PENELITIAN PEMULIAAN JATI (Tectona grandis)

Mahfudz, Sugeng Pudjiono, Hamdan Adma Adinugraha dan M. Anis Fauzi

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuluiaan Tanaman Hutan Yogyakarta

Koleksi materi genetik jati

Kegiatan pengambilan materi genetik jati telah dilakukan dari beberapa populasi yaitu Gunung Kidul DIY, Jawa Tengah (Kendal, Donoloyo, Rembang), Jawa Timur (Cepu, Madiun, Mboto), Nusa Tenggara Timur (Kateri, Tasifeto Barat) dan Sulawesi Tenggara (Warangga, Wakuru, Matakidi, Buton). Materi genetik yang dikumpulkan berupa buah/benih maupun bahan vegetatif berupa cabang yang digunakan untuk bahan scion. Materi genetik benih dijadikan bahan untuk pembangunan kebun benih semai uji keturunan (SSO) sedangkan cabang dijadikan sumber scion untuk penyediaan materi uji klon di Gunung Kidul dan Wonogiri. Kegiatan koleksi materi genetik dilakukan sejak tahun 2002 s/d 2004.

Teknologi perbanyakan tanaman jati

Teknologi perbanyakan tanaman jati telah dikuasai baik secara generatif maupun vegetatif dengan cara sambungan (okulasi), stek pucuk dan kultur jaringan. Bibit yang dihasilkan dari perbanyakan vegetatif dijadikan materi untuk pembangunan kebun pangkas di arboretum Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta, pembangunan plot uji klon jati di Gunung Kidul dan Wonogiri serta pembangunan plotuji keturunan merbau di Gunung Kidul.

Pembangunan plot uji genetik jati

  1. Pembangunan plot uji klon jati di Watusipat Gunung Kidul pada tahun 2002 menggunakan 31 klon dengan luasan 2,5 ha. Rata-rata tinggi 12,71m, dbh12,80 cm,tinggi bebas cabang 4,81 m, skor kelurusan batang 2,46, volume individu pohon 0,126 m3 dengan taksiran riap 20,99 m3/ ha/tahun. Klon-klon terbaik yaitu nomor 3, 13, 18, 1, 34.
  2. Uji uji klon di Wonogiri yang luasnya 2,7 ha yaitu pada tahun 2002 menggunakan 20 klon dan pada tahun 2005 menggunakan 100 klon. Rata-rata tinggi 12,38 m, dbh 18,54 cm, tinggi bebas cabang 4,22 m, skor kelurusan batang 2,38, volume individu pohon 0,258 m3 dengan taksiran riap 21,49 m3/ ha/tahun. Klon-klon terbaik yaitu nomor 6, 7, 11, 12 dan 18. Pembungaan tanaman pada plot uji klon jati di Wongiri umur 9 tahun menunjukkan bahwa proses pembungaan belum berkembang dengan baik. Akan tetapi jumlah pohon yang telah berbunga masih terbatas dan penyebarannya belum merata yaitu baru 15%.

    Tanaman uji klon jati tahaun 2005 menunjukkan rata-rata tinggi pohon 8,52 m, dbh 10,16 cm, tinggi bebas cabang 3,72 m, skor kelurusan batang 1,97, volume individu pohon 0,061 m3 dengan taksiran riap volume 7,26 m3/ha/tahun. Klon-klon yang menunjukkan pertumbuhan terbaik yaitu nomor 23, 24, 41, 43 dan 44.

Gambar 1. Uji klon jati dan uji keturunan jati

  1. Pembangunan uji keturunan jati dilakukan di Petak 93 Playen, Gunung Kidul pada tahun 2006 seluas 2,7 ha dengan menggunakan 120 famili. Persentase hidup rata-rata 84,72%, bervariasi mulai 55,55-100%. Terdapat variasi yang signifikan antar family dan populasi Rata-rata tinggi 6,15 m, dbh 6,78 cm, tinggi bebas cabang 2,12 m, skor kelurusan batang.
  2. Selain itu dibangun pula ujiklon jati di Banjarbaru Kalimantan Selatan yang bekerjasama dengan Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru menggunakan bibit hasil stek pucuk dan di Pendopo, Sumaterra Selatan bekerjasama dengan Balai Penelitian Kehutanan Palembang dengan menggunakan bibit jati hasil okulasi.

Sumber

Laporan Hasil Penelitian Populasi Pemuliaan Jenis Kayu Pertuklangan Daur Panjang Tahun 2013. Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

%d blogger menyukai ini: