BENTAWAS (Wrightia pubescens R.Br.)

 

Nama lokalnya mentaos (Jawa), bintaos (Sunda, Madura), benteli lalaki (Sunda), bentawas, tawas (Bali), dediteh (Timor).

Tersebar di selatan Cina, Kamboja, Vietnam, Thailand hingga daratan Malaysia (kemungkinan tidak tumbuh di Kalimantan) menuju Pulau Solomon dan utaraAustralia.

Tumbuh di hutan musim, semak belukar dan savana dengan kondisi lahan kering periodic atau permanent hingga ketinggian lebih dari 1.000 m dpi. Di Bali, bentawas banyak dijumpai di pekarangan rumah penduduk, tegalan dan pinggir jalan. Belum diketahui informasi mengenai kondisi ikiim dan jenis tanah yang spesifik untuk tempat tumbuhnya.

Banyak digunakan terutama kayunya sebagai bahan konstruksi, pensil, instrument musik, wayang dan sarung keris. Kayu mempunyai berat jenis rata-rata 0,54 dan kelas awet IV- V. Di Bali, kayu bentawas banyak digunakan untuk patung dan perkakas kecil. Kayu berwama putih, bertekstur halus dan lunak, mudah dikerj akan, tidak mudah retak. Getah yang terdapat dalam kulit batang dapat digunakan sebagai obat disentri dan daun yang telah diremas dapat digunakan sebagai obat anti radang pada mata. Di Indonesia, kulit batang juga umum digunakan sebagai koagulan pada industri ‘litsusu’ semacam keju tradisional.

Berbentuk pohon dengan tinggi mencapai 35 meter, diameter mencapai 50 cm. Kulit batang berwama abu-abu pucat hinga kuning kecoklatan, beralur agak dalam, permukaan cabang/ranting muda tidak berbulu atau sedikit berbulu halus. Daun majemuk bersilang, berbentuk bulat telur, oval memanjang atau jorong, berukuran 5-15 cm x 2-7 cm dengan jumlah tulang daun 8-15 pasang dan tidak ada daun penumpu. Bunga biseksual, berwama putih kekuning-kuningan atau merah muda hingga merah tua, terdapat dalam bentuk malai pada ujung ranting, umumnya mengeluarkan bau khas, mempunyai dua daun buah (karpel) yang berhimpitan sepanjang tangkai kepala putik (stilus).

%d blogger menyukai ini: