PEMBANGUNAN KEBUN PANGKAS JATI

Oleh

Sugeng Pudjiono, Hamdan AA, Susanto, Maman Sulaeman

Hasil okulasi siap tanam

Hasil Okulasi Tanaman Jati siap Tanam

I.Pendahuluan

A.Latar belakang

Salah satu upaya mendapatkan klon unggul jenis Jati adalah melalui uji klon, yang dalam pengembangannya dapat diperbanyak dengan cara pembuatan Kebun Pangkas. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Permuliaan Tanaman Hutan pada tahun 2002 telah melakukan uji klon di Watusipat Gunung Kidul dan Wonogiri Jawa Tengah dan telah mendapatkan klon-klon terbaik dari kedua uji klon tersebut. Dalam pengembangan klon-klon terbaik tersebut maka Kebun Pangkas penting untuk dipersiapkan.

 B.Tujuan

Pembangunan Kebun Pangkas Jati ditujukan untuk mendapatkan bibit unggul Jati.

II.Persiapan Pembangunan Kebun Pangkas Jati

Klon-klon unggul dipilih dari uji klon umur 5 sampai 10 tahun, yang mempunyai pertumbuhan stabil dan terbaik, berupa 5 klon dari Watusipat dan 5 klon dari Wonogiri.

 

Klon-klon tersebut diperbanyak secara perbanyakan vegetatif dengan pembuatan budgraft dari ortet terpilih.

untuk lebih lengkapnya Klik disini

Iklan

CARA MUDAH DAN MURAH MEMPRODUKSI BIBIT JATI BERKUALITAS

CARA MUDAH DAN MURAH MEMPRODUKSI BIBIT JATI BERKUALITAS

Oleh :  Mahfudz dan  M. Anis Fauzi

Tulisan 1. Pembuatan Kebun Pangkas Jati

Pendahuluan

Jati (Tectona grandis) adalah tanaman  yang sangat bagus dan bernilai ekonomi tinggi.  Karena  sifatnya  menguntungkan  dan penanamannya yang  relatif mudah, jenis tanaman  ini telah banyak  dikembangkan  oleh masyarakat. Namun  yang menjadi permasalahan di masyarakat  saat ini antara lain  adalah terkait dengan ketersediaan bibit yang baik dengan harga yang terjangkau dan dapat tersedia secara terus menerus.  Bagaimana   memperoleh  bibit jati  yang mudah , murah dan berkulitas ?. Untuk mengakomodasi animo masyarakat tersebut, maka Puslitbang  Bioteknologi dan Pemuliaan  Tanaman Hutan di Yogyakarta  telah mengembangkan  perbanyakan vegetatif   melalui berbagai cara  dari pohon induk  yang diketahui  identitasnya dengan  membuat kebun pangkas.  Perbanyakan dengan cara ini  mempunyai banyak  keuntungan  antara lain mudah dilaksanakan, biaya relatif  murah dengan kualitas bibit yang lebih baik karena diketahui identitasnya. selanjutnya teknik produksi bibit jati ini disajikan dalam 3 tulisan sebagai berikut:

  1. Pembuatan kebun pangkas jati
  2. Pembuatan stek pucuk jati
  3. Pembuatan okulasi jati

 Kebun  pangkas merupakan  kebun  yang dibangun untuk  menghasikan  tunas  dari ateri tanaman jati yang akan diperbanyak.  Model  dari kebun pangkas jati  ini  dapat dibedakan atas kebun pangkas  dalam  bedengan/lapangan, kebun pangkas dalam polibag  dan kebun pangkas di dalam sungkup.  Dari ketiga model kebun pangkas tersebut   kebun pangkas lapangan  yang paling banyak digunakan karena  dapat memproduksi  tunas dalam skala  besar yang dapat mencapai  35-40 tunas  pertanaman pada satu periode panen (1,5 bulan).  Sedangkan kebun pangkas  dalam sungkup memberikan  keberhasilan tertinggi terhadap  persen jadi stek apabila  dibanding kedua jenis kebun pangkas lainnya.

 Kebun pangkas di lapangan  dapat dibuat dengan jarak tanam  1 x 1m dengan  sistim jalur tanaman  dan dapat menggunakan guludan sebagaimana  bila menanam cabe guna menghindarkan adanya  genangan di musim penghujan sebagaimana  terlihat pada gambar 1.  Lokasi kebun pangkas akan lebih baik  bila berada di dekat persemaian untuk membantu dan memperlancar  serta mempermudah jalannya  perbanyakan vegetatif.  Hal ini untuk menjamin agar bahan yang akan diperbanyak tetap dalam keadaan segar setelah diambil dari kebun pangkas.  Bibit yang digunakan  untuk kebun pangkas  dapat digunakan bibit yang berasal dari okulasi maupun hasil perbanyakan  dengan kultur jaringan  dari pohon induk yang  jelas identitasnya.  Kegiatan penting  di kebun pangkas ini  mencakup  kegiatan pemupukan, penyiangan, penyiraman, pemangkasan, penanggulangan hama dan penyakit serta beberapa kegiatan lainnya.

 Beberapa  contoh model kebun pangkas adalah  sebagai berkut:

Gambar 1. Kebun pangkas lapangan, kebun pangkas dalam polibag dan  kebun pangkas dalam  sungkup

Adapun secara rinci pembuatan kebun pangkas  adalah  :

A. Tahapan persiapan

Beberapa  kegiatan yang dilakukan dalam tahapan persiapan adalah pemilihan lokasi dan pembuatan bedeng  untuk kebun pengkas. Lokasi kebun pangkas dipersyaratkan pada lahan datar  sampai agak miring , tidak tergenang air, dan mendapat cahaya  sepanjang hari, juga  mempunyai tanah yang subur dan gembur, serta lapisan tanahnya  agak dalam dan lokasinya  sebaiknya berada di dekat persemaian.  Sedangkan pembuatan bedeng   dibuat dengan  arah Utara- Selatan (membujur arah U – S) , tanah   dicampur pupuk kandang kompos yang digundukkan, ukuran bedeng  dapat disesuaikan  dengan kebutuhan bibit dan jenis tanaman, sekeliling  bedeng dibuat parit(selebar 50 cm), Jarak antar tanaman  adalah 1 x 1 meter atau 1 ½ x 1 ½ m dan jarak antara bedeng yang dapat digunakan  adalah berkisar antara 20-30 cm. Sebaiknya  setiap 10 bedeng  dibuatkan  jalan  angkutan dan jalan pemeriksaan.

B.  Pengadaan Bibit  Bahan Dasar Kebun Pangkas

1.  Materi Kebun pangkas

Materi yang  dapat digunakan   dalam kebun pangkas supaya lebih baik adalah menggunakan materi  stek,  kultur jaringan  maupun grafting  dari hasil pengumpulan  pohon induk yang terpilih atau   pohon  plus hasil seleksi yang  diketahui identitasnya. Selanjutnya  stek yang dihasilkan dari kebun pangkas  dapat juga digunakan kembali  sebagai bahan dasar kebun pangkas.  Kelebihan kebun pangkas adalah materi yang digunakan sebagai biakan vegetatif menjadi lebih muda (rejuvenasi). Berdasar penelitian jaringan yang muda memiliki prosentase keberhasilan yang tinggi untuk pembiakan vegetatif dibandingkan sumber yang lebih tua.

2.  Ukuran bibit dan  waktu penyiapan bibit

Pada umumnya  ukuran bibit yang digunakan dalam kebun pangkas  adalah  bibit dengan jumlah daun  2 sampai  5 helai. Bibit sebagai materi kebun pangkas hendaknya  sudah dipersiapkan  1 sampai 2  bulan  sebelum pembuatan kebun pangkas.

C.  Penanaman Bibit di Kebun Pangkas

1. Seleksi bibit

Seleksi dilakukan dengan  memilih bibit yang  mempunyai  pertumbuhan seragam,   baik diameter, tinggi dan jumlah daun yang relatif sama.

2. Pembuatan jarak tanam

Untuk kebun pangkas jati jarak yang biasa  digunakan   adalah  1 x 1 m atau 11/2 m antar scion, 1 m antar tanaman dalam guludan).

3. Pembuatan lubang tanam

Pembuatan  lubang tanam lebih mudah karena  bedeng telah diisi  terlebih dahulu dengan  tanah gembur 20 –30 cm.   Lubang tanam   dapat berukuran  20 x 20 x 30 cm  ,  30 x 30 x 30 cm , atau  disesuaikan dengan ukuran kantong sapihan.

4.  Penanaman

Penanaman dilakukan dengan  membuka  kantong (polybag) secara  hati-hati agar  akar bibit tidak terganggu, kemudian  bibit dimasukkan  ke dalam lubang tanam   dengan posisi yang tegak lurus. Setelah berumur 5 – 6 bulan di lapangan, dipangkas setinggi 50 cm, kemudian dibiarkan bertunas sampai ketinggian tertentu kemudian dirundukkan. Fungsi dari perundukkan untuk menghasilkan stek yang pertumbuhannya ke arah apikal (ke atas, bukan mendatar).

D. Pemeliharaan

  1. Penyiraman yang dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari untuk mempertahankan temperatur dan kelembaban  tanah.
  2. Pembersihan kebun pangkas dilakukan dengan  pembebasan  dari  tanaman  pengganggu  dan daun-daun kering yang jatuh di dalam bedeng.
  3. Pemupukan : Jenis pupuk yang   yang biasa digunakan  adalah pupuk NPK  dengan dosis yang disesuaikan dengan  keadaan  tanah. Umumnya  pupuk yang digunakan  berkisar antara  20 – 50 gram pertanaman
  4. Pemberantasan hama dapat dilakukan dengan menggunakan  insektisida yang bersifat sistemik mematikan fungsi pada serangga, misalnya menyerang sistem pencernaan /pernafasan/saraf .

Daftar Bacaan

Hartmann, H.T., D.E Kester and Davies, F.T,  1990.  Plant Propagatio  Principle and  Paractice.  Prentice Hall. Inc. ,  Englewood Cliffs.  New Jersey

Kaosa-ard, A., V. Suangtho and E.d Kjaer. 1998.  Experience From Tree Improvement of  Teak (Tectona grandis) in Thailand.  Danida Forest Tree Seed Centre .

Leksono, B.,  2001.   Pentingnya Benih Unggul  Dalam Program Penanaman Jati  dan strategi Pencapaiannya.  Makalah dalam Workshop Nasional Jati 2001 tanggal 4-6 September 2001.  Universitas Sumatera Utara.  Medan

Mahfudz,   2003.   Sekilas  Tentang Jati.   Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.  Yogyakarta.

Na,iem,  M. 2003.  Penelitian dan Pengembangan Pemuliaan Jati  Puslitbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.  Makalah dalm Ekspose Hasil-Hasil Penelitian P3BPTH ,  Yogyakarta.

               , M., 2003.  Pembiakan Vegetatif dan Implementasinya  dalam Skala Operasional  di Kehutanan.  Diskusi Hasil-Hasil Litbang Pusat Penelitian dan Konservasi Alam.  Bogor.

Wudianto,  1995.  Membuat Stek, Cangkok dan Okulasi.  Penebar Swadaya, Jakarta

Zobel, B.J. and J. Talbert, 1984.  Aplied Forest Tree Improvement.  John Wiley and  Sons, New York.

CARA MUDAH DAN MURAH MEMPRODUKSI BIBIT JATI BERKUALITAS

CARA MUDAH DAN MURAH MEMPRODUKSI BIBIT JATI BERKUALITAS

 

Oleh :  Mahfudz dan  M. Anis Fauzi

Tulisan 3. Pembuatan Okulasi Jati

 

Sebagaimana  perbanyakan pada jenis-jenis tanaman perkebunan seperti karet, kakao maupun mangga, pada jenis jatipun dapat dilakukan dengan  cara okulasi. Okulasi ini dapat dilakukan dengan cara menempelkan mata/ tunas dari scion ( tanaman yang diambil mata/tunasnya ) pada rootstock  ( tanaman yang ditempeli mata/tunas ). Prinsip kerjanya memanfaatkan fungsi kambium, sehingga kambium scion harus bersentuhan dan melekat pada understamnya. Keberhasilan okulasi sangat ditentukan  dari rekatnya kambium kedua batang yang disambung. Pelaksanaan Grafting

  • Batang bawah dipilih  dari bibit yang sudah  berumur 6-9 bulan dengan tinggi rata-rata 70-100 cm dan diameter 0,6-1,5 cm.  Diameter bagian bawah disesuaikan dengan ukuran scion. Sekitar 7 cm dari atas pangkal leher dibuat sesetan dengan panjang 3-5 cm dan lebar 1,5 cm.
  • Mata tunas ( Scion )  dipilih sesuai dengan ukuran rootstock  dan dalam keadaan dorman,. Scion diambil pada cabang-cabang kecil/ ranting-ranting sehingga ukurannya tidak  terlalu besar dan daya tumbuhnya tinggi.
  • Scion segera ditempelkan pada rootstock  dan diikat dengan tali rafia. Ikatan dimulai dari bagian bawah ke atas dan kembali ke bawah hingga di pangkal akar. Ikatan  tidak perlu terlalu kuat tetapi seluruh daerah tempelan harus  tertutup rapat
  • Untuk mengurangi penguapan, bagian rootstock yang dipotong dicat meni.
  • Bibit siap ditanam dalam media yang telah disiapkan dengan posisi batang  miring.
  • Pemeliharaan

Gambar 3. Pembuatan okulasi pada jati

Namun demikian  bibit jati  yang baik sebagaimana dibuat diatas tidak cukup dalam kegiatan pengembangan jati yang baik. Faktor lingkungan seperti kesesuaian tempat tumbuh dan upaya  sivikulturpun sangat berpengaruh dalam penanaman  jati ini Kegiatan pemeliharaan dan penerapan silvikultur sering terlupakan dalam penanaman pohon hutan selama ini . Kita menginginkan hasil panen kayu jati yang bagus tetapi tanpa adanya usaha pemupukan, pengaturan jarak tanam, penjarangan dan kegiatan pemeliharaan yang lain tentu saja mustahil tercapai.

 Pemilihan klon – klon tertentu yang sesuai dengan kondisi lahan dan iklim setempat juga menjadi pertimbangan sebelum kita melaksanakan kegiatan penanaman jati. Apabila kondisi dan upaya penerapan silvikultur kita lupakan akan mengkibatkan kerugian yang besar baik dari sisi finansial maupun dari sisi genetik jati itu sendiri.

 Tanaman  seperti halnya  manusia membutuhkan nutrisi yang cukup agar dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Pemberian pupuk, penjarangan, pengaturan jarak tanam, pemberantasan hama penyakit dan pemeliharaan lainnya akan memberikan respon yang optimal pada pertumbuhan tanaman jati. Pemeliharaan dan perawatan tanaman pada tingkat semai harus dilakukan untuk menjaga kondisi bibit sebelum siap tanam.

Daftar Bacaan

Hartmann, H.T., D.E Kester and Davies, F.T,  1990.  Plant Propagatio  Principle and  Paractice.  Prentice Hall. Inc. ,  Englewood Cliffs.  New Jersey

Pertanian  Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta .

Kaosa-ard, A., V. Suangtho and E.d Kjaer. 1998.  Experience From Tree Improvement of  Teak (Tectona grandis) in Thailand.  Danida Forest Tree Seed Centre .

Leksono, B.,  2001.   Pentingnya Benih Unggul  Dalam Program Penanaman Jati  dan strategi Pencapaiannya.  Makalah dalam Workshop Nasional Jati 2001 tanggal 4-6 September 2001.  Universitas Sumatera Utara.  Medan

Mahfudz,   2003.   Sekilas  Tentang Jati.   Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.  Yogyakarta.

Na,iem,  M. 2003.  Penelitian dan Pengembangan Pemuliaan Jati  Puslitbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.  Makalah dalm Ekspose Hasil-Hasil Penelitian P3BPTH ,  Yogyakarta.

               , M., 2003.  Pembiakan Vegetatif dan Implementasinya  dalam Skala Operasional  di Kehutanan.  Diskusi Hasil-Hasil Litbang Pusat Penelitian dan Konservasi Alam.  Bogor.

Wudianto,  1995.  Membuat Stek, Cangkok dan Okulasi.  Penebar Swadaya, Jakarta

Zobel, B.J. and J. Talbert, 1984.  Aplied Forest Tree Improvement.  John Wiley and  Sons, New York.

Jati (Tectona grandis)

Jati (Tectona grandis)

Oleh : Hamdan Adma Adinugraha, S.Hut, M.Sc

 

Jati merupakan tanaman yang menurut beberapa literatur tumbuh asli di India, Thailand, Myanmar, Laos dan Kamboja  dengan  tinggi tempat berkisar  antara  800 m dpl.  Jati kemudian  dikembang-kan ke beberapa negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Sri Langka, Malaysia, Kepulauan Solomon, dan telah pula dikembangkan di Amerika Latin seperti Costarica, Argentina, Brazil, beberapa negara Afrika  (Na’iem, 2002).  Di Indonesia  jati tumbuh dan berkembang di Jawa, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, Lampung  dan Nusa Tenggara yang merupakan tegakan-tegakan tua jati. Pada akhir-akhir ini jati juga dikembangkan di daerah lainnya seperti Sumatera,  Kalimantan, Maluku dan Papua.

Susunan klasifikasi jati adalah sebagai berikut:

Kingdom                     : Plantae – Plants

Subkingdom                : Tracheobionta (Vascular plants)

Superdivision              : Spermatophyta  (seed plants)

Division                       : Magnoliophyta  (Flowering plants)

Class                            : Magnoliopsida  Dicotyledons)

Subclass                      : Asteridae

Order                           : Lamiales

Family                         : Verbenaceae  (Verbena family)

Genus                          : Tectona L. f.  (tectona)

Species                        : Tectona grandis Linn. f. (teak)

Jati adalah salah satu jenis pohon hutan yang menggugurkan daunnya dan terdapat pada daerah tropika. Pada habitat aslinya, jati tumbuh bersamaan atau bercampur dengan jenis lain, tetapi kadang-kadang tumbuh sebagai tegakan murni. Jati tumbuh pada daerah dengan penyebaran kondisi iklim yang luas, mulai dari daerah yang sangat kering dengan curah hujan tahunan 500 mm/tahun sampai ke daerah yang sangat lembab dengan curah hujan tahunan sebesar 5000 mm/tahun, dengan temperatur maksimum 480C sampai ke daerah dengan temperatur minimum 20o C (Seth dan Khan, 1958 dalam Kaosa-ard, 1977).   Meskipun demikian untuk memperolah kualitas kayu yang baik, jenis ini harus tumbuh pada daerah yang mempunyai musim kering selama 3-5 bulan.

Anakan jati tumbuh paling baik (optimal)  pada temperatur 27 °C sampai dengan 36 °C pada siang hari, dan antara 20°C sampai dengan 30 °C pada malam hari (Kaosa-ard, 1977). Jati adalah jenis pohon yang memerlukan cahaya atau dengan kata lain termasuk intoleran (Troup, 1921 dalam Kaosa-ard, 1977), dengan intensitas penyinaran 75 % sampai dengan 95 % untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik dari jati. Jati pada umumnya dapat tumbuh dengan baik pada tanah-tanah yang mempunyai pH antara 6,5-7,5 (Kulbarni, 1951 dalam Kaosa-ard, 1977). Jati termasuk calciolus tree spesies, yaitu tanaman yang memerlukan unsur kalsium dalam jumlah relatif besar untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.

Pembibitan dan Penanaman

Pembibitan jati dapat dilakukan baik secara generatif maupun vegetatif. Pembibitan secara generatif dilakukan dengan menyemaikan benih yang terlebih dahulu diskarifikasi untuk mempercepat perkecambahan. Penyemaian dilakukan pada bedeng tabur dengan menggunakan media pasir. Setelah berkecambah semai disapih ke media pertumbuhan berupa tanah + kompos (3:1). Cara vegetatif yang dapat diterapkan yaitu okulasi, stek pucuk dan kultur jaringan (Na’iem, 2000; Sukmadjaya dan Mariska, 2003; Mahfudz dkk, 2003). Penanaman jati umumnya dilakukan sebagai hutan tanaman (monokultur) seperti yang dilakukan Perum Perhutani, namun dikembangkan juga dalam hutan rakyat baik monokultur, campuran atau agroforestry. Jarak tanam yang digunakan umumnya 3×1 m, 3×3 m, 2×3 m atau 2x 6 m

Gambar. Teknik pembibitan jati dengan okulasi, stek pucuk dan kultur jaringan

(sumber :Mahfudz dkk, 2003; Sukmadjaya dan Mariska, 2003).

Pemanfaatan

Kayu jati mengandung semacam minyak dan endapan di dalam sel-sel kayunya, sehingga dapat awet digunakan di tempat terbuka apalagi di dalam ruangan. Pemanfaatan kayu jati untuk bahan baku kapal laut, konstruksi jembatan dan bantalan rel, furniture, rumah tradisional Jawa (joglo) : tiang-tiang, rangka atap, hingga ke dinding-dinding berukir, venir mewah, parket (parquet) penutup lantai atau furniture di luar-rumah. Ranting-ranting jati yang tak lagi dapat dimanfaatkan untuk mebel, dimanfaatkan sebagai kayu bakar kelas satu. Kayu jati menghasilkan panas yang tinggi, sehingga dulu digunakan sebagai bahan bakar lokomotif uap. Sebagian besar kebutuhan kayu jati dunia dipasok oleh Indonesia dan Myanmar. Daun jati dimanfaatkan secara tradisional di Jawa sebagai pembungkus, termasuk pembungkus makanan. Serangga hama jati juga sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan atau lauk bagi masyarakat desa seperti belalang jati (Jawa: walang kayu), yang besar berwarna kecoklatan, dan kempompong ulat-jati (Endoclita).

Daftar Pustaka

Kaosa-ard, A., 1977. Tectona grandis Linn f. Its Natural Distribution and Related  Factors.  Royal Forest Departemen,  Bangkok, Thailand

Mahfudz dkk. 2003. Sekilas Jati (Tectona grandis L.f.). Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.

Na’iem, M.,  2000.  Variasi Genetik Pada Spesies Pohon Hutan.  Training Course  on Basic  Forest Genetic.  Kerjasama Indonesia Forest Seed Project  dan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

______, 2002.   Pentingnya Penggunaan Benih Unggul  Dalam Pembuatan Tanaman Jati  dan Standarisasi Mutu Bibit Secara Nasional.  Makalah dalam  Diskusi Penye-diaan Bibit Unggul Jati tanggal 9 Agustus 2002.  Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.

Sukmadjaya, D. dan Mariska, I. 2003. Perbanyakan bibit jati melalui kultur jaringan. Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian.Bogor.