Acacia auriculiformis

Adalah salah satu tanaman daun lebar (broadleaved trees) yang termasuk kedalam familia Leguminosae (Mimosoideae). Memiliki Synonim yaitu Acacia moniliformis, Acacia auriculaeformis. Adapun nama umum (common names) jenis ini antara lain Japanese acacia, tan wattle, northern black wattle, earpod wattle, Darwin black wattle (Australia), akasia (Indonesia), auri (Phillipina).


Kunci Karakteristik : berukuran kecil sampai sedang ; batang umumnya bengkok ; memiliki banyak cabang . Daun memiliki tangkai yang rata dengan urat daun paralel; bunga berwarna kuning dan berukuran kecil dan memiliki polong melingkar.

Deskripsi : Merupakan pohon cepat tumbuh yang berukuran kecil-menengah , tingginya 8-25 m, diameter batang/dbh  dapat mencapai 60 cm . Kebanyakan memiliki batang yang bengkok  dan beberapa memiliki percabangan rendah dan berat . Kulit batang berwarna abu-abu atau coklat , Awalnya halus , kemudian menjadi kasar dan pecah-pecah . tangkai daun rata bertindak sebagai daun ( phyllodes ) panjang 10-18 cm dan lebar 2-3 cm dengan urat paralel. Pada awal pertumbuhan bibit memiliki  daun majemuk berukuran kecil. Bunga berwarna kuning sekitar 8 cm panjangnya. Buahnya berukuran  6-8 cm panjangya berbentuk polong  melingkar dengan biji coklat yang melekat dengan filamen berwarna oranye . Dapat  berkawin silang (hibridisasi)  dengan jenis A. mangium.
Kegunaan : mengontrol erosi , reklamasi tanah dan lahan. Kayunya  dapat digunakan untuk pulp, kayu bakar dan dapat digunakan untuk konstruksi, alat dan furniture terbatas serta kulitnya mengandung tanin.
Ekologi: di habitat aslinya penjajah dari dataran rendah pesisir tropis dan ditemukan di sepanjang sungai , di hutan terbuka , sabana dan berdekatan dengan hutan bakau , sering di tanah berpasir . Sangat toleran terhadap kondisi tanah yang berbeda dan pasokan air . Tumbuh subur terbaik di iklim musiman menerima 2.000-2.500 mm curah hujan tahunan tapi mungkin di sini menjadi sangat kompetitif terhadap spesies lain .


Distribusi : Berasal Papua New Guinea , pulau-pulau di Selat Torres dan Australia utara, tetapi telah diperkenalkan ke Myanmar , Thailand , Malaysia , Indonesia dan Filipina .
Referensi : Awang & Taylor (1993 ) , Hensleigh & Holaway ( 1988) , kecil (tidak bertanggal) , MacDicken (1994 ) , Dewan Riset Nasional (1980)

Diterjemahkan dari Jensen, M. 1999. TREES COMMONLY CULTIVATED IN SOUTH-EAST ASIA AN ILLUSTRATED FIELD GUIDE. RAP Publication: 1999/13. FAO

PERTUMBUHAN TANAMAN Araucaria cunninghamii UMUR 6 TAHUN DI BONDOWOSO

Dedi Setiadi

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan

Araucaria cunninghamii Aiton ex D. Don merupakan salah satu spesies konifer dalam famili Araucariaceae yang hanya tumbuh dan menyebar secara alami di Papua, Queensland-Australia dan Papua New Guinea. Keberadaan sumber daya genetik A. cunninghamii di hutan alam tropis Papua belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pemuliaan pohon dan pengelola hutan tanaman di Indonesia. Hal ini disebabkan para pemulia pohon dan pengelola hutan tanaman di Indonesia banyak yang belum mengetahui tentang potensi, prospek dan nilai ekonomi jenis ini. Penggunaan jenis kayu ini potensial untuk semua spektrum penggunaan kayu lunak, antara lain bahan baku industri kertas dan pulp, kayu lapis, vinir, panel, lantai dan kayu pertukangan. Selain itu, getahnya mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi (Dean et al. 1988).

Pembangunan plot uji keturunan tahap I mulai dilaksanakan pada tahun anggaran 2002 sedangkan pembangunan plot uji keturunan tahap II dilaksanakan pada tahun 2007 di Desa Sumber Waringin, Kecamatan Sumber Waringin, Kabupaten Bondowoso, Propinsi Jawa Timur. Tapak uji keturunan memiliki tipe iklim B dengan rerata curah hujan sebesar 2400 mm/tahun. Musim hujan mulai bulan November sampai dengan April dengan suhu terendah 170C dan suhu tertinggi 300C. Jenis tanahnya bertekstur sedang yang meliputi lempung, lempung berdebu dan lempung liat berpasir. Tapak tergolong datar, terletak pada ketinggian tempat 800 m di atas permukaan laut.

Gambar. Tanaman Araucaria sp umur 6 tahun di Bondowoso

Tabel 1. Rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter pada uji keturunan A.cunninghamii

tahap II umur 5 tahun di Bondowoso, Jawa Timur

Provenans

Tinggi (m)

Provenans

Diameter (cm)

Kanobon

7,14

Kanobon

5,20

Napua

7,02

Napua

5,19

Kebar

6,97

Kebar

5,18

Cyklop

7,11

Cyklop

5,06

Yarraman

6,88

Yarraman

4,71

Fak-fak

6,99

Fak-fak

4,97

Rata-rata

7,02

Rata-rata

5,05

Sumber: Sumber : Laporan Hasil Penelitian (LHP). Evaluasi Uji Keturunan Araucaria cunninghamii Tahun 2013. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan


Abiu (Pouteria caimito)

Pohon buah Abiu memiliki banyak kesamaan dengan sawo duren (Chrysophyllum cainito). Dari ukuran, bentuk, dan tekstur daging buah abiu, memang mirip kenitu-sebutan sawo duren di Jawa. Dagingnya sama-sama berwarna putih susu dan kulitnya mengkilap. Perbedaannya antara lain dari bentuk tajuk. Abiu bertajuk piramid sedangkan sawo duren membulat.

Abiu masuk kerabat sawo-sawoan, pohon ini memiliki karakter yang mirip dengan para kerabatnya. Pohon berkayu itu mampu mencapai tinggi 15 meter. Buahnya yang berbentuk lonjong sampai membulat berukuran panjang 6-12 cm dengan bobot 300-700 g. Buah abiu ada yang ujungnya bulat, ada pula yang lancip membentuk nipple.

Buah Abiu adaptif di iklim tropis dan subtropis itu tumbuh subur mulai dari dataran rendah seperti Jakarta sampai dataran tinggi. Cepat berbuah adalah salah satu keistimewaan utama abiu dibanding keluarga Sapotaceae lainnya. Umur 2 tahun, tanaman asal biji mulai bebunga. Dua bulan kemudian, bunga menjadi buah berwarna hijau dan berangsur kuning cerah kala masak.

Rasanya segar dan manis membuat orang yang mencecapnya tak cepat puas. Jika digambarkan rasanya seperti krim lembut paduan susu dan karamel dengan aroma segar. Karena daging buahnya yang lembek, abiu biasa dimakan dengan dibelah melintang maupun membujur, lalu daging buahnya disendok.

Kabarnya pohon ini dari Australia, tetapi sekarang ini mudah mendapatkannya. Datang saja ke taman buah Mekarsari. Di counter tanaman buah buah ini bisa dibeli.

Selamat menanam dan tunggu 2 atau 3 tahun Insya Allah akan berbuah. Tidak usah harus menunggu cucu yg menikmati, kita yang menanamnya Insya Allah juga bisa menikmatinya.

Kayuputih (Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi)

Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi / Kayuputih

Oleh : Hamdan AA

Kayu putih merupakan tanaman penghasil minyak atsiri dari hasil penyulingan daunnya yang sangat berguna untuk obat. Sebaran alami tanaman ini terdapat di Pulau Ambon, P. Buru dan P. Seram, P. Aru dan P.Tanimbar sedangkan di P. Jawa ditanam secara komersial oleh Perum Perhutani diantaranya di Indramayu, Banten, Sukabumi dan Majalengka, Gundih, Yogakarta, Cepu, Ponorogo dan Mojokerto, Madiun dan Kediri (Kasmudjo,1992; Pusat Litbang Hutan Tanaman, 2006).

Gambar. Pertanaman kayu putih di Gunung Kidul

Jenis ini potensial untuk dikembangkan karena kandungan minyak atsiri pada daunnya yang sangat bermanfaat untuk bahan obat, campuran dalam industri makanan dan kosmetika. Selain itu jenis ini dapat tumbuh di tanah-tanah yang kritis dan sulit ditanami tanaman pertanian sehingga sangat cocok untuk merehabilitasi lahan kritis (Kasmudjo, 1992). Adapun pengembangan tanaman ini sebagai pemasok industri kayu putih memiliki prospek yang cukup baik, karena industri ini tergolong padat karya yang melibatkan penduduk sekitar hutan terutama pada kegiatan pemanenan daun, pengangkutan, proses penyulingan dan penanganan limbah (Rimbawanto, 2000).

Pembitan

Pembibitan tanaman kayu putih umumnya dilakukan secara generatif. Teknik pembiakan vegetatif juga dapat diterapkan yaitu dengan teknik stek akar dan stek pucuk tunas hasil rejuvenasi (Siagian dan Adinugraha, 2001). Teknik grafting juga bisa dilakukan dalam rangka penyediaan materi untuk pembangunan uji klon jenis kayu putih di Balai Besar Penelitian Biteknolodi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

Bahan Bacaan

Anonim. 2006. Penelitian Jenis Kayu Putih (Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi). Usulan Kegiatan Penelitian (UKP) tahun 2006-2009. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Yogyakarta.

Kasmudjo. 1992. Dasar-dasar Pengelolaan Minyak kayu Putih. Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta.

Rimbawanto, A.2000. Strategi Pemulian Tanaman Melaleuca cajuputi Sub.sp cajuputi di Jawa. Makalah Pelatihan Pemuliaan Pohon. Kerjasama antara JKLT Perusahaan patungan PT INHUTANI dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

Siagian, Y.T. dan Adinugraha, H.A. 2001. Daya Pertunasan Cabang dan Keberhasilan Stek Pucuk Jenis Meleleuca cajuputi pada Beberapa Media. Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon vol 5 No.2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta