TANAH VERTISOL:SEBARAN, PROBLEMATIKA DAN PENGELOLAANNYA

Oleh : Hamdan Adma Adinugraha

I. PENDAHULUAN

A. Definisi Tanah Vertisol

Nama vertisol untuk jenis tanah liat berwarna kelam-hitam yang bersifat fisik berat ini diusulkan oleh Soil survey staff USDA. Dalam Buckman dan Brady (1982), vertisols (berasal dari L. Vertere; verto; vertic atau pembalikan) adalah jenis tanah mineral yang mempunyai warna abu kehitaman, bertekstur liat dengan kandungan lempung lebih dari 30% pada horizon permukaan sampai kedalaman 50 cm yang didominasi jenis lempung montmorillonit sehingga dapat mengembang dan mengerut. Pada musim kering tanah ini membentuk retakan yang dalam dan lebar, sehingga sejumlah bahan yang ada di lapisan atas tanah dapat runtuh masuk ke dalam retakan, akan menimbulkan pembalikan sebagian massa tanah (invert). Jenis tanah ini dahulu dikenal dengan nama grumusol yang diusulkan oleh Oakes dan Y. Thorp (1950), berasal dari istilah gromus (gumpal keras) karena dapat membentuk gumpalan besar dan keras pada musim kering. Nama-nama lain untuk jenis tanah ini antara lain tanah margalite (Indonesia), regur (India), black cotton soils (USA), vlei soil (Afrika Selatan) dan gilgai (Australia).

B. Pembentukan Tanah Vertisol

Tanah vertisol umumnya terbentuk dari bahan sedimen yang mengandung mineral smektite dalam jumlah tinggi, di daerah datar, cekungan hingga berombak (Driesen dan Dudal, 1989 dalam Prasetyo, 2007). Bahan induknya terbatas pada tanah bertekstur halus atau terdiri atas bahan-bahan yang sudah mengalami pelapukan seperti batu kapur, batu napal, tuff, endapan aluvial dan abu vulkanik. Pembentukan tanah vertisol terjadi melalui dua proses utama, pertama adalah proses terakumulasinya mineral 2:1 (smektite) dan kedua adalah proses mengembang dan mengerut yang terjadi secara periodik hingga membentuk slickenside atau relief mikro gilgai (vanWambeke, 1992 dalam Prasetyo, 2007).

Dalam perkembangannya mineral 2:1 yang sangat dominan dan memegang peran penting pada tanah ini. Komposisi liat dari vertisol selalu didominasi oleh mineral 2:1, biasanya monmorilonit dan dalam jumlah sedikit sering dijumpai mineral liat lainnya seperti illith dan kalolinit (Ristori et al, 1992). Tanah ini sangat dipengaruhi oleh proses argillipedoturbation yaitu proses pencampuran tanah lapisan atas dan bawah yang diakaibatkan oleh kondisi basah dan kering yang disertai pembentukan rekahan-rekahan secara periodik (Fanning, 1989 dalam Prasetyo, 2007). Proses-proses tersebut menciptakan struktur tanah dan pola rekahan yang sangat spesifik. Ketika basah tanah menjadi sangat lekat dan plastis serta kedap air, tetaapi ketika kering tanag sangat keras dan masif atau membentuk pola prisma yang terpisahkan oleh rekahan (van Wambeke, 1992 dalam Prasetyo, 2007).

Faktor pembentuk tanah yang dominan untuk vertisol adalah iklim yang relatif agak kering sampai kering, dengan bulan-bulan kering yang jelas dan atau bahan induk tanah yang relatif kaya basa, seperti bahan volkan intermedier, batu gamping, napal, batu liat berkapur atau bahan alluvial. Selain itu topografi berupa dataran antar perbukitan yang tertutup, dalam arti, tidak terdapat aliran outlet keluar wilayah, dan basa-basa dari lingkungan sekitar yang lebih tinggi berakumulasi di dataran, menyebabkan terbentuknya tanah vertisols, landform-nya, dimaksudkan sebagai dataran volkan atau dataran antar perbukitan.

II. SEBARAN TANAH VERTISOL

A. Sebaran Tanah Vertisol di Dunia

Tanah vertisol meliputi sekitar 335 juta hektar di seluruh dunia. Diperkirakan sekitar 150 juta hektar merupakan lahan potensial untuk pertanian. Sebaran di daerah tropis sekitar 200 juta hektar atau sekitar 4% dari luas daratan dunia (Driessen dan Dudal, 1989 dalam Prasety, 2007). Sekitar 25% dari luasan tersebut merupakan lahan pertanian. Kebanyakan tanah vertisol ditemukan di daerah semi-arid yang memiliki rata-rata curah hujan 500-1000 mm. Namun demikian tanah ini juga ditemukan di daerah tropis basah seperti di Trinidad dimana curah hujannya 3000 mm/tahun. Sebaran tanah vertisol umumnya terdapat pada dataran rendah di beberapa negara antara lain di Sudan, India, Ethiopia, Australia, bagian barat daya USA (Texas), Uruguay, Paraguay dan Argentina. Tanah ini ditemukan di daearh adataran rendah (lembah) seperti dasar danau yang kering, endapan pinggiran sungai atau dataran rendah lainnya yang sering terendam.


Gambar 1. Sebaran tanah vertisol di dunia menurut FAO/UNESCO

B. Sebaran Tanah Vertisol di Indonesia

Di Indonesia jenis tanah ini terbentuk pada tempat-tempat yang tingginya tidak lebih dari 300 meter di atas muka laut dengan topografi agak bergelombang sampai berbukit, temperatur tahunan rata-rata 25o C dengan curah hujan kurang dari 2500 mm dan pergantian musim hujan dan kemarau nyata. Luas penyebaraan tanah vertisol di Indonesia mencapai sekitar 2,1 juta hektar (Subagyo et al, 2004 dalam Prasetyo, 2007) yang tersebar di Nusa Tenggara Timur (0.198 juta ha), Jawa Timur (0.96 juta ha) yang terdapat di Ngawi, Bojonegoro, Nusa Tenggara Barat (0.125 juta ha) seperti di Lombok, Sumbawa, Sulawesi Selatan (0.22 juta ha), Sulawesi Utara dan Jawa Tengah (0.4 juta ha). Di Nusa Tenggara Barat, sebaran tanah vertisol terdapat di bagian selatan Lombok yang kondisinya kering dan usaha budidaya tanaman sangat tergantung pada curah hujan. Sistem pertanian yang dilakukan di daerah tersebut adalah “gogorancah” (Ma’shum et al, 2008). Di Jawa Tengah antara lain terdapat di Kabupaten Wonogiri yang menerapkan sistem alley cropping atau penanaman menurut kontur (Paimin et al, 2002). Di Yogyakarta terdapat di Gunung Kidul (Ispandi, 2003).

III. KARAKETRISTIK TANAH VERTISOL

A. Morfologi Tanah


Gambar 2. Kenampakan tanah vertisol

Ciri-ciri tanah vertisol adalah sebagai berikut; (1)tekstur lempung dalam bentuk yang mencirikan, (2) tanpa horison eluvial dan iluvial, (3) struktur lapisan atau granuler, sering berbentuk seperti bunga kubis, dan lapisan bawah gumpal atau pejal, (4) mengandung kapur, (5) koefisien mengembang mengkerut tinggi jika dirubah kadar airnya, (6) seringkali mikrorelifnya gilgai (peninggian-peninggian setempat yang teratur, (7) konsistensi luar biasa plastis, (8) bahan induk berkapur atau basaltic dan berlempung sehingga kedap air, (9) kedalaman solum rata-rata 75 cm dan (10) warna tanah kelam/hitam atau chroma kecil.

B. Sifat Fisik Tanah

Tanah vertisols relatif sulit diolah karena memiliki konsistensi yang sangat kuat karena memiliki kandungan lempung yang tinggi yaitu lebih dari 30%, bahkan menurut Prasetyo (2007) kandungan liat pada tanah vertisol dapat lebih dari 60%. Tanah ini sangat keras pada waktu kering (musim kemarau) dan sangat plastik dan lengket ketika basah. Pengolahan dapat dilaksanakan di dalam musim kemarau baik secara manual maupun dengan menggunakan alat berat/traktor.


Gambar 3. Kelas tekstur tanah menurut USDA

Menurut Prasetyo (2007), berdasarkan bahan induknya tanah vertisol memiliki ciri-ciri yang berbeda-beda. Semua pedon yang diteliti mempunyai tekstur yang tergolong pada liat berat dengan kandungan fraksi liat > 60%. Tingginya kandungan faraksi lita berhubungan dangan bahan induk tanahnya. Bahan induk vertisol terdiri atas alluvium, napal, peridotit, batu kapur, volkan andesitik dan dasitik yang tergolong sudah lapuk serta endapan banjir dan lakustrin yang memang sudah halus ukuran butirannya.

Pedon yang berasal dari alluvium volkan tersusun atas asosiasi andesin dan amfibol dengan kandungan mineral lainnya seperti opak, hiperstin, augit, gelas volkan dan kuarsa. Komposisi mineral pasir tersebut sangat mencirikan bahan volkan yang bersifat andesitik. Nampak disini bahwa jumlah mineral mudah lapuk seperti gelas volkan, andesin, amfibol, augit dan hiperstin masih sangat tinggi >70%. Hal ini menunjukkan bahwa cadangan sumber hara pada pedon tersebut tergolong tinggi.

Pedon yang berasal dari kaki lereng didominasi mineral opak dan kuarsa. Adanya kuarsa mungkin berasal dari penutup (mantel) bahan induk yaitu batuan peridotit yang merupakan batuan ultabasis yang pada awalnya mengandung >30% mineral olivin sebagai mineral yang pali dulu habis karena proses pelapukan sehingga tidak dijumpaai lagi pada profil tanahnya. Ciri pada pedon ini cadangan sumber hara tergolong rendah.

Pedon yang berasal dari dataran aluvial banyak mengandung meneral pasir kuarsa, dalam jumlah sedikit mineral andesin, sanidin dan epidot. Pedon ini berkembang dari bahan induk alluvium batu gamping yang seharusnya didominasi oleh mineral kalsit dan dolomit sebagi mineral penysun utama batu gamping. Kalsit dan dolomit tergolong mudah lapuk sehingga sudah tidak ada dalam profil tanahnya. Cadangan hara pada pedon ini juga tergolong rendah.

Pedon yang berasal dari endapan lakustrin didominasi oleh kuarsa, dalam julah sedikit ditemukan mineral orthokls, sanidin dan andesin. Asosiasi mineral tersebut menun jukkan bahana endapan lakustrin berasal darai bahan volkan yang bersifat masam. Mineral epidot, amfibol, augit dan hiperstin masih ditemukaan da;am jumlah sangat sedikit. Cadangan hara pada pedon ini tergolong sedang.

Kandungan bahan organik umumnya antara 1,5-4%. Warna tanah dipengaruhi oleh jumlah humus dan kadar kapur yang terkandung dalam tanahnya. Solum tanah vertisol mulai dangkal-dalam, memiliki struktur tanah yang kurang baik, permeabilitas yang lambat, aerasi dan drainase yang kurang baik serta kesuburan fisiknya kurang baik (Supriyo, 2008). Struktur tanah yang kurang stabil menyebabkan tanah lebih peka terhadap erosi karena mudah hancur oleh energi pukulan air hujan. Struktur tanah yang kurang meloloskan air antara lain gumpal menyudut, prismatik, kolumnar bahkan tanpa struktur (pejal dan kersai) Sedangkan permeabilitas tanah yang lambat dapat menyebabkan tanah mudah jenuh air dan mudah terjadi aliran permukaan sehingga potensial terhadap bahaya erosi. Demikian juga tekstur tanah yang berat akan menyebabkan lambatnya permeabilitas (Notohadiprawiro, 2000).


Gambar 4. Struktur tanah dan pergerakan air (infiltrasi)

C. Sifat Kimia Tanah

Sifat-sifat kimia tanah verstisol umumnya memiliki kesuburan kimia yang tinggi, banyak mengandung Fe++, memiliki KPK yang relatif baik, kejenuhan basa relatif besar, kapasitas mengikat air (water holding capacity) yang tinggi dengan pH tanah 6-8,5 (Supriyo, 2008). Secara kimiawi tanah ini kaya akan hara karena mempunyai cadangan sumber hara yang tinggi dengan kapasitas tukar kation tinggi dan pH netral hingga alkali (Deckers et al, 2001). Akan tetapi tingkat kesuburannya dapat bervariasi menurut asal bahan induknya (Prasetyo, 2007).

Di lahan kering tanah Vertisol, hara Posfor dalam tanah sangat mudah terfiksasi oleh ion Ca menjadi senyawa fosfat atau apatit yang tidak tersedia bagi tanaman. Pupuk ZA yang bereaksi asam dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ketersediaan hara P dalam tanah sehinga kebutuhan tanaman akan hara Posfor lebih dapat terpenuhi (Feagley and Hossner, 1978 dalam Ispandi, 2003). Kadar Kalium yang tersedia umumnya rendah yaitu 0,2 me/100g (Munir, 1996). Kadar K yang rendah ini akibat adanya mineral lempung tipe 2:1 (monmorilonit yang mampu menjerap K di antara kisi-kisi mineral. Selain itu unsur hara K dalam tanah yang bersifat mobil, mudah tercuci atau mudah terangkut oleh aliran air ke tempat lain (Foth dan Ellis, 1988) perlu mendapat pertimbangan dalam melakukan pemupukan K pada tanaman ubikayu khususnya di lahan kering Vertisol. Dengan demikian perlu dicari teknologi untuk meningkatkan efisiensi pemupukan K sehingga diperoleh produksi tanaman pangan yang optimal. Zat lemas dan unsur-unsur hara mikro umumnya sering kahat seperti halnya fosfor (Ispandi, 2003; Sudadi et al, 2007).

Tabel 1. Beberapa sifat kimia dan fisika tanah vertisol ( Sudadi et al, 2007)

No

Macam analisis

Nilai

Satuan

Pengharkatan )*

1

2

3

4

5

6

7

8

pH H2O

pH KCl

Bahan organik

K total

K tersedia

P tersedia

N total

Nilai COLE

6,76

5,32

2,94

1,54

0,10

12,60

0,24

0,59



%

me/100g

me/100g

ppm

%

g/cm3

Netral


Rendah

Sangat tinggi

Sangat rendah

Rendah

Sedang

Keterangan : * = pengharkatan menurut Pusat Penelitian Tanah 1983

IV. PENGELOLAAN DAN PROBLEMATIKA TANAH VERTISOL

Berdasaarkan sebarannya, tanah vertisol dimanfaatkan untuk berbagai keperluan hidup manusian seperti ladang penggembalaan, pemukimaan, jalan raya dan lahan pertanian. Beberapa permasalahan yang sering dihadapi hubungannya dengan pemanfaatan jenis tanah ini adalah sebagai berikut :

  1. Pemanfaatan tanah vertisol sebagai lahan pertanian umumnya menghadapi permasalahan kesuburan yang cenderung rendah. Walaupun tanah ini memiliki kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa relatif tinggi namun kadar bahan organiknya rendah sering kurang dari 1% , kandungan unsur hara N, P dan K yang tersedia bagi tanaman umumnya rendah. Kadar K yang rendah terjadi karena unsur hara K terfiksasi dalam kisi-kisi mineral lempung tipe 2:1 (monmorilonit). Untuk mengatasinya dilakukan dengan pemberian mulsa dan pupuk kandang (Suteja, 1999). Mulsa berfungsi menjaga kelembaban tanah dan keadaan yang lembab/basah menyebabkan kalium yang terfiksasi oleh mineral 2:1 dibebaskan kembali ke dalam larutan tanah bersamaan dengan pelepasan kembali air yang teretensi oleh mineral K tersebut (Poerwowidodo, 1991). Pemberian mulsa dan pupuk kandang secara signifikan menyebabkan peningkatan k-tersedia dalam tanah verstisol (Sudadi et al, 2007).


  2. Hasil penelitian Ma’shum (2004) selama tiga tahun dapat diungkapkan bahwa alternatif paket pengelolaan vertisols tadah hujan daerah semi arid seperti Nusa Tenggara Barat untuk pertanaman padi selain sistem sawah dan Gogo Rancah adalah paket pengelolaan pertanaman padi dengan sistem bedeng “raised bed” yaitu tanah tak diolah atau diolah minimum dan tanah tak tergenang (aerobic unfloode soil) serta pengembalian residu tanaman. Untuk meningkatkan kemantapan agregat tanah serta memperbaiki struktur tanah antara lain dapat dilakukan penambahan bahan organik berupa kompos atau pupuk hijau yang ditanam pada akhir musim hujan yang sekaligus berfungsi sebagai soil conditioner yang mudah didapat.


    Gambar 5. Tanaman sukun yang dipadukan dengan tanaman pertanian di Gunung Kidul

    Hasil penelitian Triwilaida (2001) menunjukkan bahwa Penambahan bahan organik berupa kompos daun tanaman kayu putih pada tanah-tanah bertekstur berat (liat) dapat meningkatkan aerasi tanah melalui perbaikan struktur dan peningkatan porositas tanah. Dalam kegiatan penanaman huatan dilahan terdegradasi dapat dilakukan dengan penerapan teknik pemberian mulsa vertikal, yaitu limbah hutan berupa seresah, sisa-sisa kayu, cabang, ranting dan bahan organik lainnya dimasukkan ke dalam lubang yang dibuat berupa saluraan menurut konturnya sehingga akan terdekomposisi dan menjadi sumber unsur hara bagi tanaman (Pratiwi, 2006).

  3. Dalam pembangunan gedung dan jalan raya, Buckman dan Brady (1982) menjelaskan bahwa membangun di atas tanah yang mempunyai sifat kembang susut yang tinggi sering menyulitkan karena dapat menimbulkan masalah seperti : kerusakan pada lantai bangunan, keretakan pada dinding tembok, permukaan jalan bergelombang karena penurunan yang tidak merata. Gaya kembang susut yang terjadi akibat pergantian musim sering menimbulkan badan jalan jadi bergelombang, mudah retak, dan cepat rusak. Dalam bidang teknik sipil, khususnya tentang jalan raya, rekayasa yang dilakukan adalah dengan membuat inovasi badan jalan difondasi dengan beton, semen cor. Kemudian atasnya dilapisi dengan aspal supaya bisa terasa relatif empuk. Jika di atas tanah ini semen langsung tanpa adanya aspal sebagai pelapis, akan memberikan keugian ban mobil cepat halus (botak).

  4. Permasalahan tama pada tanah vertisols adalah sukarnya trafficability selama musim hujan dan tekanan kekeringan (Drought stress) maupun peretakan tanah yang intensif selama musim kemarau. Sebagai tambahan untuk pembatas yang berupa kebasahan tanah (Soil wetness), Vertisols juga mudah untuk mengalami erosi yang dipercepat. Semakin besar dan dalam bentuk retakan tanah, maka akan mudah diisi oleh organisme pemakan akar serta menghalangi proses absorpsi air dan nutrisi (Beek et al. 1980). Penimbunan garam mengakibatkan salinisasi dan sodikasi serta dapat pula menjadi faktor pembatas pada tanah Aridisols dan Vertisols (Gupta and Abrol, 1990).

  5. Struktur tanah vertisols kurang baik sehingga sangat peka kepada erosi oleh air dan longsor. Tanah mediteran (Alfisols) dan Grumusol (Vertisols) yang terbentuk dari batuan induk batu liat, napal, dan batu kapur dengan kandungan liat 2:1 (Montmorilonit) tinggi, sehingga pengelolaan lahan yang disertai oleh tindakan konservasi sangat diperlukan. Dalam sistem budidaya pada lahan berlereng >15% lebih diutamakan campuran tanaman semusim dengan tanaman tahunan atau sistem wanatani (agroforestry). Salah satu ciri lahan peka longsor adalah adanya rekahan tanah selebar >2 cm dan dalam >50 cm yang terjadi pada musim kemarau. Pada kedalaman tertentu dari tanah Podsolik atau Mediteran terdapat akumulasi liat (argilik) yang pada kondisi jenuh air dapat juga berfungsi sebagai bidang luncur pada kejadian longsor.


    Gambar 6. Rekahan-rekahan yang terjadi pada tanah vertisol

  6. Sifat vertik yang menyebabkan adanya lubang-lubang rekahan yang lebar dan dalam dapat mengakibatkan putusnya perakaran tanaman terutama yang berakar dangkal serta kurang stabilnya tanah. Dalam hal ini penanaman tanaman berakar dalam perlu dipertimbangkan karena umumnya sifat vertik dominan pada permukaan (lapisan atas). Jenis tanaman yang diutamakan adalah jenis-jenis legume yang mampu menyumbang bahan organik tanah serta mengikat N udara seperti lamtorogung, Glyricidae dan Acacia. Tanaman tersebut selain mampu tumbuh pada tanah-tanah kritis juga mampu mengambil unsur dari sub soil dan mengembalikannya dalam bentuk serasah sebagai penyumbang bahan organik tanah yang mempunyai multi fungsi dalam memperbaiki sifat tanah termasuk meningkatkan KTK tanah, mengikat unsur, meningkatkan aktivitas biologi serta memperbaiki sifat fisik tanah.

  7. Tanah vertisol umumnya terdapat di daerah-daerah yang beriklim kering, sehingga air merupakan permasalahan serius yang sering dihadapi. Pengelolaan air yang tepat perlu dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada lahan tersebut. Hidromeliorasi adalah tindakan orang dengan mengatur kealiran lahan yang mencakup irigasi, pengatusan (drainage) dan mengelola sifat hidrologi lahan. Irigasi adalah pemberian air secara buatan pada sebidang lahan untuk memenuhi kebutuhan pertanaman. Pengatusan dikerjakan orang untuk membuang kelebihan air dari sebidang lahan yang mengganggu atau menghalangi penggunaan lahan itu. Sifat hidrologi lahan adalah semua sifat hakiki lahan yang menentukan dinamika air, baik pada muka tanah maupun di dalam tubuh tanah (Notohadiprawiro et al, 1983).

    V. PENUTUP

    Tanah memiliki kedudukan dan peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Kehidupannya manusia, hewan dan tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan tanah itu sendiri. Makhluk hidup, tanah dan iklim marupakan tiga faktor yang tidak bisa diisahkan dan saling memengaruhi satu sama lain. Tanah vertisol adalah salah satu jenis tanah yang pembentukannya selain bahan induk, relief, waktu juga dipengaruhi oleh iklim dan makhluk hidup yang ada di atasnya. Sifat-sifat tanah vertisol sendiri akan memengaruhi jenis tanaman yang dapat tumbuh dan teknik pengelolaannya oleh manusia yang memanfaatkan tanah vertisol sebagai lahan pertanian. Pengelolaan yang tepat dapat meningkatkan kualitas lahan tersebut. pengelolaan tanah vertisol yang utama adalah pengaturan air, pengolahan lahan dan pemberian bahan organik.

    DAFTAR PUSTAKA

    Beek, K. J., Blokhuis, W. A., Driessen, P. M., Breeman, N. V., Brinkman, R., and Pons, L. J. 1980. Problem Soils : Their Reclamation and Management. ILRI Publication No. 27. ILRI. Wageningen. Nedherlands.

    Buckman, H.O. dan N.C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Prof. Dr. Soegiman. Penerbit Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

    Dixon, R. O. D., and Wheeler, C. T. 1983. Biochemical, Physiological and Environmental Aspect of Symbiotic Nitrogen Fixation. In: Gordon, J. C., and Wheeler, C. T. Ed. Biological Nitrogen Fixation in Forest Ecosystem: Foundations and Applications. Martinus Nijhoff. The Hague. 107-171.

    Foth N.O. and B.G. Ellis. 1988. Soil Fertility. John Wiley & Sons. New York – Singapore 212 pp.

    Gupta, R. K., and abrol, I, P. 1990. Salt Affected Soils: Their Reclamations and Managenent for Crop Production. Advances in Soil Science 11. 223-287

    Hubble G D. 1984. The cracking clay soils: definition, distribution, nature, genesis and use. In: J W McGarity, H E Hoult and H B So (eds), The properties and utilization of cracking clay soils. Reviews in Rural Science No. 5. University of New England, Armidale, NSW, Australia. pp. 3-13.

    Ispandi, A. 2003. Pemupukan P, K dan Waktu Pemberian Pupuk K pada Tanaman Ubikayu di Lahan Kering Vertisol. Jurnal Ilmu Pertanian Vol. 10, No. 2 halaman 35-50.

    Latham M. 1987. Soil management network – management of Vertisols under semi-arid conditions. In: IBSRAM highlights 1986. IBSRAM (International Board on Soil Research and Management) Bangkok, Thailand

    Ma’shum, M., Sukartono, Mahrup, I.G.M. Kusnarta, Halil, I. Yasin dan H. Idris. 2008. Aciar Cropping Model (ACM): An alternative Farming System on Rainfed Vertisols for Improving Farmer’s Income in Southern Lombok. Makalah Seminar Nasional Pulang Kampus Alumni Fakultas Pertanian universitas Mataram di Mataram 23-24 Februari 2008.

    Ma’shum, M. 2004. Pengelolaan Tanah dan Pertanaman untuk Keberlanjutan Produktivitas Lahan Tadah Hujan di Lombok Bagian Selatan. http://ntb.litbang.deptan.go.id/ diakses tanggal 19 Mei 2009.

    Notohadiprawiro, T., S. Soekodarmodjo, S. Wisnubroto, E. Sukana dan M. Dradjad. 1983. Pelaksanaan Irigasi Sebagai salah satu Unsur Hidromeliorasi Lahan. Makalah dalam diskusi panel UGM-DPU : Peningkatan Efisiensi Pemanfaatan Air Pada Tingkat Usaha Tani. Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta, 16-18 Maret 1983.

    Paimin, Triwilaida dan Wardojo. 2002. Upaya Peningkatan Produktivitas Lahan di Daerah Tangkapan Air Waduk Gadjah Mungkur, Wonogiri. Prosiding Ekspose BP2TPDAS IBB Surakarta. Wonogiri 1 Oktober 2002.

    Prasetyo, B.H. 2007. Perbedaan Sifat-Sifat Tanah Vertisol Dari Berbagai Bahan Induk. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. Volume 9, No. 1, Halaman 20-31.

    Pratiwi, 2006. Konservasi Tanah dan Air : Pemanfaatan Limbah Hutan Dalam Rehabilitasi Hutan dan Lahan Terdegradasi. Ekspose hasil penelitian di Padang tanggal 20 September 2006. Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Bogor

    Sudadi, Y.N. Hidayati dan Sumani. 2007. Ketersediaan K dan Hasi Kedelai (Glycine max L. Merril) Pada Tanah Vertisol Yang Diberi Mulsa dan Pupuk Kandang. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 7 No. 1, halaman 8-12.

    Supriyo, H. 2008. Catatan kuliah Kesuburan Tanah dan Pemupukan (KTB 617). Pasca Sarjana Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta.

%d blogger menyukai ini: