Bak Menapak di Atas Awan di Gunung Cikuray

Bak Menapak di Atas Awan di Gunung CikurayDalam setahun terakhir, kawasan Gunung Cikuray Kabupaten Garut mulai dibanjiri para pendaki dari berbagai daerah.

Kondisi gunung kerucut cukup ekstrem dengan ketinggian mencapai sekitar 2.841 meter di atas permukaan laut (mdpl) merupakan tantangan sekaligus merupakan daya tarik utama para pendaki merasakan keindahan alam Cikuray. Apalagi bagi para pehobi fotografi, berada di Gunung Cikuray dapat merasakan sensasi bak menapak di atas awan karena kerap terlihat gulungan awan memenuhi sekitar.

Para pendaki dapat menikmati keelokan bentangan perkebunan teh serta kawasan kota Garut, lengkap dengan latar belakang rangkaian pegunungan yang mengelilinginya, mulai Gunung Papandayan, Guntur, Mandalawangi, Kaledong, Haruman, Sadakeling, Sadahurip, hingga Gunung Karacak. Bahkan Gunung Galunggung Tasikmalaya dan Gunung Ciremai Cirebon pun dapat terlihat jelas jika cuaca cerah.

Dari atas Gunung Cikuray, para pendaki juga bisa menyaksikan panorama matahari terbit atau terbenam yang menakjubkan. Ada tiga jalur pendakian menuju Gunung Cikuray, yakni jalur Cikajang, Cigedug, dan PTPN VIII Kebun Teh Dayeuhmanggung Cilawu.

Dari ketiganya, akses termudah dan paling favorit adalah jalur Dayeuhmanggung. Sebab di sana sudah tersedia jalan melintasi tengah-tengah kawasan perkebunan teh, dan terhubung langsung ke pemancar stasiun televisi yang merupakan pos pertama menuju pendakian.

Pihak PTPN VIII Kebun Teh Dayeuhmanggung pun terus berupaya melakukan berbagai penataan bekerjasama dengan masyarakat serta pemerintah daerah setempat untuk pengembangan potensi kepariwisataan kawasasan Cikuray tersebut. Diharapkan aktivitas kepariwisataan di sana dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekaligus mendatangkan pemasukan bagi pendapatan asli daerah Pemkab Garut.

“Untuk menyambut pengunjung, kita jajaki kerjasama dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat, kita berusaha melakukan penataan, mulai perbaikan infrastruktur jalan, sejumlah fasilitas, kebersihan yang selama ini tak tersentuh. Memang kita minta pengunjung kerelaannya pas masuk kawasan, tapi itu pun pada dasarnya dikembalikan untuk mereka sendiri. Dan ternyata pengunjung semakin banyak,” tutur Administratur PTPN VIII Dayeuhmanggung Umar Hadikusumah.

Dia menyebutkan, jumlah pengunjung dalam setahun terakhir mencapai sekitar 200-300 orang per pekan, dengan puncak keramaian terutama pada Sabtu dan Minggu.

Senada dikemukakan Dede Rohana (37), koordinator relawan di kawasan wisata Gunung Cikuray. Menurutnya, jumlah pengunjung termasuk para pendaki ke Gunung Cikuray terus mengalami peningkatan dalam enam bulan terakhir. Bahkan pada libur panjang hari Nyepi beberapa waktu lalu, jumlahnya mencapai sekitar 2.100 orang, setara jumlah pengunjung ke kawasan obyek wisata Situ Bagendit.

“Sampai saat ini jumlah pengunjung baru 40% dari potensi yang ada. Saya yakin jumlahnya akan terus bertambah kalau akses jalan diperbaiki. Karenanya saya berharap perbaikan akses jalan ini menjadi prioritas dalam penataan kawasan wisata Cikuray,” ujarnya.

Dede mengakui, seiring bertambahnya jumlah pendaki ke Gunung Cikuray, persoalan sampah pun menjadi hal mutlak diperhatikan. Karenanya, setiap pendaki selalu diwanti-wanti agar selalu menjaga lingkungan alam Gunung Cikuray, serta tidak meninggalkan sampah di sana.

Dari titik pendakian di stasiun pemancar TVRI, dan televisi swasta, ada sedikitnya 6 pos pendakian sebelum mencapai puncak Gunung Cikuray. Masing-masing pos memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri dengan kelebatan hutan yang dipenuhi ragam flora dan faunanya. Jenis satwa liar yang masih kerap terlihat di sana antara lain merak, babi hutan, kera, dan macan tutul.

Di Pos Pemancar TV juga selalu siaga sejumlah sukarelawan yang siap menjadi penunjuk jalan sekaligus membawakan barang bawaan mereka hingga ke pos tujuan. Mencapai lokasi Pos Pemancar TV di Dayeuhmanggung kaki Gunung Cikuray, dari Terminal Guntur Garut, wisatawan atau pendaki dapat menggunakan jasa angkutan kota jurusan Terminal Guntur-Cilawu, dan turun di pertigaan menuju perkebunan Dayeuhmanggung atau di daerah Patrol Desa Dawungsari.

Dari sana wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menggunakan jasa ojek dengan ongkos sekitar Rp35.000 per orang. Atau bisa juga dari Terminal Guntur Garut langsung menuju Pemancar TV dengan menggunakan jasa angkutan pikap pelat hitam dengan ongkos sekitar Rp40.000 per orang.

sumber : http://dishut.jabarprov.go.id/?mod=detilBerita&idMenuKiri=&idBerita=4065

%d blogger menyukai ini: