TANAMAN LANGKA LOKAL PULAU JAWA KOLEKSI BBPBPTH YOGYAKARTA

Fasis Mangkuwibowo, Dwi Wahyudi, Mujiyono dan Miyanto

PENDAHULUAN

Indonesia menempati peringkat kedua dunia setelah Brasil dalam hal keanekaragaman hayati. Sebanyak 5.131.100 keanekaragaman hayati di dunia, 15,3% nya terdapat di Indonesia (Anonimus, 2011). Luar biasanya, keanekaragaman hayati Indonesia banyak yang berpotensi untuk dijadikan obat, dan potensi hayati yang luar biasa ini perlu dieksplorasi dan dimanfaatkan untuk kesehatan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Keanekaragaman hayati Indonesia yang sangat besar belum mampu dikelola secara benar sampai memberikan nilai ekonomis yang tinggi bagi masyarakat secara berkelanjutan. Sumber daya biologi hayati yang dimiliki Indonesia, sebenarnya bernilai jauh lebih tinggi dari emas atau logam bahan bakar minyak mulia, terutama ketika dibawa dan dilakukan pengembangan lebih lanjut dalam produk turunan, namun hanya 6,2% saja produk yang telah dipatenkan. Potensi keanekaragaman hayati yang telah kita gunakan, rata-rata kurang dari 5% dari potensi yang kita miliki (Anonimus, 2011). Selain itu, dari 1.790 paten per tahun, paten yang dihasilkan dari aplikasi lokal hanya 117,3 saja, padahal potensi yang belum tereksplorasi masih sangat banyak. Dengan potensi luar biasa yang dimiliki Indonesia, perlu adanya pemberdayaan yang lebih intensif untuk melakukan penelitian di bidang tanaman obat sebagai alternatif lain pengobatan di bidang kesehatan. Dari total 28.000 spesies tumbuhan obat di Indonesia, telah diidentifikasi 1.845 sifat obat. Hingga saat ini, telah 283 spesies yang telah dieksplorasi aktif senyawanya. (anonimus, 2011).

Dengan adanya program pembangunan yang mau tidak mau menimbulkan dampak makin menyempitnya ekosistem bagi keragaman hayati tersebut, menyebabkan potensi kehilangan jenis-jenis flora baik yang telah diidentifikasi manfaatnya maupun yang belum teridentifikasi. Pembalakan liar, alih fungsi lahan dari kehutanan menjadi perkebunan adalah contoh konkrit dari tindakan yang menyebabkan kemerosotan kehilangan kekayaan hayati. Tidak hanya itu, Indonesia juga belum memiliki data berapa banyak dan besar keanekaragaman hayati yang dimilikinya.

Untuk memanfaatkan kekayaan hayati tersebut harus ada yang melakukan pemetaan keanekaragaman hayati sebagai basis data untuk mengeksplorasi kekayaan hayati bangsa Indonesia. Selain itu perlu juga adanya upaya untuk melakukan penyelamatan jenis-jenis tanaman yang semakin langka keberadaannya dengan melakukan pembibitan jenis-jenis langka tersebut.

JENIS-JENIS YANG DIKOLEKSI

Di Balai Bear Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta sejak tahun 2008 telah dilakukan upaya penyelamatan beberapa jenis langka melalui kegiatan non penelitian sebagai kegiatan pendamping kegiatan penelitian. Kegiatan yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan bagian generatif maupun vegetatif jenis-jenis tanaman yang dikategorikan sudah jarang ditemui untuk semaikan selanjutnya disistribusikan kepada pihak yang berminat dan peduli terhadap penyelamatan jenis tanaman langka tersebut. Sampai nsaat ini di BBPBPTH telah dikoleksi sebanyak lebih kurang 32 jenis tanaman. Berikut adalah jenis-jenis langka yang telah dikoleksi di BBPBPTH :

  1. KANTIL (Michelia alba)

  2. JAMBLANG/DUWET (Syzygium cumini (L.) Skeels)

  3. KLERAK (Sapindus rarak DC)

  4. ASAM LONDO (Pithecellobium dulce)

  5. JAMBU DERSONO MAWAR (Eugenia jambos Linn)

  6. MANGGU/MANGGIS (Garcinia mangostana L.)

  7. KEPUNDUNG/MENTENG (Baccaurea racemosa (Reinw.))

  8. KUPA/GOWOK (Eugenia polycephala miq)

  9. KEMENYAN (Styracaceae Styrax spp)

  10. KEBEN (Baringtonia Asiatica )

  11. WARU (Hibiscus tiliaceus L.)

  12. JAMBU DERSONO (Eugenia malaccensis)

  13. GAYAM (Inocarpus fagiferus (Parkinson) Fosberg)

  14. MUNDU (Arcinia dulcis)

  15. KEPUH (Sterculia foetida Linn)

  16. Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol)

  17. TANJUNG (Mimusops elengi)

  18. SAWO BLUDRU (Chrysopyllum cainito)

  19. SAWO MANILA (Manilkara zapota)

  20. SAWO KECIK (Manilkara kauki)

  21. ASAM JAWA (Tamarindus indica)

  22. JAMBLANG PUTIH (Eugeniajambos Linn)

  23. KAYU MANIS (Cinnamomum cassia)

  24. KEMANG (Mangifera Kemang Caecea).

  25. KECAPI (Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr.)

  26. GANDARIA (Bouea macrophylla Griffith)
  27. NAM-NAM (Cynometra cauliflora)

  28. Abiu (Pouteria caimito)

  29. KAPULASAN (Nephelium ramboutan-ake Blume)

  30. BUNI (Antidesma bunius (L.) Spreng)

  31. BISBUL/SAMOLO/ MONDOLIKO (Diospyros blancoi A. DC)

  32. BENTAWAS (Wrightia pubescens R.Br.)

  33. KENARI (Canarium amboinense)

DAFTAR DISTRIBUSI BIBIT BBPBPTH

Berikut adalah daftar instansi yang telah menerima bibit tanaman langka yang telah diperbanyak :

  1. Lingkup kantor BBPBPTH dalam rangka penanaman simbolis atau kunjungan tamu penting di Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta
  2. SMKN I Pandak Bantul dalam rangka penanaman perindang di lingkungan sekolah
  3. Yayasan Yarsilk untuk penanaman di Agrowisata Karang Tengah
  4. Denpal “A” Kodam Diponegoro dalam rangka penghijauan di lokai latpur Salatiga
  5. Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta dalam rangka penanaman perindang di Monumen Diponegoro
  6. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah dalam rangka penanaman di Cagar Alam Gunung Lawu
  7. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Ciamis dalam rangka penanaman di sekolah dan pondok pesantren
  8. Badan Lingkungan Hidup Kotamadya Yogyakarta dalam rangka penanaman untuk taman kota
  9. Dinas Kehutanan Kabupaten Purwokerto dalam rangka penanaman untuk pembuatan kebun koleksi tanaman langka di Lokasi Wisata Batu Raden
  10. KHDTK Petak 93 Gunungkidul dalam rangka pengisian lahan kosong yang kurang termanfaatkan

PENUTUP

Keberadaan jenis tanaman langka yang keberadaan semakin sedikit mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan. Tindakan awal yang perlu dilakukan dalah dengan mengkonservasi keberadaannya. Salah satu langkah kecil namun mempunyai manfaat yang besar dalam upaya konservasi tersebut adalah dengan melakukan ekplorasi bahan materi genetiknya baik secara generatif maupun vegetatif dan memperbanyaknya untuk dikembangkan dalam bentuk arboretum, hutan kota dan bentuk-bentuk upaya konservasi lainnya. Dengan telah dilakukannya penyemaian tanaman langka dan terdistribusikannya tanaman langka tersebut dalam upaya penyelamatan agar tidak pubah perlu didukung dengan menambah koleksi yang telah ada. Selain itu inventarisasi dan pemeliharaan tanaman yang telah didistribusikan diperlukan untuk menjamin keberadaannya.

%d blogger menyukai ini: