalui penerapan usaha tani konservasi (conservation farming) yaitu bentuk budidaya pertanian yang menekankan pemanfaatan lahan sekamsimal mungkin sepanjang tahun dengan memperhatikan kaidah-kaidan atau teknik konservasi. Tujuan utamanya adalah untuk mencegah kerusakan tanah, mempertahankan dan meningkatkan produktivitas maupun kesuburan tanahnya (Rukmana, 1995). Kunci keberhasilan budidaya tanaman pangan berkelanjutan antara lain: a) mengusahakan agar tanah tertutup tanaman sepanjang tahun guna melindungi tanah dari erosi dan pencucian b) mengembalikan sisa-sisa tanaman, kompos dan pupuk kandang ke dalam tanah guna memperbaiki/mempertahankan bahan organik tanah (Effendi et al, 1986). Kebiasaan petani dalam mengusahakan tanaman pangan sebagian besar limbah pertaniannya diangkut keluar untuk pakan ternak dan kayu bakar, dibakar pada saat persiapan tanah atau terbawa erosi, oleh karena itu makin lama kandungan bahan organik tanah makin menurun dan diikuti oleh peningkatan erosi tanah karena kurangnya tindakan konservasi tanah.

    Pengusahaan budidaya tanaman yang dapat menutup permukaan tanah sepanjang tahun merupakan tindakan konservasi vegetatif yang baik. Tindakan tersebut akan lebih baik lagi jika sisa tanaman juga dikembalikan sebagai tambahan bahan organik tanah. Bahan organik yang tinggi tidak hanya akan menambah nutrisi tanah setelah melapuk, tetapi juga dapat berperan sebagai penyanggah dari pupuk yang diberikan, mengikat air lebih baik dan meningkatkan daya infiltrasi tanah dari curah hujan yang jatuh akhirnya dapat mengurangi erosi dan aliran permukaan serta dapat meningkat produksi dan pendapatan petani. Toha dan Abdurahman (1991) mengemukakan bahwa pemberian mulsa lamtorogung 30 ton/ha dengan tanpa pupuk N dapat mengimbangi pemupukan 45 kg N/ha dengan tanpa mulsa.

    2. Penggunaan Amelioran

    Penggunaan pupuk organik (pupuk kandang atau pupuk hijau ) dan kapur dapat meningkatkan efisiensi pemakaian pupuk anorganik, karena kedua unsur tersebut dapat meningkatkan daya pegang air dan hara di tanah, sementara itu, residu pupuk diharapkan dapat mengurangi jumlah pemakaian pupuk anorganik pada tanam berikutnya. Hasil penelitian Arief dan Irman (1993) disimpulkan bahwa pemberian amelioran berupa kapur, pupuk kandang, daun gamal, jerami padi dan kiserit mampu meningkatkan hasil padi gogo dan kedelai di tanah podzolik merah kuning. Selain itu dapat dilakukan dengan penggunaan zeolit yang merupakan kelompok mineral aluminosilikat yang memiliki ciri-ciri seperti: mempunyai struktur yang khas, permukaan yang luas dan muatan negatif yang tinggi, mengandung kation (seperti: Na+, K+, Ca2+, Mg2+). Sehubungan dengan sifat-sifat tersebut bahan ini dapat digunakan sebagai: penjerap unsur atau senyawa yang tidak diinginkan seperti logam berat, pembawa unsur hara, meningkatkan kapasitas penyangga tanah, dapat menyimpan air. Oleh karena itu kelompok mineral ini mempunyai prospek untuk bahan remediasi lahan bekas tambang. Penggunaan zeolit dapat dilakukan dengan cara-cara ditebarkan langsung ke tanah sebagai bahan pembenah tanah, dicampur dengan pupuk untuk meningkatkan efisiensinya, sebagai campuran media tumbuh tanaman dan penjernih air kolam atau tambak ikan dengan cara ditebar.

    Cara lain yang bisa dilakukan untuk meningkatakan pertumbuhan tanaman dilahan ktritis yang mengalami kendala rehabilitasi lahan akibat kurangnya unsur hara, fiksasi P yang tinggi, pH sangat asam, toksisitas alumunium dan rendahnya bahan organik adalah dengan penggunaan mikorisa (Santoso dkk, 2006). Menurut Nuhamara (1994) sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah, berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim, meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin dan menjamin terselenggaranya proses biogeokemis.

    3. Sistem Budidaya Lorong

    Budidaya lorong adalah upaya pemanfaatan lahan dengan tanaman tahunan dan tanaman semusim. Tanaman semusim ditanam di lorong tanaman pagar yang umumnya berupa famili kacang-kacangan. Tanaman pagar berfungsi sebagai penahan erosi dan penghasil bahan organik yang dapat meningkatkan produktivitas lahan (IPB, 1987). Hasil penelitian Evenson dan Jost (1986) di Sitiung, Sumatera Barat, menunjukkan bahwa tanaman pagar jenis Albisia menghasilkan biomas dan nitrogen lebih banyak dibanding Kaliandra. Sedangkan Adiningsih dkk, (1986) mengemukakan bahwa di Kuamang Kuning, Jambi, Kalindra dan Lamtoro menghasilkan biomas lebih banyak daripada Flemengia congesta. Hasil penelitian Hakim et al., (1993) menunjukkan bahwa budidaya lorong dengan rumput raja (king grass) sebagai tanaman pagar dan rotasi jagung-kedelai atau jagung-jagung sebagai tanaman lorong, dapat disarankan pada lahan kritis. Rumput raja selain sebagai pupuk hijau juga dapat menekan laju erosi. Penanaman dengan jenis-jenis legum cover crop pada bawah tegakana diharapkan akan meningkatkan ketersediaan unsur hara melalui pengikatan nitrogen (nitrogen fixing) dan tambahan bahan organik tanah.

    4. Perlakuan Pertanian Organik

    Pertanian organik adalah suatu bentuk pertanian yang tidak menggunakan input sintesis seperti pestisida dan pupuk sehingga dapat menjaga keberlanjutan sistem dalam waktu yang tidak terhingga. Namun demikian, pertanian organik bukan sekedar pertanian tanpa bahan kimia. Pertanian organik menggunakan teknik-teknik seperti rotasi tanaman, jarak tanam yang mencukupi antar tanaman, penggabungan bahan organik ke dalam tanah dan penggunaan pengendalian biologi untuk menaikkan pertumbuhan tanaman yang optimum dan meminimumkan masalah hama. Pemakaian pestisida organik dipertimbangkan sebagai upaya terakhir dan digunakan dengan hemat. Keberhasilan pertanian organik tergantung pada program pengelolaan penggunaan input-input secara intensif dalam rangka menghasilkan produktivitas tanaman yang optimum. Pelaksanaan pengelolaan pertanian organik terdiri atas: (a)  penambahan bahan organik terdekomposisi, (b) rotasi tanaman untuk meningkatkan kesuburan dan mengurangi serangan hama dan penyakit, (c) memakai pupuk hijau dan tanaman penutup untuk memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan populasi organisme yang bermanfaat dan mengurangi erosi, (d) pengurangan pengolahan tanah (minimum tillage) untuk memperbaiki struktur tanah dan mengurangi erosi, (e) memakai tanaman penangkal (trap crops), jasad pengendali biologi dan teknik manipulasi habitat lainnya (seperti tumpang sari atau penggunaan pembatas) untuk mempertinggi mekanisme pengendalian biologi alami pada pertanian, dan (f)   pembuatan zona penyangga dan pembatas untuk menandai area penghasil organik dan membantu melindungi area tersebut dari bahan-bahan terlarang. Zona penyanga ditanami dengan tanaman pemecah angin (wind breaker) atau tanaman yang bukan untuk dipanen

    Dalam kegiatan penanaman huatan dilahan terdegradasi dapat dilakukan dengan penerapan teknik pemberian mulsa vertikal, yaitu limbah hutan berupa seresah, sisa-sisa kayu, cabang, ranting dan bahan organik lainnya dimasukkan ke dalam lubang yang dibuat berupa saluraan menurut konturnya sehingga akan terdekomposisi dan menjadi sumber unsur hara bagi tanaman (Pratiwi, 2006).

    5. Seleksi Tanaman Adaptif Pada Kondisi Cekaman Lingkungan

    Masalah mendasar dan tantangan berat yang harus dihadapi pada lahan kritis adalah bagaimana mengubah lahan tersebut menjadi lahan produktif dan bagaimana menghambat agar lahan kritis tidak semakin meluas. Karena itu berbagai teknik rehabilitasi dan sistem budidaya yang tepat telah banyak dicobakan pada lahan kritis tersebut. Upaya-upaya yang selama ini dilakukan membutuhkan biaya yang cukup besar dan memerlukan dukungan semua pihak serta perlu dukungan ahli ekofisiologi dan pemulia tanaman untuk menghasilkan varietas tanaman pangan yang adaptif pada lahan kritis yang memiliki karakteristik cekaman lingkungan tertentu (kesuburan rendah, ketersediaan air terbatas/berlebih dan lain-lain). Tanaman pangan adaptif yang dimaksud adalah tanaman yang di satu sisi mampu beradaptasi dan di sisi lain mampu berproduksi secara optimal sehingga dapat diharapkan sebagai penyedia pangan di masa mendatang

    Tabel 4. Jenis-jenis tanaman legum

    Nama latin Nama lokal Kegunaan Persyaratan tumbuh
    Ficus subcordata Wunut (J), bunut lengis (B), sipadi (M). Reklamasi lahan, tanaman pagar, penahan angin (windbreak) Elevasi 0-800 m dpl, tumbuh baik pada lahan kering dan lahan berlereng dengan curah hujan 900-2500 mm. Cocok pada berbagai jenis tanah, termasuk tanah calcareous (pH tinggi).
    Gliricidia sepium Gamal (J), Glirisidia (I) Tanaman penaung, tanaman pagar, pupuk hijau, reklamasi lahan Curah hujan 900-1500 mm dengan sekitar 5 bulan periode kering. Cocok pada berbagai jenis tanah dari masam sampai basa.
    Leucaena leucocephala Lamtoro gung, petai cina (I), kemlandingan (J) Tanaman serbaguna Elevasi 0-1.000 m dpl, curah hujan 650-1500 mm. Juga ditemukan pada daerah yang lebih kering atau lebih basah. Cocok pada tanah dengan pH>5 dan ditemukan juga pada tanah bergaram (salin).
    Sesbania grandiflora
    Turi (I, J, S),
    tuwi (B)
    Penahan angin, tiang panjat, tanaman penaung Elevasi 0-800 m dpl, curah hujan 800-4000 mm. Tumbuh pada berbagai jenis tanah, termasuk tanah tandus atau tanah sering tergenang. Toleran terhadap tanah bergaram dan tanah alkalin.
    Sesbania sesban Jayanti (S),
    Janti (J)
    Pupuk hijau, tanaman naungan Elevasi 0-2300 m dpl, curah hujan 500-2000 mm.Tumbuh pada berbagai jenis tanah mulai dari tanah berpasir sampai tanah liat. Toleran terhadap tanah salin dan tanah masam.
    Calliandra calothyrsus Kaliandra (I) Tanaman konservasi pada lembah, jurang (gully) dan lahan berlereng curam, tanaman pagar, pupuk hijau. Elevasi 200-1800 m dpl, curah hujan 700-4000 mm dengan 1-7 bulan kering. Cocok pada berbagai jenis tanah termasuk tanah masam berkesuburan rendah. Menyukai tanah dengan tekstur ringan (lempung-berpasir).

    Keterangan : I (Indonesia), J (Jawa) dan S (Sunda)

    III. PENUTUP

    Tanah memiliki kedudukan dan peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dalam kehidupannya manusia tidak bisa dipisahkan dari keberadaan tanah itu sendiri. Manusia secara langsung atau tidak langsung menjadi faktor yang sangat mempengaruhi kondisi tanah dan lingkungannnya. Kerusakan-kerusakan lingkungan tanah tidak lepas dari aktifitas manusia seperti pengolahan tanah pertanian, pembukaan hutan untuk perladangan, pemukiman, pertambangan, pembakaran hutan, penebangan secara tidak terkendali dan lain-lain. Oleh karena itu sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk mengupayakan pengelolaan lingkungan yang baik dan lestari. Dengan terciptanya kondisi lingkungan yang baik maka manusia akan merasakan manfaatnya. Tugas tersebut bukan hanya merupakan tugas pemerintah, rimbawan, ahli tanah dan lingkungan, namun merupakan tugas kita semua sebagai masyarakat dalam ekosistem secara luas. Usaha yang dilakukan untuk menjaga kondisi keseimbangan lingkungan dengan memperbaiki kerusakan yang ada serta tidak melakukan kerusakan lainnya merupakan tugas mulia sebagai perwujudan ibadah kepada Sang Pencipta alam semesta. Beberapa usaha yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kondisi lingkungan tanah yang telah mengalami degradasi antara lain adalah penerapan usaha tani konservasi, penerapan sistem pertanian organik, penggunaan bahan pembenah tanah (amelioran), melakukan daur ulang bahan organik menjadi pupuk organik, kombinasi tanaman kehutanan dan pertanian serta melakukan pemilihan jenis-jenis yang adaptif.

    DAFTAR PUSTAKA

    Arief, A dan Irman. 1993. Ameliorasi lahan kering masam untuk tanaman pangan. Proseding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Jakarta, Bogor 23-25 Agustus 1993

    Arsyad, S.  1989.  Konservasi tanah dan air.  IPB Press.  290 hal.

    Barr, C. 2007. Intensively Managed Forest Plantation in Indonesia. Overview of recent trend and current plans. Meeting of the Forest Dialogue. Pekanbaru March 7-8, 2007. Center for International Forestry Research (CIFOR)

    Barrow, C.J.  1991.  Land degradation.  Cambridge University Press.  295p.

    Darwati. 2007. Keragaman Dan Kelimpahan Mesofauna Tanah Pada Beberapa Tipe Penggunaan Lahan di Daerah Gunung Bawang. Thesis S2. Fakultas Kehutanan. Program Pasca Sarjana. UGM. Yogyakarta

    Effendi, S., G. Ismail dan G Wibawa, 1986. Pola usahatni konservasi pada lahan keirng podsolik merah kuning. Makalah disampaikan pada lokakarya usahatni konservasi di Lahan Alang-alang. Palembang 11 – 13 Pebruari 1986. 21p

    FAO.  1977.  FAO soil bulletin: assesing soil degradation.  UN.  Rome.  83p.

    Handayani, I.P.  1999.  Kuantitas dan variasi nitrogen-tersedia pada tanah setelah penebangan hutan.  J. Tanah Trop. 8:215-226

    Hidayati, N.  2000.  Degradasi lahan pasca penambangan emas dan upaya reklamasinya: kasus penambangan emas Jampang-Sukabumi. PROSIDING Konggres Nasional VII HITI: Pemanfaatan sumberdaya tanah sesuai dengan potensinya menuju keseimbangan lingkungan hidup dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat.  Bandung 2 – 4 Nopember 1999.  Buku I.  Himpunan Tanah Indonesia.   Hal: 283-294

    Institut Pertanian Bogor. 1987. Monitoring and improving agriline use in trans II area. Laporan Akhir Tim Studi Kapur (TSK IPB). Kerjasama PSP2DT Pusat dengan IPB.

    Lal, R.  1986.  Soil surface management in the tropics for intensive land use and high and sustained production.  Stewart, B.A.(editor).  Advances in soil science volume 5.  Springer-Verlag  New York Inc. p:1-110.

    _____. 1995.  Sustainable management of soil resources in the humid tropics.  United Nations University Press.  Tokyo.  146p

    Mackensen, J. 2000. Pengelolaan Unsur Hara pada Hutan Tanaman Industri (HTI) di Indonesia. Petunjuk praktis ke arah pengeloaan unsure hara terpadu. Terjemahan Leti Sundawati. Badan Kerjasama Teknis Jerman.

    Makineci, E., M. Demir, A. Comez and E. Yilmaz. 2008. Effect of timber skidding on chemical characteristics herbaceous cover, forest floor and top soil on skidroad of an Oak (Quercus petrea L.) forest. Journal of Terramechanics (2008). http: http://www.science direct.com.

    McAlister, J.J., B.J. Smith, and B. Sanchez.  1998.  Forest clearence: impact of landuse change on fertility status of soils from the Sao Francisco area of Niteroi, Brazil.  Land Degradation & Development.  9:425-440.

    Neff, J.C., J.W. Harden and G. Gleixner. 2005. Fire effects on soil organic content, composition, and nutrients in boreal interior Alaska. Canadian Journal of Forest Resources 35 : 2178-2187 (2005).

    Notohadiprawiro, T. 1992. Kerangka Evaluasi Kemampuan Lahan. Kuliah Pelatihan Inventarisasi dan Evaluasi Sumber Daya Lahan ke-2. Keluarga Mahasiswa Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian UGM. 20-22 Agustus 1992. Yogyakarta.

    Nuhamara, S.T., 1994. Peranan mikoriza untuk reklamasi lahan kritis. Program Pelatihan Biologi dan Bioteknologi Mikoriza

    Oldeman, L.R.  1994.  The global extent of soil degradation.  Greenland,D.J. and I. Szabolcs (editor).  Soil resilience and sustainable land use.  CAB International. p:99-118

    Pratiwi, 2006. Konservasi Tanah dan Air : Pemanfaatan Limbah Hutan Dalam Rehabilitasi Hutan dan Lahan Terdegradasi. Ekspose hasil penelitian di Padang tanggal 20 September 2006. Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Bogor

    Priatna, S.J. 2001. Indeks Erodibilitas dan Potensi Erosi pada Areal Kebun Kopi Rakyat dengn Umur dan Lereng Yang Berbeda. Jurnal Ilmmu-ilmu Pertanian Indonesia volume 3, No. 2 (2001), halaman 84-88.

    Rein, G., N. Cleaver, C. Ashton, P. Pironi and J.L. Torero. 2008. The Severity of smouldering peat fires and damage to the forest soil. Catena 70 (3) pp: 304-309, 2008

    Robichaud, P.R., T.R. Lillybridge and J.W. Wegenbrenner, 2006. Effects of post fire seeding and fertilizing on hill slope erosion in North-central Washington, USA. Catena 67 (2006) 56-57.

    Rukmana, R. 1995. Teknik Pengelolaan Lahan Berbukit dan Kritis. Penerbit Kanisius.

    Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid 3. Penerbit ITB. Bandung

    Santoso, E., M. Turjaman dan R.S.B. Irianto. 2006. Aplikasi Mikorisa untuk Meningkatkan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Terdegradasi. Ekspose Hasil Penelitian Konservasi dan Rehabilitasi Sumber Daya Hutan di Padang 20 september 2006.

    Smiet, A.C. 1990. Forest Ecology on Java: Conservation and usage in historical perspective. Journal of Forest Science 2:286-302

    Teixeira, S.T., W.J. de Melo and E.T. Silva. 2007. Plant nutrients in a degraded soil treted with water treatment sludge and cultivated with grasses and leguminous plants. Soil Biologi and Biochemistry 39 (2007) 1348-1354.

    Tian G.  1998.  Effect of soil degradation on leaf decomposition and nutrient release under humid tropical conditions.  Soil Science. 163(11):897-906

    Toha H.M. dan Abdurrahman, A. 1991. Penggunaan bahan organik pada pola tanam lahan kering di tanah vulkanik eutropept laboratotoirum lapangan uangaran, semarang. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian . Departemen Pertanian. 1991

    Zheng, Fen-li. 2006. Effect of Vegetation Changes on soil Erosion on the Loess Plateau. Pedospher 16(4): 420-427. Elsevier Limited and Science Press.

%d blogger menyukai ini: