Peluncuran Produk Iptek/Benih Unggul Badan Litbang Kehutanan

Fiptek litbangORDA (Yogyakarta, 28/08/2014)_ Saat ini kebutuhan benih unggul menjadi salah satu tuntutan dalam peningkatan produktivitas hutan tanaman,hutan tanaman rakyat, hutan rakyat maupun kegiatan reahabilitasi hutan. Dalam Rencana Kehutanan Tingkat Nasional 2011-2030 pemerintah telah menargetkan Hutan Tanaman seluas 14,5 juta ha dengan produksi 362,5 juta m3/tahun dan MAI 25m3/ha/tahun dan  rehabilitasi seluas 11,55 juta ha atau 580.000 ha/tahun. Penggunaan benih unggul dipadukan dengan teknik silvikultur menjadi faktor penting dalam peningkatan produktivitas hutan dan penggunaan benih unggul dapat mendorong percepatan pembangunan hutan di Indonesia (Kompas, 2014).

Untuk mendorong percepatan penggunaan benih unggul maka dilakukan peluncuran produk Iptek/Benih Unggul dan penyerahan bibit kepada para pihak dan guna mempererat jiwa korsa rimbawan sebagai modal untuk penyelarasan program-program kehutanan, maka dilakukan temu rimbawan sekaligus pembinaan pegawai kehutanan di Daerah Istimewa Yogjakarta baik dari UPT maupun Dinas Kehutanan, di Kantor Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH) Yogyakarta pada hari Kamis (28/08).

Peserta yang hadir dalam peluncuran tersebut terdiri dari Bupati Kepahyang, Wakil Bupati Pacitan, Direktur Hutan Tanaman, Direktur RHL, Kapusprohut, Biotrop, UPT Kemenhut di DIY, Dinas Kehutanan Propinsi DIY, Dinas Kehutanan Provinsi NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Direktorat Perbenihan, Direktorat Bina RHL, Direktorat Hutan Tanaman, UGM, Balai Pengelolaan DAS , BPTH, KPH Yogyakarta, KPH Biak Numfor, KPH Batulanteh, Perusahaan swasta dan masyarakat,

“BBPBPTH mempunyai peran untuk menghasilkan Iptek di bidang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, ini terkait dengan banyak tugas yang diamanatkan oleh Pemerintah, yang pertama dengan adanya peran pembangunan hutan tanaman yang terkait dengan Direktorat Hutan Tanaman, tentunya juga terkait dengan program-program rehabilitasi hutan dan kegiatan pengembangan hutan rakyat maupuan yang lain dan ini sangat terkait dengan penyediaan benih unggul”, kata Dr. Ir. Mahfud Muhtar, MP, Kepala BBPBPTH Yogyakarta dalam laporan penyelenggaran peluncuruan produk Iptek/benih unggul, di Yogyakarta.

“Kami disini dengan kawan-kawan telah berupaya menyediakan benih unggul agar terjadi percepatan pembangunan hutan tanaman khususnya kegiatan rehabilitasi hutan kita khususnya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan hutan rakyat” tegas Mahfud.

“Pada kesempatan ini kami berharap adanya percepatan alih teknologi ataupun penyerahan produk-produk kami kepada para pengguna sehingga produktivitas kedepan yang kita inginkan kedepan dalam pembangunan 25 tahun kedepan bisa dilakukan berbasis peningkatan produktivitas hutan”, harap Mahfud

Lebih lanjut Mahfud mengatakan bahwa Balai Besar telah menghasilkan dan melepas 5 produk kami, yaitu Acacia mangium generasi 1, Eucalyptus generasi 1 dan 2 dan kayu putih,  dan saat ini akan melepas saru produk lagi yaitu Jati Purwobinangun. Sedangkan ada beberapa teknologi yang siap lepas juga yaitu teknologi untuk sengon tahan karat tumor, perbanyakan kultur jaringan untuk cendana, kemudaian teknologi pembangunan sumber benih Acacia hybrid, kayu putih dan yang lainnya.

“Jadi ada beberapa yang dilepas hari ini, kita berharap apa yang kita lepas ini akan mempunyai nilai manfaat untuk pembangunan hutan di masa akan datang”, harap Mahfud.

Pada kesempatan tersebut, ucapan selamat datang Gubernur DIY, diwakili oleh  Ir. Gunawan dari Dinas Kehutanan DIY menyampaikan kebanggaannya bahwa Yogyakarta melalui inisiatif BBPBPTH menjadi magnet dalam setiap kegiatan pembangunan, kaitannya dengan bioteknologi pembangunnan kehutanan yang sesuai misi dengan pembangunan kehutanan Jogja sebagai kota wisata.

“Jogja itu kecil, luas 318 km2 dan luas hutannya sempit tetapi justru melalui dukungan BBPBTH Yogjakarta syarat dengan pengembangan teknologi dengan pembangunan KPH kayu putih unggulan kemudian juga dengan beberapa tanaman jati yag dikembangkan dan beberapa tanaman tumpangsarai yang dikembangkan untuk peningkatan produktivitas hutan”, kata Gunawan.

“Ada beberapa hal yang perlu dikembangkan dalam kaitanan dengan pengembangan teknologi ini, kaitannya dengan kepentingan masyarakat, misalnya terkait dengan daur tanaman yang panjang perlu dibuat teknologi agar daurnya menjadi diperpendek, ”tegas Gunawan.

Lebih lanjut Gunawan berharap, Badan Litbang bisa mencetuskan produk-peoduk yangg bisa diaplikasikan di lapangan yang bisa menambah produktiviatas pembangunan kehutanan khususnya di Yogyakakarta dan juga seluruh Indonesia untuk membawa pembangunan kehutanan berkualitas.

Menyambut baik progres hasil litbang berupa Iptek/produk benih unggul yang diluncurkan, Menteri Kehutanan yang diwakili oleh Kepala Badan Litbang, Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc dalam sambutannya mengatakan, bahwa telah mencermati dengan seksama kiprah Badan Litbang Kehutanan terutama tahun lalu, pada saat Badan Litbang Kehutanan merayakan peringatan 100th Litbang Kehutanan Indonesia.  Pada saat itu saya berkunjung ke kampus Badan Litbang Gunung Batu Bogor. Di Badan Litbang, Saya menemukan banyak Informasi tentang pengelolaan Hutan di Indonesia termasuk informasi benih unggul untuk Tanaman Hutan. Ternyata memang semua aspek pengelolaan hutan berawal dari Badan Litbang Kehutanan. “Oleh karena, itu tidak heran saat ini Badan Litbang telah menyiapkan beberapa peluncuran dan pelepasan bibit unggul yang bermanfaat, baik untuk pembangunan Hutan Rakyat maupun pembangunan Hutan Tanaman”, kata Prof San.

Sesuai dengan Laporan Kepala Badan Litbang Kehutanan, bahwa pada kesempatan ini kita tidak hanya akan melepas benih unggul dan menyerahkannya kepada pengguna, tetapi tadi juga dilaporkan bahwa Badan Litbang Kehutanan telah siap dengan rencana implementasi untuk mendukung pengelolaan ekosistem Merapi. Dapat dipahami sepenuhnya, bahwa Gunung merapi mempunyai arti yang sangat penting bagi masyarakat Yogjakarta. “Oleh karena itu dukungan Kementerian Kehutanan melalui Badan Litbang Kehutanan harus terwujud sehingga ekosistem Merapi bisa memberikan arti yang sebesar-besarnya bagi masyarakat Jogjakarta khususnya, ” harap Prof San.

Lebih lanjut Prof San mengatakan bahwa seperti kita ketahui bersama, program Kementerian Kehutanan lima tahun terakhir ini menekankan pada aspek rehabilitasi hutan dan lahan dengan aksi penanaman, baik di kawasan hutan negara maupun di areal hutan rakyat.

“Kita semua menyadari bahwa penanaman merupakan investasi jangka panjang, yang baru akan dirasakan manfaatnya setelah jangka waktu yang lama.  Dengan demikian, apabila kita menggunakan bibit asalan pada program penanaman, maka dikemudian hari kita tidak akan mendapatkan hasil yang baik seperti  rencana semula, ” tegas Prof San. Setelah mengetahui bahwa telah tersedia bibit berkualitas dengan sumber benih dan persemaian yang telah tersebar, maka pada akhir tahun 2013 lalu telah kami terbitkan SK Menteri Kehutanan No 707 th 2013 tentang penetapan Jenis Tanaman Hutan yang Benihnya Wajib diambil dari Sumber benih Bersertifikat.

“Ada lima jenis yang kami wajibkan agar benihnya diambil dari sumber benih yang bersertifikat, yaitu Jati, Mahoni, Sengon, Gmelina dan jabon. Jenis-jenis ini selain sumber benih bersertifikatnya telah tersedia, tetapi juga merupakan jenis-jenis yang diterapkan oleh masyarakat luas di hutan rakyat.” kata Prof San.

“Pada pagi hari ini kita akan melepas dan menyerahkan beberapa jenis bibit unggul lagi, bahkan tidak hanya untuk hutan rakyat tetapi juga untuk Hutan tanaman Industri. Saya sungguh berharap tahun-tahun mendatang harus lebih banyak lagi benih unggul yang dilepas dengan SK Menteri Kehutanan. Momen ini harus menjadi penyemangat bagi para peneliti untuk terus berupaya memuliakan tanaman hutan, ” tegas Prof San.

Sementara itu bagi para praktisi agar terus membudayakan penggunaan bibit unggul dalam penanaman, baik di Hutan Tanaman maupun di Hutan Rakyat. “Sudah saatnya kita meninggalkan penggunaan bibit asalan dan tidak jelas kualitas genetiknya pada kegiatan pembuatan tanaman di areal hutan, sehingga kegiatan penanaman dapat menjadi usaha yang menguntungkan,” harap Prof San.

Lebih lanjut Prof San mengatakan bahwa prinsip dasar intensifikasi, adalah bibit unggul merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan. Namun demikian riset benih unggul juga harus terintegrasi dengan upaya lain yaitu teknik silvikultur dan pecegahan hama dan penyakit

“Kualifikasi klon unggul jati Purwobinangun ini sungguh luar biasa, karena mampu menghasilkan riap 24,38 m3/ha/tahun’ kata Prof San. Kita bandingkan dengan klon terbaik yang dipunyai Perum Perhutani hanya mampu menghasilkan 14m3/ha/tahun. Apabila kita membandingkan dengan jati yang ditanam tanpa IPTEK pemuliaan tanaman, hanya mampu menghasilkan 1 m3/ha/tahun. “Dengan demikian Klon jati unggul Purwobinangun merupakan lompatan peningkatan produktifitas yang sangat besar. Untuk itu kita perlu memberikan apresiasi yang tinggi atas usaha pemuliaan tanaman yang menghasilkan klon unggul jati Purwobinangun” tegas Prof San.

“Dengan dukungan penuh dari Badan Litbang Kehutanan dan upaya yang sungguh-sungguh dari kita semua, saya yakin sektor Kehutanan akan berjaya kembali dan menjadi bagian penting bagi Kejayaan Indonesia,” harap Prof San.

Setelah lima tahun Kementerian Kehutanan terus mendorong masyarakat dengan gerakan menanam, maka pada kesempatan yang baik ini Menhut juga ingin menitipkan pesan agar; 1) Semangat menanam ini terus dijaga dan difasilitasi penyediaan bibit dan teknik-teknik yang harus diterapkan; 2) Pendampingan kepada masyarakat juga merupakan aksi yang sangat strategis dan sangat diperlukan, agar konsep-konsep kebijakan serta hasil IPTEK dapat diterapkan dengan baik oleh masyarakat melalui keswadayaan; dan 3) Dalam hal bibit unggul, maka proses pelepasan dan penyerahan bibit unggul ini juga harus dilengkapi dengan pendampingan oleh peneliti pemulia tanaman agar bibit unggul yang disediakan dapat ditanam dan dibudidayakan oleh masyarakat sesuai persyaratannya.

Pada akhir sambutannya Menhut melepas  Klon unggul Jati Purwobinangun, IPTEK benih unggul Acasia mangium hibrida, IPTEK kultur jaringan klon unggul cendana, IPTEK kultur jaringan sengon tahan karat tumor dan menyerahkan bibit unggul Acasia mangium dan bibit unggul kayu putih

Selain itu, Prof San dalam kesempatan terakhir meminta untuk nama Jati Purwobinangun kalau boleh disingkat namanya menjadi Jati Purwo tidak usah pakai Purwobinagun. Kenapa Jati Purwo, supaya enak ngomongnya, kalau Purwobinangun kepanjangan. Kenapa Purwo? Purwo itu wiwit (awal) atau yang pertama, kita ingin riap 24,38 m3/ha/tahun’ diawali dari Balai Besar kita ini.

Pada kesempatan tersebut diserahkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. SK. 711/Menhut-II/2014 tentang Pelepasan Klon Unggul Jati Purwobinangun (Tectona grandis LINN) oleh Kepala Badan Litbang Kehutanan kepada Kepala BBPBPTH.

Penyerahan Produk IPTEK berupa sertifikat oleh Kepala Badan Litbang Kehutanan kepada Bupati Pacitan (IPTEK Benih Unggul Akasia hibrida), Yayasan Sanlima (IPTEK Klon Unggul Cendana), Bupati Kepahyang (IPTEK Kultur Jaringan Sengon Toleran Karat Tumor).

Kemudian juga diserahkan Benih Unggul Acasia mangium Generasi Kedua kepada Bupati Pacitan dan Dinas Kehutanan Lombok Barat, Benih Unggul Kayu Putih kepada Kehutanan dan Perkebunan DIY, Yayasan Sanlima dan Pan Brother Grup, Benih Nyamplung kepada Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Serayu Opak Progo, Bibit Bambu kepada BPDAS Sampeyan, Bibit Jati kepada Dinas Kehutanan Sulawesi Selatan serta Benih Sengon kepada Bupati Kepahyang, Bengkulu

Setelah itu acara dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan kepada peneliti terbaik lingkup Badan Litbang Kehutanan dan penandatanganan MoU dan Perjanjian Kerjasama antara BBPBPTH dengan BIOTROP (Penelitian, Pengembangan dan Publikasi), Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan (Pengembangan Jati), BPDAS SOP (Kerjasama Nyamplung) dan PT. PAN Brothers Group (Kerjasama Pengembangan Kau Putih). Acara diakhiri dengan kegiatan penanaman dan kunjungan ke Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca.** (PK)

Sumber: http://www.forda-mof.org/index.php/berita/post/1809

%d blogger menyukai ini: